POV: Andini
"Ya ampun, segini banyak?" bisikku lirih menatap barang-barang yang menumpuk di hadapanku.
Kadang-kadang para pengguna aplikasi ojek online ini tidak kira-kira. Aku diminta mengirimkan barang sebanyak ini. Tidak yakin bisa dibawa sekali berangkat. Mau dicancel, sayang. Aku bisa kena penalty.
"Bisa kan, Mbak?" Wanita paruh banyak siempunya barang-barang ini tersenyum canggung. Sepertinya ia juga ikut merasa bersalah ketika tau drivernya adalah seorang wanita.
Aku tersenyum kecut. "Diusahakan dulu ya, Bu."
Kuputar otak, bagaimana caranya membawa dua buah koper dan sebuah ransel besar ini sekali bawa. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah papan tipis yang tersandar di pagar rumah.
"Bu, ada tali gak?"
"Tali? Eh, ada-ada. Tunggu sebentar yaa."
"Ini papannya saya pinjem ya, Bu. Nanti baliknya lewat sini lagi kok."
"Oh, yang itu? Pake aja, Dek. Gak perlu juga. Emang mau dibuang itu mah," jawabnya sambil melangkah ke dalam rumah.
Aku bergegas mengambil papan tersebut, lalu menyilangkan di jok belakang sepeda motor. Papannya cukup kuat, rasanya bisa untuk menahan dua koper di belakang sini.
"Tali ini bisa, Dek?" Wanita tersebut menyerahkan tali plastik yang lumayan panjang.
"Bisa, Bu, bisa." Aku sontak meraihnya, tanpa berlama-lama. Langit semakin gelap saja, takutnya malah turun hujan di jalan.
Oke, siap berangkat. Aku mengecek kembali ikatannya, tampak sudah sangat kuat dan aman. Perjalanan juga tidak begitu jauh.
"Ke Bandara, ya, Dek."
"Iya, Bu."
"Ini ongkosnya saya bayar dimuka. Sekalian ada sedikit tips buat kamu. Maaf nih, barangnya banyak banget. Ibu dari tadi bingung mau nganter pakai apa, soalnya anak Ibu udah mau berangkat sebentar lagi. Terpaksa deh harus pakai ojek online." Wanita itu menjelaskan dengan wajah penuh rasa bersalah. "Ibu kasian juga nih liat kamu bawa barang banyak banget, berat lagi. Jadi ingat anak perempuannya ibu, seumuran kamu juga," sambungnya.
Ya ampun. Melihat ibu ini tiba-tiba saja juga mengingatkanku pada mendiang ibuku. "Tidak apa-apa, Bu. Saya kuat kok. Hehe." Aku tersenyum, kali ini benar-benar senyum.
Wanita tersebut menyerahkan uang ke tanganku. "Ini, lebihnya simpan saja buat kamu ya."
Aku terkejut melihat lembaran berwarna merah itu. "Aduh kebanyakan, Bu."
"Tidak apa-apa. Rezeki kamu. Tolong yaa. Anak ibu sebentar lagi berangkat katanya. "Iya, Bu. Terima kasih banyak."
"Ibu yang terima kasih banyak, Dek. Hati-hati."
Aku menutup kaca helm lalu melaju di jalan raya. Awalnya pelan-pelan, sesekali mengecek barang di belakang. Lalu kemudian mulai menambah kecepatan saat sudah yakin barang bawaanku aman di belakang.
Namun, beberapa menit kemudian, apa yang kutakutkan benar-benar terjadi. Di tengah-tengah perjalanan, hujan turun dengan derasnya. Aku menepi ke bawah atas sebuah ruko di pinggir jalan.
Khawatir koper dan ransel ini basah dan kemasukan air. Aku tak tahu apa isinya, hanya saja terlalu riskan jika mempunyai hujan sederas ini.
Ya ampun, ujian apa lagi ini?
Aku teringat akan mantel plastik yang ada di dalam jok motor. Apakah aku harus menggunakan mantel tersebut untuk menutupi barang-barang bawaan, kemudian aku sendiri harus rela basah-basahan diguyur hujan?
Jika menunggu hujan reda, takutnya aku terlambat mengantarkan barang ini. Karena katanya ibu tadi, anaknya akan segera berangkat di Bandara.
Aku harus bagaimana?
***
Baru saja kakiku melangkah masuk melewati pintu depan, terlihat ayah dengan wajah cemas sudah berdiri menghadap pintu.
"Dini, kok pulangnya malam terus akhir-akhir ini?" Ayahku bertanya cemas. "Trus ini basah-basah lagi? Ya ampun, Andini!" Volume suara ayahku mulai naik karena kesal dan khawatir.
Aku menyeringai. "Kejar target, Yah," jawabku sambil bergegas menuju kamar mandi membersihkan diri.
Tadi saat di jalan ke Bandara, hujan tak kunjung berhenti. Akhirnya kuputuskan untuk menggunakan mantel sebagai penutup barang-barang bawaan, sesuai rencana awal. Alhasil, tubuhku basah kuyup.
"Uang untuk biaya kuliahnya masih belum cukup, ya, Din?" Ayah bertanya lembut saat aku sudah duduk manis di kursi meja makan dan menyeruput teh hangat.
"Udah, Ayah tenang aja. Nanti juga cukup kok," jawabku sambil tersenyum tenang padanya.
Aku tak mau laki-laki itu ikut khawatir sehingga memperburuk lagi keadaannya yang sudah mulai membaik.
Seusai makan malam seadanya, sambil mengobrol sebentar, aku mengantarkan ayah ke kamarnya. Di luar sana hujan makin mengganas, deru di atas atap rumah semakin kencang saja. Aku pun masuk ke kamar untuk beristirahat.
Hari ini lelah sekali. Dari pagi aku hunting orderan nonstop sampai matahari tenggelam. Menjemput dan mengantarkan penumpang, membelikan makanan, atau pun mengantarkan barang-barang yang berbagai macam jenisnya.
Huuuft. Kuembuskan napas panjang, sambil berbaring di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar.
Apa aku menyerah saja? Namun, sayang sekali rasanya sudah sejauh ini.
Kutatap angka-angka yang tertulis di buku tabungan, lalu menghitung sejumlah uang yang ada di dalam dompet. Kujumlahkan semuanya, tapi tetap saja masih kurang untuk membayar uang kuliah semester ini.
Entah apa yang bisa dilakukan sekarang? Mungkin benar aku menyerah saja.
***
Pagi yang baru, semangat yang baru pula. Rasa lelah semalam, sirna sudah berganti semangat menggebu-gebu untuk kembali mengais rezeki.
"Andini berangkat ya, Yah." Aku mencium punggung tangan ayah saat berpamitan.
"Hati-hati, ya." Ayah masih berusaha tersenyum meski belum begitu lurus. Bibirnya terlihat masih agak miring.
Langit biru, cerah sekali pagi ini. Usai hujan semalaman, sepertinya membuat tak ada lagi awan yang tersisa di atas sana.
"Halo halo, Abang-abang." Sekumpulan driver lainnya sudah terlebih dahulu datang ke pangkalan. Ada yang sedang sarapan, ada juga yang sekadar minum kopi atau teh.
"Wah semangat banget pagi-pagi, Neng."
"Halo, juga, Andin."
Aku tersenyum sumringah. "Waiya harus semangat dong. Mudah-mudahan gacor hari ini!"
"Semangat gacor. Hahaha." Mereka tertawa bersama.
Aku salut juga dengan kekompakan para driver di sini. Setia kawan, saling support dan tolong-menolong. Bahkan di beberapa kesempatan, pernah kusaksikan ada yang rela berkorban demi rekan sejawat.
Bisa dibilang, aku satu-satunya driver wanita di sini. Ya, sebelumnya ada satu orang lain, ibu-ibu paruh baya. Namun, akhir-akhir ini ia jadi jarang mengojek, mungkin tidak bisa lagi nyambi.
Namanya juga ibu-ibu, harus mengurus anak dan suami, belum lagi pekerjaan rumah lainnya.
"Sarapan dulu, Andin."
"Lanjut, Bang. Udah sarapan tadi di rumah."
Orderan pertama pagi ini berasal dari seorang ibu-ibu yang memesan ojek untuk anaknya. Anak laki-laki berseragam SMP sudah siap berangkat di depan rumah saat aku sampai.
"Ke SMP 3 ya, Dek. Ongkos langsung dibayar lewat aplikasi, ya."
"Oke, Bu. Siap berangkat."
Orderan pertama berjalan lancar, dilanjutkan orderan kedua yang berasal dari seorang laki-laki muda yang sepertinya terlambat berangkat kerja.
"Agak ngebut, bisa gak, Mbak?"
"Oh bisa."
Kukeluarkan skill berkendaraku, meliuk-liuk di antara kendaraan yang semakin ramai. Beberapa kali terdengar suara klakson pengendara lain yang kesal.
Tiba-tiba laki-laki itu menepuk bahuku. "Gak sekencang ini juga, Mbak," katanya.
Aku tersenyum sambil mengurangi kecepatan. Sepertinya dia masih lebih sayang nyawa dari pada pekerjaan.
At least, orderan kedua pagi ini juga berjalan lancar, hingga yang ketiga dan keempat. Beberapa lembar uang sudah "mangkal" di kantong celana. Sejenak aku bisa tersenyum senang dan bernapas lega.
Namun, saat aku tengah mengantarkan orderan makanan. Tiba-tiba saja telepon berdering tak henti-henti. Awalnya tidak kuangkat, karena nomor tidak dikenal.
"Paling orang iseng," ketusku.
Namun, telepon tersebut berulang dua-tiga kali lagi. Aku pun menepi, dan mengangkatnya.
"Halo-halo! Andini!"
"Iya, halo. Siapa ya?"
"Mas Memed, Din."
Aku teringat laki-laki muda dan istrinya yang tinggal di sebelah rumah, Mas Memed, suaminya Mbak Lulu. Pikiranku sontak tertuju pada ayah, jangan-jangan terjadi sesuatu.
"Iya, Mas. Kenapa?" Kututup sebelah telinga agar suara bising kendaraan tidak mengalahkan suara di ujung telepon.
"Kamu di mana, Din?"
"Di jalan, Mas, lagi kerja."
"Bisa pulang sekarang?"
Deg. Jantungku berdegup. "A-ayah kenapa, Mas?" Spontan aku bertanya tentang ayah yang sendirian di rumah.
"Eh, itu, Din. Barusan jatuh. Kayaknya kepeleset gitu, Din. Untung kedengeran sama Lulu tadi, jadi Mas langsung cek. Jatuh di kamar mandi, lagi nyuci baju kayaknya, lantainya licin, jadi kepeleset."
"Ya ampun, Ayah. Oke-oke, Mas, Dini langsung pulang."
Hilang sudah rasa senang dan lega yang sedari tadi kurasakan. Aku langsung putar arah, tak peduli lagi dengan pesanan yang harus diantar.
Berulang kali sudah kuingatkan pada ayah untuk tidak mencuci baju. Pagi-pagi sebelum berangkat kerja aku selalu mengantarkan pakaian kotor ke loundry terdekat. Namun, begitu lah, ayah selalu tidak bisa dilarang.
Semoga saja ayah tidak apa-apa.
***
Tangan kanan ayah terkilir. Sepertinya saat terjatuh, tangan kanannya digunakan untuk menahan badan agar tak terbating ke lantai. Alhasil sendi sikunya bergeser.
Tanpa pikir panjang aku langsung membawanya ke tukang urut yang berada tidak jauh dari rumah.
"Maaf, ya, Din." Aku tak tega melihat wajah sedih laki-laki itu.
"Dini yang minta maaf, Yah. Udah ninggalin Ayah sendirian di rumah."
Aku berjalan keluar rumah si tukang urut saat ia sedang bekerja. Tak kuat rasanya melihat ayah kesakitan saat tulang yang bergeser dikembalikan ke posisi semula. Namun, bagaimana lagi, ini satu-satunya cara mengobatinya.
"Udah, Pak?" Aku masuk melihat ayah yang masih meringis.
"Udah. Untuk ngurangin sakitnya, kompres pakai es ya. Nanti tiga atau empat hari lagi, kalau masih sakit bawa ke sini. Tapi ini udah dibenerin sih posisi tulangnya," jelas laki-laki itu.
"Baik, Pak. Terima kasih." Aku menyalaminya sambilan menyerahkan selembar uang.
Ya, itu penghasilanku hari ini. Sirna sudah.