Door to Door

1146 Kata
POV: Andini Ada masa di mana kita merasakan jenuh teramat sangat terhadap sesuatu. Entah itu jenuh dengan suasana yang itu-itu aja, jenuh terhadap orang-orangnya, termasuk jenuh pada pekerjaan. Mungkin inilah yang sedang kualami sekarang. Sebagai manusia biasa, aku juga punya rasa bosan, tentu saja. Apalagi di usia sekarang ini, di mana biasanya anak-anak muda seusiaku menghabiskan waktu dengan melakukan hal-hal menyenangkan di luar sana, tanpa harus memikirkan besok harus makan apa. Tanpa harus memikir biaya-biaya lainnya. Dulu awal-awal, semangat sekali rasanya berangkat ngojek. Apalagi minggu-minggu pertama setelah aku berhasil mendaftarkan diri menjadi salah satu driver. Berkerja terasa seru, asyik dan menyenangkan. Tak ada beban sama sekali. Bayangkan saja, hanya mutar-mutar pakai sepeda motor ke sana ke mari, lalu dibayar. Sekarang, jujur saja, aku tak ada semangat lagi. Melakukan hal-hal yang sama dari hari ke hari, sangat lah membosankan. Bertemu dengan orang-orang yang sama di pangkalan yang sama. Menapaki jalan yang sama. g**g-g**g yang bahkan aku sudah hapal namanya. Kalau bukan karena tuntutan kebutuhan sehari-hari, aku mungkin sudah lama berhenti. Untung saja, bang Iqbal menawarkan sebuah pekerjaan sambilan yang baru. Setidaknya aku bisa mempelajari hal-hal yang belum kutahu selama ini. Di samping itu, penghasilan yang dijanjikan juga lebih besar dari pada ngojek, tenaga dan waktu yang dibutuhkan juga jauh lebih sedikit. Senada dengan basic pendidikan yang kini sedang kujalani, sedikit-banyak masih ada pengetahuan seputaran kesehatan yang ku miliki. Hal ini tentu saja sangat membantu dalam berjualan obat-obatan herbal seperti ini. Keluhan demi keluhan yang disampaikan konsumen, walaupun tidak selalu tepat, sering kali masih bisa kutebak penyakit apa yang sedang dideritanya. Misalnya sepertinya keluhan seorang ibu-ibu. "Ini loh, Dek. Pas duduk lama, trus berdiri kan, sakit pinta ampun di sini." "Ohh, nyeri sendi, ya, Bu." "Nah iya, itu. Bisa?" "Bisa, Bu. Coba aja dulu konsumsi tiga kali sehari ya." Ada juga yang mengeluhkan tentang sakit kepala. "Di bagian sini sering sakit, Neng," ujar seorang bapak-bapak seumuran ayahku, sambil menunjuk pundaknya. "Oh, itu mungkin tekanan darah bapak yang terlalu tinggi. Hipertensi, Pak." "Ohh, tensi ya. Bisa diobati juga pake itu?" "Bisa banget, Pak. Udah banyak yang ngerasa khasiatnya. Tekanan darah tinggi ataupun rendah, bisa diatasi." Sejauh ini tingkat keberhasilan closing cukup tinggi. Selain karena memang target konsumen yang diberikan adalah yang betul-betul berpotensi untuk membeli, kemampuan marketingku rasanya juga meningkat dari waktu ke waktu. Aku bisa mengagumi kemampuan marketing yang diam-diam ternyata masih ku miliki. Tidak ada salahnya bukan, kagum pada diri sendiri? *** "Waaah, mantap-mantap!" Bang Iqbal terlihat senang sekali ketika aku melaporkan padanya di studio Gema FM. "Gak salah ternyata aku jadiin kamu ujung tombak marketing door to door," sambungnya lagi. Aku tersipu sejenak karena pujiannya, lalu kembali mengalihkan. "Jadi ternyata konsumen yang tadi itu, sekeluarga ada empat orang yang mau beli, Bang. Untung aku bawanya banyak." Kuserahkan uang hasil penjualan. "Luar biasa." Bang Iqbal menghitungnya, lalu menyerahkannya beberapa lembar kepadaku. "Naah, ini fee buat kamu, Din." "Waduuh, banyak ya ternyata. Ini gaji ngojek seminggu nih, Bang. Lebih malah. Hahaha." "Semoga makin lancar aja penjualannya kita ke depannya, Din. Nanti kalau terus berkembang, aku mau ngambil ruko yang di pinggir jalan utama kota buat stokis. Jadi jemput produk gak hanya ke studio aja, juga ada agen resmi 2.“ "Ide bagus tuh, Bang. Jadi tingkat awareness-nya juga lebih tinggi. Cari tempat yang startegis." "Iya, ini sambil ke rumah sakit, aku juga udah mulai lihat-lihat lokasi yang bagus, Din." "Sukses, ya, Bang." Aku ikut senang melihat semangatnya menggebu-gebu laki-laki muda itu. "Semangat selalu," jawabnya. Aku melengos ke dalam, penasaran juga seperti apa ruangan siaran. "Oh ya, dulu aku pernah janji mau ngajak kamu ke studio siaran ya, belum jadi-jadi sampai sekarang." "Emang boleh, Bang?" Aku ragu-ragu. "Boleh aja. Ayuk." Bang Iqbal berdiri lalu langsung membuka pintu studio yang dindingnya dilapisi pengedap suara itu. Udara dingin terasa keluar. "Waah, full AC ya." "Iya, tapi gak sedingin ruangan cuci darah di RS kok. Hehehe." Aku tersenyum lalu melangkah masuk, melihat-lihat sekeliling. Ternyata banyak juga peralatan yang ada di dalamnya. Selalu dua buah komputer, ada mixer, speaker, beberapa buah microphone dengan berbagai bentuk, headset, earphones, dan banyak lagi benda-benda yang aku bahkan tak tau apa fungsinya. "Nah, kalau siaran cuma ini doang yang diotak-atik, Din." Bang Iqbal menunjukkan layar monitor dan mixer di atas meja. "Waduuh, banyak banget tombolnya, apa gak bingung tuh Bang mau pencet yang mana?" tanyaku dengan polosnya. "Kan gak harus semuanya juga dipencet, Din. Haha. Cuma mainin ini doang nih, pas ngomong turunin, mutar lagu naikin. Selesai siaran di-mute lagi. Trus ini ngatur volume. Bla bla bla." Laki-laki itu dengan sabar menjelaskan fungsi masing-masing tombol padaku. Aku yang masih penasaran kadang suka nyinyir dan menanyakan hal yang sama sampai beberapa kali, tapi dia terlihat sabar sekali. Tak ada ekspresi kesal di wajahnya. "Ini gak mau siaran lagi nih, Bang?" "Kan udah beres. Nanti setengah jam lagi, jadwalnya kak Bunga." Ketika itu tak sengaja punggung tanganku yang sedang memegang mouse tersebut oleh bang Iqbal. Spontan situasi jadi canggung dan serba salah. "Udah deh, Bang. Udah hilang rasa penasarannya." Aku berkata pelan lalu berangsur-angsur melangkahkan ke arah pintu. Namun, tiba-tiba saja pintu studio dibuka oleh seseorang, kami sama-sama kaget. "Eeh, ada dua sejoli ternyata. Apa-apaan nih Iqbal? Berdua-duaan di dalam studio?" Seorang wanita yang baru datang berseru melihat kami. Aku sempat kaget mendengarnya, kukira ia benar-benar marah. Hingga kemudian wanita itu tertawa. Ternyata hanya bercanda. "Ah, Kak Bunga. Nanti Andini-nya benar-benar takut nih sama Kakak. Tumben cepet datangnya." Bang Iqbal mencari suasana, mungkin ia melihat wajahku yang agak gugup. "Hahaha. Becandaa." Kak Bunga menjawil lenganku. "Oh, jadi ini yang namanya Andini. Cantiknya, ya ampun. Iqbal sering banget nyebut-nyebut nama kamu di grup." "Ah, apan sih, Kak." Bang Iqbal menyanggah, malu-malu. "Iya, Kak. Kenalin saya Andini," ujarku sopan. "Kita udah pernah ketemu kah? Rasanya pernah lihat deh." Wanita itu memperhatikan dari ujung kepala sampai kaki. "Di mana ya?" "Udah, Kak. Waktu itu saya datang buat nganterin pesanan makanan." "Oh iyaa. Pas ada acara di sini, ya." "Betul, Kak." "Oh iya iya, inget saya." Kak Bunga mengangguk-angguk. "Yaudah duduk aja dulu di depan ya, saya siap-siap mau siaran dulu." "Oke, Kak." "Ambilin minum kek, Bal." "Iya-iya. Kak Bunga bawel." Bang Iqbal tersenyum menggoda, mereka tampak akrab sekali. Kuikuti langkah kaki bang Ibqal ke depan, lalu kembali duduk di ruang tamu. "Maklum ya, kak Bunga emang gitu tuh, orangnya. Suka becanda, jadi jangan diambil hati." "Iya, santai, Bang." Bang Iqbal melangkah ke dalam. "Ke mana, Bang? Gak usah ngambil-ngambil minum ya. Aku udah mau balik kok." Langkahnya terhenti, lalu balik ke tempat duduk. "Bener nih? Gak mau minum? Jangan nanti bilangnya aku yang gak ngasih minum ya." "Beneran, Bang," jawabku. "Oh ya, ngomong-ngomong, Abang bener sering ngomongnya tentang aku di grup? Grup apaan tuuh?" Bang Iqbal terlihat salah tingkah, kelihatannya tidak menyangka aku akan menanyakan hal tersebut. "Hmm, itu cuma ngomongin kalau kamu jadi marketing door to door aja kok. Itu di grup penyiar Gema FM." "Ooh." Aku mengangguk-angguk. "Kirain ngomongin apa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN