Bezuk(2)

1145 Kata
POV: Andini Langsung kutancap gas sepeda motor di atas jalan raya yang mulai ramai. Mentari mulai bersinar di atas sana. Aku berputar-putar sejenak sambil berpikir mau beli apa. Akhirnya berhenti di pinggir jalan, dekat sebuah angkringan. Semoga saja aku tidak salah membelikan bang Iqbal makanan ini. Parkiran rumah sakit sudah hampir penuh. Jam segini memang sedang ramai-ramainya terutama di bagian poliklinik. Terlihat tak jauh dari tempatku berdiri barisan pasien-pasien yang sedang mengantri untuk mengambil nomor antrian. "Di mana ya, ruang cuci darah?" bisikku sambil mengamankan helm di jok motor. Ternyata mencari ruangan itu tidak sesulit dugaanku. Di setiap persimpangan lorong-lorong rumah sakit sudah ada petunjuknya. Aku tinggal mengikuti tanda panah ke kiri, ke kanan atau pun lurus. Hingga akhirnya tiba di sebuah ruangan yang bertuliskan "Hemodialisa". Tok tok tok! Dengan sopan, kuketuk pintu, tapi tidak ada sahutan. Akhirnya kudorong saja hingga terbuka. Udara dingin menyeruak dari dalam. Spontan kurapatkan ritsleting jaket. Suasana di dalam lebih ramai dari pada yang kubayangkan, pantas saja suara ketukanku tidak terdengar. Ada yang sedang mengobrol, memutar musik, menonton film. Bahkan para suster dengan santai tertawa dan bercanda dengan pasien. "Ini beneran ruangan cuci darah?" tanyaku dalam hati. Aku melangkah masuk. Terlihat barisan mesin-mesin berwarna putih yang berkedip-kedip di sepanjang ruangan. Setiap mesin bersebelahan dengan sebuah tempat tidur modern. Sepertinya bisa berubah-ubah dari tempat tidur menjadi tempat duduk, karena sandarannya bisa dinaik-turunkan. Aku menghitung, ada lima AC yang dihidupkan di bagian atas dinding, pantas saja ruangan begitu dingin. Rasanya seperti sedang berada di kutub utara. Walaupun aku belum pernah ke sana sama sekali. "Pesanan atas nama siapa, Dek?" Salah satu suster tiba-tiba menyapaku yang masih celingak-celinguk. "Eh? Gak lagi ngantar pesanan kok, Kak. Hehe." Aku sadar jaket yang kupakai membuat orang mengira sedang mengantar orderan. Tadinya aku berniat membuka jaket ini, tapi karena udara di dalam yang super dingin, urung kulakukan. "Oh, jadi?" "Nyari, bang Iqbal, Kak," jawabku. "Ooh, nyari Adik." Adik? Aku bertanya dalam hati. "Adiik! Nih ada yang nyariin." Suster itu berseru. "Itu yang paling ujung." Aku melangkah ke tempat yang ditunjuknya. Benar saja, di salah satu mesin yang ujung, terlihat seorang laki-laki muda berselimut tebal, ia tersenyum melihatku datang. Wajahnya berseri-seri, tak ada tanda-tanda seperti orang yang sedang menahan rasa sakit. "Hei!" sapaku saat sudah berada di dekatnya. "Hei juga. Ambil kursi tuh," katanya sambil menunjuk ke belakangku. Kuikuti perintahnya dan menarik salah satu kursi yang tersedia, lalu duduk tempat di sampingnya. "Susah nyari ruangannya?" "Enggak kok. Gak pake acara nanya-nanya, gak pake acara jalan-jalan juga," jawabku. Bang Iqbal terkikik. "Bagus deh." Kuserahkan kantong plastik yang sedari tadi kujinjing. "Bang, boleh makan gorengan gak?" tanyaku dengan suara pelan, takut juga kalau ternyata ini salah satu pantangan. "Boleh kok. Tau aja aku suka gorengan." Aku sedikit lega. "Kirain gak boleh. Ini ada tempe goreng, Bang." "Pake bawa-bawa segala, repot-repot amat, Din." Aku tersenyum sambil melihat-lihat. Dua buah selang tampak melekat di tangan kiri bang Iqbal, lalu terhubung dengan mesin putih yang ada di sampingnya. Banyak angka-angka di layar mesin itu, entah apa artinya. Brrr. Aku mengusap lengan, dingin sekali. "Dingin ya? Maklum, mesin ini gak boleh panas soalnya, makanya harus dikasih AC banyak-banyak. Apalagi mesinnya dipake dua shif sehari kan, bisa meledak kalau kepanasan," jelasnya. Aku mengangguk-angguk. "Oh, jadi AC-nya buat mesin ya? Bukan buat pasiennya?" "Yaa, dua-duanya sih kayaknya, Din." Kutatap wajah laki-laki muda di hadapanku itu. Ada sedikit gurat lelah di wajahnya yang berusaha disembunyikan. Tentu saja, dengan beban seberat ini, mungkin kalau aku di posisinya, untuk tersenyum saja sudah sangat sulit. "Ngomong-ngomong, Bang. Kok pada manggil Adik, sih?" "Hahaha. Oh itu. Jadi aku udah cukup akrab sama suster-suster di sini, namanya juga udah jadi pasien bertahun-tahun kan. Karena aku yang paling muda di antara pasien-pasien lainnya, makanya mereka pada kebiasaan manggil Adik." "Ooh, gitu." Aku melihat sekeliling, benar juga. Rata-rata pasien lainnya sudah berumur, jarang yang masih muda seperti bang Iqbal. Namun, setelah kuperhatikan, ternyata pasien-pasien lainnya ada yang menemani, hanya bang Iqbal yang seorang diri. Salut juga padanya. "Ini prosesnya berapa lama, Bang?" "Empat setengah jam." Suster-suster di belakang terdengar berbisik-bisik. Bang Iqbal yang menyadarinya, tersenyum. "Maklum, soalnya aku jarang ada yang nemenin. Mungkin mereka bertanya-tanya, kamu siapa, Din. Hehe. Santai aja." Aku menyengir sejanak, tak tahu harus menjawab apa. "Mau makan gorengannya? Abang udah sarapan?" "Boleh deh. Belum sarapan juga nih." "Loh, trus biasanya sarapan apa?" "Biasanya nitip aja sama salah satu keluarga pasien lain, atau sama suster yang mau ke kantin." Aku bantu membuka kantong plastik berisi gorengan tersebut karena sepertinya sulit untuk bang Iqbal membuka dengan satu tangan. "Nih, Bang. Cobain." Bang Iqbal mengangguk, lalu mengambil satu tempe goreng. "Waaah, Iqbal udah ada kemajuan ya sekarang." Tiba-tiba seorang ibu-ibu yang duduk tak jauh dari kami berkomentar. Sepertinya ia juga sedang menunggui seseorang yang cuci darah. "Biasanya sendirian, sekarang udah ada yang nemenin. Kenalin dong, Bal," sambungnya. Uhuk! Bang Iqbal sampai terbatuk ketika hendak menjawabnya. "Ini ada temen yang datang, Bu. Katanya penasaran sama proses cuci darah," jawabnya kemudian setelah minum seteguk air. "Tuh tuh, saking grogi sampai batuk-batuk." Pasien yang lain ikut menimpali. "Mana cantik banget lagi, Bal. Yang ini jangan sampai lepas ya, Bal." Aku ikut tersipu dan salah tingkah mendengarnya. Bang Iqbal pun diam, tidak menyahuti lagi. "Maklum ya, jangan diambil hati. Pasien-pasien di sini emang udah pada akrab, jadi suka becanda." "Iya, Bang. Santai kok." Aku masih tertarik dengan cara kerja mesin ini. Ketika ada salah satu perawat yang mendekat untuk mengotak-atik, kuperhatikan dengan seksama. "Mau visit, Buk?" Beberapa saat kemudian para suster bangkit dari tempat duduk mereka karena ada seseorang yang datang. Aku mengernyitkan kening, dari jauh sosok itu seperti tidak asing. "Nah, buk dokternya udah datang, Din. Biasanya jam segini visiting untuk memantau kondisi pasien satu persatu." "Oh gitu. Siapa nama dokternya, Bang?" "Dokter Zia Kamila." Deg! Jantungku berdegup. Ternyata benar dugaanku. Itu Tante Zee. Aku tau ia bekerja di rumah sakit ini, tapi tak kuduga ia juga bertugas di ruangan cuci darah. Ah, rasanya dunia ini sempit sekali, ke mana-mana harus ketemu dia lagi. "Bang, aku duluan, ya." Aku bangkit dari tempat duduk, bang Iqbal tampak heran. "Loh, buru-buru amat, Din? Belum juga lima belas menit di sini. Gak tahan sama dingin ya?" "Bukan gitu, Bang." Aku mencoba mencari alasan. "Ini mau buru-buru ke kampus, soalnya tiba-tiba dapat jadwal ketemu dosen mendadak nih. Ini baru dapat kabar di grup WA," ujarku sekenanya. Yang penting bisa pergi dari ruangan ini secepatnya sebelum Tante Zee mengenaliku. "Oh gitu. Yaudah deh, gak apa-apa. Makasih ya udah datang. Makasih juga buat sarapan gorengannya. Hehe. Mampir lagi ya lain kali, pokoknya Rabu dan Sabtu pagi." "Oke, Bang. Duluan yaa. See you." "See you too, Din." Aku melangkah cepat, sesekali mengangguk sopan menyapa pasien-pasien lain yang melihat ke arahku. Namun, ketika tanganku memegang gagang pintu hendak keluar, tiba-tiba suaranya terdengar. "Andini?" Ah, Tante Zee masih saja bisa mengenaliku dengan masker ini. "Andini, kan?" Kubuka pintu, lalu bergegas pergi. Masa bodoh dengan panggilannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN