POV: Andini
"Dini, aku kangen, mau ketemu, tapi ke rumah kamu masih takut." Terdengar suara memelas gadis cantik itu di ujung telepon. "Ketemu di luar yuk. Di mana kek, gitu," sambungnya.
Aku menghela napas. Sebenarnya juga ada rasa ingin bertemu dengannya akhir-akhir ini, ada banyak hal yang ingin kuceritakan dan meminta mendapatnya. Namun, selalu saja tidak ada waktu yang pas, apalagi aku sibuk sekali mengumpulkan uang, mengejar target untuk dikumpulkan.
"Oke, sore ini, ya. Jam 5, di tempat biasa." Akhirnya akunmengiyakan.
"Yeaay! Oke siap, Sayang," jawabnya senang. Terdengar smile voice-nya di seberang sana. "Eh, tapi jangan di cafe deh. Bosan di sana mulu."
"Trus di mana?"
"Aku kangen jembatan itu, loh. Di sana aja yuk."
"Jembatan mana?"
"Jembatan Ratapan Ibu," jawabnya.
Ingatanku langsung terbang ke tempat itu. Sebuah jembatan yang dihiasi lampu kerlap-kerlip, begitu indah dan memanjakan mata terutama di malam hari, salah satu tempat yang iconic di kota ini.
"Mau, ya?" tanyanya lagi mendesak. "Kita gak sampe malam kok, bentaran ajaa," sambungnya mencoba meyakinkan.
"Iya, boleh deh." Aku pun sudah lama sekali tidak ke sana, sejak hari itu.
Tak ada salahnya, sekali-sekali memenuhi permintaan sahabatku itu, walaupun sebenarnya ayah pernah melarangku untuk tidak ke sana lagi semenjak kejadian buruk yang menimpaku kala itu.
Ah, sahabat, ya.
Mengapa sahabat menjadi bagian yang penting dalam hidup ini? Bagiku, mungkin karena kita butuh seseorang yang lebih dari sekadar teman, tapi juga bukan keluarga.
Seseorang yang pada awalnya bukan siapa-siapa, kemudian mengenal kita dengan baik, mengatahui perihal kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri, hingga akhirnya menjadi begitu dekat, bahkan bisa disebut lebih dekat dari pada keluarga. Itulah sahabat.
Ayahku punya seorang sahabat, aku sering memanggilnya om Andi. Kata ayah mereka berteman sejak Sekolah Menengah Atas. Sekelas dari kelas satu hingga kelas tiga, kemudian setelahnya juga bekerja sama di bidang usaha yang mereka sepakati berdua.
Om Andi punya anak perempuan bernama Suci yang kini juga menjadi sahabatku. Tidak tanggung-tanggung, kami sudah bersama-sama semenjak di bangku Taman Kanak-kanak, bahkan semenjak belum mengenal dunia sekolah.
Kurang pukul lima sore, aku sudah menarik gas sepeda motor, berangkat ke jembatan ratapan ibu.
Jembatan yang menurut sejarahnya pernah menjadi saksi bisu tangisan kaum ibu di zaman penjajahan itu, atas anak-anak mereka yang dieksekusi oleh para penjajah. Konon katanya dulu, air yang mengalir di bawahnya sempat memerah karena darah para pejuang yang gugur di hulu.
Kuparkirkan sepeda motor, dan berjalan kaki di atas jalan setapak beralaskan paving-block. Tak jauh dari sana terliat sebuah mobil yang tidak asing terparkir, Suci pasti ditemani oleh sopirnya yang setia menunggu. Ya, om Andi pasti tidak akan mengijinkan anak gadis semata wayangnya pergi ke mana-mana sendirian.
"Hey!" Kutepuk pundak gadis yang sedang asik mengotak-atik HP-nya tersebut. Ia sedikit tersentak kaget.
"Eeh! Tumben on-time, ya datangnya." Ia langsung berdiri dan memelukku. "Uuuh, kangen deh."
Aku langsung duduk di sebelahnya, menatap air yang mengalir turun dari rongga-rongga di bagian bawah jembatan ratapan ibu.
"Gimana kuliahnya, calon Dokter?" tanyaku, yang ditanya jadi cemberut.
"Males ih, lagi gak pengen ngomong tentang kuliah."
"Hahaha. Kenapa?"
"Ya, males aja, Dini! Kamu apa kabar?"
"Ya gini aja sih, kabarku. Abis ngojek seharian. Kamu pake peluk-peluk lagi, kan aku bau matahari."
"Uuuh, kamu kan matahari hidupku, Sayang." Ia tak sungkan memelukku lagi. Beberapa orang yang ada di sekitar sini melihat ke arah kami karenanya.
Udara sore mulai kentara, tak sepanas ketika siang lagi. Aku sedikit merapatkan jaket. Suci memainkan lagi HP-nya, seperti hendak menelepon seseorang.
"Pak, bawain cemilan yang tadi ya, temen Suci udah datang ni." Ia mengangkat tangan lalu melambai-lambai ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari kami.
"Ya ampun, sedekat itu juga pake nelpon, teriak aja juga kedengeran, Ci," celetukku melihat tingkah anehnya.
"Hehe. Lebih simpel gitu, dari pada teriak-teriak."
Tak berapa lama kemudian, sopirnya datang membawakan kantong plastik. Sepertinya sebelum ke sini, Suci belanja dulu ke minimarket di sekitar sini. Lengkan dengan minuman dan aneka cemilan.
"Dini, kata Papi aku mau dijodohin," katanya tiba-tiba.
Uhuk. Aku yang sedang menyeruput minuman langsung tersedak. "A-apa? Serius!?" tanyaku.
Gadis cantik itu mengangguk pelan.
"Kata Papi, aku gak bisa nyari cowok yang bener. Setiap cowok yang aku kenalin, Papi dan Mami ga suka, Din." Bibirny dimonyongkan ke depan, terlihat kesal. "Ada yang modal tampang doang katanya. Ada yang pendidikannya standar, tidak berpendirian, tidak ber attitude lah. Banyak banget deh. Pokoknya setiap ada yang deket sama aku, pasti ada aja kurangnya di mana mereka. Terutama di mata Papi. Kesel."
Aku mengangguk-angguk. "Lalu, mau dijodohin sama siapa?"
"Katanya ada anak salah satu rekan bisnis Papi, Din. Pengusaha muda, lulusan Universitas luar negeri. Udah sukses ngebangun usaha sendiri. Orangnya baik, sopan, dan juga good looking."
"Waah, bagus dong, Ci. Kalau didengerin dari ciri-cirinya, kayak udah perfect banget sih. Lalu, apa masalahnya?"
"Kamu tau lah, Din. Yang namanya perasaan itu tidak bisa dipaksain. Aku udah ketemu sama dia, tapi sama sekali gak srek, ga ada getaran di hari. Udah coba komunikasi, gak nyambung juga. Kayak beda frequency, gitu loh. Orangnya kaku banget, aku gak suka."
"Hmmm." Aku diam sejenak. "Coba sampaikan hal ini ke om Andi. Menurutku Papimu pasti ngerti deh, Ci. Dia kan pasti pengen anaknya bahagia juga."
"Aku udah bilang, Din. Tapi kata Papi, kalau emang gak cocok sama dia, coba tunjukin pengganti yang lebih baik dari laki-laki itu. Yaah, makin bingung aku." Ia menutup wajah dengan telapak tangan.
"Wah, rumit juga ya."
"Makanya, aku lagi pusing nih. Jangankan buat pikirin kuliah, apa-apa jadi ga enak karena kepikiran terus."
"Tapi kok om Andi tiba-tiba nge jodohin sih? Lagi pula kan umur kita masih muda banget, Ci."
"Ya, kata Papi kan harus langsung nikah sih. Yang penting ada calon yang benar-benar pasti dulu aja."
"Oh, gitu. Yaudah menurutku, kamu pikirin baik-baik dulu deh. Gak ada salahnya juga coba buka hati buat cowok itu. Lagian kan, perasaan itu juga bisa tumbuh seiring waktu, Ci. Apalagi kalau dia orangnya beneran se-perfect yang kamu bilang."
Suci terdiam, seperti sedang berpikir. "Aahhh." Ia mengacak-acak tambutnya sendiri. "Pusing deh."
Kuusap-usap kepalanya. "Jangan diacak-acak, nanti makin jelek makin susah nyari jodoh. Hahaha," ujarku meledek.
Sekian lama kami diam, sesekali memakan camilan. Setidaknya bisa sedikit memperbaiki mood Suci yang tampaknya sedang berantakan.
"Kamu sendiri, gimana, Dini? Lagi dekat sana siapa?"
"Eh?" Mendengar pertanyaannya, entah mengapa, yang pertama kali muncul di benakku adalah wajah bang Iqbal. Padahal aku juga tak begitu dekat dengannya. "Gak ada lah, Ci."
"Kenapa? Masa iya masih belum move-on, sih? Masih ingat kenangan sama doi yang lama?" tanyanya sambil senyum jahil menggoda.
"Hah? Enggak lah. Aku bahkan udah lupa sama dia, Ci." Ucapan Suci tiba-tiba membuat sosok yang pernah mengisi hatiku beberapa tahun lalu, muncul. Hubungan yang sempat bertahan hampir setahun itu, akhirnya kandas karena penghianatannya.
"Beneran? Trus kenapa belum dapat gantinya? Gak mungkin dong, cewek sekece ini gak ada yang deketin." Ia mencolek pinggangku. Kutepis tangannya.
"Boro-boro buat mikirin itu, Ci, nyukupin makan sehari-hari aja udah pusing aku. Belum mikirin uang kuliah."
Suci terdiam, tampak ragu-ragu untuk mengomentari. "Ngomong-ngomong, kenapa sih ayahmu gak mau nerima bantuan Papi, Din?"
Aku menghirup napas dalam-dalam. Teringat kejadian itu lagi. Ayah tentu saja sungkan menerima uluran tangan om Andi, setelah kejadian tidak mengenakkan itu terjadi. Termakan fitnah, ayah menyalahkan om Andi, yang akhirnya berujung pada pecahnya berusahaan.
Yang paling parah, hal itu jua lah yang membuat pecahnya persahabatan mereka. Dadaku sesak rasanya mengingat adegan yang terjadi kala itu.
"Aku juga gak tau pasti apa alasannya, Ci. Yang jelas, ayahku pasti punya alasan tersendiri untuk gak menerima bantuan om Andi. Kamu gak lupa kan kejadian hari itu," jawabku pelan.
"Tapi, katanya, Papi udah maafin ayah kamu kok, Din. Papi benar-benar udah gak ada marah lagi."
"Udahlah, kita gak usah bahas itu. Itu urusan orang tua kita, Ci." Langsung kupotong sebelum pembahasan terlalu jauh.
Suci pun diam.
Setidaknya, perpecahan orang tua kami, tidak berimbas pada persahabatan kami berdua. Antara aku dan Suci tak ada yang berubah, setidaknya begitu menurutku. Walaupun kami jarang bertemu, dia tetap sahabat terbaik yang pernah kumiliki.
"Ci, udah mulai gelap nih, kita balik, yuk. Aku masih ngerasa gak enak malam-malam di sini. Masih trauma," ujarku beberapa saat kemudian.
"Oh iya. Yaudah yuk, aku juga balik sekarang. Ini buat kamu bawa pulang." Ia menyerahkan bungkusan plastik yang satunya. Aku baru ingat kalau dari tadi ada dua kantong plastik, yang satu sudah kami buka, yang satunya belum tersentuh.
"Ini apa?" tanyaku.
"Adalah. Bawa aja, nanti buka sampai di rumah."
Walaupun penasaran akan apa isinya, kuterima saja. Kami berdua pun melangkah meninggalkan tempat itu.
"See you, Sayang." Ia memelukku lagi sebelum pergi.
"Iyaa, see you too."
***
Di sepanjang perjalanan, aku teringat kejadian saat Suci menanyakan tentang orang terdekatku tadi. Mengapa waktu itu satu-satunya wajah yang muncul otakku adalah wajah bang Iqbal, si penyiar radio itu.
Memang benar, akhir-akhir ini kami jadi lebih sering kontak dan berhubungan, walaupun kadang hanya via w******p. Ia rutin menghubungiku, walau hanya sekadar mengucap selamat pagi.
Ah, tiba-tiba saja aku teringat akan sebuah pepatah. Katanya, jika kamu sedang bertanya-tanya, pada siapa kamu jatuh hati. Maka ingatlah nama siapa yang kamu ingat sebelum tidur.
Aku yakin, beberapa malam terakhir, sebelum tidur, aku selalu ingat dia.
Ah, yang benar saja. Mungkin ini hanya kebetulan.
Ya, mungkin.