Kembali ke Kampus

1141 Kata
POV: Andini Saat kakiku melangkah ke teras rumah, terlihat Tante Zee dan Ayah di depan pintu. Wanita itu terlihat sedikit gugup melihat kedatanganku, sepertinya mereka sama sekali tidak menduga aku akan pulang jam segini. "Din? Gak jadi ke kampus?" tanya ayahku. Aku langsung menatap orang yang ada di sebelahnya. "Tante ya yang bayarin uang UKT?" Mereka berdua diam saja. Itu artinya benar. Kekeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam tas, lalu menyerahkan padanya. "Tante gak perlu repot-repot, aku ada uang kok buat bayar. Ini uangnya aku kembalikan." Wanita itu diam saja, hanya tersenyum sinis memandang amplop coklat yang kuserahkan. "Din, maksud tantemu baik, buat bantu kamu," kata ayah lagi. Aku tak menghiraukannya. "Hitung ya, kalau kurang nanti aku tambah lagi," ujarku sebelum kemudian balik badan untuk kembali ke kampus. "Oh ya, lain kali Tante gak perlu repot-repot mikirin uang kuliahku ya. Terima kasih, tapi gak usah." Kuhidupkan sepeda motor, lalu pergi dari sana. Di satu sisi, aku kesal setiap kali berurusan dengan wanita itu, tapi di sisi lain aku juga tak berhal melarang ayah untuk berhubungan dengan saudarinya. Namun, bagaimana pun juga aku tak ingin berhutang budi dengan wanita itu. Toh, aku tetap bisa membayar uang kuliah dengan hasil keringatku sendiri tanpa harus bergantung padanya. Meskipun harus bekerja keras dan berjuang sampai titik keringat terakhir. "Waah waah, kenapa nih tiba-tiba murung? Wajahnya ditekuk gitu. Gak baik buat anak gadis seusia kamu, nanti cepet muncul kerutan di wajah." Sesuai perkataannya, kak Gilang ternyata benar-benar sudah menungguku di kantin. "Sini-sini, duduk." Ia menarik salah satu kursi. "Makasih, kak Lang." Aku mengangkat tangan memesan minuman dingin. "Ada masalah, Din?" "Yaa, biasa lah. Namanya juga hidup," jawabku pendek, enggan membahasnya saat ini. "Gak mau cerita?" Kugelengkan kepala. Saat pesanan datang langsung kuseruput pelan. "Oh, yaudah. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan, ya. Nomor WA-ku masih yang sama kok." Aku mengangguk lagi. Kak Gilang bercerita tentang pengalamannya ketika penelitian di luar negeri. Aku hanya mengangguk-angguk pelan, sambil sedikit merespon, tak begitu tertarik dengan ceritanya. "Kak, aku ada kuliah siang, duluan yaa." Aku melirik jam tangan. "Oh, oke. Kabarin aja ya." "Oke." Aku melangkah pergi meninggalkan laki-laki itu. *** Suasana cerah semenjak siang tadi, berubah mendung sore ini. Satu-satu titik hujan mulai turun, gerimis. Aku masih duduk di kursi-kursi beton beratapkan kanopi-kanopi hijau, tak jauh dari parkiran. Suasana hatiku tak juga membaik, sudah sesore ini masih saja merasa kesal dengan keadaan. Pulang ke rumah juga hanya akan menambah rasa kesal di hati. Ting! Notifikasi di HP terdengar, sebuah pesan masuk di WA. Kubuka aplikasi hijau tersebut, ternyata sudah ada beberapa chat yang masuk semenjak tadi siang. "Siang, Din!" Chat pukul satu siang tadi. "Mangaat hari pertama kuliah semester ini, semoga lancar." Chat lima menit setelahnya. "Sore, Din." Ada lagi chat masuk beberapa detik yang lalu. Aku tersenyum. Mungkin senyum pertama sejak siang ini. "Soree, Abaang. Maaf baru buka WA, baru kelar nih kelasnya." Ting! Laki-laki itu langsung membalas. "Gimana kelasnya, seru gak? Belajar apa tadi?" "Belum belajar. Namanya juga pertemuan pertama, Bang. Masih perkenalan gitu lah," balasku lagi. "Aku juga gak begitu fokus, Bang." "Loh kenapa? Hari pertama udah gak fokus. Hehe." "Yaa, ada hal lain yang mengganggu pikiran." Kutambahkan beberapa emoticon sedih di bawahnya. Byuuur. Hujan deras turun sempurna mengguyur bumi sore ini. Aku beringsut ke belakang mencari tempat yang lebih teduh untuk menghindari embun yang turun di ujung-ujung kanopi. "Jangan sedih dong, liat deh langitnya jadi ikut nangis, kan." Aku tersenyum lagi membaca chat darinya. "Hahaha. Bisa aja, Bang." "Denger Radio gak? Aku siaran sore nih, ini lagi muter lagu." Kucari headset di dalam tas, lalu memasang ke telinga. Terdengar suara lagu yang diputar bang Iqbal lewat aplikasi livestreaming Gema FM. "Iya nih lagi monitor, Bang." "Aku puterin lagu khusus buat kamu deh. Dengerin yaa." "Siaap." Aku menyimak dengan seksama, penasaran dengan lagu apa yang akan diputarkan bang Iqbal. Suara musik terdengar, aku langsung tersenyum lebar karena sangat kenal dengan alunan musik ini. Salah satu lagu yang paling kusuka. Suara merdi bang Fadly vocalist band Padi dengan sebuah lagunya yang berjudul "Begitu Indah." "Aaaaa, makasih lagunyaa. Suka banget lagu ini." Kukirimkan chat dengan emoticon berkaca-kaca. "Hehe. Sama-sama." Kuhela napas dalam-dalam, menghirup aroma Petrichor. Ah, syukurlah. Setidaknya ada yang bisa sedikit memperbaiki mood-ku sore ini. *** Umurku menginjak delapan belas tahun kala itu, baru saja lulus SMA. Ayah dan ibuku akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Mencoba berdamai dengan keluarga ayah yang selama ini terkesan memusuhi. Walaupun ayah dan ibuku tetap berusaha untuk menjaga silaturahmi dengan mereka. "Gak enak kan kalau kita begini terus, keluarga ibu jelas-jelas tidak ada, kalaupun ada entah di mana keberadaan mereka. Satu-satunya keluarga yang Andini miliki hanyalah keluarga dari ayah." Ibu menjelaskan kepadaku tentang alasan kami untuk kembali ke kampung halaman. Aku yang sudah cukup umur untuk bisa mengerti hanya menyikapi dengan anggukan setuju. "Nanti kalau ayah atau ibu kenapa-kenapa, kamu gak punya siapa-siapa lagi selain nenek dan adik-adiknya ayah." "Ibu jangan ngomong gitu, ayah dan ibu gak bakalan kenapa-kenapa, kok." Wanita itu tersenyum tulus, lalu memelukku erat. Aku mengira setelah bertahun-tahun lamanya hidup berjauhan, keluarga ayah akan bersikap lebih baik pada ibuku. Namun, ternyata perkiraanku meleset. Sikap mereka pada ibu, sama saja. Terutama nenek. Wanita tua itu masih saja membahas tentang cucu laki-laki, cucu laki-laki lagi. Tak bosan-bosan menyalahkan ibuku tentang kejadian keguguran bertahun-tahun lalu tersebut. Tak kuat rasanya menahan sesak di d**a ketika menyaksikan ibuku berlutut di hadapan nenek untuk memohon maaf atas kesalahannya di masa lalu. Melihat ekspresi menyebalkan di wajah wanita tua itu membuat darahku mendidih. Kalau seandainya ia bukan nenekku, pasti sudah kucakar-cakar mukanya. "Anak laki-lakinya adalah penerus keluarga ini, kalau ia tak punya anak laki-laki, maka garis keturunan keluarga akan terputus. Keluarga kita akan punah. Kamu tau kan dia anak laki-laki satu-satunya?!" "Maaf, Bu. Saya mengaku sudah lalai sebagai seorang ibu. Tapi mau bagaimana lagi, tak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kesalahan itu." Ibuku berurai air mata sambil terus berbicara di hadapan nenek. "Saya punya jalan keluarnya." Tiba-tiba tante Zee yang sedari tadi diam, bersuara. "Menurut saya Kakak belum terlalu tua untuk punya anak lagi. Memang agak beresiko, tapi tetap mungkin. Saya bisa bantu kalau mau," sambungnya. Aku tau Tante Zee sekarang sudah menjadi seorang dokter di salah satu Rumah Sakit. "Gak boleh, Tante! Ibu gak boleh hamil lagi kata dokter. Selain memang ada masalah di rahimnya, umurnya juga sudah jauh dari rentang usia aman untuk hamil." Aku menyanggah. "Dokter ngomong kayak gitu karena memang sedikit lebih beresiko saja. Sebenarnya masih bisa kok. Apalagi tubuh ibumu terlihat sehat. Pasti masih subur, kan?" "Bu! Ibu jangan mau ya. Terlalu beresiko. Ibu kan pernah hampir operasi kista juga." Aku menyentuh bahu ibu. Wanita yang paling kucintai itu diam saja, sepertinya tengah berpikir, berkelahi dengan otaknya sendiri. Aku takut ia nekad dan memenuhi permintaan keluarga ayah demi mendapatkan lagi restu mereka. Sayangnya, apa yang kutakutkan ternyata benar-benar menjadi kenyataan. Hal itu lah, yang akhirnya membawa ibuku menjemput ajalnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN