POV: Andini
"MAU APA LAGI KAMU KE SINI!?" Suara teriakan ayah di ruang depan terdengar sampai ke dalam kamarku.
Aku yang sedang istirahat di atas tempat tidur langsung bangkit, sambil tetap menggendong tangan yang masih berbalut perban tebal. Ada dua belas jahitan, lima di dalam tujuh di bagian luar.
Malam tadi, di IGD rumah sakit, para perawat langsung bertindak cepat menghentikan pendarahan di tanganku. Wajahku yang mulai pucat karena kehilangan banyak darah sempat membuat orang-orang khawatir.
Aku hanya bisa meringis menahan sakit ketika mereka melakukan tindakan. Suci masih setia di sampingku dengan wajahnya yang masih menunjukan rasa khawatir dan rasa bersalah.
Beberapa saat kemudian, baru lah ayahku datang. Ternyata dari tadi Suci sudah berinisiatif menghubungi nomor telepon rumahku. Kala itu, kukira ayah akan langsung marah-marah, tapi ternyata yang kudapati hanyalah tatapan khawatir di wajah laki-laki itu.
Aku menangis. Kala itu, bukan hanya karena rasa sakit di tangan lagi, tapi karena rasa bersalah yang teramat sangat.
"Maaf, Ayah. Aku anak yang tidak berbakti, taunya hanya membuatmu ayah susah dan khawatir saja. Maafkan anakmu ini," batinku.
Suara ayah di ruang depan masih terdengar. Ah, pasti Suci sedang menangis karena dimarahi ayah lagi. Seperti wakil kecil dulu. Ia sering sekali dimarahi karena berbagai macam hal buruk yang terjadi padaku. Padahal itu semua adalah akibat dari kesalahanku sendiri.
"Ya ampun, Suci," bisikku.
Tanganku masih berdenyut-denyut rasanya, tapi kepaksa keluar kamar, karena rasa khawatir pada sahabatku lebih kuat.
"Lihat! Gara-gara ngelawan orangtua, kayak gini akibatnya. Gara-gara kamu yang masih terus saja memaksa anak saya pergi keluar malam-malam, lihat kan akibatnya." Ayah masih terus mengomel. "Kalau tangannya kenapa-kenapa, gimana? Kalau lukanya infeksi, tangan Andini diamputasi gimana? MAU TANGGUNG JAWAB!?"
"Ayaah." Aku memegang tangan ayah yang terlihat begitu marah.
Aku bisa memaklumi perasaan ayah. Di saat ibu juga sedang sakit, tiba-tiba mendapatkan kabar kalau aku mengalami perampokan dan terluka cukup dalam. Untung saja tidak ada jari tanganku yang putus karena sabetan pisau tersebut.
Belum tenang pikiran ayahku yang sedang mengusahakan kesembuhan ibu, ditambah lagi akan beban baru tentang aku, wajar saja ayah begitu termakan emosi. Ditambah lagi, semenjak ibu sakit, pekerjaan ayahku banyak yang terbengkalai, orang yang dipercayakan di kantor, tampakan tidak bisa meng-handle semua pekerjaan sebaik ayah dan ibuku.
"Ayaah, bukan Suci yang salah, jangan marahin Suci teru," ujarku memelas pada ayah. Mataku mulai berair.
Ayah melengos.
"Yaudah, Suci pulang dulu Om. Dini, aku balik ya."
"Pulang aja! Mau ngapain lagi ke sini. Dari dulu bawa-bawa Dini ke dalam masalah aja!"
"Sucii!" Aku mengejar gadis itu, sambil tetap menahan rasa sakit di tangan kanan.
"Kamu mau ke mana!? Sana masuk kamar!" ujar ayah tegas.
Langkahku terhenti. "Tapi, Yaah."
"MAU NGELAWAN LAGI, KAMU!?" Suara ayah meninggi, aku tak berani menjawab lagi. "Sana ke kamar! Masih luka juga, nanti berdarah lagi, infeksi. Dengerin kata-kata orangtua."
Aku menunduk, lalu melangkah pelan ke kamar. "Baik, Yah."
Sejak hari itu, sampai sekarang, Suci tak pernah berani lagi datang ke rumah ini.
***
Luka sedalam ini ternyata sembuhnya lebih lama dari yang kukira. Tempo hari, setelah efek biusnya habis, tanganku berdenyut-denyut tak tertanggungkan. Semalaman aku meringis menahan sakit, sama sekali tak bisa tidur.
Ayah bolak-balik, ke kamarnya merawat ibu, lalu ke kamar lagi untuk mengecek keadaannya anak gadisnya. Aku jadi kasian melihatnya.
"Makanya, ayah kan udah bilang, Sayang. Jangan banyak gerak dulu, tadi kamu pake keluar-keluar kamar segala sih," ujar ayah pelan, sambil mengipasi tanganku dengan kertas karton yang entah didapat dari mana.
Aku terus meringis. Air mataku tiba-tiba saja keluar karena menahan sakit. "Aduuh, sakit, Yah. Panas."
"Iya, sabar, ya."
"Ayah, gak apa-apa ke kamar ibu aja, jagain ibu. Andini gak apa-apa kok sendirian," ujarku kemudian, melihat ayah yang masih sibuk mengipasi tanganku walaupun sambil terkantuk-kantuk.
Aku tahu betul, ibu pasti jauh lebih membutuhkan ayah dari pada aku. Kondisi ibu jauh lebih parah dari pada hanya sekedar luka di tangan seperti ini.
Namun, aku begitu terenyuh ketika mendengar jawaban ayah.
"Tadi, ibumu juga berkata demikian, Din. Ibu yang nyuruh ayah ke sini nemenin kamu."
Luruh rasanya hatiku, mengingat betapa sayangnya mereka berdua padaku.
Tiga hari kemudian, rasa sakitnya sudah berkurang. Aku sudah bisa beraktivitas dengan tangan kiri. Hanya saja, tangan kananku masih belum bisa digantungin lurus ke bawah, rasa sakitnya masih tak tertahan. Terpaksa harus terus digendong dengan selembar selendang, agar tingginya tetap sejajar dengan jantung.
Saat keluar kamar, aku menemukan ayah yang sedang meringis memegang pelipisnya, duduk di ruang tamu sendirian.
"Ayah kenapa?" Aku mendekat.
"Gak tau nih, kepala ayah sakit banget. Mungkin karena kurang tidur," jawabnya.
"Sakitnya di sebelah mana, Yah?"
"Semuanya. Terutama di pundak nih, berat rasanya."
Aku khawatir akan tekanan darah Ayah yang meningkat karena terlalu banyak beban pikiran.
"Yaudah Ayah bawa tidur deh. Biar Dini yang jagain ibu," ujarku.
"Ayah harus ngurus kerjaan dulu nih, ke kantor, Din. Kamu bisa kan jagain ibu sebentar?"
"Harus banget sekarang ke kantornya, Yah? Kan lagi sakit kepala."
"Iya, Din. Ini urusan penting banget. Harus Ayah sendiri yang datang ke sana."
"Oke, Yah, biar Dini yang jagain Ibu. Ayah berangkat aja."
Awalnya aku tak begitu paham apa yang sedang terjadi di perusahaan milik ayah. Hingga di kemudian hari, akhirnya aku paham kalau ternyata ayah dihianati oleh orang kepercayaannya.
Beberapa waktu setelahnya, aku juga menemukan fakta, kalau ternyata jauh-jauh hari om Andi, ayahnya Suci sudah mewanti-wanti ayahku tentang hal ini. Hanya saja, ayahku termakan hasutan bawahannya, sehingga malah menganggap sahabatnya tersebut yang membelot.
"Ibu," begitu masuk ke kamarnya, aku langsung menyentuh lengan ibuku. "Ibu udah lapar? Mau Dini buatin bubur?"
Ibu menggeleng lemah. Tangan terangkat ingin menyentuh tanganku, langsung ku dekatkan. Ibu kemudian tersenyum. Wajahnya yang mulai cekung, semakin kurus, dipaksa untuk tersenyum, getir.
"Gimana tangannya, Sayang?" tanya ibu pelan.
"Udah baikan kok, Bu. Udah hampir sembuh." Aku membalas senyumnya lebih lebar.
Kuusap sudut-sudut mata ibu yang mulai basah. Akhir-akhir ini wanita itu memang sering kali menangis, entah mengapa.
"Ibu kok nangis? Kenapa? Ada yang sakit?"
"Enggak kok."
"Kita makan yaa. Dini buatin buburnya."
Akhirnya wanita itu mengangguk pelan. Langsung kuambil sasetan bubur siap sedih, lalu kutuang dengan air panas ke dalam mangkuk kaca.
Kutiup sesendok bubur, lalu menyuapi ibu setelah memastikan benar-benar dingin. Sudah beberapa minggu ini ibu hanya bisa makan bubur, aku juga tak paham kenapa. Banyak sekali pantangan yang tidak boleh dikonsumsi untuk sementara waktu.
Seperti yang kutakutkan beberapa bulan yang lalu, orangtuaku benar-benar mewujudkan keinginan nenek dan Tante Zee, terutama ibuku. Ia terus bersikeras, walau resikonya sangat besar.
Awalnya semua berjalan lancar, tak ada keluhan, kandungannya juga normal dan sehat. Namun, di bulan ke empat, masalah mulai muncul. Tekanan darah ibuku tak terkendali, tiba-tiba saja jauh di atas normal. Ketika urin dicek, ternyata juga banyak protein yang lepas.
Dokter menyebutnya, "Pre-ekplamsia". Ibu tetap bersikeras mempertahankan janinnya, dengan minum obat rutin. Apalagi dengan motivasi dari nenek dan tante Zee, yang selalu bisa kalau kondisinya tidak terlalu berbahaya.
Namun, semua itu hanya omong kosong belaka. Setelah cukup dewasa, aku paham, kedua iblis wanita itu hanya mementingkan ego mereka. Demi omong kosong tentang anak laki-laki satu-satunya sebagai penerus suku keluarga, mereka rela melakukannya segala cara, tanpa memikirkan keselamatan ibuku.
Kurang lebih tiga bulan setelahnya, ibu tiba-tiba mengalami kejang-kejang hebat. Kami semua panik. Saat kejangnya berhenti, ibu tak lagi sadarkan diri. Aku dan ayah, kala itu langsung melarikan ibu ke rumah sakit.
Nahas, selain bayinya tak bisa diselamatkan, kondisi ibuku juga memburuk. Eklamsia yang terjadi juga merambat ke menurunnya fungsi ginjal. Kondisi ibuku menjadi sangat lemah, kehilangan banyak darah karena pendarahan hebat dari rahimnya.
Aku dan ayah berusaha mati-matian mencarikan pendonor kala itu. Mendatangi banyak tempat, termasuk PMI dan Bank Darah. Sementara keluarga ayahku yang begitu terhormat, menghilang, entah di mana keberadaanya. Seperti ditelan bumi.
Aku hanya bisa berteriak dalam hati waktu itu.
"Ayah! Ibu! Mengapa kalian harus mengikuti semua keinginan orang-orang tak berperasaan itu? Mengapa ayah tak mengabaikan saja permainan keluarganya yang jelas-jelas akan membahayakan orang yang ia cintai.
Ayah, mengapa Ayah tidak mempertahankan keputusan awal untuk menjauh dari keluar toxic ini. Kita tetap bisa hidup bahagia tanpa mereka. Kita sama sekali tidak bergantung pada mereka.
Lihatlah, Ayah. Lihatlah, apa yang sudah mereka lakukan pada ibuku.
Jika terjadi hal buruk padanya, seumur hidup aku tak akan pernah memaafkan mereka."
"Kok ngelamun?" tanya ibu, menyadari aku yang sedang diam. "Kamu mikirin apa, Sayang? Tenang aja, ibu baik-baik aja kok."
"Eh." Aku tersadar dari lamunan. Kembali menyiapkan ibu. "Gak mikirin apa-apa kok, Bu. Makan lagi."
Aku sedikit meringis, sebenernya tanganku masih terasa berih saat memegang sendok. Namun, tak mengapa, ini belum seberapa jika dibandingkan rasa sakit yang dirasakan ibuku selama ini.
"Udah, ibu udah kenyang," katanya kemudian.
"Sedikit lagi kok, Bu."
"Udah, Din."
Aku tak memaksa lagi.
"Ayah ke kantor, ya?"
"Iya, Bu."
Ibu menghela napas. "Dini, kamu harus sering-sering ngingetin ayah ya. Dia orangnya ceroboh banget, juga terlalu gampang mempercayakan sesuatu pada orang. Ayahmu itu orang baik, bahkan terlalu baik, makanya bisa begitu mudah dimanfaatkan oleh orang-orang yang punya niat jahat. Uhuk!" Ibu menjelaskan panjang lebar, lalu terhenti karna terbaruk.
Aku spontan menuangkan air hangat untuk diminumnya. "Iya, Bu. Dini tau kok."
Ibu tersenyum lagi, senyum yang begitu menenangkan. "Makanya, ingetin ayah ya kalau dia ceroboh dalam memutuskan sesuatu."
"Iya, Bu. Lagian kan ada ibu juga yang selalu ngingetin."
"Uhuk!" Ibu terbatuk lagi.
Ya, aku yakin, ibu pasti akan sembuh. Cepat atau lambat. Harus sembuh! Aku dan ayahku sama sekali belum siap untuk kehilangan sosok seperti ibu.
Sayangnya, tidak semua hal terjadi ketika kita sudah siap. Kadang kala, kita harus kehilangan seseorang di saat masih jauh dari siap. Kehilangan ketika sedang sayang-sayangnya.
***
Angin malam yang dingin bertiup masuk lewat celah-celah di ventilasi kamarku. Kutarik selimut agar menutup lebih banyak bagian tubuhku.
Haaah. Kuhela napas panjang.
Ternyata menatap bekas luka di bawah pergelangan tangan ini malah mengundang terlalu banyak memori masa lalu yang pahit. Kenangan yang kalau kuingat kembali, membuat hatiku rasanya ditusuk-tusuk beribu jarum tajam, lalu ditetesi dengan perasaan jeruk nipis.
Perih sekali!
Ting! Sebuah chat masuk di aplikasi w******p.
"Din, udah tidur?" Ternyata pesan itu berasal dari bang Iqbal.
"Udah nih, Bang. Lagi mimpi indah," balasku bercanda, ah, lebih tepatnya mencoba menghibur diri sendiri. Aku tersenyum getir sambil mengusap pipi yang basah.
"Haha. Bisa aja kamu."
"Bisa dong," balasku lagi.
"Ada kabar baik nih, Din." Bang Iqbal terlihat masih sedang mengetik. "Tadi Leo yang siaran malam bilang, katanya ada target promosi door to door yang potensial besok."
"Ooh, Leo sang Dokter Cinta, ya, Bang?"
"Nah, iya, dia."
"Jadi gimana, Bang?"
"Jadi gini, aku udah dapat alamat lengkap calon konsumennya, ternyata gak jauh dari studio. Katanya, orang itu ada di rumah sore sekitar jam empat, Din. Kamu bisa ke sana gak kira-kira?"
"Sore kayaknya bisa sih, Bang."
"Sendirian gak apa-apa, Ya? Soalnya aku siaran sore nih besok, jadi gak bisa pergi."
"Aman, Bang. Bisa diatur. Udah biasa sendiri kok. Hehe."
"Mantap. Besok kamu singgah ke radio aja ngambil produknya, jalan ke rumah orang itu melewati studio Gema kok."
"Siap, Bang."
"Semoga closing, ya."
"Semoga."
"Yaudah selamat istirahatlah."
"Selamat istirahat juga, Bang Iqbal."
Haaah. Kutaruh lagi HP di atas nakas.
Sudah lah ya. Kembali ke masa kini, ke kenyataan yang benar-benar ada di depan mata. Mengingat-ingat masa lalu hanya akan menambah rasa sakit di hati, lebih baik jadikan pelajaran untuk ke depannya.
Ayo, sambut masa depan yang lebih baik. Aku me menyebabkan diri sendiri.
Ganbatte!