Gadis Kecil di Masa Lalu

1749 Kata
POV: Iqbal Andini Safitri. Ada yang ganjil dengan nama itu. Entah mengapa saat menyebutnya ada desiran yang tidak biasa di dalam dadaku. Padahal ia bukan siapa-siapa, hanya sosok seorang gadis pengemudi ojek online yang kukenal belum lama. Namun, rasanya seperti pernah mengenalnya bertahun-tahun yang lalu. Rasa itu muncul belum lama ini. Terutama setelah aku tidak sengaja melihat foto lamanya di salah satu album profil f*******:-nya. Mulanya, aku tak ingat, semuanya seperti kenangan lama yang sudah terkubur oleh waktu. Menyisakan garis-garis tipis nan samar. De ja vu. Dari mulut si empunya, akhirnya aku mengetahui nama lengkap bahkan sosial medianya yang asli. Bukan akun-akun samaran seperti yang sering ia pakai tempo hari. Pertemuan di Radio itu membuatku jadi tahu banyak tentangnya. "Andini Safitri, ya." Lisanku mengulang nama itu lagi sambil scrolling beranda sosial medianya. Jarang sekali ia memposting status ataupun story, lebih banyak share postingan orang lain di beranda sosial media milik gadis itu. Setelah scrolling beberapa saat, aku sampai ke sebuah foto yang dipost bertahun-tahun yang lalu. Foto yang sudah tidak begitu bersih, warnanya juga sedikit memudar. Seorang gadis kecil yang berdiri di halaman belakang sebuah rumah. Aku mengernyit sembari otak bekerja mengolah memori yang tersimpan di ingatan. "Gadis ini?" Rasanya pernah melihatnya, berikut dengan rumah besar yang ada di belakangnya. "Siapa dia sebenarnya?" *** "Gema FM, saatnya suara remaja menggema. Sampai jumpa lagi di ajang-ajang berikutnya yang tidak kalah menarik untuk didengarkan, tidak kalah menghibur juga tentunya. See you, bye-bye." Aku menutup ajang siang ini dengan sebuah lagu request-an penelepon terakhir. Huuuft. Sudah beberapa kali diberi kode, tapi si Gadis Hujan itu tetap tidak bergabung. Bukan hari ini saja, bahkan sudah hampir seminggu ini. Ke mana ya dia? Ku-inbox di f*******:-nya juga tidak dibaca. Wajar saja tidak dibaca, pasalnya akun tersebut memang sama sekali tidak pernah aktif saat kulihat. Mungkin ia terlalu sibuk bekerja ya? Bisa jadi. "Huss! Siang-siang kok ngelamun?" Kak Bunga yang baru hadir melambaikan tangan di depan mukaku. "Kesambet nanti kamu, Bal. Mikirin apa sih?" Selanjutnya adalah jadwal siaran wanita itu. "Eh, Kak Bunga. Kok gak kedengeran suara motornya?" "Hah? Suara motorku sekencang itu kamu gak denger? Parah nih anak." Ia melengos ke dalam studio. Aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, malu sendiri. Benar juga, knalpot motor kak Bunga terdengar akan suaranya yang bising, saking seriusnya aku sampai tidak dengar. "Balik duluan, Kak." Aku melambai dari pintu studio yang separuhnya terbuat dari kaca. Kak Bunga mengacungkan jempol, headphone-nya sudah terpasang. "Mangaat siarannya!" teriakku lagi sebelum keluar dari bangunan tersebut. Otakku masih saja bekerja seiring kaki yang melangkah pelan ke depan. Aku berpikir keras bagaimana caranya untuk bertemu dengan gadis bernama Andini tersebut, karena ada suatu hal yang ingin sekali kutanyakan. Hal yang beberapa hari ini membuatku susah tidur karena penasaran. Ah, aku punya ide. Kupesan ojek online di aplikasi berwarna hijau itu. Daerah tujuannya yang di dekat-dekat sini saja. Taman Batang Agam adalah tempat yang pertama kali muncul benakku. Sudah lama juga tidak nongkrong di sana. "Halo, jemputnya di mana ini, Bang?" "Aduh, maaf, Bang. Kayaknya saya belum jadi berangkat. Ini terlanjur kepencet tadi. Cancel aja ya." "Owalah, oke-oke deh." Suara laki-laki di ujung telepon terdengar kecewa. Dalam hati aku pun merasa tidak enak, tapi bagaimana lagi, hanya cara ini yang bisa kulakukan. Kucoba lagi, dua kali. Namun, lagi-lagi suara laki-laki yang terdengar. Tiga kali, masih sama. Empat kali, lima kali, enam kali, aku mulai lelah dan ingin menyerah. Bahkan yang keenam barusan ternyata adalah orang yang sama yang menelepon sebelumnya, ia pun marah-marah karena merasa dijahili. Akhirnya, yang ketujuh. "Halo." Deg. Jantungku berdebar-debar. Itu adalah suaranya, aku yakin sekali. Entah bagaimana caranya suara tersebut sudah begitu melekan di memori. Benar sekali, dialah Andini Safitri, perempuan yang dulu kupanggil Mbak Ojol. *** Suasana Taman Batang Agam yang mulanya biasa saja, tiba-tiba terasa berbeda dengan keberadaannya di sini. "Hah? Mau ngomong apa, Bang?" tanyanya dengan ekspresi kaget saat mendengar ucapanku tadi. Aku bukan tipikal laki-laki yang agresif seperti ini, diam-diam "menjebak" seorang gadis untuk bertemu sama sekali tidak elegan, tapi rasa penasaran dalam benakku mengalahkan segalanya. Setelah memastikan aku boleh meminta sedikit waktunya, aku memutuskan untuk mengajak gadis itu duduk di salah satu kursi taman. Seorang penjual es krim yang mangkal tidak jauh dari sana, sontak menjadi tujuan utamaku. Setidaknya untuk sedikit mencairkan suasana, agar ia tidak seperti seseorang yang sedang diwawancarai. "Waaah. Pake dibeliin es krim." Ia terkejut tiba-tiba aku kembali membawa dua cup es krim si tangan. "Nanggung nih. Sekalian beliin nasi Padang porsi jumbo aja, Bang," candanya, kemudian tertawa lebar menampakkan barisan gigi-gigi putihnya. "Lapar juga, Mbak? Ga ada yang jualan makanan lagi, nih." "Hahaha. Canda, Bang." Ia menerima cup es krim dari tanganku. "Ngomong-ngomong mau nanya apa, nih, Bang? Saya grogi loh dari tadi. Kepikiran." Aku berpikir sejenak, harus mulai dari mana ya? "Sebelum tinggal di sini, kamu pernah tinggal di Riau?" "Uhuk!" Gadis itu terbatuk, sepertinya tersedak es krim. "Abang tau dari mana?" "Di Kabupaten Rohul, bukan?" "Eh, iya loh, betul. Kok tau sih?" "Sebenarnya kita pernah ketemu, loh, Mbak. Aku juga tinggal di sana dulu, bersama orangtua." "Hah? Serius, Bang?" Ia mengernyitkan kening, seperti berusaha mengingat. "Masa gak ingat?" Gadis yang sedang memeluk helm-nya itu menggeleng. "Aku ingat, soalnya waktu pernah ngasih payung ke kamu. Kamu lagi nangis hujan-hujanan di belakang rumah. Gak tau deh nangis kenapa." Aku mulai menceritakan kejadian itu. "Pas udah aku payungin, tiba-tiba ibu kamu datang dari dalam rumah, trus buru-buru narik kamu masuk." Andini melongo, terlihat masih berupaya mengingatnya. "Aku sempat berteduh di teras, ditemani ibumu. Aku masih ingat, ibu kamu itu cantik sekali, tubuhku tinggi dan ramping, rambutnya lurus dan panjang hingga pinggang, diikat ke belakang. Ramah sekali, suka senyum. Senyum kamu sekarang rasanya mirip banget sama dia. Aku juga gak ngerti, kenapa kejadian bertahun-tahun yang lalu, masih menempel di otakku sampai sekarang. Waktu itu ia sempat membawaku masuk, tapi hujan keburu reda. Aku pulang deh," lanjutku lagi. "Aduh, detail banget ya, ceritanya. Tapi saya benar-benar gak ingat sama sekali, Bang. Jangan-jangan itu bukan saya, lagi. Mirip aja kali, Bang." Ia tersenyum lebar. "Coba, rumahnya warna apa?" "Rumahnya besar, bagian depan dicat warna oranye, tapi seingatku bagian belakangnya hanya warna tembok biasa. Lalu, halaman belakang cukup luas, ada beberapa pohon. Aku lupa tepatnya pohon apa. Mungkin mangga, rambutan, sama apa lagi tuh ya?" "Alpukat," sambungnya. "Nah, iya, alpukat." "Benar, Bang. Itu bener rumah saya dulu." Gadis itu terpana. "Ternyata Abang gak mengada-ada, ya." Ya ampun, ternyata dari tadi dia kira aku berbohong. Buat apa coba? "Tapi tetep aja, Bang. Saya sama sekali gak ingat pernah ketemu Abang, dulu." "Oh, yaudah sih, Mbak Andini. Aku cuma mastiin aja itu kamu. Soalnya kepikiran terus akhir-akhir ini." "Oh, jadi akhir-akhir ini, Abang mikirin aku nih?" Yes! Dia akhirnya ikut memakai kata Aku setelah sekian lama memakai saya-saya terus. "Eh, bukan gitu maksudnya." Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. "Ngomong-ngomong, ayah kamu gimana?" "Ayah? Masih kayak kemarin, Bang. Yaah, udah beransur-ansur normal lagi. Sempat makin cepat pulih deh." "Iya, semoga ya." Aku menyendok sisa-sisa es krim di mangkuk kecil itu. "Ngomong-ngomong, saya turun berduka ya, soal ibu kamu." Atmosfer terasa berubah seketika seiring berubahnya mimik wajah Andini. "Iya, Bang. Terima kasih." Aku terdiam lagi, bingung juga mau ngomong apa. Setidaknya sekarang, semua rasa penasaranku sudah terjawab. Ternyata benar, gadis kecil di masa lalu itu adalah dia. Andini Safitri. "Abang tau dari mana soal ibuku?" tanyanya tiba-tiba. Eh. Aku sontak kelabakan. Pasalnya aku tau tentang ibunya dari posting seseorang di beranda Facebooknya beberapa bulan yang lalu. Kalau aku jujur, otomatis dia akan tau kalau selama ini aku sudah stalking akunnya. "Eh, itu, dari seseorang deh pokoknya." Akhirnya aku memilih berbohong. "Oh, gitu. Oke deh." Gadis itu memutar kepala ke arah lain, seperti berusaha menyembunyikan wajah sedihnya. "Maaf ya, Andini. Aku gak bermaksud ...." Ia menyenggok pundakku pelan. "Santai aja, Bang." "Ngomong-ngomong, akun sosial media kamu kok gak aktif lagi?" Aku mencari topik obrolan lain untuk mengalihkan. "Kemarin aku sempat inbox beberapa kali loh di Facebook." "Oh, iya, Bang. Akhir-akhir ini sibuk banget, sampai gak sempet buka f*******:. Tapi aku kadang monitor kok pas Abang siaran. Jadi jangan lupa salam-salamin, ya. Hehe." Wajahnya ceria lagi. Aku sedikit lega. "Siaap. Nanti disalami." "Oh ya, saya lanjut kerja dulu ya, Bang." Gadis itu berdiri dari tempat duduknya. "Eh, iya. Maaf ya, udah menyita waktunya." "Santai aja, Bang. Oh ya, ini nomor WA-ku, Bang. Biar gak susah inbox di f*******: lagi." Aku tersenyum sambil menatap wajahnya sedetik, lalu beralih ke layar HP. "Oh, ternyata beda ya sama nomor yang nelpon pelanggan ojeknya?" "Oh itu, khusus buat kerja, Bang. Ini nomor pribadi." "Udah duga sih." "Oke, saya duluan yaa." "Selamat bekerja." "Siaap." Aku berteriak senang dalam hati. Tadinya sempat berpikir bagaimana caranya meminta nomor WA gadis itu, tapi siapa sangka siapa duga, ia sendiri yang terlebih dahulu memberikannya. Jodoh memang tak ke mana. Eh, bicara apa aku ini? *** "Dia emang lagi sedih. Kucing kesayangannya baru aja mati tadi pagi. Makanya dia kayak gitu." "Oh, gitu, Tante." Aku mengangguk-angguk. "Kamu mau ya, temenan sama Andini. Dia sebenarnya anaknya baik kok." Aku mengangguk-angguk lagi. Hujan masih juga belum reda, aku tak yakin ini sudah berapa lama. Mungkin sudah tiga puluh menit, atau sudah hampir satu jam? Entahlah. Sepasang sepatu hitam yang melekat di kakiku, basah. Baju putih merah yang membalut tubuh kurusku juga sama. Dingin sebenarnya, tapi aku enggan untuk masuk ke rumah orang asing, walaupun dari tadi si empunya rumah sudah berkali-kali menawarkan masuk. "Yakin gak mau masuk dulu? Kamu udah gemetaran gitu, Nak." Wanita paruh baya yang mungkin seumuran dengan ibuku itu, berkata lagi. Masih dengan senyum ramahnya. Aku menggeleng. "Gak usah, Tante." "Yaudah geseran sini berdirinya, nanti makin basah kena embun." Aku pun mundur selangkah. Kutatap payung biru muda yang kini rusak itu. Ah, sudah tidak bisa dipakai lagi, rangkanya ada yang patah. Kucoba membukanya, tapi tidak bisa. "Maaf, ya, Nak. Gara-gara Andini, payung kamu jadi rusak." Wanita tersebut mendekat, ikut memeriksa payung yang kupegang. Tadi saat aku berniat menyerahkan payung kepada gadis kecil itu, ia tiba-tiba saja marah dan mendorongku. Alhasil payung mini milikku tertindih dan rusak. "Oh ya, kamu pakai payungnya Andini saja, ya." Perempuan ramah tersebut bergegas ke dalam rumah, lalu kembali lagi dengan sebuah payung berwarna pink di tangannya. "Ini, kamu pakai aja. Sini payung kamu, nanti Tante benerin." "Eh, tidak apa-apa, Tante?" Kuserahkan payung rusak tersebut padanya. "Iya, gak apa-apa. Kamu bawa aja, biar bisa cepat pulang. Nanti ibumu khawatir." "Makasih, Tante, saya pulang dulu." Aku melangkah cepat meninggalkan wanita tersebut yang tengah melambaikan tangan tanda perpisahan. Kusempatkan berbalik sejenak untuk membalas lambaian tangannya. Sampai jumpa, Tante Baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN