POV: Andini
Tin tin!
Suara klakson mobil terdengar tepat di belakang sepeda motorku. Aku menoleh, terlihat sesosok wajah yang kukenal muncul dari kacanya yang terbuka.
"Hei, Din. Lama gak ketemu ya. Apa kabar?" Si empunya mobil langsung keluar dan mendekatiku.
Dia adalah Gilang, Kakak Tingkat se-Prodi di Kampusku. Seorang pria yang wajahnya cukup tampan, dengan kulit sawo matang. Sebuah lesung pipit muncul di pipi kanannya ketika tersenyum.
Ia terlihat rapi sekali pagi ini dengan setelan kemeja dongker dan celana hitam. Lengan kemejanya sengaja dilipat sedikit ke atas menampakkan tangan kekarnya yang berbulu.
"Hai juga, kak Lang. Sehat, kamu gimana?"
"Ya, begini lah Din. Masih tampan seperti biasanya," jawabnya sambil mengusap kerah baju.
Aku mencibir. "Heleeh. Gak ilang-ilang ya, Kak, sifat terlalu PD-nya."
"Itu kelebihan, Din. Ngapain dihilangkan." Ia terkekeh. "Oh ya, Din." Ekspresi wajahnya berubah seketika.
"Iya?"
"Aku turut berdukacita untuk ibumu, ya. Maaf baru sempat ngucapin. Aku baru dapat kabarnya beberapa hari lalu." Ekspresinya penuh rasa bersalah.
"Iya, kak Lang. Makasih, ya. Santai aja, Kak, udah lama juga."
"Btw, berarti udah lama juga kita gak ketemu ya? Udah berapa bulan ya, setengah tahun?" Wajahnya ceria lagi. Sebentar-sebentar ada saja adik-adik mahasiswa yang menyapanya.
Namanya juga seleb kampus.
"Hmm." Aku tak begitu menghiraukan laki-laki itu, sejenak mengecek HP.
"Ya, maklumlah penelitianku di Swiss berjalan lebih lama daripada yang direncanakan. Banyak hal-hal yang tidak terduga. Jadinya baru kelar deh." Ia menjelaskan tanpa kuminta.
"Yaah. Sukses deh, kak Lang."
Eh, aku melotot melihat HP. Kucek lagi Nomor Induk Mahasiswa yang kumasukkan, ternyata sudah benar. Loh, siapa yang membayarnya?
Berhari-hari bahkan sudah hitungan bulan aku banting tulang demi mencari biaya untuk melanjutkan kuliah di semester ini. Kini uangnya sudah cukup, berada di tangan. Namun, tiba-tiba saja di portal online milik kampusku, saat kucek, sudah lunas. Otakku mencoba berpikir, siapa kah kira-kira orang yang sudah membayarnya.
Hanya ada dua kemungkinan. Om Andi, sahabat ayahku, atau kemungkinan yang kedua, wanita itu. Kemungkinan kedua inilah yang paling kutakutkan. Karena sekali saja aku berutang budi padanya, maka seumur hidup aku akan menyesuaikan dibuatnya.
Buru-buru aku menghidupkan kembali sepeda motor, kembali pulang ke rumah. Ada hal yang harus segera kupastikan, dan satu-satunya jalan hanyalah dengan bertanya pada ayah. Ayahku pasti tau siapa yang sudah membayar uang sebanyak ini.
"Aku duluan ya, Kak. Ada urusan tiba-tiba nih," ujarku sebelum menarik gas sepeda motor, pergi meninggalkan kak Gilang yang masih berdiri di parkiran.
"Loh kenapa, kok buru-buru amat, Din, nanti balik lagi gak!?" teriaknya. "Kalau iya, nanti siang ketemu di kantin ya!"
Aku mengacungkan jempol ke udara, sebagai tanda mengiyakan.
Haaah. Aku menghela napas panjang. Dulu laki-laki itu pernah mengutarakan perasaannya padaku. Namun, aku sama sekali tak memiliki perasaan padanya. Bagiku ia hanyalah sebatas kakak tingkat di kampus, teman tempat berkonsultasi akan hal-hal yang tidak kuketahui tentang jurusan keperawatan ini.
Aku tak berani terang-terangan menolaknya kala itu, hanya saja kuundur-undur dan minta waktu berpikir terus, sambil menunjukkan tanda-tanda penolakan. Untungnya ia adalah seorang laki-laki yang peka. Lambat-laun ia lelah juga, dan akhirnya berhenti mengejar-ngejarku.
Lagi pula, memiliki pasangan seorang idola di kampus itu buatku sama saja dengan bunuh diri. Aku bisa-bisa dimusuhi oleh semua penggemar-penggemar wanitanya.
Sesampainya di depan rumah, kulihat lagi mobil yang tidak asing terparkir di sana. Jazz hitam metalik, milik tante Zee. Mau apa lagi dia ke sini?
Ah, sudah kuduga. Siapa lagi yang tiba-tiba membayar uang semesterku, kalau bukan dia.
Kuhirup napas dalam-dalam sebelum masuk ke dalam rumah. Bersiap untuk berseteru dengan wanita itu.
***
"Ya ampun, Suci, ngapain sih ngajak Andini main ke kebun lagi. Kan dari kemarin Om udah bilang jangan main ke sana. Dulu sebelum ada kamu di sini, Andini gak pernah ke mana-mana loh. Diam di rumah aja, dia."
Suci menunduk saja. Wajahnya terlihat begitu merasa bersalah.
"Ayah, jangan marahin Suci. Andini yang ngajak Suci ke Kebun. Jangan marahin Suci, Yah. Suci gak salah." Aku tak tega melihatnya dimarahi.
Jelas-jelas ini semua adalah salahku. Aku yang bersikeras mengajaknya ke kebun kelapa sawit untuk mengejar layangan.
"Aaaa! Sakit, Bu!" Aku berteriak sambil memegang tangan ibu.
"Tahan ya, Nak. Biar diobatin sama om dokter."
Aku masih saja meringis menahan rasa perih di telapak kaki.
"Gimana, Dok? Gak infeksi kan, kakinya?" Ibuku bertanya cemas kepada pria berjas putih yang datang ke rumah memeriksa.
"Tidak apa-apa kok, Bu. Memang ada sedikit serpihan durinya yang tertinggal di dalam, tapi sudah saya bersihkan kok. Minum aja antibiotiknya, nanti juga sembuh kok," jawabnya.
Wajah kedua orangtuaku akhirnya terlihat sedikit lebih lega.
"Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak, Bu. Cepat sembuh ya, gadis cantik."
Aku mengangguk sambil meringis, sakit di kaki belum sepenuhnya hilang.
"Oh ya, silakan, Dok. Mari saya antar." Ayah mengantarkan dokter tersebut turun.
Tempo hari, aku dan Suci bermain ke lapangan itu lagi. Meski sebenarnya sudah dilarang oleh ayah.
"Jangan main ke kebun sawit ya, Din. Teman-teman ayah bilang di sana ada harimau," katanya menakut-nakuti kami.
Namun, namanya anak-anak, makin dilarang, malah aku jadi semakin ingin ke sana lagi.
"Mana sih, Din, anak laki-laki yang dikatakan ibumu, gak pernah kelihatan deh. Apa jangan-jangan dia udah gak tinggal di dekat sini lagi?" Suci berbisik saat kami mengintip anak laki-laki yang tengah bermain layangan.
"Gak tau deh, Ci," jawabku tanpa menoleh padanya. Aku fokus memperhatikan anak-anak yang sedang mengadu layangan.
Mereka asyik sekali menarik benang, lalu mengulurnya kembali. Mengadu kekuatan benang mereka, siapa yang lebih tahan dan siapa yang akan terlebih dahulu putus.
"Eh! Layangannya putus!" teriakku tertahan ketika menyaksikan salah satu layangan yang sedang meliuk-liuk di angkasa itu tiba-tiba hilang kendali. Diiringi dengan keluhan kesal sang pemiliknya.
"Ayo kita kejar!" Aku menarik tangan Suci, lalu berlari sekencang-kencangnya.
Melihat arah layangan yang terbawa angin ke arah kami, seharusnya aku dan Suci akan mendapatkan layangan tersebut lebih dahulu dari pada sekumpulan anak laki-laki yang jauh di sana. Karena itulah aku jadi begitu bersemangat. Apalagi layangannya sangat cantik dan berwarna-warni.
Sudah menjadi ketentuan yang sangat umum di kalangan anak-anak. Jika ada layangan yang putus, maka siapapun yang mendapatkan pertama kali, layangan tersebut akan menjadi miliknya.
"Ayo cepat, Ci. Ke arah sana perginya!" teriakku pada Suci yang tertinggal beberapa meter di belakang.
