POV : Andini
Hari ini cerah sekali, tidak seperti biasanya. Langit biru di atas sana, bebas, tak terhalang awan. Udara terasa begitu panas, menyengat kulit. Padahal belum sampai ke tengah hari, hawa panas sudah terlihat membayang di atas aspal hitam yang aku tengah melaju di atasnya.
Namun, ini semua bukan apa-apa untuk para pejuang nafkah sepertiku. Apalagi saat ini orderan sedang banyak. Dari pagi, tak henti-henti. Tentu saja ini kabar baik.
Ting! Aku menepi sejenak.
Sebuah pesanan masuk di aplikasi. Ada yang memesan makanan.
"Berangkat!" Aku berseru riang, menghibur diri sendiri di tengah rasa lelah yang mulai menghampiri.
Kutatap menu makanan yang dipesan oleh orang tersebut, banyak sekali. Aku sempat khawatir uang yang ada di kantong tidak cukup sebagai talangan pesanan. Namun, setelah kuhitung-hitung, ternyata masih cukup.
Untungnya, pesanan yang cukup banyak itu hanya ada di satu gerai. Jadi tidak perlu mondar-mandir untuk membelinya.
Gantungan di bagian depan motorku penuh oleh makanan, lumayan berat, tapi tidak jadi masalah.
Sekarang saatnya melaju ke alamat pemesan.
Setelah melaju beberapa saat, terlihat sebuah kerumunan di tepi jalan. Beberapa kendaraan roda tua tampak terparkir di sana. Ada juga beberapa kendaraan roda empat di pinggir jalan.
Kebiasaan pengemudi yang suka parkir sembarangan seperti inilah yang sering kali menjadi penyebab macet. Apalagi dengan ukuran jalan yang tidak begitu lebar. Dengan sebuah kendaraan roda empat yang parkir saja, sudah memakan lebih dari seperempat ukuran jalan keseluruhan.
"Ada acara apa sih? Bikin macet aja," bisikku kesal.
Tiba-tiba aku menyadari tempat ini. Sebuah bangunan dengan antena tinggi menyerupai tower kecil di belakangnya. Ini adalah studio Radio Gema FM.
Oh iya. Radio ini sedang mengadakan temu ramah dengan pendengar. Informasinya kudengar beberapa hari yang lalu. Semua pendengar diharapkan bisa datang. Tentu saja termasuk aku, karena akhir-akhir ini sudah menjadi salah satu pendengar setia di radio tersebut.
"Jangan lupa, Sobat Gema. Hari Minggu ini kita bakal ngadain temu ramah antara para pendengar dengan crew Gema FM. So, don't miss it. Jangan sampai gak datang yaa." Aku teringat perkataan sang penyiar tempo hari, tak sengaja menyimak saat sedang sarapan pagi sebelum berangkat kerja.
"Acaranya di studio Gema FM yaa. Kalian bakal dihibur oleh ketiga penyiar kece Gema FM seharian. Jangan sampai gak datang!" Begitu katanya menutup pengumuman. Penyiar satu itu memang pandai betul membuat pendengar tertarik. Kata-katanya seolah-olah menghipnotis, sehingga membuat semua orang mengiyakan apapun yang dikatakannya.
Namun, apalah daya. Mana mungkin aku menghabiskan waktu dengan hal-hal seperti itu. Sementara uang di kantong hanya cukup untuk makan hari ini. Tentu saja, aku lebih memiliki bekerja.
Tin tin tin!
Orang di belakangku menekan klaksonnya berkali-kali, sepertinya sudah tidak sabar dengan antrian panjang di tengah udara yang panas terik.
"Sabar, Pak."
"Ada apa itu, Dek? Kok macet?" Seorang laki-laki paruh baya dengan mengendarai sepeda motor yang baru menyusul di sampingku bertanya.
"Kayaknya ada acara gitu, Pak. Jadi banyak yang parkir di pinggir jalan."
Ia terlihat mendengus kesal sambil menghapus keringat di wajah.
Aku memperhatikan map yang ada di layar HP. Alamat orang yang memesan makanan ini sudah dekat, sepertinya di depan sana, sekitar dua ratus meter lagi dari posisiku saat ini.
Eh, aku tersadar akan posisinya. Jangan-jangan ini tepat di studio radio itu?
Kembali kupastikan. Benar saja.
Sebenarnya tak ada niat untuk hadir di acara itu, walaupun aku mau. Namun, sepertinya takdir yang memaksaku untuk datang ke sana mengantarkan makanan yang dipesan oleh seseorang. Ya, bagaimana lagi.
***
"Loh, ke sini juga, Din?" Seorang laki-laki paruh baya yang memakai jaket berwarna sama denganku tiba-tiba menyusun di belakang. Sepertinya kami adalah rider di aplikasi yang sama juga, rasanya pernah beberapa kali melihat wajahnya, tidak asing.
"Eh, iya, Pak." Aku lupa namanya, jadi kupanggil bapak saja sesuai pantaran.
"Kayaknya yang mesan makanan yang punya acara ini deh."
"Kayaknya iya, Pak."
Beberapa saat kemudian, dua ojek lainnya juga datang dengan beberapa porsi makanan yang berbeda-beda.
"Coba cek namanya. Sama gak?"
"Atas nama buk Bunga."
"Iya, sama, Din. Kamu coba telepon deh."
"Iya, Halo." Suara seorang wanita terdengar di ujung telepon. Sepertinya masih muda, belum ibu-ibu seperti dugaanku sebelumnya.
"Halo, Kak. Saya sudah di depan Radio Gema FM. Ini di antarnya ke mana ya?"
Aku menelepon orang yang memesan makanan lewat aplikasi ojek online tersebut. Mencoba mengalahkan kebisingan di tengan ramainya orang.
"Oh iya, langsung masuk aja, Kak. Langsung ke belakang. Bilang aja, pesanan Bunga."
Kami berempat melangkah masuk membawa pesanan makanan yang sangat banyak ke belakang menemui seseorang yang bernama Bunga. Oh iya, aku ingat. Kalau tidak salah, nama salah seorang penyiar di sini juga Bunga. Jangan-jangan, dia orangnya.
"Kak! Kak Bunga! Ini makanannya udah datang." Seorang laki-laki muda, berteriak saat aku bertanya perihal di mana orang yang bernama Bunga.
"Oh iya-iya."
Perempuan bernama Bunga itu menghampiri kami dengan beberapa orang lainnya. Ia langsung mengeluarkan dompet dan membayar semuanya.
"Cadangan makanan nih, takutnya konsumsinya kurang, soalnya yang datang membludak. Banyak banget," jelasnya sambil menghitung uang, padahal tidak ada yang bertanya.
"Oh gitu ya, Kak." Aku mencoba merespon ucapannya. "Iya ya, ramai banget. Sampai macet tuh di depan, Kak."
"Nah itu juga, Kak. Kami juga kebingungan, soalnya lahan parkir terbatas banget." Ia menyerahkan uang yang sudah dihitung. "Terima kasih, Kakak, Abang-abang."
"Iya, sama-sama, Kak."
Kami kembali ke depan, menyibak kerumunan manusia. Sepertinya sebagian besar orang sudah tidak kebagian tempat duduk. Semua kursi yang ada di depan panggung di bawah tenda sudah penuh. Bahkan terlihat beberapa orang terlihat duduk berdua di satu kursi.
Saat melangkah, mataku tiba-tiba menangkap sosoknya. Seorang laki-laki yang wajahnya sudah sangat kukenal, karena sudah sangat sering duduk di jok belakang motorku. Si pemilik akun dengan nickname "Luka Abadi" yang sampai sekarang aku masih belum ingat betul siapa nama aslinya.
Apa yang ia lakukan di atas panggung?
"Terima kasih banyak buat para tamu undangan yang udah sempet-sempetin datang. Saya sebagai panitia, mohon maaf atas keterbatasan fasilitas yang kami sediakan, silakan dinikmati hidangan yang sudah tersedia ...."
Ternyata ia berbicara mewakili panitia acara ini. Oh, jangan-jangan ....
Saat ia turun panggung, seseorang memanggilnya.
"Bang Iqbal! Bang sini, dipanggil kak Bunga, ada perlu katanya."
Deg! Jantungku berdegup. Iqbal?
Ah, iya. Nama yang dipanggil lewat TOA waktu itu, Iqbal Maulana. Jadi, Abang Luka Abadi, adalah orang yang sama denga Abang penyiar yang kudengar tiap pagi? Kusimak baik-baik suaranya berbicara, ternyata benar begitu mirip dengan suara yang sering kudengar di radio.
Ah, bodohnya. Mengapa selama ini aku bisa tidak menyadari kalau mereka ada orang yang sama. Sepolos itukah diri ini? Ya ampun.
Aku melangkah pergi, cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
***
"Eh, Mbak." Tak disangka tak dinyana, ternyata laki-laki itu melihatku, dan langsung berlari mengejar. "Loh, Mbak, datang juga? Saya senang banget, ternyata Mbak juga salah satu pendengar Gema FM ya." Wajahnya begitu sumringah melihat kedatanganku.
"Eeee, itu, saya cuma ...." Aku pun bingung hendak menjawab apa.
"Kenapa buru-buru pergi? Acaranya masih banyak loh. Sabar ya, ini memang masih acara yang ngebosenin, kayak sepatah kata dari pengurus. Sebentar lagi acara hiburan dan acara makan-makannya dimulai," terangnya, seakan tak rela aku pergi lebih awal.
"Sayang banget kalau pulang sekarang."
Keringat mulai bercucuran di wajahnya, tapi mungkin antusiasme dan semangat yang ia miliki membuatmu tidak mempedulikan rasa lelah. Sepertinya acara ini sangat penting untuk pengurus Gema FM.
Aku semakin kagum dengan kegigihan dan semangat hidup laki-laki ini. Melihatnya yang sekarang, pasti tidak ada yang menyangka kalau ia sedang berjuang bertahan hidup dengan melawan penyakit kronis yang sedang menggerogoti tubuhnya. Salut. Ia bisa menyembunyikan semua perjuangan itu dengan wajahnya yang selalu bersemangat dan menebarkan semangat itu sendiri.
"Jangan pulang dulu, ya. Gabung sama yang lain. Sebentar aja, gak apa-apa kok."
Aku mulai ragu, di satu sisi aku ingin mengikuti acara ini, di sisi lain, aku juga ingin melanjutkan pekerjaan, demi mengumpulkan pundi-pundi uang. "Tapi, Bang. Saya pakai baju kayak gini aja."
Aku menunjukkan jaket ojek online yang kukenakan. "Gak enak sama yang lain, pada pakai pakaian rapi-rapi." Aku juga minder dengan badanku yang bau matahari, berkeringat seharian. Wajahku juga bisa dipastikan sangat kusam, terkena debu jalanan sejak tadi.
"Aduh, gak usah dipikirkan. Kan ga ada aturan pakaiannya, yang penting sopan aja." Ia memberi kode untukku mengikutinya. "Ayo saya kenalkan sama para pendengar yang lain. Banyak kok yang seusia kita," ujarnya lagi seolah kami berdua seumuran. Padahal menurut pandanganku ia lebih tua.
Penyiar bernama Iqbal Maulana itu membawaku ke sekumpulan anak muda yang sedang duduk di sebuah meja panjang. Benar katanya, pakaian mereka memang beragam. Ada yang memakai kemeja, batik, gamis, bahkan ada juga beberapa yang lebih santai memakai kaos oblong dengan celana jeans.
"Oh iya, nama Mbak siapa?" Ia berbisik di dekat kepalaku. Jaraknya begitu dekat, sampai-sampai aku bisa mencium aroma parfum yang ia pakai.
"Andini," jawabku.
"Nah, Teman-teman. Kenalin, Mbak ini juga salah satu pendengar setia Gema FM. Namanya Andini," tuturnya di hadapan semua orang. Entah berapa pasang mata yang tertuju pada kami berdua saat itu.
"Salam kenal, Mbak Andini."
"Salam kenal."
"Oh ya, di Radio namanya siapa, Mbak? Soalnya saya gak pernah dengar ada yang bernamakan Andini," salah satu dari mereka bertanya.
"Hmm." Ragu-ragu aku menjawabnya, sehingga jadi diam sejenak. Sebenarnya dari awal, ingin merahasiakan tentang si Gadis Hujan yang sudah mulai terkenal di Radio, tapi kalau ditanya begini, bagaimana? Apakah aku harus berbohong?
"Mbak belum pernah gabung? Atau selama ini hanya jadi pendengar setia aja kah?"
"Iya, Mbak. Gak apa-apa juga kok. Banyak di sini yang cuma jadi pendengar saja." Iqbal ikut menyahut. "Santai saja."
"Pernah, saya pernah gabung kok," jawabku lagi. "Hmm, sebenarnya, saya Downpour, si Gadis Hujan."
Semua mata melotot ke arahku, termasuk mata Iqbal Maulana, sang Penyiar.
"A-apa? Jadi Mbak si Gadis Hujan itu? Ya ampun!"
Aku menunduk malu. Suara riuh rendah terdengar di ruangan, beberapa juga saling berbisik-bisik. Sepertinya nama Gadis Hujan sudah menyebar luar ke seluruh telinga pendengar radio ini.
"Oh, ini yang namanya Gadis Hujan."
"Saya sering nyalamin tuh, Mbak." Beberapa orang juga mulai menggoda dengan candaannya.
Iqbal menatapku dengan ekspresi kagetnya. "Saya benar-benar gak nyangka loh, Mbak. Wow. Dunia ini sempit banget yaa." Ia menggeleng-geleng. "Ayo-ayo, duduk. Saya udah cariin kursi nih."
"Salam kenal, Gadis Hujan, eh Mbak Andini. Sini gabung sama kita-kita." Salah seorang dari mereka yang terlihat palingan tua, ikut menyapa. "Kenalkan, saya Ardi, ketua Fans Radio Gema FM."
Aku menjabat tangannya sebelum duduk.
Sepertinya orang-orang di sini cukup ramah. Setidaknya, aku mencoba ikut bergabung, walau mungkin tidak akan bisa berlama-lama.
"Gadis Hujan, eh Mbak Andini, duduk dulu aja ya. Ngobrolin saja sama yang lain. Saya mau ngelanjutin acara dulu. Saya tinggal sebentar ya." Begitu ucapnya dengan ekspresi ramah.
"Jangan lupa dimakan hidangannya," ujarnya lagi sembari melangkah ke atas panggung.
Aku mengangguk pelan. Dalam hati ingin cepat beranjak dari sini untuk melanjutkan pekerjaan. Mencari uang.
Namun, di samping itu, aku juga senang akhirnya bisa mengetahui identitas dari seseorang yang selama ini membuatku bertanya-tanya, tapi malu untuk bertanya langsung. Iqbal Maulana, senang akhirnya bisa kenal langsung dengan sosok hebat seperti kamu.
Suara musik terdengar, aku kenal intro lagu ini, sebuah lagu yang pernah tenar beberapa tahun yang lalu, dibawakan oleh seorang penyanyi legendaris yang karyanya sering kali menjadi hits di kalangan remaja, bercerita tentang kenangan semasa hujan di gubuk bambu.
Iqbal naik ke atas panggung. Ya ampun, laki-laki itu menyanyikan lagu tersebut. Suaranya begitu merdu. Para tamu undangan yang tadinya begitu berisik, diam seketika saat mendengar lantunan lagu yang dinyanyikannya.
Aduhai, aku juga ikut terdiam mendengarkan lirik-lirik yang ia sampaikan. Sejenak lupa akan rencana untuk segera pergi dari sini.