POV: Iqbal
"Hah? Sudah ingat?" Aku kaget membaca chat dari Andini pagi ini, katanya dia sudah ingat tentang kejadian di masa lalu yang kuceritakan tempo hari.
Aku dikagetkan dengan suara notifikasi beberapa kali dari aplikasi w******p di HP pagi ini. Jarang sekali jam segini sudah ada yang menghubungi, bukan hanya satu-dua chat pula, tapi bertubi-tubi.
"Iya, Bang. Aku lagi bongkar barang-barang di gudang, tiba-tiba aja gak sengaja nemu payung hijau muda. Ngelihat payung ini, aku jadi ingat semuanya, Bang. Ya ampun."
"Hahaha. Bisa gitu, ya."
"Iya, aku juga heran. Kok bisa lupa ya kemarin. Rasanya kayak memori tentang itu kehapus, terus sekarang balik lagi, gitu. Aneh banget, ya ampun!"
"Hahaha. Santai-santai. Ya, maklumlah, manusia tempatnya khilaf dan lupa, Din."
"Ternyata anak laki-laki yang dibilang sama ibuku itu Abang, ya. Aku juga akhirnya ingat namanya Iqbal. Ya ampun, Abaang Abaang."
Andini mengirimkan Voicenote berisikan suaranya yang menceritakan kejadian tersebut panjang lebar. Aku mendengarkan secara seksama sambil mengangguk-angguk. Sedikit-banyak aku masih ingat akan sosok orang-orang yang ada di dalam ceritanya.
"Jadi gini, Din. Waktu itu aku memang sakit, kena gejala tipes, gitu. Waktu anak-anak sekelas datang ngejenguk, aku keingat sama payung yang dipinjamkan ibu kamu. Jadi kutitipkan sama salah seorang teman. Aku juga lupa waktu itu menitipkan pada teman yang mana dan namanya siapa. Udah lama banget kan soalnya," jelasku pada Andini lewat ketikan chat w******p.
"Ibuku nanyain mulu loh, dulu. Soalnya Abang gak pernah kelihatan lewat lagi. Ibu sampai bilang gimana ciri-ciri Abang, jadi pas keliatan lewat bisa langsung ngembaliin payungnya."
"Sebenarnya ada kok lewat beberapa kali, mungkin kamu dan ibumu tidak sedang memperhatikan ke arah jalan aja. Tapi semenjak sakit hari itu, aku memang dilarang oleh orangtuaku untuk bermain layangan bersama anak-anak lagi. Hehe."
"Oohh, gitu. Pantesan gak pernah kelihatan lagi di lapangan itu. Kalau gak salah, dulu beberapa kali aku masih bela-belain datang ke lapangan itu buat nyari Abang. Sampai-sampai kakiku kena duri sawit."
"Oh ya? Serius, Din? Sakit banget pasti kena duri sawit. Aku juga pernah kena di siku, ada durinya yang tertinggal di dalam. Sakit banget."
"Iya, untungnya gak infeksi. Ayahku sampai marah-marah waktu itu, Bang. Haha." Ia mengirim sebaris emoticon tertawa. "Jadi setelah waktu itu, Abang gak pernah ikut main ke lapangan lagi?"
"Ya gitu, deh. Gak dapan ijin. Aku juga takut sakit lagi."
"Ohh, gitu."
"Dari kecil, fisikku emang udah lemah, Din. Rentan sakit, tapi bandel juga sih," sambungku lagi. "Lagi pula, tamat SD kan aku pindah ke sini, Din. Jadi udah gak tinggal sama orangtua di sana lagi. Hehe."
Andini mengirimkan sebuah foto. "Ini kan payungnya? Masih disimpan nih sampai sekarang. Hehe."
Aku terpana melihat payung tersebut. Tak hanya kenangan soal Andini dan ibunya, di payung hijau muda tersebut juga terlukis sebuah bukti bahwa betapa perhatiannya ibuku dulu padaku anaknya.
Payung yang disiapkan spesial oleh ibu di kantong tasku, untuk berjaga-jaga kalau aku kehujanan di jalan. Kenangan itu rasanya tiba-tiba saja menyeruak keluar dari ingatanku, muncul di pelupuk mata, membuat dadaku sesak seketika.
"Kok gak dibales, Bang? Inget gak?" Aku sadar pesan Andini belum terbalas.
"Iya, ingat dong, Din." Kutatap payung hijau muda yang penuh debu tersebut. Di beberapa sudutnya juga tanpak bekas jahitan. "Diperbaiki ibumu, ya?" tanyaku.
"Iya, Bang. Kata ibuku dulu, ia udah janji bakal ngebalikin setelah payung tersebut diperbaiki, eh ternyata setelah diperbaiki kamunya gak muncul-muncul, Bang. Bak ditelan bumi saja, entah di mana kala itu rimbanya." Gadis itu puitis sekali.
Aku tersenyum kecil, mengingat lagi kejadian itu.
"Din," ketikku kemudian.
"Kenapa, Bang?"
"Hmm. Aku boleh simpan payung itu, gak?"
"Eh, ya boleh lah, Bang. Ini kan memang punya kamu," balasnya cepat. "Tapi ngomong-ngomong kenapa tiba-tiba pengen nyimpan? Di sini juga aman kok, Bang. Akan kujaga dengan sepenuh hati kok. Hehe."
"Hehe, bukan apa-apa kok, Din. Cuma ..." Aku berpikir sejenak.
"Cuma?" tanyanya penasaran.
"Selain kejadian yang sama kamu, payung hijau itu juga punya banyak memori lain, Din. Terutama kenangan bersama ibuku."
"Ooh, gitu ya. Boleh kok, Bang, boleh."
Tak terasa dua bulir bening sukses mengalir di sudut mataku dan berakhir di pinggir bibir.
***
"Bener udah kuat ke sekolah, Bal?" Ibu mendekatiku yang sedang mengenakan sepatu, kemudian meraba lagi keningku memastikan.
"Udah kok, Bu."
Aku sudah merasa lebih baik setelah demam beberapa hari disertai flu dan batuk. Badanku sekarang sudah terasa bertenaga lagi, walaupun sesekali harus mengelap hidung dengan tisu. Sisa-sisa pilek masih ada.
"Lain kali kalau hujan jangan langsung ditempuh aja, ya, Sayang. Berteduh dulu, tunggu reda, baru jalan." Ibu tak pernah bosan mengingatkanku.
"Iya, Bu. Iqbal berangkat dulu ya."
"Tunggu sebentar, Bal." Tiba-tiba wanita tersebut berjalan cepat ke arah dapur, lalu kembali membawa sebuah kantong plastik. "Bawa payung ini, ya. Kecil kok, buat di kantong tas kamu."
"Hah? Cuacanya cerah kok, Bu. Ngapain bawa payung."
"Sekarang cerah, nanti kan kita gak tau, Sayang. Udah bawa aja." Tanpa persetujuanku, Ibu langsung membuka ritsleting tas, lalu memasukkan payung itu ke dalamnya.
"Ah, Ibu, nanti aku diledekin teman-teman yang lain. Cuaca cerah gini bawa payung."
"Gak bakal diketawain. Namanya juga lagi musim hujan, Bal." Ia tetap memaksa. "Nanti kalau tiba-tiba hujan, kan sudah ada persiapan. Ingat pepatah, sedia payung sebelum hujan."
"Iya deh, Bu. Iyaaa." Aku pasrah. "Iqbal berangkat yaa." Kuraih tangan wanita itu lalu menciumnya.
"Iya, hati-hati, Nak."
Aku teringat ayah yang tadi malam lembur. "Ayah belum bangun ya, Bu?"
Ibu menggeleng. "Tadi udah bangun, tapi tidur lagi, pasti masih capek."
"Bilang sama ayah, Iqbal berangkat sekolah ya, Bu. Daahh."
"Iya. Daah, Sayang." Ibu melambai di depan pintu.
Sikap orangtuaku yang seperti ini membuatku ingin hidup mandiri. Jika ada teman yang melihat, aku pasti diledek, dikatai anak manja. Padahal aku tidak manja, aku benci dikatakan seperti itu.
Kala itu lah, aku bertekad untuk membuktikan, suatu saat pasti bisa hidup mandiri, jauh dari orangtua. Sehingga tak ada satu pun teman yang bisa mengatakan aku anak manja lagi. Lihat saja.
***
"Kamu ke mana aja? Kok jam segini baru pulang, Bal!?" Ibu sudah berdiri di depan pintu saat aku menginjakkan kaki di halaman rumah.
Dari rumah gadis tadi, aku langsung bergegas pulang. Di perjalanan, aku sudah bersiap untuk kena omel sesampainya di rumah nanti.
Hujan sudah reda, tapi sejak kejadian tadi aku terlanjur basah kuyup, dingin sekali rasanya. Jemari tanganku sampai gemetar menahan rasa dingin.
"Trus kok basah kuyup gini, Bal? Kan ada payung. Ini payung siapa? Payung kamu mana?" Ibu masih belum selesai dengan omelannya.
"Dingin, Bu," jawabku dengan bibir gemetar.
Ekspresi wajah ibuku yang sedang marah langsung berubah panik. "Buruan masuk! Ganti baju." Wanita itu bergegas mencarikan handuk untukku. Tak peduli lagi dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya.
Malam harinya, saat ayah sudah pulang dari bekerja, kondisi tubuhku tidak membaik. Malah semakin buruk. Suhu tubuh semakin naik, sedangku aku terus menggigil kedinginan.
"Ya ampun!" Ayah ikut berseru panik."Iqbal kenapa, Bu?"
"Hujan-hujanan lagi tadi, Yah. Badannya panas banget. Udah ibu kompres, tapi gak ngaruh."
Ayah mendekat, meraba kening dan pipiku. "Ya Tuhan! Ayo kita bawa ke dokter!" Tanpa pikir panjang mereka berdua membopongku ke atas mobil, lalu membawa ke dokter anak langganan.
***
Sudah lebih seminggu aku tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur. Duduk saja rasanya pusing. Setiap makanan yang masuk ke mulutku terasa pahit.
Awali dokter mengira ini hanya demam biasa, sehingga hanya diberi obat penurun panas saja. Namun, beberapa hari kemudian kondisiku memburuk, lalu dibawa lagi ke sana. Hingga akhirnya, kata laki-laki berpakaian serba putih tersebut aku terkena gejala tipes.
"Adik ini ikut pramuka, atau kegiatan-kegiatan tambahan lainnya, Bu, Pak?" tanyanya kala itu.
"Kenapa, Dok?"
"Ini sepertinya kelelahan, juga."
Aku sempat khawatir akan ketahuan dengan kegiatan-kegiatan menyenangkan bersama teman-teman yang selama ini kulakukan. Kalau ayah dan ibu tau, mereka pasti akan melarangnya. Memang kegiatan seperti bermain layangan, berlarian di bawah panas matahari memang melelahkan. Namun, itu seru sekali.
Saat ibu bertanya aku melakukan apa saja sepulang sekolah, kucoba berbohong dan menyembunyikan. Hingga akhirnya suatu hari, mereka datang.
"Iqbaal! Iqbaal! Main yook!" Sekumpul anak-anak yang suaranya begitu kukenal muncul di depan rumah.
Aku yang masih tak berdaya hanya bisa diam di dalam kamar. Ibu yang menyusul ke depan.
"Iqbalnya lagi sakit. Kalian teman-temannya, ya?"
"Iya, Bu. Kami teman sekelas Iqbal."
"Iqbal sakit apa, Bu?"
"Iqbal kena gejala tipes. Sebenarnya kalian main apa sih pulang sekolah?"
Deg! Jantungku berdegup.
Habis sudah. Setelah ini, kedua orangtuaku tidak akan pernah memberikan izin untuk ikut bermain bersama mereka lagi.