Payung Hijau Muda

1454 Kata
POV: Andini Suaru deru kendaraan roda empat terdengar di depan rumah. Aku melirik sejenak dari kaca jendela, mobil yang tidak asing, sedan hitam. Aku kenal betul, itu mobilnya om Andi. Dia memang sering datang ke rumah untuk bertemu ayah. Awalnya aku merasa tidak tertarik dan melanjutkan kegiatan melukis yang sedang kulakukan. Ibu membelikan crayon dengan berbagai warna beberapa hari yang lalu. Alhasil, itulah kegiatan favoritku belakangan ini. Bisa menghabiskan waktu berjam-jam di meja belajar, menghabiskan berlembar-lembar buku gambar. Walaupun hasilnya tidak jelas, hanya seperti coretan-coretan abstrak tak berbentuk. Tin tin tin. Klakson mobil om Andi berbunyi saat ia menekan remot. Aku melirik sedetik, lalu kembali fokus ke buku gambar. Namun, mataku melotot seketika, tersadar akan yang baru saja kulihat. Om Andi ternyata tidak sendiri. Ia bersama dua orang lainnya. "Suciii!" Aku berteriak kencang sambil berlari ke pintu depan, tak peduli lagi pada crayon yang terjatuh berserakan di lantai. Senang sekali melihat sosok sahabatku itu akhirnya datang. "Diniii!" Gadis itu juga sontak berteriak begitu melihatku keluar dari pintu. Kami berdua berpelukan. Sudah lama sekali rasanya tidak bertemu dengan sahabatku itu. Ia terlihat sangat cantik dengan gaun merah muda dan bandana berwarna senada di rambutnya. Sepatunya juga sama, berhiaskan kupu-kupu di atasnya. "Dini sudah besar, ya. Aduh padahal belum setahun kita gak ketemu." Tante Vira, ibunya Suci berkata. "Hehe." Aku tersenyum senang. "Yeyeee Suci datang. Ayo masuk-masuk, Ci." Saking senangnya sampai tidak sadar menarik tangan gadis itu terlalu keras. "Pelan-pelan, Dinii," keluhnya. "Loh, ini yang diajak masuk, Suci aja nih?" Om Andi memasang wajah cemberut. "Hehe. Om sama Tante juga, ayo masuk." Kami bertiga melangkah masuk ke rumahku. Aku yang paling bersemangat, ingin rasanya cepat-cepat mengajak Suci bermain, memperkenalkannya pada tempat-tempat bermain favoritku di sini. "Ibuuu! Ibuuu! Ada Suci, Bu. Suci datang sama om Andi sama Tante Vira." Ibu terlihat bergegas turun dari lantai atas dan langsung merangkul Tante Vira. Ya, keluarga mereka dan keluargaku memang sudah begitu akrab, sudah seperti saudara. "Suci, ayo ikut!" Aku lagi-lagi menarik tangan gadis itu sehingga membuatnya meringis. "Kamu gak berubah ya, masih terlalu bersemangat kayak biasanya." "Hehe. Aku mau nunjukin sesuatu." Kubawa ia ke lantai atas lalu terus ke balkon. Dari sana terlihat pemandangan yang sangat indah. Bebukitan sejauh mata memandang dengan barisan pohon-pohon kelapa sawit yang terlihat rapi. "Besok kalau kamu udah tinggal di sini, aku ajak main ke sana." Kutunjuk sebuah lapangan pasir yang dikelilingi pohon-pohon sawit yang sudah mati. "Main apa di situ?" "Biasanya sore-sore banyak anak laki-laki yang main layangan di sana. Tapi kita gak usah ikutan. Kita nonton mereka main aja, ngadu layangan sampai ada yang putus." "Wah, aku suka layangan! Kalau putus kita bisa kejar!?" Serunya antusias. "Ya!" Aku mengangguk mantap. Setelah sekian lamanya Andini kecil kesepian bermain sendiri di tempat yang baru, tak ada teman berbagi cerita-cerita menarik, bermain bersama, ataupun melakukan hal-hal baru bersama. Akhirnya hari ini Suci datang dari kampung. Mulai sekarang dan seterusnya, ia tak akan kesepian lagi. Seharusnya begitu. *** Batas waktu untuk mengumpulkan uang semakin dekat. Aku membaca pengumuman di grup WA tempo hari, jadwal tatap muka semester ini akan dimulai beberapa hari lagi. Pagi ini, seperti biasa aku memanaskan sepeda motor sebelum berangkat bekerja, kemudian mengelap bagian-bagian yang berdebu agar terlihat mengkilap kembali. "Yah, buat ngencangin standar motor pake kunci apa, ya?" tanyaku pada ayah yang sedang duduk minum teh sambil mendengar radio. Tenang saja, itu teh tawar, gulanya sedikit sekali, hanya seujung sendok. Aku sadar kondisi ayah harus benar-benar diperhatikan, termasuk kadar gula darahnya. Maklumin, faktor usia membuatnya rentan terkena komplikasi berbagai macam penyakit. "Standar?" tanya ayah kembali, memastikan. "Iya, kayaknya standar motor Dini agak goyang deh, mungkin bautnya longgar." "Oh, itu. Pakai kunci 14, coba Din." "Yang kayak gimana tuh, Yah?" "Tengok aja di gudang, Din. Ada kunci-kunci dalam box peralatan vespa ayah dulu. Liat aja yang ada angka 14-nya. Ambil yang ring, jangan yang kunci pas." Aku bergegas ke kamar paling belakang yang kini digunakan untuk menyimpan barang-barang yang tidak terpakai. Barang-barang yang kami bawa dari rumah yang lama. Sisa-sisa yang tidak boleh dijual, atau yang memang tidak laku dijual. Ruangannya sangat berdebu, memang jarang dibuka, apalagi dibersihkan. Di sudut kulihat vespa tua milik ayah. Dulu ia begitu menyayangi vespa itu. Walaupun sering ngadat di jalan, ia masih saja memakainya. Ketika barang-barang yang lain habis dilelang, aku menolak untuk menjual benda yang satu itu. Vespa tersebut begitu berharga. Bukan soal uang, tapi kenangannya sangat mahal. Priceless. Aku ingat sekali, dulu setiap minggu pagi, ayah akan membawaku dan ibu jalan-jalan dengan vespa itu. Walaupun waktu itu sebenarnya sudah ada mobil, tapi tetap saja ayah dan ibuku senang bepergian dengannya. Aku melihat setiap sudut. "Di mana kunci 14-nya?" Ada dua buah peti kayu yang tertutup dan tiga buah keranjang yang dipenuhi berbagai macam benda. Ada buku-buku lama, bingkai-bingkai foto yang kacanya sudah retak, juga aneka mainan masa kecilku yang sudah tidak mungkin dimainkan lagi. Tentu saja. Namun, aku tidak menemukan kunci yang dikatakan ayah. Kubuka salah satu peti kayu untuk melihat apa isinya. Ternyata ini adalah baju-baju lama milik ibu. Tak ada lagi lemari-lemari besar tempat menyimpannya, semua perabotan telah terjual habis, sehingga terpaksa baju-baju ini disimpan di sini. Haaah. Memandang baju-baju yang tidak asing tersebut membuat dadaku sesak seketika. Kenangan-kenangan lama itu menyeruak seketika. Sebuah baju tidur, piyama berwarna merah muda. Aku yang memberikan saran pada ayah untuk membelikan baju ini untuk ibu. Kala itu aku telah duduk di bangku SMA kelas dua. "Dini, ikut Ayah, yuk." Malam Minggu, aku sedang asyik menonton drama kesayangan kala ayah tiba-tiba masuk ke kamar dan mengajakku pergi. "Hah? Ke mana, Yah?" Aku heran, tak biasanya ayah begitu. "Hampir saja terjadi bencana," katanya dengan wajah serius. "Hah? Bencana apa?" Aku jadi ikut tegang. "Ayah, hampir lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan ayah dan ibumu, Din." "Oh iya, ya?" Aku mengingat-ingat. "Kamu juga gak ingat, Din?" "Ya, mana Dini ingat, orang pas nikahan aja Dini gak diundang, Yah," kelakarku mencairkan suasana. Ayah menepuk jidat. "Ayo bantu ayah milihin hadiah buat Ibu. Mumpung ibumu masih meeting sama client." "Oke deh." Aku akhirnya ikut bersemangat. "Dini siap-siap bentar, Ayah tunggu di depan aja ya." "Oke. Cepat, ya." Laki-laki itu melihat arlojinya sejenak sebelum kemudian melangkah meninggalkan kamarku. Kala itu, kalau boleh jujur, jika seandainya nanti punya suami, maka aku sangat ingin mempunyai suami yang sosoknya seperti ayahku. Bukan, bukan soal uangnya, atau jabatannya, tapi tentang bagaimana ia memperlakukan ibuku. Karena perlakuan istimewa dari ayah lah, ibu bisa bertahan dengan berbagai macam hal buruk yang didapat dari keluarganya. Ayah pintar sekali dalam urusan membuat hati ibuku senang. Ia begitu detail tentang hal-hal kecil, yang justru malah jadi berkesan di mata wanitanya. Ibuku pernah bercerita, ketika ia sedang di rawat di rumah sakit. Hari-hari terasa begitu panjang dan membosankan. Namun, ketika ayah datang, semuanya berubah. Ayah akan membawakan seikat bunga, lalu ditaruh di nakas di samping ranjang ibu. Lalu dia akan duduk di sana mengupaskan sebuah apel dan menyuapkan satu-persatu potongannya ke mulut ibu. Sembari melakukan itu, ayah akan menceritakan semua kejadian yang ia alami hari itu. Ibuku selalu berkata bahwa tidak semua perempuan seberuntung ia, bisa mendapatkan laki-laki seperti ayah. "Ini gimana, Din?" Ayah menunjuk sebuah kalung di salah satu toko emas yang kami datangi. Aku berpikir sejenak, lalu menggeleng. Norak sekali selera ayah, mulu-mulu perhiasan. Di kotak perhiasan milik ibuku kulihat banyak sekali gelang dan kalung yang sama sekali tidak tersentuh. "Ini?" Ayah menunjukkan sebuah cincin berlian. "Yah, jari ibu tu cuma 10, gak mungkin juga dipasangi cincin semua," ujarku. "Coba deh beli hadiah yang kira-kira bakal kepakai sama ibu." "Yaudah, Ayah ngikut kamu, deh. Kita beli apa?" "Yuk!" Aku senang sekali. Kuajak ayah ke sebuah toko baju, melihat-lihat mana yang cocok untuk hadiah ibuku. Menurutku, ibu sangat cantik jika memakai pakaian berwarna merah muda. Kulitnya yang putih bersih, menjadi terlihat berseri dipadu dengan warna itu. Kupilih juga bahannya yang jatuh ke kulit, sehingga semakin cocok di tubuh kurus ibu yang tinggi semampai. "Ini, Yah!" ujarku bersemangat menunjukkan sebuah piyama merah muda. "Hah? Itu?" Ayah terlihat tidak yakin. Mungkin ia berpikir untuk membelikan hadiah yang harganya jauh lebih mahal. "Iya, pasti ibu suka, Yah." Akhirnya ayah mengangguk. Menyenangkan hati wanita tidak selalu tentang berapa harga benda yang diberikan, percayalah. Aku tersadar dari lamunan, mengusap pipi yang sudah basah, lalu mengembalikan baju tersebut ke tempatnya. Kubuka peti berikutnya untuk mencari kunci yang dimaksud, tapi tetap tak kutemukan di sana. "Eh?" Tiba-tiba mataku tertuju ke sebuah kantor plastik hitam yang sedikit terbuka. "Apa ini?" Sebuah payung berwarna hijau muda terlihat di dalamnya. Aku melotot. "Payung ini?" Sebuah ingatan tiba-tiba saja muncul di kepalaku ketika memandang sebuah payung hijau muda dengan bekas jahitan di beberapa sudutnya tersebut. Buru-buru kukeluarkan ponsel dari kantong, mencari kontak dengan nama "Bang Iqbal". "Bang, aku ingat tentang kejadian yang Abang bilang di Taman Batang Agam kemarin."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN