POV: Iqbal
Malam ini, malam Minggu, malam yang panjang, kalau kata anak-anak muda. Jalan raya di depan sana lebih ramai dari pada biasanya. Kendaraan berlalu-lalang, didominasi oleh para remaja bersepeda motor, berboncengan. Ya, bermalam mingguan.
Aku duduk di atas lantai keramik yang dingin, bersandar pada kusen pintu kontrakan. Dari sini terlihat jelas bagaimana ramainya jalanan di depan sana. Angin malam berhembus, membuat bulu-bulu di punggung tanganku berdiri, tak kuhiraukan.
Embusan yang sepoi-sepoi juga terasa membelai ujung-ujung rambutku yang mulai memanjang melewati telinga. Ah, benar juga, sudah hampir dua bulan aku tak memangkas rambut. Sudah terlihat tebal dan panjang, tidak rapi.
Aku berdiri menghadap cermin kecil yang menempel di dinding. Memperhatikan bagian kiri dan kanan kepala. "Besok pangkas, ah," bisikku.
Namun, sebuah pertanyaan muncul di benakku, tiba-tiba.
Buat apa?
Aturan di radio tidak mengharuskan penyiar untuk berambut pendek, jadi tidak dipotong pun tidak akan mengapa, bukan? Atau sengaja kupanjangkan saja, lalu nanti diikat ke belakang.
Siapa yang melarang?
Aku kembali duduk, menikmati teh hangat yang tadi kuseduh. Kuperbesar volume suara Radio.
"Cinta tak pernah salah, sekali lagi, selamanya cinta tak akan pernah salah. Karena sejatine cinta itu salah satu anugerah terindah yang dititipkan di hati manusia. Jika ada hal-hal buruk yang terjadi atas nama cinta, entah itu kejahatan, penghianatan atau apa pun itu. Jangan salahkan cinta-nya, karena itu adalah salah para pelakunya, kesalahan para pecinta."
Aku jadi ketagihan mendengar Leo membawakan ajang curhat. Dia cocok sekali membawakan ajang tersebut, rasanya begitu klop. Seolah-olah dia seperti sang Dokter Cinta betulan yang bis mengatasi berbagai permasalahan percintaan di kalangan remaja pendengar Gema FM. Belum lagi kata-kata dan Quotes tentang cinta yang di keluarkan, sering kali membuatku tersenyum sendiri mendengarnya.
"Gilaa, Leo mantap banget bawain ajang Curhat. Colek @Leo." Kukirimkan pujian di grup WA Announcer Gema FM.
"Iya, aku juga monitor nih, asyik kaliii." Kak Bunga ikut berkomentar.
Aku kembali menyimak Radio, mendengarkan Leo yang sedang mencoba memberikan jalan keluar untuk permasalahan seorang wanita muda yang curhat tentang masa lalunya, mencoba bertahan dalam toxic relationship, hingga akhirnya truma untuk menjamin hubungan lagi.
"Jadi kalau kamu pernah dijahatin sama seseorang, itu bukan salah cintanya, ya. Emang karakter orangnya aja yang gak baik. Untuk itu, jangan takut untuk jatuh cinta lagi karena banyak orang lain di luar sana yang jauh lebih baik dari pada dia. Percaya deh, gak semua cowok jahat kok. Tinggal di kamunya aja, temukan orang yang tepat, jatuhkan cintamu di tempat yang tepat."
"Azzeek. Dokter Cinta kitaah," komen kak Bunga lagi di grup. Kubalas dengan emoticon berbunga-bunga.
"Cinta itu pada mulanya seperti sebuah benih yang siap tumbuh. Jika ia jatuh di tanah yang subur, dipupuk dan sisirami setiap hari, maka ia akan tubuh dengan sangat cepat. Namun, jika ia jatuh di bebatuan gersang, tak ada air dan pupuk, ia hanya akan hancur binasa." Leo semakin lihai dengan kata-katanya.
"Untuk itu, jangan takut untuk jatuh cintai lagi. Yang penting, terlebih dahulu cintai diri kamu sendiri. Kalau dianya udah jahat, menyakiti dirimu, lekas menjauh. Itu artinya cintamu berlabuh di tempat yang salah. Cintai orang yang juga mencintaimu."
Mendengar penuturan Leo, aku jadi teringat pada permasalahan percintaanku sendiri. Sepeninggalan Tiara, tak pernah lagi terpikir di benakku untuk benar-benar serius menemukan seorang pengganti. Semuanya, entah mengapa terasa tidak mungkin saat ini.
Dengan kondisi badan, ditambah kondisi ekonomi, keluarga, pekerjaan, dan semuanya.
Apakah masih mungkin ada di luar sana seseorang yang merupakan jodohku? Apa aku masih bisa membangun cinta sejatiku sendiri?
Kutatap kedua telapak tanganku sambil menggelengkan kepala.
"Ah, tidak mungkin." Aku sudah tak mau kecewa lagi untuk kedua kalinya.
***
Pagi ini aku ke studio lebih awal walaupun sebenarnya jadwal siaran siang nanti. Ada pertemuan dengan pimpinan dan owner perusahaan jamu tetes yang diceritakan pak Bos tempo hari.
Malam itu, setelah memikirkan semuanya matang-matang, aku memutuskan untuk menerima penawaran pak Bos. Aku memilih jadi seorang pejuang, mengadu peruntungan dan daya tahan untuk mensukseskan project ini. Project yang kusebut "Project Masa Depan".
"Dengan jangkau Gema FM yang sangat luas, saya optimis sekali kamu dan tim-mu pasti bisa mencapai target dengan mudah. Apalagi di Radio ini saya sepertinya pendengarnya beragam usia, sehingga pasarnya bisa kita jangkau lebih luas. Ingat! Jika melebihi target, akan ada bonus bertingkat yang saya berikan." Pimpinan perusahaan tersebut yang akhirnya kukenal dengan nama pak Dirga, menuturkan di hadapan kami.
Aku mengangguk-angguk sambil sesekali melihat ke sorotan infocus di white-board.
"Produk kita ini produk berkualitas, bukan abal-abal. Jadi informasi yang kita sampaikan ke konsumen adalah nyata tanpa rekayasa. Kemudian target penjualannya juga tidak terbatas, bisa untuk semua usia, dari bayi, balita, anak-anak, remaja dewasa hingga lansia." Ia melanjutkan menjabarkan sambil menunjuk papan tulis dengan sinar laser merah di tangannya.
"Rekan-rekan bisa lihat di sini. Kandungan dari produk kita ini sangat kompleks. Untuk anak-anak ini bisa membantu proses perkembangan otak, bisa membantu memperkuat daya ingat, dan kecepatan belajar mereka. Untuk remaja dan dewasa, walaupun tidak ada keluhan penyakit, ini juga bisa membuat tenaga lebih prima dalam bekerja."
Rekan-rekan penyiar yang lain tampaknya juga cukup antusias mendengarkan. Terutama kak Bunga yang baru keluar dari studio, soalnya ia sambil siaran pagi ini. Keluar-masuk studio untuk voice-over.
"Nah, tetap saja target utama kita adalah orang-orang tua yang memang sudah banyak keluhannya. Entah keluhan seputaran tulang dan sendi, hipertensi dan hipotensi, penyakit mata, asam urat, asam lambung, dan sebagainya."
Pak Dirga terus menjabarkan panjang lebar di hadapan kami semua. Tampaknya ia begitu bersemangat mengembangkan perusahaan baru miliknya dengan menggaet beberapa radio swasta untuk menjadi sarana promosi produk.
Ia menjelaskan secara rinci tentang komposisi produk, termasuk manfaat dari masing-masing komposisinya tersebut. Ia juga sharing tentang strategi penjualan yang digunakannya selama ini.
Aku cukup banyak bertanya tentang beberapa hal yang menurutku perlu diperjelas. Mengingat, aku sudah mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin dalam mensukseskan project ini.
"Yap. Tentu saja Rekan-rekan semua bebas dalam berkreasi. Silakan kembangkan strategi pemasarannya, saya lepas tangan akan hal itu. Dengan catatan, jangan naikkan harga produk kita. Di samping mencari keuntungan, kita juga tidak boleh terlalu menyulitkan masyarakat dengan harga yang terlalu tinggi."
Aku suka dengan pola pikir laki-laki ini.
***
Seusai pertemuan tersebut, aku berpikir keras tentang strategi yang bisa dipakai di awal-awal ini. Pasalnya produk ini masih sangat baru, belum banyak orang yang tau. Tentunya, kepercayaan masyarakat juga masih kurang,karena belum ada bukti nyata yang bisa dilihat dengan mata sendiri.
"Harus ada yang menjadi daya tarik lain, selain kesaksian dan testimoni," bisikku pada diri sendiri.
Ah, tiba-tiba sebuah ide muncul di benakku. Bagaimana kalau kuberikan layanan antar alamat. Dengan datang ke rumah konsumen, kemudian menjelaskan tentang produk ini kepada mereka secara langsung, tentu akan membuat kepercayaan pembeli semakin besar.
"Ah ya." Aku menjentikkan jari.
Langsung kuadakan pertemuan dengan rekan-rekan yang lain untuk membicarakan ini.
"Bagaimana kalau kita bekerja sama dengan para tukang ojek?" Kak Bunga memberikannya usul.
"Naah, benar juga ya." Leo menyahuti.
Sebuah ide yang cemerlang.