POV: Iqbal
"Well, Sobat Gema, kurang lebih udah tiga kali enam puluh menit Iqbal Maulana mengisi ruang dengar Anda di ajang MOTD 'Motivation of The Day' kali ini. Kesimpulannya adalah, jangan mau berlarut-larut di dalam kesedihan, terlalu lama menangisi luka yang justru hanya akan memperlambat kesembuhannya, Sobat." Kunaikkan volume backsound untuk menghela napas sejenak.
"Bersedih dan berduka tentu saja boleh, karena kita juga hanya manusia yang berhak untuk bercucuran air mata. Namun, life must go on."
"Dari tadi juga udah ada beberapa orang yang bergabung untuk sharing bersama kita tentang permasalahan besar yang pernah mereka hadapi dan juga bagaimana cara menyikapinya. Terima kasih Ibqal ucapkan buat yang udah bergabung via telepon tadi, ya. Semoga bisa menjadi motivasi juga buat kamu-kamu di sana yang lagi tertimpa masalah," ujarku sambil melihat jam dinding memperhitungkan waktu closing.
"Pelajaran paling mahal adalah belajar dari kesalahan sendiri, sedangkan pelajaran yang paling murah adalagi belajar dari kesalahan orang lain. So, jangan capek-capek belajar, ya."
Ajang MOTD ini adalah sebuah program yang dirancang untuk memotivasi orang-orang yang sedang memiliki permasalahan hidup berat, putus asa ataupun kehilangan harapan. Aku sebagai VJ akan mengajak mereka yang sedang bermasalah untuk bergabung dan membagikan masalahnya.
Walaupun terkadang tidak membantu untuk memberikan jalan keluar yang pasti, setidaknya ia sudah memiliki tempat untuk bercerita dan berbagi.
"Intinya, ya, seperti yang selalu Iqbal bilang. Masalah itu adalah bumbunya kehidupan. Selagi kita masih hidup, maka yang namanya masalah pasti akan datang. Tinggal bagaimana cara kita menyikapinya." Aku bersiap menutup ajang ini.
"Well, Sobat Gema, sampai ketemu lagi minggu depan di waktu yang sama. Buat kamu yang lagi ada masalah, entah itu masalah dengan keluarga, dengan teman, sahabat, rekan kerja, ataupun dengan sang kekasih. Jangan sungkan untuk bercerita di sini, Iqbal siap untuk menjadi pendengar setia anda. Tenang aja, rahasia dan privasi terjaga."
Ya, terkadang ketika sedang memiliki masalah kita tidak hanya perlu seseorang yang bisa membantu dan memberikan solusi, tapi juga butuh seorang pendengar setia yang mau menjadi tempat untuk mencurahkan segalanya. Ketika isi hati sudah dicurahkan, rasanya sudah sedikit lebih ringan.
"Iqbal pamit. Selamat siang, Sobat. Selama beraktivitas. See you, bye!"
Kuturunkan volume microphone lalu memutar lagu penutup. Lantunan suara penyanyi timur Andmesh Kamaleng dengan lagunya yang berjudul 'Senyumlah' menjadi menutup ajang MOTD hari ini. Liriknya yang begitu dalam, mengajak kita untuk selalu tersenyum dan bersyukur dalam hidup, terasa sangat cocok menjadi penutup siang ini.
Haaah. Kuembuskan napas lega. Lelah juga bercuap-cuap hampir tiga jam, sejak pukul delapan pagi tadi. Ditambah lagi dengan beban mental mendengar curhatan para pendengar yang bergabung. Masalah-masalah yang mereka tuturkan terkadang juga membuatku ikut larut di dalamnya, terutama masalah-masalah keluarga. Kuteguk segelas air untuk melepaskan dahaga.
Tiba-tiba teringat ucapan pak Bos, pimpinan sekaligus owner Gema FM tadi pagi. Saat aku datang setengah jam sebelum jam siaran di mulai, terlihat mobil Range Rover Evoque miliknya terparkir di depan studio. Jarang-jarang pak Bos datang ke studio, biasanya hanya sang Assisten yang sesekali meninjau.
Maklumlah, orang sibuk seperti beliau pasti sulit sekali mengatur waktu. Kalau dia menyempatkan datang ke studio seperti ini, pasti ada sesuatu hal yang penting.
"Gimana, Bal? Aman?" Saat aku masuk terlihat ia sedang duduk santai di ruang tamu sambil mengisap rokok.
"Aman, Pak," jawabku sambil tersenyum nsopan lalu bersalaman. "Apa kabar, pak Bos?"
"Baik," jawabnya singkat.
Sebenarnya Radio ini bukan usaha utama milik pak Bos, bahkan bisa dibilang ia masih mempertahankan Gema FM hanya karena hobby masa muda. Ia pernah bercerita kepadaku bahwa dari muda ia bercita-cita memiliki sebuah Radio. Makanya sekarang setelah memiliki banyak usaha lain yang pemasukannya jauh lebih besar daripada Radio, ia tetap mempertahankan Gema FM agar tetap mengudara.
"Menurut kamu keadaan Gema sekarang bagaimana, Bal?"
"Hm?" Aku berpikir sejenak tentang ke mana arah pertanyaan ini. "Kalau dari segi pendengar, sepertinya jauh lebih berkembang, Pak. Semenjak kita menciptakan ajang-ajang baru dengan variasi jangkauan, pendengar jadi semakin banyak. Tidak hanya orang-orang tua saja, tapi anak-anak muda juga mulai bergabung di ajang-ajang tertentu."
Pak Bos mengangguk-angguk. "Berarti usul kamu beberapa bulan yang lalu itu works, ya."
Aku tersenyum tipis. "Sepertinya iya, Pak. Works. Dengan adanya ajang-ajang khusus anak-anak muda, mereka yang tadinya enggan mendengar radio dan lebih memilih bermain sosial media, jadi ikut tertarik begabung juga. Strategi kita bekerja sama dengan cafe-cafe di sekitar kota sepertinya sangat efektif, Pak. Dengan cara itu, banyak anak-anak muda yang tadinya tidak tau, akhirnya mengetahui keberadaan Gema FM."
"Bagus-bagus! Sepertinya tidak salah rencana saya untuk mempercayakan project ini ke kamu, Bal." Pak Bos tersenyum senang sambung melihat ke arahku.
"Hah? Project? Project apa, Pak?" Aku penasaran.
Pak Bos mengeluarkan selembar brosur, lalu meletakkan di atas meja. "Begini, Bal. Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman lama menghubungi saya. Katanya, ia sedang membuka sebuah usaha. Ya, semacam obat-obatan herbal begitu lah. Ini informasi produknya, kamu baca aja dulu," katanya sambil mendorong brosur tersebut ke arahku.
Kuraih, lalu k****a dengan seksama. Sebuah produk jamu tetes yang baru lounching beberapa bulan yang lalu. Tertulis di sana berbagai macam kandungan yang ada di dalamnya, termasuk khasiatnya. Sepertinya produk herbal ini digadang-gadang bisa mengatasi berbagai macam penyakit.
"Katanya, produk ini walaupun masih baru, tapi sudah terbukti khasiatnya. Mampu bersaing di antara pesaing-pesaing lainnya. Jadi, penjualannya akan meningkat dengan sendirinya seiring waktu. Intinya, semakin banyak yang sembuh gara-gara obat ini, tentu akan semakin banyak yang datang untuk membeli." Pak Bos menjelaskan panjang lebar. "Anggaplah si A bisa sembuh karena minum obat ini, Bal. Dia pasti punya keluarga kan, punya tetangga, punya teman, dan lain-lain."
Aku mengangguk-angguk. "Lalu, apa yang bisa saya lakukan, Pak?"
"Teman saya itu menawarkan kerjasama yang menurut saya cukup menarik, Bal." Pak Bos mengeluarkan selembar kertas lagi. "Kita hanya perlu mempromosikan produk ini, jika tercapainya target penjualan, bonusnya lumayan." Ia menunjukkan deretan angka-angka yang ada di kertas tersebut padaku.
"Wah, targetnya banyak juga, Pak. Bakal susah pasti ngejual segini dalam sebulan."
"Betul! Makanya, awal-awal kamu gak perlu fokus ke target dulu, Bal. Kamu fokus aja memperkenalkan produk ini ke para pendengar, meyakinkan mereka akan khasiatnya. Nah ketika sudah ada pendengar kita yang benar-benar merasakan langsung, bisa sembuh dengan obat ini, hal tersebut udah jadi aset buat kita di bulan-bulan berikutnya. Secara tidak langsung, orang-orang yang sudah sembuh itu, secara sukarela akan membantu menjadi sarana promosi kita, Bal. Kamu paham maksud saya?"
"Iya, Pak. Saya paham." Aku membaca lagi deretan angka-angka di kertas tersebut. "Harga produknya juga lumayan mahal, ya, Pak."
"Jika khasiat yang dikatakan teman saya itu benar, justru harga itu murah, Bal. Kesehatan itu sangat mahal harganya."
"Benar juga, Pak."
"Gimana? Kamu siap jadi penanggung jawab project ini, Bal?"
"Hah!?" Aku berseru kaget, tak menduga akan langsung disuruh bertanggung jawab akan hal sebesar ini. "S-saya, Pak?"
"Iya, kamu. Siapa lagi?"
"Kak Bunga, Pak?"
"Nah, justru itu, karena dia lebih senior, saya tanya dia dulu." Pak Bos menyulut lagi sebatang rokok, setelah membuang puntung sebelumnya. "Saya udah tanya Bunga. Dia tidak sanggup. Ya, namanya juga cewek, Bal. Takut berhadapan dengan tantangan. Kamu kan cowok. Saya pribadi sih yakin kamu pasti bisa, Bal. Gimana?"
Aku diam sejenak sebelum menjawabnya. "Saya bukannya tidak mau, Pak. Hanya saja, takut mengecewakan, kalau nanti gagal. Lagi pula, saya sama sekali belum ada pengalaman dalam hal ini, Pak. Langsung jadi penanggung jawab, rasanya begitu berat."
"Gagal itu biasa, yang penting kamu berani mencoba. Kamu tau? Usaha-usaha saya yang sekarang berhasil, itu berdiri di atas puluhan usaha-usaha lain yang sebelumnya gagal, Bal. Kita gak bakal pernah sukses, jika enggan mencoba. Apalagi, dengan kondisi saya dulu. Saya sadar diri, tidak ada bekingan. Jadi harus berusaha dengan kaki sendiri kalau mau bangkit."
Aku menghirup napas dalam-dalam sambil berpikir keras. Apa benar aku bisa bertanggung jawab atas project itu dengan kondisi seperti ini. Belum lagi fisik dan tenagaku yang terbatas. Bagaimana kalau tiba-tiba aku nge-drop dan harus diopname? Berpikir terlalu kerasa juga akan berpengaruh buruk terhadap tekanan darahku.
"Bal, semua fasilitas akan disediakan. Rekaman iklan udah ada, termasuk rekaman tentang informasi produk ini. Ada banyak juga rekaman kesaksian dari masyarakat yang udah merasakan khasiatnya. Kamu hanya perlu mengontrol itu semua, sambil memikirkanmu strategi tambahan untuk mempercepat penjualan. Walaupun target tidak tercapai, per perjualan produk kamu juga udah dapat bagian dari keuntungannya. Apalagi kalau tercapai, beeeh, gaji siaran gak ada apa-apanya, Bal." Pak Bos terus meyakinkan. "Ketika nanti sudah ada pendengar kita yang merasakan khasiat obat tersebut, kita juga akan minta testimoni dari mereka untuk direkam dan diputar di radio. Dengan begitu, saya yakin penjualan kamu akan meroket."
Benar juga perkataannya. Jika hanya mengharapkan gaji siaran per jam yang sedikit, kapan aku akan berkembang? Untuk memenuhi kebutuhan sendiri saja, aku masih harus berhemat, apalagi kalau nanti berkeluarga. Eh, berkeluarga? Kenapa tiba-tiba pikiranku sampai ke sana.
"Baiklah. Saya juga harus pergi sekarang, Bal. Ada urusan lain. Kami pikirkan saja dulu, saya tunggu jawabannya nanti malam, ya. Kamu gak bakal bekerja sendirinya kok, rekan-rekan yang lain juga ikut serta, tapi saya butuh satu orang penanggung jawab."
"Baiklah, Pak. Saya pikirkan matang-matang dulu." Aku ikut berdiri.
"Bagus, pikirkan matang-matang, jangan gegabah. Satu hal yang mau saya katakan, Bal," ujarnya di depan pintu sebelum pergi. "Saya dulu juga siaran di Radio, kamu tau kan? Kalau misalnya saya hanya bergantung pada gaji siaran saja, mungkin sampai sekarang saya juga gak bakal nikah-nikah, nih." Ia tersenyum, lalu melangkahkan pergi.
Aku ikut menyeringai, merasa tersindir. Ah, pak Bos bisa saja.
Toktok! Kaca pintu studio diketuk, membuatku tersadar akan lamunan. Kutaruh gelas bekas minuman, lalu berjalan menuju pintu. Terlihat Leo berdiri di sana, ternyata dia datang lebih awal, jadwal siarannya masih satu jam lagi.
"Kenapa?" tanyaku.
"Ada yang nyariin, Bang," jawabnya sambil menunjuk ke depan. "Cewek tuh, cantik lagi," sambungnya sambil mengedipkan sebelah mata, lalu menyeringai lebar.
Aku mendengus.
Siapa itu? Tumben ada yang mencariku siang-siang begini. Aku bergegas melangkah ke depan.
"Eh, kamu!" seruku melihat sosok itu berdiri di sova ruang tamu.
"Abang," ujarnya lembut sambil tersenyum.
"Udah lama, Andini?"
"Belum, Bang. Baru juga nyampe. Baru selesai siaran ya?"
"Iya, nih," jawabku. "Gak kerja, Din?"
"Kerja, kok."
Terlihat gadis itu membawa sebuah kantung plastik berisikan sesuatu. Terlihat sedikit. "Ini, Bang," katanya kemudian sambil mengulurkan tangan menyerahkan kantong plastik tersebut.
"Eh? Apaan nih?"
"Ini payung yang aku ceritain kemarin. Udah dibersihkan debu-debunya. Udah rapi juga. Hehe."
Aku terpana melihat isi kantong tersebut. Gadis itu memenuhi janjinya. "Aduuh, kok pake dianterin? Tadinya saya mau jemput kok, ya ampun."
"Kebetulan emang lewat dekat-dekat sini, kok, Bang." Aku merasa tidak asing dengan ucapan basa-basi seperti itu.
"Jadi gak enak nih ngerepotin. Maaf, ya, Din. Makasih banyak."
"Kalau Abang ngerasa gak enak, traktir makan siang aja lagi. Hahaha. Canda, Bang."
"Hahaha." Aku ikut tertawa mendengar perkataannya.
Bukan apa-apa, aku juga sedang berhemat di akhir bulan begini.
Ah, tiba-tiba saja perkataannya pak Bos tadi pagi muncul lagi di pikiran. Sepertinya aku harus menerima tawarannya.