POV: Andini
Aku masuk ke kamar lebih awal lagi malam ini. Kutinggalkan ayah yang masih makan malam di ruang tengah, dengan alasan sudah kenyang dan mengantuk. Berusaha kusembunyikan wajah kusut ini dari ayah, agar laki-laki itu tidak tahu aku sedang bersedih hati. Wajah murung kusembunyikan di balik senyum palsu.
Berhasil. Sejauh ini, ayah tak ada curiga dan bertanya apa-apa.
Bagaimana pun juga aku hanya seorang wanita muda yang rentan terpuruk dan gampang terbawa perasaan. Sudah kucoba untuk menjadi sosok Andini yang kuat dan tahan banting, tapi tetap saja, tubuh dan pikiranku ada batasnya.
Dimulai dengan perginya ibuku untuk selamanya, ditambah dengan terpuruknya ayah hingga jatuh sakit. Belum selesai dengan kalut pikiran sebab hal-hal tersebut, muncul lagi beban pikiran baru tentang kehadiran tante Zee, ditambah lagi dengan sulitnya mengumpulkan uang untuk kuliah. Aku masih mencoba kuat di atas itu semua.
Namun, hari demi hari, rasanya selalu saja ada beban baru yang ditambahkan di pundakku. Cobaan demi cobaan, ujian dan dera yang selalu saja berdatangan tiada henti.
"Kosong? Aku duduk di sini ya, boleh?" Tadi siang Kak Gilang tiba-tiba muncul tepat di depanku yang sedang menikmati makan siang.
"Eh?" Aku melihatmu sekeliling, kantin memang sedang ramai-ramainya, tak banyak tempat kosong lagi. Merasa tak ada pilihan, akhirnya aku mengangguk saja. "Silakan, Kak." Di saat yang sama, sudut mataku menangkap tatapan-tatapan marah dari berbagai sudut.
"Kak, sini masih kosong," kata seorang gadis tak jauh dari kami, tepat ketika kak Gilang menarik kursi.
"Gak apa-apa, di sini aja," jawab laki-laki itu tak begitu menghiraukan, langsung duduk dan menikmati makanannya.
Aku juga melanjutkan makan, walaupun ada feeling yang tidak enak. Mengingat banyak sekali fans fanatik kak Gilang yang menatap sinis ke arah kami saat ini.
Sejak pagi, sebelum ke kampus aku bekerja terlebih dahulu karena kebetulan tidak ada kelas pagi. Setelah beberapa jam bekerja, menyelesaikan beberapa orderan, barulah aku pulang sejenak untuk bersih-bersih. Tidak sempat mandi sebelum berangkat ke kampus lagi karena mengejar kelas bertama siang ini.
"Kenapa? Kamu risih aku di sini, Din?" tanya kak Gilang tiba-tiba, mungkin ia menangkap ekspresi tidak nyaman di wajahku.
"Hah? Enggak kok, kak Lang."
"Santai aja," sambungnya.
Aku mengangguk pelan, mencoba bersikap biasa saja sewajarnya.
Namun, beberapa saat kemudian, sepeninggalan kak Gilang, aku akhirnya sadar kalau ternyata feeling-ku benar. Beberapa orang perempuan yang tidak kukenal mendekat.
"Oh, jadi ini cewek yang sok kecantikan itu?" kata salah satu dari mereka dengan ekspresi menyebalkan.
"Iya, aku pernah dengar katanya ada cewek yang sok-sok-an nolak kak Gilang, ternyata ini orangnya. Eeew, gak banget." Ia menyentuh rambutku yang sedikit lepek terkena keringat.
Aku mencoba mengabaikan ucapan mereka dengan harapan sekumpulan perempuan tersebut akan capek sendiri.
Mahasiswa dan Mahasiswi lainnya yang sedang berada di kantin kini sempurna memandang ke arahku. Kendati demikian, tak ada satu pun yang berniat membela. Mereka hanya menonton, seolah menikmati pertunjukan.
"Trus sekarang mau godain kak Gilang lagi? Kecentilan banget. Dari fakultas mana sih kamu?"
"Kalau gak salah dia dari keperawatan."
"Eeeh, tampang kayak gini, pasti mahasiswa kebagian beasiswa buat orang miskin. Beban negara. Hahaha." Mereka tertawa bersama.
Aku merapikan barang-barang ke dalam tas, berniat pergi dari sana. Tak ada waktu untuk meladeni orang-orang seperti mereka.
Saat aku berdiri, salah satu dari mereka menyadari jaket yang kubawa. "Eeeew, ini bukannya jaket ojol, gaes?"
"Idiiih, iya tuh. Jadi kuliah nyambi ngojek ya? Pantes bau matahari parah." Ia menutup hidung sembari mengeluarkan lidah. "Kayak gini, mau deketin kak Gilang, ngimpi kali lu."
Aku tak tahan lagi. "Iya, saya kuliah sambil ngojek. Kenapa? Setidaknya saya gak jadi beban orangtua kayak kalian!!!" jawabku dengan nada tinggi. Dadaku mulai berdetak tak beraturan menahan emosi.
"Hahaha. Lah kok ngamok? Doi mulai emosi nih, gaes."
"Waiya dong," timpal temannya. "Orang tuaku orang kaya, makanya bisa biayain anaknya. Orangtua kamu gimana emang? Gak mampu? Atau emang sengaja nelantarin anaknya? Hahaha." Mereka tertawa bersama lagi.
Tanganku gemetar menahan amarah, ingin rasanya kutampar wajah wanita itu. Namun, aku takut menambah-nambah masalah saat ini. Untungnya otakku masih bisa berpikir jernih. Kuraih tas, lalu pergi dari sana.
"Cih. Pergi sana, jangan mimpi buat dapatin kak Gilang ya kamu! Ngaca sana!" teriaknya.
Sekumpulan mahasiswi itu berseru penuh kemenangan.
Aku terus melangkah kencang ke parkiran dengan mata memerah dan mulai basah. Aku merasa begitu tak berdaya dan hina. Tak sanggup membalas dan menjawab semua kata-kata dan perlakuan mereka. Aku dipermalukan di depan umum, di depan sekian banyak orang di kantin siang itu.
Huuuu. Udara dingin malam ini berembus masuk lewat celah ventilasi kamar, tak kuhiraukan. Aku masih saja tersedu dalam tangis, kututup wajah dengan bantal agar suara tangisan tak terdengar ke luar kamar.
Drrrrt drrrrt. Terdengar HP-ku yang berada di kantong bergetar. Kuhapus wajah yang basah, lalu mengecek siapa yang menelepon malam-malam begini.
"Bang Iqbal?" bisikku membaca nama yang tertera di sana.
"Halo?"
"Halo, Din." Suara laki-laki terdengar di ujung telepon. Ini kali pertama ia menelepon-ku, tapi suaranya terdengar tidak asing, mungkin karena sering terdengar di radio.
"Iya, ada apa, ya, Bang? Tumben nelpon malam-malam."
"Eh, anu. Gak ada sih." Ia diam sejenak seperti tengah memikirkan kata-kata. "Cuma itu, dari tadi siang kan gak ada kabar, WA juga gak dibaca, aku kira kamu kenapa-kenapa gitu, jadi langsung ditelpon aja deh," jelasnya.
Aku mengusap wajah lagi, mencoba menghilangkan sisa-sisa tangis, agar tidak kentara. "Ooh, gitu."
"Kamu gak apa-apa, Din? Suaranya agak mendengung, kayak beda gitu."
"Gak apa-apa, Bang. Seharian ini emang rada sibuk aja, dari pagi kerja, trus siang sampe sore kuliah. Ini baru siap makan malam, baru masuk kamar. Belum sempat nengok HP."
"Ooh, gitu. Syukur deh. Kirain kenapa."
"Ciyee khawatir," ucapku sambil tersenyum sendiri.
"Hehe." Ia tertawa canggung. "Tapi beneran gak apa-apa kan? Suaranya aneh, kayak orang abis nangis kamu," sambungnya.
"Hah? Gak lah, Bang. Aku mana pernah nangis. Hahaha." Kupaksakan untuk tertawa, walaupun terdengar dibuat-buat.
"Bagus deh kalau gitu. Nanti kalau semisal ada apa-apa, jangan sungkan buat cerita. Siapa tau aku bisa bantu."
Kalau yang berbicara adalah laki-laki lain, aku pasti sudah mencibir, karena kata-kata seperti itu sangat pasaran di kalangan para buaya di luar sana. Namun, ketika keluar dari mulut bang Iqbal, entah mengapa aku tak merasa seperti itu, kata-katanya terdengar tulus, tanpa ada kesan gombalan atau rayuan kosong.
"Oke, Bang, siaap," jawabku.
"Yaudah selamat istirahat, ya. Maaf ganggu waktu istirahatnya."
"Loh? Udah nih, Bang? Cuma mau ngomong gitu doang?" tanyaku, kemudian menutup mulut, menyesal dengan kata-kata sendiri.
"Maksudnya?" ia balik bertanya.
"Hehe. Gak, Bang, becanda. Yaudah selamat istirahat, night." Langsung kutekan tombol matikan sebelum ia sempat menjawan.
Aku heran. Mengapa dengan laki-laki itu, mulutku selalu blak-blakan tanpa bisa di-rem. Rasanya seperti berbicara dengan sahabat yang sudah kukenal dari waktu yang sangat lama. Aku jadi sok kenal sok dekat. Jadi malu sendiri.
Haaah. Kuhela napas panjang seusai menaruh HP di atas nakas. Setidaknya sebuah telepon masuk darinya barusan bisa sedikit mengurangi rasa sedih yang sedari tadi menggerogoti hati dan pikiranku.
Terima kasih bang Iqbal. Ternyata selain ayah, masih ada di luar sana orang yang mengkhawatirkan aku.
Akhirnya bisa kupejamkan mata dan tidur dengan nyenyak malam ini.
***
Berkali-kali kukirimkan chat WA ke nomor Suci.
"Ci! Suciii!"
Namun, beberapa menit kemudian masih juga belum dibaca. Kutelepon juga beberapa kali, tapi tidak kunjung di angkat. Hingga akhirnya, dua jam kemudian, ketika siang sudah hampir beranjak, telepon masuk darinya terlihat di layar HP-ku.
"Halo."
"Iya, halo, Ci. Ke mana aja? Dari tadi juga di-chat," jawabku kesal.
"Sorry, Beb. Aku baru selesai kelas nih. Tumben-tumbenan jam segini nelpon aku, kenapa? Kangen ya? Hehe. Emang sih, susah jadi orang ngangeni." Kebiasaannya bertanya sendiri lalu menjawab dengan PD sendiri.
"Mau nanya, nih, Ci."
"Nanya apa?" tanyanya.
"Kalau orang biasanya sering ngechat, tiba-tiba ngilang aja. Itu tandanya kenapa ya?"
Bukannya mendapatkan jawaban, yang kudengar di ujung telepon hanya suara Suci yang tertawa meledek. "Ciyeee, akhirnya sahabatku punya someone special niih."
"Iiih, apaan sih. Orang nanya serius jugaa."
"Siapa dia? Kok gak ada cerita sih."
Ya ampun. Ternyata benar dugaanku, bertanya pada Suci tentang hal ini bukanlah langsung yang benar.
Biasanya bang Iqbal selalu menghubungiku via chat. "Selamat Pagi" di pagi hari, "Selamat Siang" ketika sudah siang, dan "Selamat Malam" ketika malam menjelang.
Namun, sejak kemarin, tiba-tiba ia menghilang, tak ada satu pun chat yang masuk. Padahal beberapa kali ku-cek WA-nya online. Untuk menghubungi duluan, aku merasa tidak enak. Makanya kucoba bertanya pada Suci, walaupun sepertinya itu adalah hal yang sia-sia untuk dilakukan.
"Yaudah, aku gak jadi nanya deh, Ci. Cari tau sendiri aja."
"Loh loh. Jangan marah dong. Hehe. Aku becanda, Beb," jawaban lagi ketika menyadari aku mulai kesal. "Kalau menurutku sih, orang tiba-tiba gak ada ngehubungin lagi, itu banyak penyebabnya. Kita gak bisa nyimpulin begitu aja. Bisa jadi dia emang lagi sibuk, jadi gak sempat nge-chat."
"Tapi WA-nya online," timpalku.
"Hmmm. Selama ini dia ngechat, kamu selalu respon dengan baik?"
Aku berpikir sejenak. "Sebenarnya sering gak kebaca sih. Dia chat pagi, paling aku bacanya malam sebelum tidur."
"Waduuuh." Suci berseru. "Pantes aja, dia capek tu dicuekin terus. Hahaha."
"Gitu, ya?"
"Mungkin aja gitu, Din. Tapi ga tau pasti juga. Dari pada bertanya-tanya, mending tanya aja. Chat duluan gih."
"Hmmm. Oke deh. Makasih masukannya, Ci."
"Oke siip. Nanti kabarin ya, gimana hasilnya."
"Sip." Kukirimkan emoticon jempol kuning.
Aku sudah mengetik panjang lebar untuk dikirimkan ke WA bang Iqbal. Menanyakan kabarnya, sekaligus menanyakan mengapa tak ada lagi menghubungiku akhir-akhir ini.
Namun, ketika k****a kembali, rasanya malu sendiri. Memangnya aku siapa? Apa hakku untuk bertanya seperti ini? Memangnya ada suatu keharusan baginya untuk mengabariku?
Aku memutar bola mata, lalu urung mengirimkannya, kuhapus kembali dan melanjutkan kegiatan.
Hingga malam harinya, hatiku masih diliputi tanda tanya. Kuliah nomor WA-nya yang masih online malam-malam begini. Sebenarnya sedang apa pemuda itu? Foto profil WA-nya juga sudah berganti dengan yang baru. Fotonya yang sedang berdiri di depan panggung, di hadapan banyak orang berseragam, seperti sedang menjadi pembicara di suatu acara.
Saat aku sedang melihat-lihat, tiba-tiba, ting ting! Notifikasi WA masuk berbunyi.
Aku berseru tertahan. Itu ternyata benar darinya.
"Selamat malam."
Langsung kubalas. "Malam juga, Abaang."
"Lama gak chating-an ya," balasnya lagi. "Maaf sejak kemarin aku sibuk banget, Din. Ada project baru yang sedang diurus," jelasnya.
"Ooh, gitu. Kirain ke mana si Abang."
"Ciyee nyariin, ya?"
"Hahaha. Semoga lancar ya, project-nya." Aku langsung mengalihkan.
"Oh ya, Din. Besok bisa ketemu?"
Deg! Entah mengapa tiba-tiba jantungku berdegup. Ia mengajakku bertemu, apa ini kencan?
"Ketemu?"
"Iya. Waktunya bebas, kapan kamu bisa aja. Pagi-siang-sore, boleh. Ada yang mau aku omongin."
Aku langsung mengecek schedule besok. "Sore kayaknya bisa, Bang. Tapi ketemu buat apa dulu, nih?"
"Aku mau nawarin buat ikut di project yang lagi kuurus ini, siapa tau bisa jadi partner."
Aku mengangguk. Ternyata urusan pekerjaan, kukira ia mengajakku kencan.
"Besok aku jelasin detailnya gimana ya, Din."
"Oke deh, Bang."
"Sampai ketemu besok."
"Iya, Bang. See you."
Semenjak beberapa hari yang lalu, sudah ada beberapa pertanyaan yang muncul di benakku. Mengapa kabar dari bang Iqbal sekarang menjadi hal yang penting buatku. Kenapa juga sekadar chat darinya bisa membuatku senang.
Apa ada sesuatu yang telah terjadi di hatiku?
Ah, jangan. Tolong jangan. Aku belum siap untuk masalah-masalah baru yang akan muncul karena hal tersebut.