Scar

1543 Kata
POV: Andini "Ayaah, Andini pulang." Aku mendorong pintu, menemukan ayah sedang duduk di ruang depan sambil mengurut-urut tangannya dengan minyak. "Eh, anak cantik ayah udah pulang." Laki-laki itu tersenyum tanpa menghentikan kegiatannya. "Kenapa tangannya, Yah?" "Gak tau nih, kaku-kaku aja rasanya. Ini disaranin sama tetangga sebelah untuk diurut pakai minyak kutuk-kutuk. Yaudah ayah cobain deh." Aku mendekatinya, memeriksa botol berwarna hijau tersebut. "Iih, bau ya, Yah." "Hehehe. Gak apa-apa bau juga, yang penting sembuh." "Yaudah Ayah cuci tangan dulu deh, ya. Kita makan malam dulu, nih Dini bawain makanan kesukaan Ayah." Ayah melihat ke plastik yang kubawa. "Waah, gulai kepala ikan, ya? Enak tuh." Ia menyeringai lebar, senang sekali. Aku dan ayah makan malam bersama dengan gulai kepala ikan kuah kuning yang kubeli di salah satu rumah makan ternama di kota ini. Sesekali beli yang mahal tak apa lah, mudah-mudahan ayahku makannya bisa lahap lagi. Hatiku teriris-iris rasanya melihat tubuh ayah yang semakin kurus dan ringkih. Bisa kuhitung tulang rusuknya yang kelihatan di kala tak pakai baju. "Tambah lagi nasinya, Yah." "Ini aja udah gak ketelan, Din." Ayahku seperti tak bersemangat menyuap nasi ke mulutnya. Padahal dulu biasanya bisa nambah-nambah jika makan dengan gulai kepala ikan. "Kenapa, Yah? Gak enak kah gulainya?" "Enak kok. Emang perutnya aja lagi gak bisa makan banyak kayaknya, Din. Enggak berselera." Ayah mencuci tangannya, tak lanjut makan lagi. "Yaudah, Ayah ke kamar dulu, minum obat." Aku mengangguk, terus melanjutkan makan malam. Gulai sebanyak ini, harus kuhabiskan sendiri. Kalau dibiarkan sampai besok, juga akan basi. Tiba-tiba, aku teringat pada sampel obat herbal yang diberikan bang Iqbal tadi. Nanti sebelum tidur akan kuberikan pada ayah. Siapa tau dapat membuat kondisinya jadi lebih baik. *** Seperti biasa. Malam ini malam melelahkan ke sekian kalinya yang kulewati. Bekerja sepanjang hari, kemudian fokus mengerjakan tugas kuliah di malam hari. Lingkar hitam di kedua belah mataku semakin kentara saja. Hoaam. Aku menguap, lalu merebahkan badan di atas kasur, menelentangkan kedua belah tangan. Lega sekali rasanya. Otot-otot yang lelah, diistirahatkan sejenak. "Ci, Suci. Udah tidur?" Kukirimkan chat ke nomor WA Suci, berharap ia masih terjaga pukul segini. "Halo. Suciii!" Tetap tidak ada tanda-tanda nomor w******p-nya akan online. Sudah beberapa hari aku tidak kontak, baik via telepon ataupun w******p. Terakhir aku menghubunginya saat meminta pendapat perihal bang Iqbal. Setelah itu tak ada lagi. Aku menaruh HP di atas nakas. Tak sengaja menyentuh bekas luka di bagian bawah pergelangan tangan kananku. Bekasnya tidak jelas lagi, sudah hampir hilang. Namun, kejadian itu masih menyisakan kenangan yang membekas dengan jelas di ingatanku. Rasa takut, kengerian, ketegangan, juga rasa marah saat itu masih terbayang. Ah, hari itu adalah hari di mana persahabatan antara aku dan Suci benar-benar diuji. "Uhuk-uhuk!" Terdengar suara terbatuk-batuk dari kamar ayah. Aku langsung bangkit, mengecek. "Ayah, kenapa?" Kudorong pintu kamarnya yang tidak terkunci. "Gak bisa tidur, ya?" "Gak tau nih, Dini. Tadi udah tidur, trus kebangun, gak bisa tidur lagi." "Ayah coba minum ini, ya. Ini obat herbal, gak ada efek sampingnya, kok." Kuteteskan herbal tersebut ke air putih yang ada di dalam gelas, lalu kuberikan pada ayah. Tanpa banyak tanya, ayah pun meminumnya. "Yaudah, coba tidur lagi ya, Yah. Semoga nyenyak sampai pagi." Ayah berbaring, aku pun kembali ke kamar. Ting-ting. Suara notifikasi chat di WA terdengar. Langsung ku-cek. "Iya, Sayang akuu. Kenapa chat tengah malam begini? Kangen banget ya sama aku?" Aku terkikik membaca balasan chat dari Suci. Dia memang paling bisa. Ah, aku baru sadar, sudah lebih dua tahun kami backstreet, tetap bersahabat tanpa sepengetahuan orangtua masing-masing. Aku tak berani lagi datang ke rumahnya setelah permasalahan kedua orangtua kami. Sebaliknya, ia pun tak berani ke rumah ini, seusai diusir ayahku waktu itu. Puncaknya adalah kejadian nahas di pinggir sungai Jembatan Ratapan Ibu yang menyisakan luka di tangan kananku. Ingatan itu tiba-tiba menyeruak memenuhi benakku malam ini. Muncul di ingatan seperti kaset lama yang diputar ulang. Kejadian yang benar-benar tak ingin kuulang kembali. *** "Ayah, boleh pergi ya? Ini Suci udah nelpon-nelpon. Rame kok sama temen-temen yang lain juga." Aku masih ngotot minta izin ayah, padahal dari tadi sudah tidak ada tanda-tanda akan diperbolehkan. Tadi siang, aku dapat kabar dari Suci kalau beberapa orang teman-teman alumni dari SMA tempat kami bersekolah dulu, sedang berwisata ke kota ini, datang jauh-jauhndari provinsi seberang. Suci mengajakku untuk menemui mereka di destinasi terakhir yang akan mereka kunjungi di sini. Tepatnya di Jembatan Ratapan Ibu. "Udah lah, gak usah keluar lagi, Din. Udah sore, bentar lagi gelap." Ayah sedang sibuk merawat ibu yang demam beberapa hari ini. Sepertinya ia bersikukuh tidak mengizinkan aku pergi. Tiba-tiba handphone-ku berdering. "Halo, Ci." "Gimana, Din? Rombongan bentar lagi nyampai katanya. Sayang kan kalau gak ketemu sama mereka, udah lama gak ngumpul-ngumpul bareng teman-teman SMA lagi. Tadi si Yose, sang ketua kelas ngehubungin aku, katanya jangan sampai kita yang udah ada di kota ini malah gak bisa ikutan kumpul," katanya di ujung telepon. "Hmm." Aku berpikir sejenak. "Gimana ya, Ci? Aku masih belum dapat izin nih. Tapi aku usahain deh ya." "Oke, usahain datang ya. Aku udah mau jalan nih. Ditunggu di TKP." Telepon dimatikan. Aku kembali mendekati ayah dan ibu. "Yaah." "Udah, Yah. Kasih izin aja." Tiba-tiba ibu berkata pelan. "Hati-hati aja ya, Dini. Jangan kemalaman pulangnya." Aku mengangguk dan tersenyum senang, tapi masih menatap ayah, meminta persetujuannya. "Yaudah terserah kamu, deh." Ayah melengos. Akhirnya aku tetap pergi walau dengan perasaan tidak enak. *** "Yeaay! Akhirnya bestie-ku datang!" Suci bersorak ketika melihatku melangkah ke arahnya dari parkiran. Aku ikut tertawa senang. Cahaya remang-remang sore hari, mulai berganti gelapnya malam. Lampu-lampu taman mulai dihidupkan, termasuk lampu berkedip-kedip yang menghias jembatan panjang di depan sana. "Rombongan udah di mana, Ci?" "Udah deket katanya." Benar saja, beberapa menit kemudian, sebuah mobil minibus mendekat dari arah jalan raya. Aku dan Suci bergegas mendekat. "Waaahh!" Mereka bersorak melihat kami berdua. "Sucii! Dinii! Ya ampun, makin glowing ya semenjak pulang kampung," kata salah satunya. "Waiya dong, di sini gak sepanas di sana. Gimana mau glowing kalau hari-hari berjemur di bawah sinar UV terus." Suci menjawab dengan gaya angkuhnya. Kami saling berpelukan, juga bersalaman dengan teman-teman yang laki-laki. Ternyata tidak seramai yang kukira. Hanya satu minibus penuh, dikurangi seorang sopir. Tidak semua alumni bisa ikut di perjalanan wisata kali ini. Waktu berjalan dengan begitu cepat. Rasanya baru beberapa saat kami mengobrol sembari menikmati snack dan minuman ringan, sembari menatap pemandangan indah dari Jembatan Ratapan Ibu, tiba-tiba saja jam sudah menunjukkan angka sepuluh malam. Beberapa menit kemudian, rombongan itu kembali. Naik ke atas mobil untuk menempuh perjalanan pulang, meninggalkan aku dan Suci. Kala itu Suci belum diantar jemput sopir seperti di masa kini. Kejadian nahas itu terjadi di parkiran, ketika kami bersiap untuk pulang. Kejadian itu jua lah yang akhirnya membuat om Andi, ayahnya Suci menjadi begitu overprotective terhadap anak gadis semata wayangnya. "Yuk, pulang yuuk!" ujar Suci setelah kami menatap mobil minibus itu menjauh. "Yuk, serem juga malam-malam ini sini, mana makin sepi lagi," jawabku. Aku melihat sekeliling, tak ada para pedagang lagi. Hanya satu pedagang kacang rebus di pinggir jalan sana, cukup jauh dari sini, hanya terlihat sedikit cahaya dari lampu petromaks yang ia bawa. "Heh!" Tiba-tiba seorang dengan penutup kepala muncul dari kegelapan, entah di mana ia bersembunyi sebelumnya. Wajahnya tertutup rapat, hanya menampakkan sedikit matanya. "Sini tas kamu!" ujarnya kemudian. Deg! Jantungku berdegup. Aku sadar apa yang sedang terjadi, ini perampokan. Orang itu mengacungkan pisau yang cukup besar di tangan kanannya. "Sini! Mau mati kamu?" katanya lagi. Suci sudah gemetaran di sampingku, ia menggenggam erat lenganku. "Jangan, Bang!" "Makanya sini tas kamu!" Ia menunjuk tas hitam yang dibawa Suci. Karena kami tetap tak bergerak, ia langsung merampas tas yang ada di tangan Suci dengan kasar. Gadis itu tampak tak berdaya, langsung melepaskannya begitu saja. Namun, aku tak tinggal diam. "Balikin!" Aku langsung melompat ke depan dengan sekuat tenaga menendang bagian kelemahan laki-laki pada umumnya. "Ah!" Ia sempat jatuh terduduk sejenak, tapi tangannya tetap bergerak. Bret! Pisau itu melayang ke arah tangan kananku yang mencoba merebut kembali tas Suci. "Aah!" Sakit sekali, rasanya belum pernah aku mengalami luka sesakit ini, tapi adrenalin yang terpacu membuatku bisa mengabaikan rasa sakit tersebut. Rasa takut dan sensasi tegang ini lebih mendominasi. "Aku bunuh kau!" teriaknya kemudian. Aku menatap jeri, antara takut, panik dan kehilangan akal. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Laki-laki itu bersiap mengayunkan kembali pisaunya. Matanya memerah dipenuhi amarah. Tampaknya ia begitu kesal karena aku menendangnya barusan. "Tolooong! Tolooong! Ada rampok!" Suci berteriak-teriak di belakangku. Aku meringis memegang tangan yang terluka. Darah segar mengalir deras. Sementara laki-laki itu mulai ketakutan karena melihat beberapa orang warga berlarian ke arah kami, begitu mendengar teriakan Suci. Drap drap drap. Derap langkah beberapa orang terdengar mendekat. "Mana? Mana rampoknya?" "Lari ke sana, Pak." Aku menunjuk. Beberapa orang langsung mengejar, sebagian membawa balok kayu untuk menghajar. Ada juga yang menunjuk-nunjuk dengan senter di tangan. "Kamu gak apa-apa, Din?" Suci membantuku berdiri. "Tangaku luka." Darah segar masih mengalir deras, rasanya juga perih sekali. Terlihat luka menganga di bagian bawa pergelangan tangan kananku. "Ya ampun! Gimana nih?" Suci berseru. "Pak, tolong dong, teman saya luka parah tangannya." Seorang laki-laki membantuku, membawa sepeda motor, memboncengku ke rumah sakit terdekat. Kepalaku mulai terasa pusing, kehilangan terlalu banyak darah. Namun, yang lebih menakutkan di kepalaku kini adalah bayang-bayang wajah ayah yang sedang marah. Ya ampun, ternyata benar, insting orangtua itu teramat sangat kuat. Seharusnya tadi aku mengikuti kata-kata ayah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN