POV: Iqbal
Seperti biasa, di ruangan yang dingin ini, aku menutup seluruh tubuh dengan selimut tebal, menyisakan leher ke atas. Kadang kalau terlalu dingin, kepala juga kututup dengan kupluk tebal, lalu sebuah syal di leher. Masker kain berlapis masker medis menutup mulut dan hidung, benar-benar seperti orang kutub.
Ya, mau bagaimana lagi, terpaksa harus begini. Tubuhku tidak begitu kuat menahan dingin. Bisa-bisa menggigil, demam, atau pun pilek. Akhirnya berimbas pada tidak selesainya proses cuci darah.
Waktu terasa berjalan begitu lambat di menit-menit terakhir proses Hemodialisa. Tubuh sudah terasa pegal, otot-otot mulai keram, jantung pun rasanya berdebar-debar. Aku mencoba bersabar, mengatur napas, mengambil posisi paling nyaman, merendahkan posisi kepala. Bagaimana pun caranya, yang penting proses Hemodialisa dapat berjalan hingga selesai.
Tap tap tap.
Aku sedang memejamkan mata ketika terdengar suara langkah kaki mendekat. Ternyata orang itu adalah dokter Zia Kamilla.
"Aman, Bal?" tanyanya.
Kuluruskan tangan kanan begitu tau dokter Zia menekan tombol pengukur tekanan darah. Korset yang membalut lenganku mulai mengembang terisi udara.
"Aman, Dok." Aku mencoba tersenyum, walaupun tak akan terlihat di balik masker. Setidaknya smile-voice pasti kentara.
"Ngomong-ngomong yang tadi ke sini itu siapa, Bal?"
"Eh?" Tak kusangka dokter Zia menyadarinya. "Itu temen, Dok. Katanya pengen liat gimana proses cuci darah, jadi saya suruh aja datang ke sini untuk melihat langsung."
"Teman?"
"Iya, kenapa, Dok?"
"Namanya Andini?" Pertanyaanku dibalas dengan pertanyaan lagi.
"Hah? Kok dokter tau? Iya namanya Andini."
"Udah lama berteman sama dia, Bal?" Lagi-lagi pertanyaanku dibalas pertanyaan.
"Belum lama ini sih, Dok. Awalnya dulu karena sering naik ojeknya. Lama-lama jadi kenal deh."
Dokter Zia mengangguk-angguk, entah mengapa aku menangkap sedikit ekspresi tidak senang di wajah perempuan berjas putih tersebut. "Dia keponakan saya," ujarnya kemudian.
Hah? Aku melotot tidak percaya. "Keponakan Dokter?"
"Iya. Anaknya kakak laki-laki saya," jawabnya lagi.
"Ooh, baru tau saya." Tiba-tiba banyak pertanyaan yang menumpuk di benakku, tapi tidak mungkin kutanyakan pada dokter Zia.
"Dia ngojek tuh iseng aja. Sebenarnya dia calon perawat, saya yang biayain kuliahnya."
"Ooh." Aku mengangguk-angguk lagi.
"Tensinya masih aman kok. Sabar ya, dua belas menit lagi selesai."
Dokter Zia melangkah pergi meninggalkanku yang masih diliputi tanda tanya. Biarlah, nanti di waktu yang tepat, langsung saja kutanyakan pada Andini perihal semua ini.
Dunia rasanya semakin sempit saja. Tak kusangka, Andini ternyata adalah keponakan dokter yang selama ini merawatku. Aku tak paham apa maksud dari semua perkataan dokter Zia tadi, tapi satu hal yang pasti, ia tidak akan suka melihatku terlalu dekat dengan keponakannya. Apalagi sampai memiliki hubungan spesial.
Ah, mengapa pikiranku jadi mengarah ke sana.
***
Orang bijak selalu mengatakan, "Jangan pesimis. Berprasangka baik lah dalam hidup. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini."
Namun, sebagai seorang manusia biasa, aku mencoba untuk berpikir realistis. Kadang-kadang, ketika sedang diam sendirian di kontrakan. Tengah malam, saat sedang sepi begini. Pemikiran tentang itu muncul dengan sendirinya di benakku.
Mengapa rasanya hidup ini sangat tidak adil padaku. Semesta benar-benar tidak berpihak sedikit pun padaku.
Dari segi kesehatan, di usia muda, kesehatanku sudah memburuk. Diberikan sebuah penyakit yang tak bisa sembuh, sehingga aku harus menjalankan pola hidup yang berbeda dengan orang-orang lain seumuran denganku.
Dari segi keluarga. Di usia muda, aku sudah berstatus yatim-piatu. Ditinggal pergi oleh kedua orang tua, tak ada tempat bergantung yang benar-benar bisa mengayomi. Satu persatu orang-orang terdekat pun pergi.
Dari segi harta kekayaan, aku pun tak beruntung. Sedikit harta peninggalan orangtuaku ludes begitu saja untuk biaya pengobatan. Dengan kondisi seperti ini juga tidak mudah buatku mencari pekerjaan dan mendapatkan uang.
Terakhir, dari segi percintaan. Kisah cintaku tidak kalah "ngenes". Ditinggal menikah oleh orang yang kukira benar-benar mencintaiku dengan sepenuh hatinya. Kepergiannya menyisakan duka mendalam yang membuatkan sukar memulai kisah cinta yang baru lagi.
Dalam lamunan, aku selalu berpikir tentang itu semua. Apa mungkin masih ada di luar sana, seorang wanita yang akan menerimaku dengan sejuta kekurangan ini. Kalaupun ada, apakah keluarganya akan memberikan izin?
Orangtua tentu ingin yang yang terbaik untuk anak mereka. Mereka pasti mengharapkan anak gadis yang paling disayang hidup bersama seorang laki-laki yang kuat fisiknya, sehingga dapat melindungi. Seorang laki-laki yang mapan, mempunyai pekerjaan yang bagus, sehingga tidak perlu kesulitan dan kebingungan lagi dalam hal finansial.
Sedang aku, sebaliknya. Tak ada satu pun dari hal-hal itu yang aku punya. Sudah lah sakit-sakitan, miskin pula. Bahkan tak tau, apakah dengan penyakit ini, aku masih bisa memiliki keturunan?
Entahlah.
Ting. Saat tengah asyik melamun, memikirkan keadaan, tiba-tiba sebuah chat masuk ke nomor WA-ku.
"Malam, Bang. Udah tidur ya?" Ternyata itu chat dari Andini, tumben tengah malam begini.
"Belum nih, belum bisa tidur. Kenapa, Din?"
"Maaf ya, tengah malam chat-nya. Dari tadi sibuk ngerjain tugas kuliah, Bang. Sengaja dikebut malam ini biar besok dari kampus bisa langsung fokus kerja. Hehe."
"Oh iya. Santai, Din. Aku juga belum tidur ini."
"Oh ya, mau bilang, Bang. Ternyata produk herbal yang kemarin manjur juga, ya, Bang. Baru empat hari aku suruh ayah minum rutin tiga kali sehari, langsung ada angsurannya. Mantap."
Aku tertarik, langsung memperbaiki posisi duduk lalu membalas lagi chat-nya. "Wah, iya, Din? Gimana angsurannya?"
"Semenjak minum obat itu, kata ayah tidurnya jauh lebih nyenyak, Bang. Jarang kebangun di tengah malam. Padahal dulu, semenjak sakit, beliau sering banget kebangun malam-malam, trus susah tidur lagi sampai pagi," jelasnya panjang lebar.
"Ooh, gitu. Trus ada lagi, Din?"
"Aku lihat makannya juga makin lahap sekarang. Tubuh ayah kan udah kurus banget tuh, Bang, karena selama ini selera makannya kurang banget. Padahal selalu ditanyain, mau makan apa, gitu, tapi tetap aja makannya dikit. Semenjak minum obat itu, udah lahap makannya, sampai nambah-nambah, Bang. Bener deh."
"Syukur lah, Din. Berarti emang bagus nih produk kita."
"Eaaak, kitaa."
Aku tersenyum lebar. Tiba-tiba terpikirkan sesuatu.
"Din, gimana kalau aku minta testimoni dari ayah kamu? Jadi nanti kita rekam buat dijadiin iklan di Radio, Din. Kira-kira ayah keberatan gak, ya?"
Andini mengetik. "Gimana ya, Bang. Besok coba aku tanyain deh ya. Sekarang ayah udah tidur soalnya. Hehe."
"Oke, Din. Semoga aja bisa ya."
"Iya, Bang. Semoga aja ayah mau jadi model iklan. Hahaha."
"Hahaha. Bener juga, ya." Aku tersenyum lebih lebar. Mengobrol dengan gadis itu bagus sekali untuk memperbaiki mood.
"Sejauh ini gimana perkembangan project-nya, Bang?" Tiba-tiba Andini bertanya.
Aku menghela napas, ini dia permasalahannya. Sebenarnya wajar saja, setiap usaha yang dilakukan tidak akan bisa berhasil dengan mudah. Selalu akan ada hambatan dan rintangan. Hanya saja, ini terlalu jauh dari yang kuharapkan. Aku terlanjur sudah berekspektasi tinggi.
"Belum ada yang beli, Din. Udah beberapa hari nih, tapi produk-nya masih utuh tuh di Radio," balasku dengan sederet emoticon sedih di bawahnya.
"Looh, jangan cepat patah semangat dong, Bang. Baru juga beberapa hari, belum banyak yang aware sama produknya. Lagi pula ini produk baru lounching kan. Usaha terus ya. Ganbatte!" Ia menambahkan emoticon tinju.
"Iya, Din. Hehe."
"Karena produk baru, orang gak bisa langsung percaya, Bang. Kecuali kalau udah banyak yang ngerasain langsung khasiatnya." Andini mengetik lagi.
"Besok aku coba bujuk ayah deh, semoga aja beliau mau buat direkam suaranya jadi testimoni konsumen. Biar ada kesaksian nyata dari orang daerah sini. Dengan begitu para pendengar juga akan lebih percaya. Yaay!" sambungnya.
Aku tersenyum lebar, seperti mendapatkan sentuhan embun pagi nan sejuk. "Makasih ya, Din. Semangat lagi nih."
"Hehe. Sama-sama, Bang Iqbal. Selamat istirahat."
"Selamat istirahat juga."
Hoaaam. Kantuk mulai menyerang. Kutaruh HP di samping bantal, lalu menarik selimut.
"Andini," bisikku pelan.
Kenapa tiba-tiba saja ada getaran aneh di dadaku saat menyebut namanya. Ini bukan kali pertama.
Namun, aku teringat pada dokter Zia Kamilla.
Ah, apa-apaan. Dari pada memikirkan hal itu, lebih baik sekarang fokus pada pekerjaan, demi masa depan dan finansial yang lebih baik.
Aku memejamkan mata, tapi nama itu masih muncul di ingatan.
"Andini."