POV: Iqbal
Hari sudah gelap saat aku sampai di kontrakan. Kepala terasa lebih ringan setelah sebagai besar rambutku dipangkas. Bagian atas telinga dan belakang dibuat sangat tipis, kemudian bagian atas disisakan sedikit lebih panjang.
Udara dingin malam hari juga terasa jauh lebih dingin dengan kondisi kepala seperti ini. Seperti tidak ada yang menghalangi udara untuk menyentuh kulit kepalaku.
"Abang, rambutnya udah panjang ya, gak rapi, jadi gak keliatan gantengnya. Kalau kata ayahku, cowok rambut kayak gitu keliatan kayak maling. Hahaha." Begitu kata Andini sebelum kami berpisah di taman Batang Agam sore tadi. Ia sedikit terkikik setelah mengatakannya, seringai lebar yang menampakkan barisan gigi-gigi putihnya. "Canda, Bang," sambungnya sebelum benar-benar pergi.
Sepenggal kalimat yang diucapkan wanita itu tadi sore, membuatku memutuskan untuk singgah ke tukang pangkas rambut sebelum pulang. Padahal kemarin sudah bulat tekadku untuk memanjangkan rambut, lalu diikat ke belakang, supaya terlihat ala-ala Seniman.
Selama ini aku tak pernah memanjangkan rambut, karenanya jadi penasaran bagaimana rasanya berambut gondrong. Namun, urung, gara-gara ucapan Andini. Ya, mana aku mau dibilang terlihat seperti maling. Yang benar saja.
Aku pun tak mengerti, mengapa kata-katanya menjadi begitu berarti dan penting, bahkan bisa mengubah pendirianku. Ah, entahlah. Yang pasti saat ini, rambutku sudah rapi kembali.
Aku berdiri di depan kaca. "Apa iya dengan penampilan begini aku terlihat lebih ganteng?" Berpose dengan beberapa kali ganti gaya. Rasanya tampangku sama saja.
Jangan-jangan gadis itu hanya mengerjaiku saja.
Cekrek, cekrek. Kuambil beberapa foto dengan lampu flash, agar lebih terang di malam hari.
"Udah pangkas nih. Gak kayak maling lagi kan?" Kukirimkan foto itu pada Andini, lalu menanyakan pendapatnya.
Beberapa detik kemudian, tiba-tiba saja aku menyesal melakukannya. Rasanya tingkahku sungguh memalukan. Apa Andini akan illfeel membacanya? Ingin kuhapus lagi, tapi terlambat, Andini terlebih dahulu membukanya, kemudian langsung terlihat tulisan "Sedang Mengetik".
"Hahahaha." Ia tertawa dengan beberapa emoticon terbahak-bahak di bawahnya. Aku semakin malu. "Abaang, lucu banget sih, ya ampun. Aku cuma bercanda loh bilang kayak maling. Sumpah," balasnya.
Kubalas dengan emoticon kesal dan marah.
"Ternyata beneran langsung dipangkas dong, ya ampun. Ngakak beneran nih aku. Sampai ditanyain ayah, ngapain ketawa-ketawa sendiri."
"Kamu sih. Siapa juga yang mau dibilang kayak maling. Ya aku langsung pangkas lah."
"Hahaha. Tapi beneran kok, Bang. Tadi itu cuma becanda."
"Kamu sih, becandanya gitu."
"By the way, gak apa-apa juga kok. Emang lebih rapi kalau dipangkas rambutnya. Lebih keliatan gantengnya." Ia mengirimkan emoticon jempol kuning dengan satu lagi emoticon mengedipkan sebelah mata.
Aku tersenyum senang.
***
Aku sudah resmi menjadi penanggung jawab project ini. Beberapa langkah awal juga sudah dimulai untuk menjalankan strategi pemasarannya.
Tadi pagi pertemuan dengan rekan kerja pertama kami sudah terlaksana. Lancar, tanpa kendala yang berarti.
"Ada usulan lain kak Bunga, Leo?" Aku masih berembuk dengan kedua tim inti lainnya yang berkontribusi dalam project ini, setelah para tukang ojek pengkolan yang diundang tadi pagi, bubar dari pertemuan. "Selain menitipkan produk di beberapa tempat dan titik yang strategis, kita juga udah bekerja sama dengan tim COD yang bisa mengantarkan ke alamat konsumen. Kalau masih ada ide-ide brilian lainnya, langsung dikemukakan aja," sambungku.
Perkumpulan tukang ojek pengkolan yang datang tadi pagi berjumlah sepuluh orang. Dengan adanya kerjasama dengan mereka, kami tak perlu pusing-pusing lagi mencari siapa yang bisa mengantarkan produk ketika ada pesanan. Mereka siap sedia untuk stanby di jam-jam yang telah disepakati.
"Kayaknya strategi ini dulu aja deh, Bal, kita matangin. Kalau ini berjalan lancar, kita bisa pikirkan pengembangan berikutnya. Kalau pun misalnya, gak berjalan sesuai yang diharapkan, kita juga bisa pertimbangkan lagi strategi lainnya." Kak Bunga berkomentar.
"Menurutku strategi bang Iqbal ini udah mantap sih. Tinggal eksekusi-nya aja nih, kita lihat di lapangan nanti gimana hasilnya," sambung Leo.
"Oke deh. Untuk iklan dan informasi produk juga udah diputar terus kan di Radio. Nanti kalau di ajang-ajang interaktif ada yang bergabung, kita juga bisa tawarkan produk ini, sehingga bisa juga menjadi promosi live. Terutama untuk para pendengar yang berpotensi menjadi konsumen."
Kak Bunga dan Leo mengangguk-angguk, paham.
"Kayaknya sampai di sini dulu meeting hari ini. Mari kita sama-sama berdoa semoga project ini lancar sesuai yang diharapkan. Semoga ini juga bisa menjadi pintu rezeki buat kita."
"Ya, semoga saja."
Meeting hari ini ditutup. Leo kembali ke ruang siarannya, sedangkan kak Bunga bersiap untuk pulang ke rumah.
Aku masih duduk di kursi yang sama. Mengecek HP. Aku ingat obrolan via WA semalam dengan Andini, katanya ada waktu untuk bertemu sore ini. Sebaiknya kembali kupastikan.
"Halo, selamat siang." Sebuah chat di aplikasi WA terkirim. Tidak ada tanda-tanda gadis itu akan membaca, online pun tidak.
Akhirnya kuputuskan untuk pulang terlebih dahulu. Hari ini juga tidak ada jadwal siaran.
***
"Abaang, udah nunggu lama, ya?" Andini datang ke Taman Batang Agam sekitar lima belas menit setelah aku datang.
"Emm, sebenarnya belum lama banget kok, tapi ya, namanya juga menunggu, waktu sebentar bisa jadi terasa sangat lama. Berbeda kalau kita sedang melakukan hal-hal yang kita sukai, waktu yang sangat lama, bisa jadi terasa begitu cepat," jawabku.
"Widiiih. Emang beda ya, kalau ngomong sama penyair eh penyiar. Hehe." Andini langsung duduk di sebelahku. "Kenapa sih, Abang maunya ketemu di sini? Dari sekian banyak tempat bagus di kota ini."
Aku bepikir sejenak. "Kenapa ya? Aku juga gak tau kenapa sih, Din. Waktu kamu nanya bagusnya ketemu di mana, langsung aja otakku memikirkan tempat ini. Ya, aku jawab aja di sini."
"Coba aku tebak, pasti Abang punya kenangan bersama someone special di sini kan? Haiyoo."
"Ah, hahaha. Tau aja kamu. Ini sebenarnya yang peramal siapa sih?"
"Hahaha." Andini tertawa renyah, aku suka sekali melihatnya tertawa lepas begitu. "Ngomong-ngomong peramal, jadi ingat ramalan waktu itu deh. Emang paling bisa nih kang Ramal," sambungnya lagi.
"Sama-sama peramal dong kita."
"Iya kayaknya, Bang. Eh, ngomong-ngomong katanya Abang mau ngomongin soal kerja sama, gimana tuh?"
"Oh iya." Aku membuka ritsleting tas selempang yang kubawa, mengeluarkan selembar kertas dari sana, lalu menyerahkan padanya. "Radio Gema FM dapat sponsor baru, Dini. Kali ini aku yang jadi penanggung jawab project-nya. Kami mau jualan sebuah produk jamu herbal gitu. Khasiatnya katanya udah terbukti. Kamu bisa baca di situ informasi produknya."
Andini membaca kertas yang kuberikan dengan seksama. "Hmm, menarik juga produknya ya, Bang. Kandungannya kayak lengkap banget, dari berbagai macam tumbuhan-tumbuhan. Lalu gimana kerja sama-nya, Bang?"
"Nah, awal-awal ini, aku punya rencana untuk memasarkan langsung door to door gitu, Din. Aku juga udah kerja sama dengan para tukang ojek offline untuk jadi tim COD yang akan mengantar ke alamat konsumen."
"Wah, bagus juga tuh, Bang."
"Nah sekarang, saya juga butuh tim sales door to door untuk menjelaskan langsung produknya ke konsumen yang berpotensi untuk membeli, Din. Setelah nanti ketemu targetnya, tim ini lah yang akan bergerak ke lapangan. Di situ ada harga produknya, Din. Kalau penjualan berhasil, sales bisa dapat sepuluh persen dari harga produk, ditambah ongkos kirimnya juga." Aku menjabarkan panjang lebar.
"Gimana nyari konsumen yang berpotensi membelinya, Bang?"
"Tenang aja, kalau itu tugasnya para penyiar. Kan kita punya Radio, Din. Nanti penyiar yang bakal nyari. Kalau misalnya ada yang nanya-nanya, terus mereka punya keluhan penyakit, itu kan artinya potensial. Kalau gak closing lewat online, makan tim offline akan dikirim."
Andini mengangguk. "Hmm, interesting. Lumayan juga ni, kalau kejual satu, ini udah lebih dari tiga kali lipat ngantar orderan ojol. Hehe." Sepertinya ia tertarik.
"Jadi gimana? Deal?" Ku ulurkan tangan kanan.
"Deaal!"
"Hehe. Semoga lancar ya."
"Iya, Bang. Mulai kapan nih?"
"Besok udah bisa langsung mulai, Din. Promosi di Radio udah mulai hari ini. Sempat aja besok udah mulai ada yang pesan. Ini produk masih baru banget soalnya, belum banyak yang tau."
"Ya, semoga ya, Bang. Biar aku kebagian cipratan rezekinya juga."
"Oh ya. Kalau ada temen yang lain, yang menurut kamu berpotensi, kasih tau ya. Yaa, minimal bisa ngomong dengan baik lah, kalau bisa agak berpendidikan juga, mudah menguasai produk ini."
"Oke, Bang. Nanti saya lihat-lihat dulu deh."
"Oh ya, satu lagi." Aku kembali membuka tas. "Ini ada sampel produk. Tenang aja, produk herbal seperti ini tidak ada efek sampingnya kok. Kasih ke ayah kamu ya, siapa tau cocok. Selain bisa mempercepat proses pemulihan, juga bisa meningkatkan daya tahan tubuh, nih, Din." Kuserahkan botol kecil itu padanya.
"Waaah, beneran nih, Bang? Gratis?"
"Iyaa, beneran lah. Coba dulu aja. Kalau ternyata benar-benar terasa khasiatnya, nanti kita minta lagi sampel ke atas."
"Makasih banyak, Bang. Semoga aja yaa."
Aku tersenyum senang.
Senja mulai memudar, matahari pun perlahan tenggelam. Angin sepoi-sepoi menyentuh wajahku, membuat rambut yang mulai panjang itu bergoyang-goyang pelan.
Ketika itulah, Andini mulai mengomentari mereka.