POV: Iqbal
Aku melangkah gontai menuju kontrakan, sambil mengingat-ingat apakah masih ada sisa makanan tadi pagi untuk menjadi santapan malam ini. Akhir bulan seperti ini memang harus sehemat mungkin agar mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari hingga gajian berikutnya.
Beginilah cara bertahan hidup yang aku jalani selama ini. Selain bertahan dari penyakit, aku juga berjuang untuk menghemat pengeluaran agar bisa mencukupi dari bulan ke bulan.
Gaji di Radio tidak seberapa. Per jamnya kami hanya dibayar sepuluh ribu rupiah. Rata-rata aku hanya bekerja empat sampai enam jam per hari, itu pun tidak setiap hari. Di hari-hari jadwal cuci darah, sering kali aku tak kuat siaran karena kepala terasa begitu pusing.
Uang tambahan bisa didapat jika Penyiar bisa mencari iklan, promosi event atau ada pribadi yang ingin mempromosikan dirinya di radio. Itu pun jarang sekali.
Untung saja pak Bos begitu baik, kenal dengannya adalah salah satu anugerah terbesar untukku. Kalau tidak, mungkin aku tidak akan bisa bertahan sampai sekarang. Selain memberikan pekerjaan dan memaklumi kondisi fisikku, memberikan support dalam bentuk moril dan materil, beliau juga menyediakan tempat tinggal yang tentunya sangat membantu meringankan pengeluaran.
"Ah, capek!" keluhku sambil duduk di pinggir jalan sejenak. Tenagaku rasanya sudah hampir habis, padahal jarak dari studio ke rumah tak bagitu jauh.
Wajar saja, ini sudah hari selasa, besok jadwal cuci darah. Pantas saja, tubuhku sudah berada di ambang batas. Kupandangi kaki yang mulai membengkak karena kelebihan cairan, akhir-akhir ini udara memang lebih panas dari biasanya, sehingga aku jadi banyak minum.
"Coba aja kalau punya motor, pasti enak banget, gak perlu jalan kaki," celetukku. "Ngayal terus, boro-boro beli motor, buat makan aja mikir-mikir."
Tiba-tiba teringat perkataan pak Bos tadi pagi. Kalau dipikir-pikir, seandainya aku bisa menjual produk itu dan dapat mencapai target, penghasilan per bulan sudah lebih dari cukup untuk mencicil sepeda motor.
Kalau sudah punya kendaraan sendiri, setidaknya aku juga tak perlu lagi membayar ongkos ojek bolak-balik ke rumah sakit dua kali seminggu. Itu saja sudah mengurangi sedikit pengeluaran bulanan, bukan? Benar juga, sepertinya keputusanku memang sudah benar-benar tepat untuk menerima tawaran pak Bos.
Haaah. Kulanjutkan berjalan lagi setelah sejenak memijit betis yang pegal.
Sekitar beberapa puluh meter dari kontrakan, tampak sebuah mobil sedan hitam terparkir di sana, dan tampak juga dua orang sudah menunggu di depannya.
Awalnya aku bertanya-tanya, siapa mereka. Namun, setelah cukup dekat, akhirnya kukenali kedua sosok itu. Mereka sepasang suami istri, Bibi Syilla dan suaminya.
"Iqbal." Wanita itu tersenyum.
"Bibi? Udah lama, Bi? Paman?"
Bagaimana pun juga aku tak pernah mengabaikan yang namanya sopan-santun, kuraih tangan mereka itu, lalu menciumnya.
"Belum terlalu lama, kok."
"Maaf Iqbal baru pulang kerja di Radio. Gak jauh kok, di situ," kutunjuk jalan yang kulewati tadi.
"Iya, Bibi tau. Tadi ada tetangga yang bilang. Gak enak gangguin kamu kerja, makanya Bibi sama Paman tunggu di sini aja."
"Oh, gitu. Ayo, masuk-masuk." Bergegas kubuka pintu kontrakan, lalu masuk membereskan ruang depan seperlunya.
"Ayo silakan, Bi, Paman."
Sepasang suami-istri tersebut melangkah masuk, lalu melihat-lihat sebentar sebelum duduk di atas tikar tipis yang sudah kugelar.
"Maaf, ya, Bi. Gak ada apa-apa di sini," ujarku sambil menyerahkan segelas air putih. "Hanya ada air putih."
Bibi mengangguk tipis sambil tersenyum penuh makna.
"Adik-adik yang lain, sehat, Bi?"
"Sehat, Bal. Kamu gimana?"
"Sehat juga, Bi."
"Masih cuci darah?"
Satu hal yang selalu membuatku kesal pada orang-orang di sekitar yang selalu bertanya apakah "masih" cuci darah? Perlukah selalu kujelaskan kalau aku harus cuci darah seumur hidup. Kalau aku sudah tidak cuci darah, berarti sudah mati dong?
"Iya, Bi, masih."
"Bal, maafin Bibi ya," katanya, seketika ekspresi wajah Bibi langsung berubah sedih. "Bibi baru tau semuanya akhir-akhir ini, kenapa kamu gak pernah ngomong? Maaf juga tentang kata-kata Bibi waktu itu, ya. Bibi gak tau kalau perlakuan mereka begini buruk ke kamu."
Aku menghela napas, ikut terbawa suasana. Bibi sedang membicarakan tentang perlakuan paman Angga dan istrinya semasa aku tinggal di rumah mereka.
"Bibi udah ngomong sama mereka, Bal. Udah Bibi maki-maki orang-orang yang tak tau balas budi itu."
"Udah lah, Bi. Iqbal gak apa-apa, kok. Liat kan? Iqbal juga baik-baik aja di sini."
Bibi Syilla menyeka wajahnya. "Kamu ikut sama Bibi aja, ya? Di sana juga ada fasilitas untuk cuci darah kok, nanti kita urus perpindahannya, Bal. Bahaya kalau kamu tinggal sendirian seperti ini, kalau terjadi sesuatu gak ada yang tau kan."
"Iya, Bal. Adik-adik juga pasti senang ada kamu. Nanti Paman bantu juga kalau kamu mau siaran lagi di Radio swasta di sana. Ada kok kenalan Paman yang kerja di radio." Suami Tante Syilla yang kukenal dengan sebutan Paman Arjam ikut menyambung.
Aku tersenyum, senang sekali melihat keakuran pasangan ini. Jadi teringat akan bagaimana Paman Angga yang jadi sering berselisih paham dengan istrinya semenjak aku tinggal bersama mereka. Ah, jangan sampai nanti keberadaanku juga membuat hal yang sama terjadi dengan keluarga ini.
"Paman, Bibi, maaf sebelumnya. Bukannya Iqbal gak mau ikut. Cuma, Iqbal beneran gak apa-apa kok di sini. Para tetangga udah pada kenal, udah kayak keluarga. Trus rekan penyiar juga sering nginap kok di sini kalau habis siaran malam. Jadi gak usah khawatir, Iqbal gak bakal kenapa-kenapa kok."
Mereka berdua terdiam melihat keseriusan ekspresiku.
"Lagi pula, udah beberapa tahun ini, kondisi Iqbal juga udah stabil. Gak pernah ngedrop lagi, gak pernah transfusi karena kekurangan darah lagi. Aman, kok, Bibi sama Paman tenang aja."
Bibi menghela napas sambil lagi-lagi mengusap wajahnya.
Karena aku bersikeras menolak untuk ikut mereka, akhirnya sepasang suami istri itu pamit pergi sebelum matahari tenggelam. Bibi Syilla menyerahkan beberapa lembar uang ke tanganku, sempat kutolak dengan halus, tapi ia tetap memaksa.
"Ingat, ya, Bal. Kalau ada apa-apa, atau butuh sesuatu, langsungnya hubungi nomor Bibi atau Paman. Kamu gak sendirian, Bal, kamu masih punya keluarga. Masih ada kami," ujar Bibi, serius.
"Baik, Bi," jawabku pelan.
Mereka berpamitan, kemudian mobil sedan hitam itu melaju pergi menuju jalan raya. Kutatap sampai hilang dari penglihatan, lalu kembali masuk ke rumah dan menutup pintu.
Ya, aku masih punya keluarga, tentu saja. Siapa bilang aku tidak punya siapa-siapa. Namun, dari awal, tekadku sudah bulat. Aku tak akan menggantungkan di pundak orang lain, apa yang masih bisa kupikul sendiri.
Haaah. Tubuhku lelah sekali hari ini. Tak sabar menunggu jadwal cuci darah esok pagi.
***
Aku berada di sebuah lapangan yang sangat luas. Sejauh mata memandang terlihat tumbuhan dengan bunga-bunga lebar berwarna kuning cerah bermekaran. Cantik sekali. Tempat ini terasa begitu nyaman, tidak panas, tidak juga dingin.
Orang-orang yang kukenal satu persatu mulai muncul. Ada ayah dan ibuku juga. Aku berlari kencang di antara barisan bunga-bunga matahari. Kakiku terasa begitu ringan ketika melangkah. Ah, aku sadar, saat ini aku adalah seorang anak laki-laki yang masih begitu kecil.
"Iqbaal! Sinii!" Ibu berteriak. Di sampingnya terlihat ayah melambai-lambaikan tangannya.
Aku terus berlari, senang sekali. Ujung-ujung jariku terasa menyentuh daun-daun bunga matahari yang kasar.
Kakiku terasa menginjak sesuatu yang lembut.
Saat berhenti, kusaksikan pemandangan di sekeliling berubah seketika. Aku berada di sebuah pantai yang sangat indah. Pasir putih memanjang hingga ujung jarak pandang. Laut biru dengan ombak-ombak keciltterpampang di depan mata, begitu memanjakan indra penglihatanku.
Terasa dua pasang tangan merangkul bahuku dari belakang. "Iqbal, senang gak? Akhirnya kita sekeluarga bisa jalan-jalan ke pantai." Ibu tertawa lebar, ayah juga, mereka berdua terlihat sangat menikmati momen ini.
"Senang doong!" Aku berlarian dan melompat-lompat di atas pasir yang lembut.
Tuut tuut tuut. Suara aneh tiba-tiba tertangkap telingaku, entah dari mana asalnya.
"Yang kuat ya, Iqbal. Kamu pasti bisa sembuh lagi."
"Satu-satu ya, Bu, masuknya. Gantian. Pasien butuh ketenangan."
Kucoba membuka mata, tapi rasanya berat sekali. Seperti ada pemberat yang sangat besar tersangkut di kelompaknya. Otakku mulai mengerti apa yang sedang terjadi, kesadaranku perlahan-lahan terpulihkan.
Ya, ternyata semua pemandangan yang kusaksikan sedari tadi hanyalah ilusi semu di alam bawah sadarku. Ah, mengapa hal-hal yang indah dalam hidup ini, selalu saja bukan kenyataan.
Seluruh tubuhku juga terasa kaki, berat sekali untuk digerakkan. Namun, aku memaksakan diri, mengumpulkan semua tenaga yang tersisa, lalu mencoba bangkit.
Awalnya hanya ujung-ujung jariku yang bisa digerakkan, kemudian perlahan-lahan tanganku bisa terangkat, langsung menyentuh wajah. Kepala terasa berdenyut-denyut, sakit sekali.
"Susteer! Susteer! Keponakan saya sudah sadar, Sus!" Kudengar suara Bibi berteriak.
Tidak beberapa lama, langkah kaki beberapa orang terdengar mendekat. Mereka mengecek tubuhku, mengukur tensi, nadi dan semacamnya, muncul di sebuah monitor kecil yang sedari tadi lampunya berkedip-kedip dan mengeluarkan suara beep.
"Syukurlah, pasien sudah melewati masa kritisnya," kata wanita berpakaian serba putih tersebut sambil tersenyum pada Bibi Syilla.
"Ya Tuhan, syukurlah." Bibi mengusap wajahnya lega.
Aku mencobanya bernapas dengan tenang, sungkup oksigen yang menutup hidung dan mulut ini terasa sangat mengganggu. Namun, alat ini jualah yang sudah membantu mempertahankannya kehidupanku.
"Akhirnya kamu siuman, Bal." Bibi menyentuh tanganku, aku mengangkat kepala pelan, memandang lemah ke arahnya. "Sudah dua hari kami koma, Bal," sambungnya.
Jadi sudah dua kali dua puluh empat jam aku terbaring tidak sadarkan diri di ruang ICU rumah sakit ini. Rasanya baru kemarin. Ternyata di alam bawa sadar, waktu berjalan begitu cepat, ya?
Kata dokter aku selamat, bisa melewati masa kritis. Katanya ini termasuk sebuah keajaiban, karena jarang sekali ada orang yang sudah masuk fase kritis masih bisa kembali sadar sepertiku. Ya, itu artinya, aku masih diberikan kesempatan untuk hidup di dunia ini, semoga saja inilah yang terbaik.
"Bal, maaf ya, Bibi yang salah. Gara-gara Bibi yang ngajak kamu berobat ke mana-mana, malah gini jadinya." Wajah Bibi dipenuhi rasa bersalah.
Aku hanya bisa diam dan terus memandang lemah ke arahnya dengan nafas yang masih belum beraturan. Dadaku naik-turun dengan ritme cepat.
"Kata dokter, kalau tidak cuci darah, nanti bisa-bisa kamu kritis lagi karena racun-racun yang tidak tersaring oleh ginjal sudah menumpuk di tubuh kamu. Harus segera dicuci dengan mesin. Sepertinya memang tak ada jalan lain selain cuci darah, Bal."
Aku mengangguk pelan, mengerti. Mungkin memang hanya itulah satu-satunya jalan yang dapat kutempuh untuk mempertahankan kehidupan.