POV: Andini
"Yaah, Dini pulang!" ucapku usai turun dari motor menenteng kantong plastik berisi menu makan malam kami.
Ayah terlihat duduk di ruang depan menonton televisi. Sepertinya ada pertandingan sepakbola yang ditayangkan di sana. Laki-laki itu langsung berdiri melihat kedatanganku. Langkah kakinya masih sedikit pincang, walaupun sudah jauh lebih baik daripada beberapa bulan yang lalu.
"Kok lama pulangnya, Din? Dari kampus ngojek dulu?"
Kusambut tangan ayah yang terjulur bersalaman, lalu kucium seperti biasanya.
"Iya, Yah. Mumpung masih ada waktu, gak ada salahnya kan dimanfaatkan buat kerja. Hehe." Aku meletakkan kantong plastik di atas meja, lalu bergegas ke belakang mengambil piring dan peralatan makan lainnya. Sepertinya malam ini kami makan di depan televisi sambil menonton pertandingan sepakbola.
Dari kampus tadi aku langsung ke pangkalan. Masih sempat menyelesaikan beberapa orderan, sebelum terlalu larut. Sebenarnya sudah enggan membahas permasalahan tadi pagi, tapi tiba-tiba saja ayah mengeluarkan amplop cokelat yang tidak asing dari kantong celananya.
"Apa ini, Yah?" tanyaku memastikan.
"Kamu simpan saja, ya, Dini. Kita gak bisa terlalu keras juga menolak semua bantuan dari Tantemu, dia gak ada maksud apa-apa kok, murni hanya membantu." Aku paham ke mana arahnya.
"Hmmm." Aku tak merespon.
"Sebenarnya ayah yang ngomong sama Tante kemarin, soalnya ayah kasian liat kamu harus kerja siang malam buat ngumpulin uang. Malam-malam ayah liat kamu kecapean, Din. Nanti kalau sakit, gimana? Kan makin susah jadinya." Ayah masih terus mencoba menjelaskan. "Sejak nenek meninggal, satu-satunya keluarga kita di sini yang tersisa cuma Zee. Revita dan suaminya juga jauh di pulau seberang sana. Kalau nanti Ayah udah gak ada, tempat kamu bergantung dan mengadu itu ya Tante Zee, Din. Cobalah untuk memaafkan dia, ya."
Bagaimana aku bisa memanfaatkan seseorang yang udah membuat seorang anak terpisah dari ibunya, Yah? Bagaimana mungkin aku menerima pemberian dari orang itu? Aku gak sudi, sampai kapanpun aku tak akan mau. Ingin sekali menjawab perkataan ayah, tapi aku tak sanggup menyakiti hatinya.
"Iya, Yah." Aku menganggukkan kepala pelan, sambil terus menyantap makan malam.
"Kamu simpan aja uang ini ya. Siapa tau nanti ada keperluan mendesak. Atau bisa juga dipakai untuk keperluan kuliah nanti. Uang semester udah dilunasi oleh Tantemu, tak perlu pusing-pusing lagi sampai lulus." Ayah tersenyum, tanpa rasa bersalah.
Ya ampun! Aku ingin berteriak rasanya. Bagaimana ini? Aku sudah berhutang lagi pada wanita itu, yang pasti suatu saat nanti aku harus membayar lunas semuanya. Aku tahu betul seperti apa karakter Tante Zee, ia tak mungkin melakukan semua ini tanpa tujuan.
"Ayah aja yang simpan," ujarku kemudian berdiri membawa piring ke belakang. Mataku memanas rasanya, tak ingin terlihat sedih di depan ayah.
"Kamu ke mana? Udah makannya?"
"Udah, Yah. Dini ke kamar dulu, capek, mau istirahat."
***
Orang pertama yang membuka story WA-ku malam ini adalah bang Iqbal. Aku baru ingat, ia juga sering melihatmu story di f*******:-ku ketika memasang lagu-lagu yang kusuka. Pantas saja ia bisa tahu mana lagu favorite-ku.
Kadang, ketika tidak ada lagi tempat untuk bercerita, post di story atau pun status adalah jalan keluarnya.
Percayalah, perempuan punya segudang stok kata-kata galau atau pun quotes bijak di galeri mereka, siap untuk di-post kapan saja dibutuhkan.
"Malam." Seperti dugaanku, sebuah chat masuk dari bang Iqbal. "Malam ini rasanya udara jauh lebih dingin dari biasanya, langit juga hitam tampa hiasan bintang-bintang. Aku curiga, apakah ada yang lagi galau di sana?"
Aku menutup tersenyum membaca kata-katanya. Laki-laki itu pandai betul merangkai kata-kata, kentara sekali ia seorang penyiar yang rutin bercuap-cuap di udara.
Aku memasang emoticon heran. "Apa hubungannya langit gelap sama orang yang lagi galau, coba?"
"Ga ada hubungannya sih, aku ngarang aja, sengaja nyambung-nyambungin buat ngehibur kamu, Din. Berhasil gak?"
"Gak lah." Aku tersenyum lagi, mengerjainya. "Masa kata-kata kayak gitu doang bisa ngehibur. Huuu. Ayo usaha lagi. Hahaha."
Terlihat tanda sedang mengetik, tampaknya kata-katanya kali ini lebih panjang, jadi makan waktu lebih lama. Atau bisa jadi juga ia sedang memilih-milih emoticon untuk dikirimkan.
"Kemarin kan katanya kamu mau ikut ke tempat cuci darah buat liat prosesnya, gimana, jadi gak? Kalau iya, besok kayaknya bisa sih, kebetulan kondisiku lagi fit, datang aja kira-kira jam 9, pas proses tindakan udah beres."
"Hah? Beneran boleh, Bang?" Aku berpikir sejenak mengingat-ingat jadwal besok pagi. "Besok aku free sih, Bang."
"Yaudah, pas dong kalau gitu. Datang aja."
"Tapi aku belum tau di sebelah mana ruangan cuci darahnya," keluhku.
"Ya ampun, tinggal nanya. Nanti kalau nampak orang pakai baju putih, tanya aja, di mana ruang cuci darah atau ruang Hemodialisa. Malu bertanya jalan-jalan nanti, Din."
Awalnya k****a serius, hingga terkikik dengan kata-kata di akhirnya. "Malu bertanya sesat di jalan, kali, Bang!" Kuluruskan kata-katanya.
"Itu dulu, kalau sekarang malu bertanya ya jalan-jalan aja dulu. Hahaha."
"Iya deh, iyaa."
"Kabarin aja besok yaa."
"Oke sip." Kukirimkan emoticon jempol biru.
Akhirnya kesempatan untuk berkunjung ke ruangan tersebut datang juga. Selain karena ingin mengetahui bagaimana proses cuci darah yang selama ini dijalani bang Iqbal, aku juga ingin belajar tentang Hemodialisa tersebut. Siapa tau nanti bermanfaat juga untuk pendidikanku.
***
Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap, padahal waktu yang dikatakan bang Iqbal pukul sembilan. Masih lama. Aku masih sibuk memikirkan bagaimana nanti sikapku di sana? Apa yang bisa dibawa? Kalau tidak salah, katanya di ruangan itu sambil cuci darah, para pasien masih bisa makan dan minum.
Apa aku bawa cemilan saja?
Tidak mungkin aku ke sana hanya dengan tangan kosong saja. Huh.
"Mau ke kampus, Din?" Aku dikejutkan oleh suara ayah yang tiba-tiba berdiri di depan pintu.
"Eh, anu, enggak sih, Yah. Mau ke rumah sakit."
"Siapa yang sakit?"
"Itu ada temen, jadi mau ngejenguk. Bawa apa ya bagusnya?"
"Jenguk orang sakit sih biasanya bawa buah."
Aku langsung membuka HP dan browshing, bertanya pada mbah Gugel. "Apakah boleh, pasien cuci darah makan buah-buahan?"
Setelah scrolling beberapa saat, akhirnya kudapati kesimpulan kalau pasien cuci darah harus diet kalium. Sedangkan sumber kalium utama itu dari buah dan sayur. Berarti sebaiknya jangan buah-buahan.
"Selain buah, Yah?"
"Hmmm. Roti? s**u?"
Aku membuka HP lagi.
"Yaudah deh, nanti dicari di jalan aja. Ayah mau sarapan apa? Dini beliin dulu." Jam segini tidak akan sempat masak lagi.
"Gak usah, kamu pergi aja. Sebentar lagi biasanya ada tukang bubur yang lewat. Ayah kan udah bisa beli sendiri ke jalan depan."
Aku tersenyum. Benar juga, ayahku sudah semakin sehat akhir-akhir ini, syukurlah. "Ada duitnya?"
"Ada dong." Ayah menepuk-nepuk kantong celananya yang tebal.
"Oke, Andini berangkat."
"Hati-hati, ya."
"Siap, Ayah."