Tante Zee

1361 Kata
POV: Andini "Mau ngapain Tante ke sini!?" Aku menghardik dengan suara lantang, tak sudi melihat wajah wanita itu di rumahku. Bibirku masih saja bergetar menyebutkan namanya, seolah belum siap lidah ini untuk mengejanya kembali. Berbulan-bulan lamanya kucoba mengubur dalam-dalam kebenciannya dan dendam di dalam hati, demi kesembuhan ayahku. Sekarang tiba-tiba wanita itu muncul di hadapanku, meluluhlantakkan semua pertahanan yang kubuat selama ini. "PERGI DARI SINI!" "Dini, jangan begitu." Ayah berkata pelan, mencoba menenangkan. "Mau apa lagi!? Belum puas Tante menghancurkan hidup kami!? Belum cukup semua yang kami terima ini!?" Bibirku gemetar bersama emosi yang semakin meluap-luap. Pelipisku terasa berdenyut-denyut hingga ubun-ubun menahan amarah. Seolah-olah ada lahar panas yang siap keluar dari kepalaku ini. Sekian lama kucoba memaksa hati melupakan perbuatan wanita ini yang berefek pada kesehatan mendiang ibuku. Selama itu juga kucoba mempertebal kesabaran, tapi dengan munculnya ia di hadapanku, semuanya jadi ingin kumuntahkan sekarang juga. Segala amarah dan kebencian yang selama ini kupendam, membludak ingin keluar. Tak dapat kubendung lagi. "Dini. Maksud tante Zee ke sini baik, kamu jangan marah-marah dulu," sambung ayah lagi. Aku tak mengerti, mengapa ayah masih saja membela wanita ini. Tak sudi rasanya untuk sekadar melihat wajah itu. "Saya cuma mau ngejenguk ayah kamu, sekalian ngecek perkembangan kondisinya." Wanita itu mencoba menjelaskan, dengan ekspresi datarnya yang seperti biasa tanpa rasa bersalah. "Lagi pula, obat-obatan ayah kamu sudah hampir habis, saya bisa resepkan kalau ...." "Tidak perlu!" Aku memotong kata-katanya, tegas, dengan napas yang semakin memburu. "Obat-obatan ayah, segala macam keperluannya, saya bisa urus sendiri. Kami gak butuh bantuan Anda!" Dadaku bergemuruh. "Oh, kamu sanggup membelinya? Ya sudah kalau begitu." Ia tersenyum sinis. Ingin sekali rasanya kucakar wajahnya dengan kuku tanganku yang sengaja kupanjangkan. Tanganku terkepal menahan amarah. Tante Zee adalah adik ayah yang paling kecil. Sebagai anak sulung, ia mendapat perhatian lebih di keluarga. Baik dari segi kebutuhan hidup, kasih sayang, termasuk pendidikan. Beberapa menit yang lalu, aku pulang dari pangkalan. Tidak biasanya aku pulang di tengah hari begini. Tadi, tiba-tiba saja aku ingin mengajak ayah makan siang bersama di luar. Ketika pintu rumah terbuka, aku melangkah masuk dengan perasaan tidak enak. Mobil Honda Jazz hitam metalik di depan rumah lah penyebabnya. Aku ingat itu mobil siapa. "Ehm!" Benar dugaanku, wanita berusia hampir empat puluhan itu sedang duduk di kamar ayah. Aku benar-benar tak ingin bertemu dengannya, apalah melihatnya berada di rumah ini. *** Deru air yang mengalir di Batang Agam terdengar nyaring, debitnya memang sedang naik seiring dengan hujan yang turun beberapa hari belakangan. Sungai yang cukup lebar ini mengalir dari ujung ke ujung, membelah kota tempat tinggalku. Aku berdiri bersandar pada batang besi yang menjadi pagar pengaman di pinggir sungai ini. Pemerintahan Kota sengaja memanfaatkan daya tarik keindahan pemandangan