POV: Iqbal
Aku membuka mata yang rasanya masih berat, tidur malam ini tak juga terasa nyenyak. Sesak napas yang masih mendera membuat jantung dan paru-paru bekerja ekstra.
Telapak tanganku merasakan lembutnya seprai biru muda yang menjadi alas tempat tidur. Tak terlihat satu pun anggota keluarga di sini. Hanya beberapa pasien lain dan tiga orang suster yang berjaga. Mungkin Bibi atau Paman menunggu di luar.
Entah ini kali ke berapa aku terbangun dengan pemandangan langit-langit biru muda ruang rawat inap ICU rumah sakit. Pandangan mataku nanar, setiap hembusan napas mengembun di plastik transparan yang menutupi mulut dan hidung.
Kugerakkan badan yang terasa kaku. Terbaring berhari-hari di bed rumah sakit sangatlah tidak enak. Apalagi dengan punggung tangan kiriku yang mulai bengkak karena jarum infus yang tertanam di sana. Aroma obat-obatan, khas rumah sakit juga sudah menjadi hal yang biasa di hidungku.
Suster di depan sana melihat ke arahku, lalu melangkah mendekat membawa sebuah papan alas kertas dan sebauh pena, ia mengecek tekanan darah dan saturasi oksigen.
Ia tersenyum ramah, "kita bersih-bersih sedikit, ya, biar badannnya agak segeran. Gak mandi kok, cuma dilap pakai handuk basah aja," katanya kemudian.
Hanya kujawab dengan anggukan pelan.
Hari ini adalah hari pertamaku menjalani proses cuci darah. Perasaanku tak menentu, antara takut, tegang, khawatir dan juga harap-harap cemas. Perkataan orang-orang tentang proses cuci darah yang katanya sangat sakit, dan orang yang cuci darah umurnya tidak akan panjang selalu saja terngiang-ngiang di telinga.
Di dalam bayanganku, ruang cuci darah itu pasti lah sangat menakutkan, mencekam, dipenuhi oleh orang-orang sekarat yang sedang berada di ambang hidup dan mati. Tentulah akan terdengar teriakan demi teriakan kesakitan di dalamnya.
Namun, ternyata perkiraanku salah. Saat pertama kali masuk ke ruangan Hemodialisa, yang menyambut adalah senyum ramah perawat yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Kemudian, pasien-pasien lain di dalamnya yang sedang cuci darah juga tenang-tenang saja. Tidak ada yang menunjukkan ekspresi sedang kesakitan atau menahan sakit yang luar biasa.
Aku melihat sekeliling. Tampak beberapa orang sedang mengobrol dengan teman seperjuangannya sembari cuci darah. Ada yang bermain HP, membaca buku, menonton TV, bahkan ada juga yang tertidur pulas hingga mendengkur halus. Ini sama sekali tidak sesuai dengan yang kubayangkan.
"Buka celananya, ya," kata salah seorang suster yang berdiri di dekatku.
"Hah? B-buka?" Aku tergagap. Malu juga harus membuka celana di hadapan suster-suster cantik ini.
"Iya. Untuk sekarang kita masang jarumnya di pembuluh arteri dekat pangkal paha ya. Nanti setelah operasi AV-Shut, baru deh di tangan."
Aku menurut saja, pasrah dengan apa yang mereka lakukan. Satu-satunya yang kuinginkan sekarang, bagaimana agar sesak napas yang begitu mengganggu ini bisa hilang secepatnya.
"Aaah!" Aku berteriak tertahan saat jarum di pasangkan di lipatan pangkal paha, rasanya sakit sekali. Berdenyut seiring detak jantungku. Rasanya ingin berteriak kencang, tapi aku malu juga. Aku mengernyit menahan sakit sambil menggenggam seprai.
"Tahan, ya, Bal," Bibi Syilla memegang tanganku yang gemetar menahan sakit.
"Tusukan di arteri paha memang jauh lebih sakit dari pada di tangan. Makanya nanti setelah kondisinya agak lebih stabil, langsung konsul ke dokter bedah vaskuler ya, Bu. Untuk operasi pembuatan AV-Shut di tangan. Biar adek ini gak kesakitan lagi setiap cuci darah," terang salah satu suster yang berdiri di samping tempat tidurku.
"Baik, Suster."
Aku mengatur napas. Beberapa saat kemudian, akhirnya kedua jarum untuk cuci darah berhasil dipasang.
Proses cuci darah pun dimulai. Untuk pertama kalinya, kusaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana darah segar mengalir dari pembuluh darahku menuju selang-selang panjang yang terhubung dengan mesin berwarna putih itu. Tetes demi tetes cairan merah pekat itu ditarik keluar dari tubuhku kemudian diputar oleh mesin, sebelum kemudian dikembalikan lewat ujung selang yang satunya.
Satu-dua jam proses berjalan, sesak napasku mulai berkurang, ritme naik turun dadaku pun perlahan mulai teratur. Seiring dengan itu rasa kantuk mulai datang. Tadi malam aku memang sulit sekali tidur karena sesak napas mendera. Mataku pun terpejam, tidur dengan nyenyaknya.
Saat aku terjaga, ternyata proses cuci darah sudah berakhir, tubuhku pun terasa jauh lebih ringan dari pada sebelumnya.
"Sudah selesai. Kita cabut ya, jarumnya." Salah seorang suster dengan masker biru di wajahnya, mendekat. "Gimana, Dek? Udah berkurang sesaknya?" tanyanya sambil menekan-nekan tombol di mesin.
Aku mengangguk. "Sudah agak berkurang, Suster."
Sisa-sisa darah di selang kembali dimasukkan ke tubuhku dengan didorong menggunakan cairan NaCl.
"Aaaah!" Aku berteriak tertahan lagi. Ternyata proses mencabutan jarum di paha tidak kalah sakitnya dengan saat penusukan.
"Tahan sedikit, ya," kata susternya sambil menekan bekas jarum dengan kain kasa agar darahnya tidak keluar.
Aku kembali mengatur napas yang tiba-tiba memburu karena menahan sakit. Semoga saja lama-lama aku bisa terbiasa dengan rasa sakit seperti ini.
***
Bibi Syilla mendekatiku dengan ekspresi serius pagi ini. Mulanya aku bertanya-tanya, ada apa? Sebelum kemudian akhirnya ia berkata.
"Bal, asuransi kesehatan untuk kamu udah Bibi urus, tapi aktifnya masih satu minggu lagi. Jadi biaya perawatan terpaksa harus ikut jalur umum. Bibi sama Paman yang lain juga udah ngumpulin uang, tapi tidak cukup. Terpaksa ditambah pakai tabungan kamu, ya." Bibi Syilla berkata padaku di ruang rawat inap.
Aku mengangguk, "Iya, Bi."
Mau bagaimana lagi? Uang tersebut memang disimpan untuk saat-saat mendesak seperti sekarang ini. Tak mungkin aku memberatkanmu keluarga yang lain, terlalu egois juga jadinya.
Kata dokter, besok aku sudah boleh pulang, dengan syarat harus kontrol ke poliklinik seminggu lagi. Sungkup oksigen yang biasanya menutupi mulut dan hidungku sudah bisa dilepas, sesak napas sudah jauh berkurang.
Ya, aku masih pulang ke rumahnya Paman Angga. Mereka berusaha menampakan wajah manis. Selain mungkin masih merasa kasihan padaku, istrinya juga takut pada Bibi Syilla.
Untuk pergi ke rumah sakit menjalani proses cuci darah berikutnya, aku masih diantar oleh Bibi Syilla dan suaminya menggunakan mobil. Namun, itu tidak berlangsung lama. Tentu saja, mereka tetap harus kembali ke rumah untuk melanjutkan hidup.
Dua minggu kemudian, saat operasi pemasangan AV-Shut di tanganku sudah berhasil, Bibi Syilla dan suaminya kembali ke kediaman mereka di pulau seberang. Aku dipercaya pada Paman Angga. Ketika itulah, keadaan mulai berubah sedikit demi sedikit.
"Kok cuma segini, Pa!?" Kudengar Bibi berteriak pada Paman di dapur, beberapa hari setelahnya. "Mana cukup buat belanja. Apa-apa harganya pada naik juga, uang belanja bukanny ditambah malah dikurangin. Gimana sih, Pa!?"
"Udah, gak usah teriak-teriak, Ma. Cukup-cukupin aja dulu, ya. Soalnya kan bulan ini Papa banyak libur karena sering ke Rumah Sakit pas Iqbal dirawat. Jadinya gaji dipotong sama perusahaan."
"Tukan! Iiihh. Kesel. Trus sampai kapan bakal kayak gini terus?"
"Sabar, Ma."
"Sabar-sabar! Emang sabar bisa dimasak? Bisa dimakan!?"
Aku menghela napas di dalam kamar. Lagi-lagi terjadi keributan di rumah ini yang disebabkan oleh keberadaanku.
Esok harinya, jadwal cuci darah kembali datang. Paman Angga terpaksa harus libur lagi demi mengantarku ke rumah sakit.
Pagi-pagi sekali, istrinya sudah memasang wajah kesal. Keningnya berlipat-lipat, entah berapa lipatan. Bibirnya dimonyongkan ke depan, wajahnya begitu kesal, terlihat seperti anak ABG yang batal diapelin pacarnya.
"Kenapa sih kamu, Ma? Bukannya nyiapin sarapan buat anak-anak, malah ngedumel gak jelas pagi-pagi," ujar Paman.
"Kamu bakal libur lagi dua kali seminggu, Pa? Sebulan berarti delapan hari. Bulan depan pasti banyak lagi potongan gaji kamu."
"Udah deh, Ma. Diem! Gak enak loh sama Iqbal, kondisi dia baru agak baikan juga. Dengerin omongan kamu, bisa naik lagi tekanan darahnya!"
Aku tersenyum. "Paman, Iqbal udah agak kuat kok, gimana kalau perginya sama ojek aja?" tanyaku.
"Gak usah, Bal. Gak usah dengerinnya Bibi kamu, kan tau sendiri orangnya gimana. Ayo-ayo, kita berangkat."
"Baiklah."
Di sepanjang perjalanan aku memikirkan semuanya. Itu lah awal mulanya, aku memutuskan untuk tinggal sendiri, jauh dari keluarga dan sanak saudara ayahku.
***
Aku menyetel radio dengan volume sedang, mendengarkan Leo bercuap-cuap malam ini di ajang Curhat Bareng Gema. Penyiar muda itu sudah sangat luwes membawakan ajang tersebut yang memang sesuai sekali dengan umurnya.
Menyikapi curhatan demi curhatan anak ABG seperti itu, aku pribadi tidak akan sanggup. Yang ada, bukannya memberikan masukan, aku malah akan kesal sendiri mendengarkan hal-hal lebay dan berlebih-lebihan yang mereka curahkan.
"Kak, apa sih tanda-tandanya kalau kita sedang jatuh cinta pada seseorang?" Kudengar salah seorang pendengar bergabung dan bertanya via telepon.
"Orang-orang yang sedang jatuh cinta biasanya sulit untuk memindahkan pikirannya dari orang yang ia cintai. Ibarat kata pujangga nih, ya. Mau makan ingat dia, mau mandi ingat dia, mau tidur pun ingat dia. Lalu, saat kita berada di dekatnya, hati rasanya berbunga-bunga, senang aja gitu tanpa sebab." Leo menjawab lugas, seperti benar-benar seorang dokter cinta. Padahal setauku dia juga masih jomblo. "Kenapa tiba-tiba nanyain itu nih, by the way?"
"Waah, aku makin yakin nih, Kak. Kayaknya aku beneran jatuh cinta sama orang itu," jawab penelepon itu lagi. "Apa-apa kalau tentang dia, rasanya senang aja, gak tau kenapa. Jangankan ketemu orangnya, dapat chat selamat pagi dari dia aja aku senang banget. Ya ampun."
Kudengar Leo ikut tertawa. "Waah bisa jadi sih. Itu memang gejala-gejala penyakit cinta. Hahaha."
Menyimak pembahasan tentang jatuh cinta di Radio, tiba-tiba saja membuatku teringat pada seseorang, entah mengapa. Langkah kugeser layar HP, mencari namanya, lalu kutekan foto profilnya.
Sepertinya gadis itu baru saja mengganti fotonya dengan yang terbaru. Sebuah foto yang memperlihatkan sedikitpun wajahnya di balik helm, diambil lewat kaca spion motornya. Simpel, tapi terlihat estetik, apalagi dengan sudut pandang dan pencahayaan yang pas. Bisa kutebak, ia menghabiskan waktu lama untuk mengeditnya sebelum di-upload. Biasalah, wanita.
"Malam, Din." Langsung saja kukirimkan pesan ke nomornya karena setelah ditunggu-tunggu tak kunjung online.
Malam, Abaang," balasnya seketika.
Aku berseru senang lalu tersenyum lebar membacanya. Kupikirkan sejenak apa yang harus dibahas terlebih dahulu. Hmm. "Makasih banyak ya, udah dianterin payungnya." Akhirnya kata-kata itu yang terkirimkan.
"Kebanyakan nih, Bang, makasihnya. Tadi di Radio juga udah makasih banyak, sekarang makan banyak lagi. Hahaha." Sederet emoticon tertawa berbaris di bawahnya.
Aku tersenyum lagi membacanya. "Iya, soalnya aku senang banget. Akhirnya bisa liat payung ini lagi. Dulu kayak gak peduli aja sama keberadaan payung ini, tapi sekarang semenjak orangtuaku udah gak ada, rasanya benda ini jadi berharga banget, Din."
"Hehe. Sama-sama, Bang. Aku juga senang, akhirnya bisa memenuhi permintaan mendiang ibuku untuk mengembalikan payung itu pada bang Iqbal. Jaga baik-baik, ya. Hahaha."
Kubalas dengan sederet emoticon tersenyum. "Sekarang lagi apa, Din?"
"Lagi baringan aja, Bang. Lelah. Abang lagi apa?"
"Aku sih lagi chatingan sama bidadari."
"Ah, Abang bisa aja. Hehe," balasnya.
"Iya nih, tapi bidadarinya belum balas, jadi chat kamu dulu." Aku menahan tawa saat mengetiknya.
"Iiiiih!" balasnya dengan beberapa emoticon marah di bawahnya. "Nyebelin!"
"Hahaha. Canda, Din."
"Ga mau! Aku ngambek!"
Aku tersenyum lebar berhasil mengerjai gadis itu. "Maaf deeh."
"Gak mau!!!"
Yaah, dia benar-benar marah.
Tunggu, tiba-tiba saja sesuatu terlintas di benakku. Mengapa semua hal tentang Andini ini membuat hatiku senang dan berbunga-bunga. Jangan bilang aku jatuh cinta padanya.