POV: Iqbal
Ruang depan dihias seadanya. Halaman juga dipasangi tenda dengan puluhan kursi plastik tersusun rapi di bawahnya. Tenda sengaja dipasang untuk jaga-jaga kalau tiba-tiba hujan turun. Apalagi di akhir-akhir ini cuaca sering berubah-ubah.
Sebagai penanggungjawab acara ini, aku cukup deg-degan, takutnya jumlah tamu yang datang melebihi perkiraan. Karena pada dasarnya, jumlah pendengar tidak bisa dihitung pasti. Tidak bisa berpatokan kepada berapa orang yang bergabung dan beratensi di setiap ajang. Karena banyak juga pendengar setia yang hanya memilih menjadi pendengar pasif saja.
Namun, sebenarnya ada yang lebih kutakutkan. Yakni, kalau semisalnya malah tidak ada yang datang. Sia-sia saja semua ini. Sudah banyak sponsor yang masuk, tidak mudah mencarinya.
Jutaan uang juga sudah dikeluarkan untuk persiapan, dekorasi, konsumsi, dan membayar bintang tamu untuk hiburan. Kan tidak lucu, kalau semisal acaranya batal karena tidak ada yang datang.
Jam delapan pagi, persiapan sudah rampung sembilan puluh sembilan persen. Sesuai jadwal, acaranya sudah dimulai pukul sepuluh siang.
"Gimana, Bal? Everything's on track?" kak Bunga menjawil pundakku yang berdiri di depan pintu.
Aku memutar kepala ke arahnya. Perempuan itu terlihat cantik sekali pagi ini, tidak seperti gaya tomboy-nya yang biasa dilihatkan sehari-hari. Ia benar-benar dandan full make-up, membuatku hampir tidak mengenali wajahnya.
"Eh, siapa ya?" candaku.
"Apa apaa?" Ia menyeringai.
"Loh, Kakak ini siapa? Aku gak kenal."
Seringainya semakin lebar saja.
"Ini bukan kak Bunga, kan? Kak Bunga gak secantik ini. Terus ini apa-apaan? Kak Bunga mana mungkin pakai long dress kayak gini. Kak Bunga tuh pakai celana robek-robek. Hahaha."
Ia ikut tertawa, lalu menutup mulutnya malu. "Kamu jangan gitu. Aku mau tampil anggun dan kalem hari ini."
"Wah. Mantap." Aku mengacungkan jempol.
"Gimana? Udah beres semua kan?"
"Udah, Kak. Udah siap dimulai ini mah."
"Kamu jadi MC kan nanti?" tanyanya.
"Iya, Kak. Kak Bunga jadi nyanyi kan?"
"Jadi dong. Kalau enggak, buat apa aku capek-capek dandan begini, Bal. Hahaha."
Kami berdua tertawa lebar. Ya, semoga saja, acara ini berjalan lancar sesuai yang telah direncanakan jauh-jauh hari, tanpa kendala yang berarti.
***
Pagi ini terlihat begitu cerah, bahkan terlalu cerah sampai gerah, dibandingkan dengan beberapa hari belakangan yang selalu mendung bahkan hujan. Aku langsung bangkit dari kasur yang rasanya seolah-olah selalu menahanku untuk mulai beraktivitas.
“Kali ini kau kalah, kasur!” bisikku lirih, merasa menang melawan kemalasan.
Entah mengapa, selalu saja begini. Hari ini sulit sekali menahan diri untuk tidak bermalas-malasan. Ya, namanya juga hari libur, tak ada jadwal siaran, alias free. Bawaannya ingin rebahan saja.
Namun, tak diduga tak dinyana, HP berdering.
Tampak nama Bapak Samsuardi yang muncul di layar HP-ku yang sedari tadi sedang berada dalam genggaman untuk sekedar scrolling sosial media.
“Halo, Pak,” ucapku usai menekan tombol angkat.
“Yak, Halo, Bal, maaf mengganggu waktunya, ini pak Samsuardi, Ketua Perkumpulan Fans Radio Gema FM." Ia memperkenalkan diri, padahal nomornya sudah jauh-jauh hari kusimpan di memori HP. "Bapak ingin menginfokan kepada penyiar bahwasannya hari Minggu dua pekan dari sekarang, akan diadakan jumpa fans, ya. Ini juga udah keputusan rapat bersama owner dan pengurus lainnya."
"Oh, begitu, Pak. Oke-oke."
"Rencananya akan diadakan di studio Gema FM. Mohon sampaikan kepada teman-teman penyiar lain agar sama-sama bisa mempersiapkan ya, Iqbal.” Laki-laki yang biasa disapa pak Ardi atau bang Ardi itu melanjutkan penjelasannya. "Tolong dibuatkan juga pengumumannya untuk dibacakan setiap siaran, biar pendengar secara keseluruhan mengetahui juga, ya."
“Oh, begitu, baik Pak, nanti saya sampaikan kepada teman-teman yang lain. Ngomong-ngomong, Kak Bunga sebagai kepala siar udah tau, Pak?”
"Nah, itu dia, Bal. Tadi Bapak udah nelpon Bunga, tapi gak diangkat. Makanya owner nyuruh ngabarin kamu, soalnya beliau juga masih sibuk kayaknya hari ini."
"Oke-oke. Nanti biar saya yang urus untuk info ke rekan-rekan Announcer, Pak."
"Oke, terima kasih, Bal."
"Sama-sama, pak Ardi."
Tuut!
Telepon terputus.
Haaah, aku menarik napas dalam-dalam. Mantap, hari libur, tetep sibuk, umpatku dalam hati.
Saat itu langsung kukirim pesan singkat ke grub WA penyiar. Grup itu memang dibuat sebagai sarana informasi dan komunikasi antar penyiar terkait info-info penting yang perlu dibagi sesama rekan-rekan penyiar, tanpa perlu campur tangan pengurus radio yang lain.
Maka dari itu, grup ini anggotanya cuma tiga. Aku, kak Bunga dan Leo. Ketiganya juga menjadi admin.
"Gaes. Ada proyek nih buat kita. Waktunya gak banyak, cuma dua minggu. Moga-moga ada fee-nya sih, hehe," jempolnya mulai beraksi.
Tik tik tik.
Waktu berlalu. Aku masih berbaring sambil mengecek kembali grup WA tersebut.
"Gaes. Gak ada yang on kah?"
Ya ampun. Masih kosong, jangankan membalas, bahkan belum ada yang membaca pesan.
"Pada ke mana sih?" bisikku.
"Apa tuh, Bang?" Leo yang sepertinya tengah sibuk di meja siar akhirnya membalas. "Maaf, baru baca. Lagi voice tadi."
"Pak Ardi nelpon tadi. Dua minggu lagi acara jumpa Fans. Kita bertiga bertanggung jawab ngurus schedule juga rundown."
"Wadaw. Bakal sibuk nih. Colek kak @Bunga."
Akhirnya orang yang sedari tadi ditunggu-tunggu online. Tulisan kak Bunga mengetik membuatku ikut menunggu.
"Ada sponsor dong, ya? Yakali kita capek-capek doang," katanya tanpa basa-basi.
"Gak tau, kalau itu. Belum ada info," jawabku. "Yang penting sekarang kita bagi tugas dulu, ya."
"Oke Gaes. Let's rock!"
***
Dua minggu itu bukanlah waktu yang lama. Setelah membagi-bagi tugas, akhirnya kami bertiga menjalankan kewajiban masing-masing. Akhirnya hari H tiba juga.
Minggu pagi, aku mulai beranjak dari tempat tidurku lebih awal. Usai mandi, langsung mengenakan setelan kemeja terbaik yang sudah disetrika rapirapi dari semalam. Percaya atau tidak, malam tadi mataku teramat sangat sulit dipenjamkan. Kepikiran akan esok hari menjadi pemandu acara sekaligus menyumbangkan suara di hadapan semua orang.
Lain dari hari-hari sebagai penyiar yang hanya suaranya yang muncul di radio, tidak menyertakan wajah. Aku sudah sering bernyanyi di ajang karaokean, tapi lain rasanya ketika harus tampil langsung di depan panggung.
Namun, bagaimana pun juga, aku harus percaya diri. Menampilkan yang terbaik. Do my best.
Tak boleh mengecewakan.