Jika tidak melihat langsung, sepertinya tidak akan ada yang percaya. Pemandangan dua orang anak gadis kecil, yang satunya memakai rok di bawah lutut, dan yang satunya memakai gaun kembang, berlarian di kebun kepala sawit demi mengejar layangan putus.
"Tunggu, Din!" Suci berteriak.
Aku melihat ke arahnya tanpa mengurangi kecepatan berlari. Nahas, kakiku menginjak duri dahan kelapa sawit. Sendalku yang tipis tidak sanggup menahan tajamnya duri-duri tersebut hingga menusuk telapak kaki.
"Aduuh! Kakiku!" Aku jatuh terduduk di tanah.
"Kamu kenapa?" Suci panik melihatku meringis.
"Keinjak duri sawit. Haaa, kakiku berdarah, Ci." Aku mulai menangis menahan sakitnya.
Terlihat beberapa luka tusukan di telapak kakiku yang mengalirkan darah. "Aduuh, sakiit!"
"Gimana dong? Kamu gak bisa jalan?" Suci kebingungan melihatku yang terus menangis. "Ayo, aku bantu berdiri."
Dengan dibantu olehnya, kucoba bangkit, tapi kakiku begitu sakit diijakkan. "Aduuh. Huuu, sakit, Ci." Aku terduduk lagi.
Ketika tengah kebingungan harus bagaimana, tiba-tiba segerombolan anak laki-laki yang hendak mengejar layangan datang. Mereka keheranan melihat dan Suci di tengah kebun sawit begini.
"Kalian ngapain di sini?" tanya salah satu dari mereka yang bertubuh paling besar. "Kok temanmu nangis?"
"Keinjak duri sawit," jawab Suci takut-takut.
"Kan, udah dibilang anak cewek main di rumah aja. Jangan main di sini." Ia mengomel.
"Bantuin tuh, Yon," ujar temannya.
"Ih, nanti malah kita yang disalahin," sahut temannya yang lain.
"Iya, gak mau ikut-ikut ah."
"Rumah kamu di sebelah mana?" Laki-laki tambun tersebut bertanya padaku.
"Pinggir jalan besar, Bang," jawabku.
Dia mengangguk. "Yaudah kalian kejar tuh layangannya, benangnya udah keliatan di depan sana. Aku bantu adik ini dulu deh. Kasihan."
"Oke, Yon."
Laki-laki yang dipanggil Yon itu memapahku berdiri, lalu pelan-pelan membantuku berjalan. Tak kusangka dengan wajahnya yang sangar, ternyata orangnya baik sekali.
"Itu rumahmu?" tanyanya setelah beberapa saat.
Aku mengangguk.
"Lain kali gak usah lari-larian di kebun lagi. Kan kemarin udah dibilangin. Bukannya kami marah karena malas main sama kalian, tapi karena emang bahaya."
Aku mengangguk lagi, mengiyakan.
"Yaudah, aku antar sampai sini aja ya. Takut diomelin orangtuamu nanti," ujarnya setelah sampai di depan pagar. Kemudian, bergegas pergi.
"Eh, Bang!" Aku berteriak.
Ia menoleh, "ya?"
"Makasih, ya."
"Ya, sama-sama."
"Eh, Bang!" teriakku lagi.
"Apa lagi?" Ia mulai kesal.
"Abang kenal gak sama anak laki-laki yang kira-kira seumurah Abang, pernah main layangan juga di lapangan itu. Orangnya putih, tinggi, trus ...."
"Si Iqbal?"
"Oh namanya, Iqbal ya?"
"Ya, kalau yang tinggi dan putih, ya si Iqbal."
"Dia ke mana? Kok gak kelihatan lagi?"
"Udah lama, sakit. Kayaknya abis ujan-ujanan kemarin. Belum sembuh-sembuh tuh anak. Fisiknya emang agak lemah."
"Ooh."
"Yaudah ya." Ia langsung berlari pergi.
Ternyata anak itu sedang sakit. Ah, ini semua gara-gara aku, ya? Namun, satu hal yang mengganjal di benakku, siapa yang mengembalikan payung milikku tempo hari. Apa mungkin ia menitipkan ke salah satu temannya?
"Abang!" Aku berteriak lagi, tapi anak laki-laki itu sudah berlari terlalu jauh.
Aduh! Aku baru sadar akan rasa sakit di telapak kaki lagi, saat tak sengaja menginjakkan ke tanah.
"Ibuuuu! Sakit!"