pinggir sungai dengan membuat sebuah taman di sini. Taman Batang Agam. Aku sering singgah ke sini sebelum pulang ke rumah, sejenak melepas penat seusai bekerja seharian. Saat musim panas dan airnya surut, banyak anak-anak yang bermain di pinggiran sungai ini, mencari kerang kecil-kecil yang seringkali disebut Pensi oleh orang-orang sini. Di akhir pekan, juga banyak muda-mudi yang duduk di bangku-bangku yang disediakan di taman ini. Menghabiskan waktu bersama pasangan tercinta sembari menikmati kerupuk kuah yang dijual warga sekitar. Lampu-lampu taman mulai dihidupkan, pertanda sebentar lagi gelap akan mendera. Namun, aku masih enggan pulang. Rasa kesal masih menyelimuti hatiku mengingat kejadian siang tadi. Ternyata tanpa sepengetahuanku, Tante Zee sering datang ke rumah menemui ayah. Bahkan kata ayah, beberapa kali ia membantu memenuhi kekurangan kebutuhan pendidikanku. Selama ini percaya uang itu adalah sisa tabungan ayah yang masih ia simpan. Ternyata semua itu hanyalah sebuah kebohongan. Bulir-bulir bening muncul di sudut mataku yang menatap lurus ke arah derasnya air yang mengalir. "Ibuu. Maafkan Dini, belum juga bisa mandiri. Maafkan Dini yang masih saja bergantung pada keluar itu. Bergantung pada mereka ...." Aku tersedu. "Ya, mereka yang sudah membuat Ibu menderita. Huhuuu." *** Aku masih berumur tujuh tahun hari itu. Hari di mana aku menggandeng tangan Bibi pengasuh, berjalan menyusuri keramik putih rumah sakit. Melewati lorong-lorong menuju kamar di mana ibuku dirawat inap. Hari itu, aku hanyalah seorang Dini kecil yang belum mengerti akan banyak hal. Namun, hari itu adalah hari yang tak pernah hilang dari memoriku, hari yang akan selalu kuingat seumuran hidup. Hari di mana aku pertama kalinya melihat ibu menangis tersedu-sedu. "Bibi, ibu kenapa? Kok dirawat di rumah sakit?" tanyaku yang masih begitu polos. "Iya, Sayang. Ibu lagi sakit, jadi biar cepat sembuh harus dirawat." "Jadi, ibu kapan sembuhnya, Bi?" "Bentar lagi sembuh kok, Sayang. Dini bantu doakan ibu ya, biar cepat sembuh, jadi bisa pulang lagi ke rumah." "Iya, Bi. Dini mau ibu cepat sembuh, biar bisa nganterin Dini masuk sekolah." Bibi mengusap kepalaku. "Dini mau ketemu ibu gak?" "Iya, Bi. Mau-mau!" "Ayo, kita ke kamarnya. Tapi gak boleh berisik yaa. Gak boleh ngomong keras-keras. Di sini banyak orang sakit." "Siap, Bi. Janji gak ngomong keras-keras. Gak ketawa keras-keras juga. Hehe." Aku tersenyum, tak sabar ingin bertemu ibu, menyerahkan bunga kembang sepatu yang kubawa. Beberapa saat kemudian, kami sampai ke kamar yang dituju. Namun, saat membuka pintu, mataku menangkap pemandangan yang sangat tidak ingin kulihat. Nenek sedang mengomel, memarahi ibuku yang terlihat menangis tersedu-sedu. Air matanya mengalir membasahi wajah. Entah apa yang dikatakan nenekku padanya. Melihat pemandangan itu, aku tak tahan lagi. Aku langit berlari kencang ke arah mereka, menjatuhkan sekuntum bunga yang sedari tadi kugenggam. Bibi mencoba menahan tubuhku, tapi tidak sempat. "Nenek! Nenek kenapa jahat sama ibu? Kenapa bikin ibu nangis? Nenek jahat!" Aku berteriak-teriak pada wanita tua itu. "Nenek jahat! Dini benci nenek!" Kudorong tubuhku menjauhi ibu. Ternyata tenaga seorang gadis kecil berusia tujuh tahun yang sedang marah kuat juga. Cukup kuat untuk membuat nenekku jatuh ke belakang. "Aduh!" Keluhnya, dibantu berdiri oleh Tante Zee yang berdiri di sampingnya. "Apa-apaan sih, Kamu? Gak ibunya, gak anaknya, sama aja." "Nenek kenapa jahat sama ibu?" "Ibumu itu tidak becus jadi perempuan. Cucu laki-lakiku satu-satunya, penerus keluarga, dibuat meninggal olehnya. Dasar tidak becus!" katanya sebelum keluar kamar, pergi meninggalkan kami. Aku beralih memandang ibu. Matanya yang berair menatap sedih ke arahku. "Ibuu. Ibu kenapa?" "Gak apa-apa, Din." Wanita-wanita itu mengusap wajahnya yang basah lalu menarik tubuhku ke dalam dekapannya. "Ibuu, ibu jangan nangis. Nenek jahat udah pergi." "Tidak, Nak. Nenek tidak jahat. Ibu memang salah. Ibu yang lalai." Aku diam mendengarkan. "Adik di perut ibu udah gak ada, Sayang. Huhu." Tangis ibu pecah. Terasa lembab di bahu. Air mata ibu bercucuran hingga ke bajuku. "Adik udah meninggal, Din. Ini semua salah ibu. Nenek gak jahat, ibu memang salah. Semua orang berhak untuk memarahi ibu." Aku tidak mengerti apa-apa, kala itu. Seorang Dini kecil hanya bisa berdiri mematung di pelukan ibu, tidak benar-benar paham apa yang sedang terjadi. Di keluarga ibu, penerus keluarga terletak di anak perempuan sesuai adat yang berlaku. Sedangkan di keluarga ayah, penerus keluarga adalah anak laki-laki sesuai adat mereka. Ayahku adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga, sehingga anak laki-laki ayah sebagai cucu pertama keluarga yang akan menjadi penerusnya sangat diharapkan. Karena itulah, kematian adikku di dalam kandungan yang sudah diketahui berjenis kelamin laki-laki membuat mereka begitu kecewa. Aku tak mengerti pola pikir keluarga itu yang menyalahkan ibuku karena kekecewaan mereka. Apakah mereka tidak sadar kalau ibuku lah orang yang paling sedih karena anaknya telah tiada. Kala itu, memang aku, Dini kecil, belum mengerti. Namun, bertahun-tahun setelahnya, saat aku mulai dewasa dan memahami. Benih-benih kebencian itu mulai hadir di hati. *** Beberapa bulan setelah ibu keluar dari rumah sakit, ayah memutuskan untuk membawa kami semua pergi meninggalkan kampung halaman, menuju provinsi seberang. Semua ini dilakukan ayah demi menjaga kesehatan mental kami sekeluarga, terutama ibu, yang selalu saja ditekan dan disalahkan oleh keluarga ayahku. Semua aset keluarga dijual habis olehnya, lalu memulainya kehidupan baru di tempat yang baru. Siapa sangka, kelak usaha yang dibangun ayah dengan tangannya sendiri tanpa bantuan keluar besarnya yang kaya raya, bisa juga sukses yang berkembang. Aku juga akhirnya bersekolah di tempat yang baru. Melupakan sekolah yang berada di kampung, yang dulunya sempat berencana untuk masuk ke sana. Benar kata orang bijak. Ketika kita berada di sebuah lingkungan negatif, dan merasa tidak mampu untuk mengubah lingkup tersebut menjadi lebih baik. Maka langkah satu-satunya yang paling benar adalah pergi mencari lingkungan lain yang positif. Keputusan ayah kala itu adalah yang terbaik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN