Payung Hijau Muda(2)

1409 Kata
POV: Andini Sore ini, sebelum matahari tenggelam sempurna, aku sudah berada di rumah. Selain badan sudah terasa terlalu lelah, aku juga khawatir pada ayah. Pasalnya, tadi siang beliau mengeluhkan tangannya yang masih saja terasa sakit. Bekas terkilir yang sudah diurut tempo hari. Akhirnya setelah mandi dan sedikit meregangkan otot, aku mengantarkan ayah ke tempat urut lagi untuk mengecek. Kabar baiknya, kata orang tersebut, tangan ayahku sudah tak mengapa. "Mungkin terasa agak sakit karena sudah lama tidak dipakai beraktivitas aja, Dek. Nanti lama-lama juga ilang sakitnya. Kan tidak ada bengkak dan tidak merah juga. Aman kok ini, tinggal pemilihan." Begitu katanya. Syukurlah. Biasanya malam hari seperti ini, kalau tidak ada tugas kuliah, ketika ayah sudah beristirahat, aku hanya diam tak ada kegiatan. Paling-paling hanya memainkannya HP, membuka sosial media. Menonton drama sudah tak seseru dulu. Mungkin faktor usia juga. Alurnya yang dulu terasa sangat menarik untuk diikuti, sekarang malah terasa datar saja. Kecuali kalau pemainnya adalah Aktor san Aktris favoritku. Namun, akhir-akhir ini, setiap malam selalu saja ada chat WA yang sudah masuk, menunggu untuk dibuka. Ya, siapa lagi kalau bukan dia. Selamat Siang! Selamat Sore! Selamat Malam! Ternyata laki-laki itu sudah mencoba menghubungiku dari siang hari tadi. Aku tersenyum senang melihat ucapan selamat berturut-turut yang ia kirimkan. Memang seharian tadi, aku fokus bekerja, jadi tidak sempat membuka w******p pribadi. "Selamat malam juga, Abang. Maaf baru buka WA." Kubalas pesan darinya dengan sebuah emoticon menyesal di bagian bawah. "Santai ajaa. Aku tau kok kamu lagi kerja. Gak usah minta maaf, Din, belum lebaran ini," jawabnya lagi dengan emoticon tertawa. "Lagi apa?" Seperti biasa, pertanyaan basa-basi itu muncul. "Lagi bernapas, Bang," candaku dengan sederet emoticon tertawa di bawahnya. "Hahaha. Selamat bernapas." "Iya, makasih, Abang." Obrolan-obrolan ringan tentang kejadian di hari itu berlanjut. Kemudian, beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja aku teringat dengan kondisinya yang harus cuci darah dua kali seminggu. Aku penasaran ingin bertanya, juga ingin melihat langsung prosesnya bagaimana. Namun, aku bingung juga bagaimana cara memintanya. Apakah sembarangan orang bisa masuk ke ruangan cuci darah ya? "Bang, kalau boleh tau, Abang risih gak sih sebenarnya kalau ada yang nanya-nanya tentang penyakit Abang?" tanyaku. "Tergantung konteksnya, tergantung orangnya siapa, juga. Hehe." "Maksudnya?" "Yaaa, kalau misalnya ada orang asing yang tiba-tiba aja nanya kayak wawancara gitu, kesel sih kadang. Makanya aku kalau misalnya ketemu pasien lain di poliklinik pas kontrol, trus ditanya berobat apa, paling aku bilang cek darah aja." "Hah? Kenapa gitu? Bohong dong Abang berarti?" "Loh, gak bohong dong, kan emang beneran cek darah salah satu tujuan kontrol bulanan." Ia menjelaskan. "Ingat gak pas kamu nanya waktu kita di apotek waktu itu? Kan ada tu pasien lain yang denger, dia langsung penasaran dan jadinya banyak tanya. Banyangin aja kalau semua orang yang aku temui nanya seperti itu, kan capek ngejelasin satu-satu, panjang lebar gitu." "Hmm." Aku mengangguk paham maksudnya. "Kalau pas ditanya sakit apa, trus aku jawab pasien cuci darah. Pasti tidak akan beres di situ. Akan banyak pertanyaan-pertanyaan lain di belakangnya. Makanya kadang kalau lagi males, aku jawab aja cek darah biasa. Gituu, Din." Ia mengirimkan emoticon bintang-bintang, entah apa maksudnya. "Lagi pula, kadang mereka nanya tuh cuma untuk melepaskan rasa penasaran aja. Jadi, gak ada manfaat juga kalau kita jelasin panjang lebar. Kecuali ada yang bertanya untuk tujuan tertentu, misalnya ada anggota keluarganya yang juga cuci darah, atau baru divonis gagal ginjal, jadi dia minta sharing pengalaman. Nah, kalau gitu, aku mau tuh jawab pertanyaannya, biar gak apa-apa jelasin panjang lebar juga," terangnya lagi. "Oh gitu, iya paham, Bang." Kukirimkan emoticon jempol kuning. "Nah, pertanyaannya, kenapa kalau aku yang nanya, Abang mau jelasin panjang lebar?" "Eh, iya juga. Kenapa ya? Aku juga ga tau, Din." Ia mengirim emoticon tertawa lagi. "Hahaha." Aku balas dengan emoticon yang sama. "Oh ya, Bang. Kalau misalnya nanti kapan-kapan, aku mau lihat pas Abang lagi cuci darah bisa gak sih? Boleh masuk ke ruangannya? Atau emang khusus buat pasien aja, Bang?" "Boleh aja kok, Din. Jadi waktu suster dan dokternya lagi tindakan, kayak masang jarum dan lain-lain, memang gak boleh masuk. Nah ketika proses cuci darah udah jalan, itu kan nunggunya lama, sampai lima jam. Itu keluarga pasien boleh masuk." "Keluarga aja, Bang?" tanyaku lagi. "Ya siapa aja yang nemenin. Pasien yang lain kan biasanya ada yang nemenin, istilahnya kayak pendamping pasien. Jarang loh yang bolak-balik ke RS sendirian kayak aku, Din." "Oh, gitu. Jadi intinya, boleh ya, Bang." "Iya, boleh aja." "Kapan-kapan pas Abang cuci darah, aku datang ya, mau lihat juga. Siapa tau nanti setelah lulus kuliah keperawatan, aku bisa ngambilin bagian Hemodialisis juga, Bang." "Iya, boleh aja, Din. Nanti kabarin aja." "Oke, siaap." Sudah cukup lama aku penasaran akan proses cuci darah atau hemodialisis tersebut. Akhirnya ada kesempatan juga untuk berkunjung ke ruangan itu untuk menyaksikan langsung bagaimana prosesnya. Ah, tidak sabar rasanya. *** Ssstttt! Aku menaruh telunjuk di depan bibir, memberikan kode kepada Suci untuk tidak bersuara. Sekumpul anak laki-laki yang sedang bermain di lapangan akan memarahi kami jika tau ada anak perempuan berkeliaran di sekitar sini. "Sana-sana pulang," katanya kemarin saat kami mendekat. "Iya, jangan ikut-ikut deh. Nanti kalian nangis, kami juga yang disalahin. Udah pulang aja, jangan dekat-dekat." "Iya, nanti kesenggol jatuh, trus nangis. Trus emaknya datang ke sini ngomel-ngomel. Anak perempuan main di rumah aja, main boneka atau main masak-masakan. Hahaha." Sekumpulan anak laki-laki itu tetap tak mengizinkan kami ikut bermain di lapangan ini. "Kenapa sih anak perempuan gak boleh ikut main layangan?" celetukku kesal waktu itu. Padahal kami sudah membawa layangan dan benang masing-masing. Akhirnya aku dan Suci tak pernah lagi datang ke lapangan ini. Kalau ingin bermain layangan, kami memutuskan untuk bermain di halaman belakang rumahku saja. Walaupun tidak begitu luas, tapi cukup untuk kami berlari-lari menerbangkan layangan. Tidak terhitung sudah berapa banyak layangan milikku dan Suci yang tersangkut di atas pucuk pohon kepala sawit. Namun, hari ini, aku memberanikan diri untuk datang lagi ke lapangan ini karena penasaran pada laki-laki yang tempo hari diceritakan ibu. "Buu! Ibuu! Ini plastik apa? Kok ada di teras?" teriakku ketika melihat sebuah plastik hitam tergeletak di teras rumah beberapa hari yang lalu. "Plastik?" "Iya, ini nih." Kuraih dan kulihat isinya. "Eh, ini payung punya Dini, Bu." Aku kaget melihat sebuah payung berwarna merah muda di dalamnya. Mengapa bisa ada di sini? Seingatku payung ini ada di gudang belakang rumah. Ibu celingak-celinguk melihat sekitar, seperti mencari sesuatu. "Sudah dikembalikan, ya. Di mana dia?" "Siapa, Bu?" tanyaku tak mengerti. "Anak laki-laki yang waktu itu nolongin kamu, trus kamu dorong sampai payungnya patah. Makanya ibu pinjemin payung ini. Mungkin tadi dia mau ngembaliin, tapi karena gak ada orang dia taruh aja di teras." Aku mengingat-ingat kejadian yang dikatakan ibu. Tempo hari, saat kucing kesayanganku mati dan dikubur di belakang rumah, aku benar-benar sedih tak terkira. Pasalnya kucing itu satu-satunya temanku selama ini sebelum kedatangan Suci. Ibu sudah berulang kali memanggilku untuk masuk ke dalam rumah, tapi aku tetap bergeming. Terus saja menangis di depan gundukan tanah bekas kuburan kucingku tersebut. Lalu tiba-tiba saja seseorang mendadak muncul di belakangku. Tentu saja aku kaget sampai tidak sengaja mendorong tubuhku. Tak kusangka hal itu membuatnya terjatuh dan payungnya rusak. Ibu menceritakan semuanya. "Anak laki-laki itu sering bermain bersama teman-temannya di lapangan pasir putih dekat kebun sebelah sana. Orangnya kurus, tinggi, kulitnya lebih cerah dibanding teman-temannya yang lain. Mungkin dia anak kelas empat atau lima SD," terang ibu. "Ini payungnya yang rusak, padahal udah ibu perbaiki. Nanti kalau nampak dia lewat panggil aja ya, biar kita balikin payungnya. "Iya, Bu." Aku mengangguk sambil melihat payung berwarna hijau muda yang dibawa ibu dari dalam rumah. Ukurannya sama dengan payung milikku. Itu lah yang membuatku penasaran, hingga akhirnya hari ini memberanikan diri membawa Suci datang ke lapangan ini. "Yang mana ya, Abang-abang yang dimaksud ibu?" bisikku pelan. "Memangnya kata ibumu orangnya seperti apa?" Suci ikut berbisik di sebelahku. "Tinggi, putih, kurus, kelas 5 SD." "Hm?" Ia menyipitkan mata, menyelidik seperti seorang detektif. Ada tujuh anak laki-laki yang sedang bermain di lapangan itu. Beberapa orang masih mengenakan seragam sekolah, sebagian lainnya memakai baju kaos, tapi masih bercelana merah hati. Namun, tidak satu pun dari mereka yang ciri-cirinya seperti itu. "Gak ada kayaknya," ujar Suci, mereka gak ada yang putih, kulitnya coklat semua, Din. Namanya juga main lapangan tiap hari, di bawah terik matahari. Mana bisa putih, heheh," katanya sambil terkekeh sendiri. "Iya juga, ya." Ah, aku semakin penasaran saja. Siapa sih, laki-laki pemilik payung hijau muda yang dimaksud ibu. Aku menyesal waktu itu tak melihat wajahnya sebelum berlari masuk ke dalam rumah. Jadinya penasaran sendiri kan. Huh, kesal!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN