POV: Iqbal
Studio Radio Gema FM terlihat seperti rumah pada umumnya.
Ada empat ruangan. Jika ini rumah, mungkin seperti terdiri dari satu ruang tamu, satu ruang keluarga dan dua kamar tidur. Serta di bagian paling belakang, ada sebuah ruangan kecil sebagai dapurnya, walaupun sama sekali tidak ada peralatan memasak. Hanya beberapa pasang piring dan gelas, juga sendok dan garpu.
Di sini, ruang keluarganya disulap menjadi tempat pertemuan. Ada sebuah meja panjang dengan dua belas kursi, biasanya di ruang ini lah diadakan pertemuan para crew atau pengurus persatuan fans/pendengar. Di dinding terdapat sebuah papan tulis putih, whiteboard yang seringkali digunakan untuk menulis sesuatu yang diperlukan ketika meeting.
Di sudut-sudut ruangan ini juga tersimpan banyak peralatan seperti speaker, tumpukan CD lagu, monitor dan CPU yang sudah tak terpakai, printer usang, sampel-sampel produk, map-map surat, dan lain sebagainya.
Salah satu kamar tidurnya yang memiliki kamar mandi di dalam, alih fungsi menjadi studio 1 untuk siaran. Di ruangan itulah sehari-hari aku bekerja. Bercuap-cuap, mengisi ruang dengar para fans Gema FM berjam-jam lamanya.
Kamar tidur yang satu lagi harusnya adalah studio 2, tapi saat ini sedang tidak dipakai karena memang belum terlalu dibutuhkan. Akhirnya tempat itu sering kami jadikan tempat istirahat, tiduran, kalau misalnya malas pulang ke rumah. Selain peralatan siaran, di lantainya juga terbentang sebuah kasur tahu tipis dan dua buah bantal.
Pintu kedua studio selalu terkunci, dan kuncinya hanya dipegang oleh penyiar.
Studio siaran dilengkapi dengan pelindung khusus di dinding dan langit-langitnya, sehingga kedap suara.
Suara apa pun yang ada di dalam, tidak akan terdengar ke luar, begitu juga sebaliknya. Karena tidak adanya pergantian udara, maka ruangan tersebut dilengkapi dengan sebuah Air Conditoner atau AC, sehingga penyiar yang sedang bertugas tidak akan merasakan gerah ataukah pengap.
Pintu kayu yang menjadi penutup ruangan studio, separuhnya diberi kaca. Sehingga apa pun kegiatan di dalam masih bisa terawasi dari luar.
Ruangan untuk pemancar radio dibuat terpisah agak ke belakang. Di dekatnya berdiri sebuah tower yang menjulang tinggi hampir tiga puluh meter.
Yang terakhir, Ruang tamu. Ruangan tersebut memiliki fungsi seperti seharusnya. Sebagai tempat menyambut kalau ada pendengar yang datang. Termasuk kalau ada kunjungan dari orang-orang penting, semisal pengusaha-pengusaha yang tertarik untuk memasang iklan di sini sebagai sarana promosi produk atau jasanya.
Siang ini seusai siaran, aku duduk sendiri di ruang tamu. Masih enggan pulang ke kontrakan. Bosan juga berdiam diri di kontrakan terus, tidak ada kegiatan. Sepuluh menit lalu, Leo sudah masuk ke studio, siang ini jadwalnya hingga sore nanti.
Kukeluarkan ponsel dari tas selempang, lalu menggeser-geser menu di layar. Membuka sosial media, scrolling, mencari-cari kalau ada hal menarik untuk dilihat. Lama-lama bosan juga.
"Selamat siang." Iseng, kukirimkan chat ke nomor WA Andini, siapa tau dibalas, walaupun biasanya siang-siang begini ia sibuk bekerja.
Satu menit, dua menit, tak ada tanda-tanda akan dibaca. Hingga lima menit kemudian, tanda ceklis dua berubah menjadi biru. Aha, pesanku dibuka juga akhirnya.
"Selamat siang, juga, Abang." Ia membalas dengan tiga buat emoticon tersenyum di belakangnya.
"Lagi di pangkalan, ya?" tanyaku.
"Waah, kok tau? Abang dukun, ya?"
Ampun, aku dikatai dukun. "Hahaha. Aku emang bisa meramal dikit-dikit." Kutambahkan emoticon orang berkacamata hitam, sombong.
"Hebat dong," balasnya dengan emot tertawa lagi. "Hayo coba ramal."
Aku berpikir sejenak, teringat film Dilan yang diputar di bioskop beberapa bulan lalu. "Hmm. Aku ramal deh ya. Bentar lagi, kita bakal makan siang bareng. Percaya gak?"
"Hahaha. Iya kali bareng, ya. Aku makan di sini, Abang makan di sana, tapi waktunya barengan."
Aku tersenyum.
"O ya, ngomong-ngomong, aku mau pesen makanan nih, tapi kalau lewat g*food takutnya bukan kamu yang nganter." Kukirimkan chat dengan dua emot sedih di belakangnya.
"Hah? Memangnya kenapa, kok harus aku yang nganter makanannya, Bang? Yang lain kan juga gak apa-apa, yang penting makanannya sampai, kan."
Aku bingung mau membalas apa, jadi kukirimkan saja emoticon bingung, menggaruk-garuk kepala.
"Oh iya, aku tau. Kalau aku yang nganter makin enak ya makanannya? Atau minumannya jadi makin manis, ya? Apa porsinya jadi makin banyak? Hahahaha."
Aku tersenyum lebar, memukul pinggiran sova yang kududuki. "Tuh, tauu."
"Yaudah, saya anterin deh. Mau pesen apa emangnya, Bang? Pesen manual aja, deh."
"Bener nih, boleh?"
"Iya, boleh. Tapi jangan sering-sering ya. Soalnya aku ngejar target poin di aplikasi juga. Hehe."
"Iya, gak sering-sering kok."
"Yaudah, mau pesan apa emangnya, Bang?"
"Mau nasi Padang porsi jumbo dua bungkus, terus esteh manis dua ya."
"Itu aja?"
"Iya, cukup."
"Oke, meluncur." Ia seketika langsung off dari WA.
"Yess!" Aku berteriak senang sambil memukul sova lagi.
Tak disangka, ternyata Leo, entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku, tanpa kusadari. Wajahnya melongo menatapku penuh tanda tanya. Bang Iqbal sudah stress ya? Mungkin begitu pikirnya.
"Abang kenapa?" tanyanya dengan ekspresi heran.
"Hehe. Gak apa-apa." Aku kikuk sendiri. "Lagi mutar lagu, ya?" tanyaku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Iya, Bang, lagi mutar lagu sama iklan," jawabnya. "Abang beneran gak apa-apa?"
"Iyaa."
"Muka Abang agak merah, tuh? Lagi demam, apa gimana?"
"Gak, gak kok. I'm okey, Dude." Aku kembali duduk mencoba menyembunyikan wajah.
Ah, malunya. Untung cuma Leo, kalau kak Bunga, sudah heboh di sini.
***
Aku duduk diam menunggu sambil memikirkan kata-kata apa yang akan kuucapkan nanti saat dia datang.
Jangan sampai salah ngomong, yang berujung pada rasa malu. Aku juga merapikan posisi sova yang sedikit miring, membersihkan debu di atas meja kaca, juga sedikit memperbaiki posisi alasnya. Ah, seperti mau menyambut tamu penting saja.
Sekitar sepuluh menit kemudian, akhirnya orang yang ditunggu-tunggu datang. Suara sepeda motor matic terdengar di depan studio. Aku langsung bergegas melangkah ke depan. Jangan sampai gadis itu menunggu terlalu lama.
Ah, tidak, sepertinya bukan karena itu, tapi memang aku yang ingin cepat-cepat bertemu dengannya.
"Lama ya, Bang, nungguinnya?" Ia tersenyum lebar setelah menarik turun masker dan melepas helm.
"Gak juga. Baru sekitar enam ratus detik." Aku ikut tersenyum lebar, lalu mempersilakan masuk.
"Waw, dihitung ya setiap detiknya? Hahaha."
"Hehe." Aku mengeringai, tak tahu harus menjawab apa.
Baru kusadari ternyata penampilan gadis ini cukup modis. Warna baju yang berada di balik jaketnya yang tidak di-risleting sewarna dengan warna sepatu sneakers yang ia kenakan. Kemudian celana gelapnya juga sewarna dengan masker dan sarung tangan. Helm dan motor matic-nya juga memiliki corak yang sama. Dengan begitu, jaket yang menjadi ciri khas driver ojol tersebut menjadi terlihat mencolok di antara warna-warna lainnya yang ia kenakan. Keren juga.
"Taruh di sini, Bang?" Ia menunjuk meja kaca di ruang tamu, setelah melangkah masuk.
"Iya, Din."
"Totalnya segini ya, Bang." Ia menunjukkan sehelai kertas struk belanja.
"Oh, iya." Aku mengeluarkan selembar uang dari dompet dan menyerahkan pada gadis itu.
"Tunggu bentar, ya." Aku bergegas ke belakang sementara ia sibuk menghitung kembalian.
"Oke," jawabnya singkat, sambil tetap berdiri.
Setelah aku kembali membawa dua buah piring dan dua pasang sendok-garpu, ia masih berdiri. "Ini kembaliannya, Bang," katanya sambil menyerahkan beberapa lembar uang.
"Oke-oke." Kuraih dan langsung kumasukkan ke kantong. "Jangan berdiri terus, Din. Ayo duduk dulu."
"Hah?" Ia keheranan.
"Loh, ini kan nasi Padangnya dua bungkus, buat kamu loh satunya." Aku menyeringai melihat ekspresinya yang lucu.
"Aduh, gak usah, Bang. Makan aja."
"Kemarin kan di Taman Batang Agam gak ada yang jual nasi Padang, jadi sekarang deh gantinya. Ayo duduk, ini udah diambilin piring juga. Jangan berdiri aja, nanti betisnya gede loh." Aku memaksa.
"Ya ampun, Abang." Akhirnya dia menurut dan duduk di sova. "Beneran nih? Jadi enak, saya. Eh, gak enak maksudnya."
"Ya beneran, lah, Din. Ngapain gak enak segala. Enak ini mah nasi Padang."
Aku ke belakang lagi mengambil dua gelas air minum. "Selamat makan," kataku kemudian.
"Selamat makan," katanya juga.
"Ngomong-ngomong Abang traktir dalam rangka apa nih? Abang lagi ulang tahun, ya?"
"Eh, gak lah. Gak dalam rangka apa-apa."
"Makasih loh, Bang. Kebetulan banget belum makan siang."
Kami berdua makan dengan lahap di ruang tamu studio Gema FM. Sesaat aku teringat pada Leo yang sedang siaran di dalam. Semoga saja ia tidak keluar lagi.
"O ya, aku lupa," ujarku sambil mengunyah makanan. "Ramalanku tadi benar, ya."
Gadis itu terdiam sejenak, lalu ikut teringat. "Hahaha. Iya ya, Bang. Saluut, peramal handal."
"Hehehe."