POV: Iqbal
Pemandangan sore hari di tepi sungai Batang Agam adalah salah satu puncak keindahan yang disuguhkan kota ini. Cahaya matahari yang kuning keemasan dipantulkan oleh riak air sungai, memunculkan kerlap-kerlip berkilauan di permukaannya. Keindahan tersebut tidak bertahan lama, hanya sekitar belasan menit, makanya begitu sayang untuk dilewatkan.
Jika mau menunggu sedikit lebih lama, malam hari ketika mentari sempurna tenggelam, keindahan lainnya sudah menanti.
Lampu-lampu taman berbentuk bulat sebesar bola basket yang menghiasi setiap sudut akan mulai dihidupkan, lalu tiangnya yang dililit lampu-lampu kecil warna-warni akan berkedip-kedip. Jika sedang beruntung, air mancur yang berada tepat di tengah-tengah taman juga akan menambah keindahan dan semarak suasana. Sorotan cahaya beragam warna di sekelilingnya akan membuat seolah-olah air mancur itu bercahaya. Indah sekali.
Di akhir pekan, terutama di hari Minggu, biasanya banyak keluarga atau pasangan muda-mudi yang menghabiskan waktu di sini. Entah sekadar duduk-duduk santai, atau menikmati berbagai macam cemilan yang dijual di sekitar sini. Ada yang menjajakan es krim, gulali, kerupuk mie kuah, bahkan di malam hari ada yang menjual jagung bakar dan sate padang.
Aku masih duduk diam bersandar pada pagar di pinggir sungai, sesekali melemparkan kerikil kecil ke sungai untuk menciptakan riak di permukaannya.
Dari tadi, sepeninggalan Andini, aku menghabiskan waktu sore di tempat ini. Berjalan kaki menyusuri setiap sudut taman, berkeliling, menapak tilas setiap kenangan yang dulu pernah kubuat di tempat ini.
Yah, kenangan masa-masa baru menginjak remaja yang dikenal dengan sebutan ABG. Masa putih-abu, ketika tenagaku masih prima untuk berkeliaran seharian. Tidak seperti sekarang, berjalan beberapa menit saja, harus beristirahat beberapa kali.
Aku sengaja berlama-lama di sini. Belum tentu esok atau lusa, aku masih bisa datang ke sini, bukan? Di umur segini, rasanya sudah enggan menghabiskan waktu untuk nongkrong tanpa kepentingan yang jelas.
Haaah, aku menghela napas, menyaksikan semua pemandangan di depan mata yang kini kusaksikan lagi. Jembatan gantung yang menyeberangi sungai sebagai satu-satunya akses ke sini, dulu pernah menjadi saksi bisu saat kami berfoto-foto di sana. Kerangka besi yang dicat warna-warni menjadi spot foto yang tidak dapat dilewatkan.
Kursi-kursi dari besi yang dulu pernah menjadi tempat duduk kami, menyimpan beribu kenangan indah meski sudah berganti warna. Bunga-bunga yang juga telah berganti jenis dan aroma, capung-capung yang beterbangan, lalu turun merendah, hinggap di dahan-dahan kering.
Semua itu memiliki ceritanya masing-masing. Kenangan-kenangan manis bersama seseorang di masa lalu. Ah, sudahlah lupakan soal dia yang sudah berstatus istri orang. Aku kembali ke masa kini saja.
Meski aku sempat merasa kecewa karena Andini sama sekali tidak mengingatku, setidaknya rasa penasaran yang mengganggu pikiran beberapa hari belakang itu hilang. Gadis di masa lalu tersebut ternyata benar-benar dia.
Lagi pula, menurutku wajar saja ia tak ingat. Karena kemungkinan besar, setelah pertemuan di waktu hujan itu, ia tak pernah lagi melihatku sampai sekarang. Aku memang pernah melintas di jalan yang sama dengan teman-teman yang lain, beberapa kali juga kulihat ia dan ibunya di teras rumah. Namun, hanya dari kejauhan saja, jadi sepertinya mereka tidak menyadari keberadaanku.
Apalagi beberapa tahun kemudian, setelah lulus SD, aku juga melanjutkan sekolah di provinsi yang berbeda. Alhasil, tak pernah lagi bertemu dengan keluarga itu, apalagi sampai mendatangi rumahnya untuk berteman dengan si anak gadis.
Aku pun sebenarnya demikian, tidak terlalu memperdulikan kenangan tentang seorang gadis kecil di masa lalu tersebut. Hanya satu dari sekian banyak orang yang pernah hadir menemani masa kanak-kanakku dulu. Hanya saja, mengenal gadis itu di masa kini, terutama setelah melihat foto di f*******:-nya, tiba-tiba saja membongkar kembali kejadian yang telah terkubur dalam-dalam itu. Rasanya menyeruak begitu saja, meminta untuk dibahas dan dikenang kembali.
Namun, kalau dipikir-pikir, ada senangnya juga. Akhirnya bisa berteman dengannya, memenuhi permintaan "Tante Baik", walaupun harus membuatnya menunggu bertahun-tahun kemudian.
Semoga Tante Baik tenang di alam sana.
***
"Jadi kalau malam gak ngojek, ya?"
"Enggak, Bang. Cuma sampai sore. Gak dibolehin ayah soalnya, kalau nyampe di rumah lewat jam tujuh aja pasti langsung kena omel, tapi kadang suka bandel juga sih. Hehe."
"Tapi serem juga sih ya, kalau cewek ngojek malam-malam. Takutnya ketemu penumpang yang jahat, gitu, atau ada begal di jalan. Amit-amit, sih, jangan sampai, hehe," balasku.
"Iya, bener banget, Bang. Apalagi jalanan di pinggir kota tuh masih banyak yang sepi kalau malam. Banyak g**g-g**g yang gelap juga, belum ada lampunya. Serem sih, parah."
Beberapa hari belakangan, aku sering mengobrol dengan Andini via aplikasi w******p, terutama pada malam hari. Ya, kalau siang, selain dia yang sibuk bekerja di jalanan, aku juga sibuk berkicau di radio.
Dia termasuk teman mengobrol yang seru. Tak jarang lelucon-lelucon yang ia kirimkan membuatku tersenyum hingga terpingkal dalam tawa.
"Tadi ada yang lucu, tau gak, Bang?" katanya suatu ketika. "Sumpah lucu banget, aku aja inget sampe sekarang masih suka ketawa-ketawa sendiri."
"Apa tuh?" tanyaku.
"Tadi itu ada penumpang yang rambutnya gimbal trus bau, banget, Bang. Aku udah pake masker, tapi masih kecium aja, ya ampun," tuturnya ketika menceritakan salah satu penumpang tempo hari.
"Trus-trus?" Aku pun ikut penasaran.
"Pas dia turun, aku langsung ngecek helem dong. Ternyata bener, sesuai dugaan, banyak kutunya. Omaigad." Ia menambahkan beberapa emoticon kaget. "Geli banget liatnya, ya ampun. Ada yang jalan-jalan gitu di dalam helm, pada nempel-nempel. Buru-buru aku pulang, nyuci helm yang itu dan bawa helm pengganti buat penumpang berikutnya. Takut nanti kutunya pindah, Bang. Hahaha."
"Hahaha." Kutambahkan juga emot tertawa di belakangnya.
"Ngomong-ngomong, kamu udah berapa lama jadi driver ojol, Din?"
Terlihat tulisan sedang mengetik. "Udah lumayan lama, sih, Bang. Pokoknya semenjak ayahku sakit, jadi gak bisa nyari uang lagi kan. Otomatis harus aku yang kerja deh. Nyari nafkah gitu. Hehe."
"Oh, gitu." Aku bingung lagi harus merespon apa.
"Kecuali nanti udah ada yang nafkahin, eh." Sederet emoticon tertawa di bawahnya.
"Hahaha. Semoga segera ada yang nafkahin ya."
"Aduh, jangan 'segera' juga, Bang. Hahaha."
"Owalah, masih lama ya, berarti?"
"Iya, Bang. Belum siap, soalnya. Umur juga masih segini, gak ada niat nikah muda. Hehe."
"Gak apa-apa. Yang di sini, sabar menunggu, kok," candaku.
"Hahaha."
"Canda, menunggu." Aku tersenyum lebar sambil memukul-mukul bantal yang yak bersalah.
"Bisa aja, Bang." Ia mengetik lagi. "Oh ya, Bang. Siaran di radio itu seru juga ya, kayaknya. Susah gak sih belajarnya, Bang?"
Sepertinya ia tertarik juga dengan dunia penyiaran. "Yaa, menurutku sih seru banget, Din. Kita jadi dapat banyak teman, pergaulan jadi luas. Apalagi kalau di Radio yang punya website livestreaming, pendengarnya bisa berasal dari seluruh dunia, Din."
"Oh, gitu ya, Bang. Seru banget, ya. Belajarnya susah gak, Bang? Abang dulu awal siaran belajarnya berapa lama?"
"Gak susah juga kok. Alat-alatnya gak begitu banyak. Cuma ada Komputer sama Mixer. Di Komputer ada aplikasi Radionya yang harus kita pelajari, nyusun iklan dan lagu-lagu tu di aplikasi itu. Terus mixer buat ngatur-ngatur volume, buat naik-turunin backsound, volume lagu, dan lain-lain," ketikku panjang lebar.
"Waduuh, susah juga kedengerannya. Hahaha."
"Gak juga, kok. Aku dulu kalau gak salah training-nya gak nyampe satu bulan, Din."
"Belum buat latihan ngomongnya, ya, Bang?" tanyanya lagi. "Kedengaran butuh skill juga kalau ngomong di Radio, gitu. Ngomongnya cepat, tapi gak belepotan, kata-katanya lancar, kayak diatur, tapi gak kedengeran kayak lagi baca teks juga. Ah gimana ya jelasinnya?"
"Hahaha."
"Gimana sih itu, Bang, latihannya?"
"Kalau ngomong sih, bisa latihan di mana aja. Di rumah, ngomong depan kaca juga bisa. Atau ngomongnya direkam gitu, nangis dengerin pakai headset. Aku dulu gitu. Terus juga syarat utamanya, jangan lupa harus banyak-banyak dengerin radio. Dengerin penyiar lain pas lagi siaran. Jadi dengerin radio sambil belajar gitu."
"Oh iya-iya, paham, Bang. Intinya kalau mau jadi penyiar harus dengerin radio dulu kan ya. Sama kayak kalau mau jadi penulis, harus banyak baca buku dulu. Mau jadi komikus, harus baca komik dulu. Hehe."
"Nah, gitu. Pinter." Kutambahkan emoticon jempol kuning.
"Hehe. Iya dong, anak siapa dulu."
"Anak siapa?"
"Anak ayah dong."
"Hahaha. Iya ya." Aku cengengesan lagi sambil mencubit bantal guling yang lagi-lagi tak salah apa-apa.
"Kapan-kapan kalau ada waktu, pas aku lagi siaran, main aja ke studio, Din. Nanti aku tunjukkan alat-alatnya. Siapa tau tertarik jadi penyiar juga kan. Hehe."
"Emangnya boleh bawa orang masuk ke dalam, Bang?"
"Tenang aja, bisa diatur." Aku begitu percaya diri, padahal kalau ketahuan membawa sembarangan orang ke dalam studio bisa kena tegur juga.
"Hmmm. Sebenarnya penasaran, pengen tau aja, Bang. Kalau jadi penyiar, enggak deh, kayaknya. Ngomong sehari-hari yang masih pelan aja aku belepotan, apalagi di radio yang kayaknya kuenceng banget, Bang. Hahaha."
"Oh, gitu. Jadi penasaran aja, nih?"
"Iya, penasaran aja."
"Penasaran sama penyiarnya juga, gak?"
"Hahaha. Dua-duanya kayaknya, Bang. Penasaran sama Radionya, sama penyiarnya juga."
Aaaaa. Ya ampun, teman chat yang satu ini, membuat bantalku selalu jadi korban cubitan, remasan, bahkan pukulan. Aku pun jadi seperti orang gila, senyum-senyum sendiri. Untung saja, hanya ada aku di rumah ini, jadi tidak akan ada yang melihat dan menertawai.
Kalau dipikir-pikir, kalaupun ada yang menertawai saat ini, bukannya malu, malah seram. Hiiiy.