Tiga jam sebelum acara, aku sudah standby di studio. Acara di jadwal pukul sepuluh pagi, aku sudah sampai pukul tujuh. Ketika bahkan belum ada siapa-siapa dan pintu masih terkunci.
Terlalu bersemangat.
***
Pukul sembilan pagi, satu persatu tamu undangan mulai berdatangan. Beragam usia, dari yang remaja, hingga yang sudah lanjut usia. Dari berbagai latar belakang sosial, ada yang membawa mobil, bahkan ada yang membawa sepeda ontel.
Aku bisa sedikit berbangga, ternyata selama ini suaraku bisa mencapai berbagai golongan.
Aku mengangguk pelan, menyapa, kulempar juga sedikit senyum ramah andalanku kepada tamu undangan yang notabene adalah para pendengar.
Sebagian dari mereka ada yang kukenal, sebagian ada juga yang terlihat asing. Orang-orang yang baru kali ini kutemui.
Tak lama kemudian terdengar seseoang memanggilku
“Iqbal!"
Aku yang celingak-celinguk mencari tahu dari mana suara itu berasal, mendapati di sana ada seorang wanita paruh baya yang kukenal sebagai bu Yuli. Ia sudah di salah satu kursi di bawah tenda bersama beberapa orang ibu-ibu lainnya.
“Iyaa, Bu. Langsung kuhampiri, karena melihat tangannya sedang menyediakan kursi untukku.
"Sini duduk dulu."
"Sehat, Bu?" Sedikit basa-basiku karena sudah lama tidak bertemu, seingatku dua bulan lalu ia pernah mampir ke studio.
“Alhamdulillah, sehat, Bal, si Leo dan Bunga, mana?” Pertanyaan bu Yuli yang membuatku ingat si anak magang dan kak Bunga yang entah terselip di mana saat ini.
“Leo mungkin masih di jalan Bu,” jawabku asal.
“Kalau kak Bunga kayaknya lagi sibuk di dalam, Bu. Sebentar lagi juga ke sini," tambahku.
"Oh iya. Kenalin, ini para pendengar setia kita juga. Tapi mereka cuma monitor aja, gak pernah gabung. Ada bu Ati, bu Yola, bu Ratih, dan Bu Asiah."
Aku menyalami mereka satu persatu.
"Salam kenal ya, ibu-ibu. Iqbal."
Tepat pukul sepuluh, acara pun dimulai, dibuka dengan beberapa kata sambutan oleh pengurus Persatuan Fans. Kemudian juga dari owner radio Gema FM yang menyempatkan datang di sela-sela kesibukannya.
Kemudian, dilanjutkan dengan acara makan dan berdoa bersama, setelah itu dilanjutkan dengan acara hiburan orgen tunggal yang sudah disiapkan. Artis yang lumayan ternama di Provinsi juga diundang sebagai hiburan. Para penyiar juga ikut bernyanyi, termasuk aku salah satunya.
Di akhir acara tentu saja tidak afdhol jika tidak ada foto bersama. Ah, hari yang melelahkan.
***
Acara benar-benar berakhir ketika matahari sudah hendak kembali ke peraduan. Aku duduk di teras studio bersama kak Bunga dan Leo, memandang ke depan, tumpukan s****h masih terlihat.
"Wow wow wow. Luar biasa ya, acara sebesar ini, kita urus bertiga." Kak Bunga yang pertama kali bersuara.
"Hahaha. Mantap!" Leo ikut tertawa.
Aku hanya mendirikan. Lelah sekali rasanya.
Namun, beberapa kejadian tak terlupakan juga terjadi hari ini. Kehadiran seseorang yang tak diduga-duga. Si Gadis Hujan. Ah, sayangnya, ia tetap buru-buru pulang. Wajar saja, ia harus kembali bekerja.
Kemudian juga kehebohan ketika salah seorang pendengar yang pingsan di atas panggung. Pak Septo. Beliau adalah salah satu pendengar yang paling tua yang hadir tadi. Sepertinya terlalu bersemangat bernyanyi dan bergoyang di atas panggung, hingga penyakit jantungnya kumat. Akhirnya harus dibawa ke rumah sakit.
Over all, acara yang kami urus ini sukses. Berjalan sesuai rencana tanpa ada kendala yang berarti. Syukurlah.
Bravo rekan-rekan!