Tentang Ibu

1542 Kata
POV: Andini Aku sedang bersantai bersama teman-teman driver lainnya di Pangkalan, sambil ngadem di cuaca terik siang ini. Duduk di bawah pohon rindang, ditambah angin sepoy-sepoy, benar-benar menjadi penawar yang pas. "Halo, jemput di mana, Bang?" Suara laki-laki yang duduk di sampingku, sepertinya ia dapat orderan. "Hah? Cancel ya? Owalah, oke-oke." Aku mengerutkan kening. "Kenapa, Pak?" "Gak tau nih, cancel tiba-tiba aja." "Lah, sama ya, Bang? Tadi aku juga gitu. Aneh itu orang." Teman di sampingnya ikut menyahut. Ting! Orderan masuk lagi, kali ini aku langsung menekan tombol pick. Sebuah nickname yang tidak asing terlihat di layar, membuat mataku melotot seketika. Itu dia si "Luka Abadi". Aku berangkat ke lokasi yang tertera. Setelah pertemuan di Radio tempo hari, kami tak pernah bertemu lagi. Bahkan saat ia siaran pun, aku enggan bergabung, hanya sekedar menyimak saja, walaupun beberapa kali ia memancing dengan menyebut nama si Gadis Hujan. Entah mengapa, aku jadi merasa kikuk, beberapa kali sudah mengetik pesan untuk dikirim ke f*******: Radio Gema FM, tapi urung, kuhapus lagi dan tidak jadi mengirim. "Halo!" "Iya, Halo." Suaranya terdengar di ujung telepon. "Jemput di mana, Bang? Saya udah di depan Radio." "Oh iya, bentar-bentar. Saya keluar, Mbak." Laki-laki bernama Iqbal itu keluar dengan tampilan baru. Sepertinya ia baru saja potong rambut. Terlihat lebih rapi. Gaya pakaiannya masih sama, setelah casual dengan sebuah tas selempang kecil yang tersandang di bahu. Ia melepas masker, lalu tersenyum. "Hai, Mbak Andini." Tangannya terulur ke depan, mengajak bersalaman. Eh, mengapa tiba-tiba, tidak seperti biasanya. Aku jadi salah tingkah. Kulepas sarung tangan, lalu menyambut tangannya. "Apa kabar?" "Eh, baik, Bang." Aku menarik tangan, lalu diam menunggu. Krik krik krik. Suasana hening seketika. "Bisa berangkat sekarang?" tanyanya. "Eh, iya, bisa." Aku jadi tergagap dan malu sendiri. Kamu sih pake nanya kabar segala, aku kira mau ngajak ngobrol dulu, batinku kesal. "Sesuai aplikasi ya, Bang?" "Iya, benar." Kulihat alamat yang dituju. Ini adalah sebuah tempat yang sangat kukenal. Taman Batang Agam. Aku sering menghabiskan waktu sendiri di sana. Mau apa laki-laki ini sore-sore ke sana? Jangan-jangan ada janji dengan kekasihnya. "Ada acara apa nih, Bang? Sore-sore ke taman?" "Mau ketemu orang aja." "Ooh. Pacarnya, ya?" "Hah? Hahahaha." "Loh kok ketawa?" "Saya gak pacar-pacaran, Mbak. Udah tua. Pacaran tu cocoknya untuk anak-anak ABG." "Oh gitu?" "Iya. Kalau udah tua gini, ketemu yang pas, mending langsung nikah aja. Buat apa pacaran, buang-buang waktu aja." "Hmm." Selama perjalanan, aku tak curiga sama sekali. Kukira ia benar-benar ingin menemui seseorang di taman ini. Namun, ternyata aku salah. "Oke, sampai. Turun di sini, Bang?" "Terus ke dalam aja, Mbak. Di pinggir sana." Aku terus memasuki taman, ke arah pinggiran sungai. "Di sini?" "Yak, betul." Ia turun. Suara deru air sungai terdengar dari sini. "Orang yang mau ditemui belum datang, Bang?" Aku celingak-celinguk, tidak ada tanda-tanda orang yang sedang menunggunya di sekitar sini. "Udah datang kok," jawabnya. "Loh, mana?" "Lah ini." "Eh? Saya?" Aku kaget saat ia menunjuk ke arahku. "Maksudnya?" "Maaf nih sebelumnya, mbak Andini. Sebenarnya dari tadi aku udah banyak mesen ojol. Tapi pas drivernya bukan kamu, aku langsung cancel aja." Deg. Jantungku berdegup. Apa maksudnya ini? "Jadi yang cancel-cancel orderan itu tadi Abang, ya?" "Iya, hehe." "Ih, gak boleh gitu loh, Bang. Kasian drivernya." "Iya, maaf. Soalnya, aku pengen ngomong sesuatu ke kamu, tapi gak tau gimana cara ngehubunginnya." Deg. Jantungku berdegup lagi. Ia bilang ingin mengatakan sesuatu. Apakah itu? Eh, tunggu. Aku baru sadar kalau dari tadi panggilannya sudah berubah menjadi aku-kamu. Jadi mulai sekarang, kita jadi aku-kamu, nih? *** Hari-hari pertama di tempat yang baru, pada mulanya kukira akan membosankan. Memulai hidup baru, mencari teman-teman baru, dan juga menyesuaikan diri dengan gaya hidup di tempat yang baru. Namun, ternyata aku salah, karena ternyata teman terbaikku juga ikut ke sini. "Om Andi!" Dini kecil dengan katanya yang bulat melotot melihat seseorang yang berdiri di depan pintu, sontak saja langsung berlari ke dalam rumah. "Ayah, Ayah! Ada om Andi, Yah." "Ya disuruh masuk dong, oom-nya," sahut Ayahku dari dalam. "Om Andi, masuk, Om." Aku menarik tangan laki-laki seumuran ayahku itu ke dalam. Memang sudah seakrab itu. "Om, Suci diajak gak ke sini?" Laki-laki itu tersenyum lebar, seperti sudah menduga pertanyaanku. "Nanti Suci sama mamanya pasti itu, Din. Tapi sekarang masih oom sendiri, soalnya masih ngurus rumah." "Yeaaay! Berarti nanti Suci sekolah di sini juga Om?" "Iya dong." Aku senang sekali dengan kabar barusan. Di TK dulu, aku dan Suci sudah menjadi teman akrab. Sempat khwatir akan berpisah karena ayahku merantau ke provinsi seberang, tapi ternyata om Andi, sahabat sekaligus rekan bisnis ayahku juga ikut serta. "Ayah, Ayah. Kok Ayah gak bilang kalau om Andi juga ikut pindah sama Suci juga, sama mamanya juga? Kan Dini gak perlu pusing mikirin nyari teman baru di sini." Dua orang laki-laki dewasa itu tertawa mendengar celotehanku. "Udah, Dini main di kamar dulu ya. Ayah mau ngomong dulu sama om Andi." Kaki-kaki kecilku berlarian senang menyusuri rumah baru kami, menuju ke kamarku di lantai atas. Nanti saat ibu pulang, aku akan menceritakan kabar baik ini. Ah, tak sabar rasanya mengajak Suci bermain di tempat-tempat bermain baru yang sudah kuketahui di sekitar sini. *** Ibu adalah sosok wanita yang nyaris sempurna, setidaknya begitu menurutku. Sebagai seorang ibu, walaupun sering membuatku kesal karena ia lebih banyak menghabiskan waktu bekerja, tapi tetap saja ia adalah sosok ibu yang baik. Wanita itu paham betul apa yang sedang kubutuhkan, mengerti apa keinginan anaknya, termasuk bagaimana menghadapi saat anaknya sedih ataupun merajuk. Ibuku adalah seorang wanita cerdas, walaupun sekolahnya tidak tinggi, tapi tak ada pelajaran sekolahku yang tidak bisa ia ajarkan. Ketika ada PR yang sulit, ibu adalah tempat bertanya nomor satu di rumah ini. Sebagai seorang istri, menurutku ibu juga seorang istri yang luar biasa. Selalu seiya-sekata dengan ayah. Tak pernah ada pendapat ayah yang ditolak mentah-mentah ataupun dipatahkan ibu, pun sebaliknya. Kalaupun ada pendapat mereka yang berselisih, selalu diakhiri dengan berbicara berdua, dan berujung pada sebuah kesepakatan. Tak ada debat kusir dengan volume suara tinggi, saling bentak, apalagi sampai main tangan dan k*******n. Hal-hal seperti itu, tak pernah ada di keluargaku. Walaupun sama-sama sibuk bekerja, tapi di rumah, ibu selalu setia melayani ayah, mencukupi apapun keperluannya. Termasuk memasak makanan yang anak dan suaminya sukai. Enak? Jangan ditanya. Masakan ibu, tiada tandingannya. Sebagai seorang menantu pun demikian. Menurutku, ibu terlalu baik untuk orang-orang di sekelilingnya. Walaupun diperlakukan tidak baik oleh keluarga ayah, ibu tak pernah sekalipun membalas ataupun menjelek-jelekkan mereka. Kepadaku, ibu selalu mengajarkanku untuk berbakti pada nenek, tante juga saudara-saudari ayah lainnya. "Nenek itu adalah ibunya ayah. Kalau misalnya ga ada nenek, ayah gak bakal ada kan? Karena itulah, kita tetap harus sayang sama nenek. Tetap harus berterima kasih." Begitu kata ibu, ketika aku tanyakan mengapa. Ibu adalah seorang wanita berparas jelita. Kulitnya cerah, tidak begitu gelap, pun tidak terlalu putih. Caranya berbicara begitu lemah lembut, suaranya menenangkan khas wanita-wanita di ranah Minangkabau. Ia juga pintar mengatur keuangan rumah tangga. Perhitungannya selalu pas untuk kebutuhan bulanan kami, bahkan selalu tersisa untuk ditabung. Di samping itu, ia juga lihai dalam pekerjaan, pintar mencari uang. Tidak salah bukan, jika kusebut ibu adalah wanita yang nyaris sempurna. Sungguh, jika dewasa nanti, aku ingin menjadi sosok seperti ibuku. Namun, mungkin benar kata orang-orang bijak. Ada orang baik yang mungkin terlalu baik untuk dunia ini, sehingga ia pergi lebih cepat. Ibuku mungkin salah satunya. *** Tentunya sangat berat bagi ayahku melihat istrinya selalu diperlakukan tidak baik di tengah-tengah keluarga besar. Namun, bagaimana pun juga, ayah tidak mau menjadi anak durhaka yang tidak berbakti pada orangtua. Apalagi nenek adalah satu-satunya orangtua ayah yang tersisa, setelah kakek meninggal beberapa tahun yang lalu. Beberapa tahun sekali, saat liburan, ayah memboyong kami sekeluarga pulang kampung. Satu atau dua minggu di kampung halaman, tinggal bersama mertua, sepertinya adalah hari-hari yang berat bagi ibu. Aku menyaksikan sendiri, bagaimana ia menangis di dalam kamar seusai dicercai dengan kata-kata pedas. Kemudian, tetap kembali berusaha tersenyum saat keluar kamar dan berkumpul lagi dengan mereka. Aku tak mengerti, bagaimana caranya ibu bisa setegar itu. Entah hatinya terbuat dari apa. Kisah cinta ayah dan ibuku cukup rumit. Mungkin sangat cocok jika dijadikan sinetron. Ayah adalah seorang putra satu-satunya dari keluarga yang bisa dibilang cukup berada. Keluarga ayah memiliki tanah yang luas, dengan ruko beberapa pintu yang disewakan di atasnya. Kakek dan Nenek adalah keluarga terpandang, hampir semua orang di sini kenal dengan mereka. Perantau sukses yang datang dari tanah Jawa. Tanah mereka luas, di sepanjang jalan. Belum lagi sawah dan ladang berhektar-hektar. Sedangkan ibuku adalah seorang wanita yang tidak jelas asal usulnya. Beliau dibesarkan di salah satu panti asuhan yang berada tidak jauh dari rumah ayah. Ayah dan ibunya tidak diketahui keberadaannya. Bahkan sedari lahir, wanita itu tak pernah mengenal yang namanya orangtua. Ibu tak pernah tahu dari rahim siapa ia dilahirkan. Berawal dari perkenalan di sekolah, karena kebetulan mereka menempuh pendidikan di sekolah yang sama, akhirnya benih-benih cinta di antara mereka mulai muncul. Kekaguman ayah akan seorang gadis pintar yang selalu meraih posisi tiga besar di kelas, bertambah-tambah ketika tahu bagaimana perjuangan hidupnya. Meski ditentang keras oleh keluarga ayahku, terutama nenek dan tante-tanteku, ternyata kekuatan cinta mereka tetap tak bisa terkalahkan. Sepasang kekasih itu akhirnya bersatu. Bahkan ayahku juga membuktikan, tanpa bantuan keluarganya, ayah dan ibu tetap bisa sukses dengan cara mereka sendiri. Usaha yang mereka rintis berdua, benar-benar dari nol, bisa berkembang pesat dan membawa mereka pada kesuksesan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN