Apakah Aku Boleh Jatuh Cinta Lagi?

1382 Kata
POV: Iqbal Bulan ini, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tak lagi membingungkan bagaimana cara menghemat uang supaya cukup sampaikan gajian bulan depan. Project yang kami kerjakan selama sebulan belakangan ternyata berjalan mulus. Bahkan di bulan pertama ini, kami sudah berhasil mengejar target penjualan. Banyak faktor pendukungnya, di samping produk yang kami jual benar-benar sudah teruji secara klinis, kekompakan dan kerjasama tim juga menjadi faktor utamanya. Pak Bos dan owner perusahaan produk herbal itu sangat senang. Bonus yang dijanjikan pun cair, bahkan lebih banyak dari yang kukira. Malam ini aku mengadakan acara perayaan keberhasilan kami di sebuah cafe. Tentu saja semua anggota tim diajak. Semuaa bergembira karena mereka juga kecipratan bonus, tidak hanya kunikmati sendiri. "Maaf ya, Bang. Maaf juga buat rekan-rekan yang lain. Aku gak bisa ikut kayaknya malam ini, soalnya tugas kuliah udah numpuk banget, ada yang deadline-nya nanti malam." Begitu kata Andini di grup ketika pengumuman kusampaikan sore tadi. Alhasil, selama acara aku jadi tak begitu bersemangat. Entah mengapa, tanpa dia rasanya seperti ada yang kurang. Kami pulang ke rumah masing-masing sebelum malam terlalu larut. Foto-foto acara tersebut dikirimkan ke grup. Grup Penyiar telah berganti nama menjadi Gank Gema FM. Anggotanya juga lebih banyak, terdiri dari semua anggota marketing produk herbal yang berada di bawah kepemimpinanku. "Yaah, cuma aku ya yang gak ikut." Andini mengirimkan chat di bawah foto-foto tersebut. "Sabar. Lain waktu kita bikin lagi. Semoga bulan depan makin lancar penjualannya," balasku. "Abang, lagi apa? Kok belum tidur jam segini?" Tiba-tiba gadis itu mengirimkan privat chat. Malam sudah semakin larut, mungkinkah Andini sudah selesai dengan tugas kuliahnya. "Belum ngantuk, Din. Nyesel mesan kopi tadi di cafe," balasku lagi. "Kamu lagi apa? Udah beres tugas kuliahnya?" "Iiih, makanya kalau udah di atas jam lima, jangan minum kopi lagi, Bang." Ia mengirimkan emotikon kesal. "Nih tugasnya baru selesai, baru juga di-upload." "Hehe. Siaap, Tuan Putri!" Entah ini hanya perasaanku saja, tapi rasanya akhir-akhir Andini menjadi sangat perhatian. Tak jarang dia menghubungi via chat WA hanya untuk sekadar menanyakan aku sedang melakukan apa, apakah aku sudah makan, atau apakah proses cuci darah berjalan lancar? Bukannya berniat untuk GR, tapi sikapnya lama-lama membuatku jadi bertanya-tanya. Apa jangan-jangan dia ada rasa padaku? Apa dia nyaman? Apa dia berharap lebih? Sementara di hatiku masih sama. Hatiku pernah dikecewakan oleh satu orang, hingga saat ini masih belum bisa percaya pada semua orang. Aku tak percaya ada orang yang benar-benar mau menerimaku dengan keadaan ini. Tak percaya juga akan ada orang tua yang mau menikahkan anaknya dengan laki-laki lemah sepertiku. Setidaknya saat ini begitu, entah sampai kapan aku akan bertahan dengan pemikiran seperti ini. Ngomong-ngomong tentang orang tua, tiba-tiba saja aku teringat dengan percakapan bersama ayahnya Andini tempo hari, ketika aku datang ke rumahnya untuk melakukan wawancara testimoni konsumen. "Bal, kamu dan Andini itu hanya berteman atau bagaimana?" Aku yang sedang duduk sambilan mengotak-atik alat perekam begitu kaget karena tiba-tiba saja tak ada angin tak ada hujan dijejali dengan pertanyaan seperti itu. "Eh. Iya berteman aja, Pak? Kenapa nanya gitu?" Aku menggaruk-garuk kepala bingung. Laki-laki paruh baya, Ayahnya Andini itu diam sejenak, lalu kembali berbicara. "Kamu tau, Bal. Semenjak kepergian ibunya, saya gak pernah lagi melihat Andini tertawa lepas seperti tadi." "Hmmm." Aku bingung juga harus menjawab apa. "Tadi waktu sama kamu, saya perhatiin dari jauh. Andini bisa kelihatan senang banget, bisa ketawa lepas seperti tanpa beban sama sekali. Terima kasih, ya." Ucapan laki-laki itu ikut membuatku terharu. Kelihatannya ayah Andini begitu sayang pada anak gadisnya. Seolah-olah tawa Andini itu begitu berarti buatnya. "Iya, Pak. Semoga Bapak dan Andini bisa bahagia terus ya. Sehat-sehat, Pak." Aku ikut tersenyum senang. "Selamat istirahat, Abaang!" Chat masuk dari Andini membuatkan tersadar dari lamunan. "Selamat istirahat juga, Dini," balasku. *** Brum brum! Kutarik gas sepeda motor sedikit lebih kencang, kemudian mematikan mesinnya. Di halaman rumah mendiang nenek, ku parkiran motor berwarna hitam itu. Ya, walau bukan motor baru, setidaknya sekarang aku sudah punya kendaraan sendiri untuk pergi ke mana-mana. Aku khawatir membeli motor baru yang harga cuma mahal jika di-kredit, takut tak mampu membayar angsuran bulanan. Motor bekas pun tak mengapa, yang penting masih sehat dan nyaman dipakai. "Cari siapa, Dek?" Seseorang tiba-tiba keluar dari pintu depan. Aku cukup kaget awalnya, tapi kemudian sadar apa yang telah terjadi. Rumah nenek sudah dijual oleh anak-anaknya. Tak apa-apa, itu memang hak mereka. "Maaf, Bu. Saya mau nengok makam di belakang, kebetulan itu makam orangtua dan juga nenek saya." "Eh, nak Iqbal, ya?" Ternyata perempuan itu mengenalku, padahal aku sama sekali tak ingat wajahnya. "Iya, Bu. Ini Iqbal." Akhirnya aku pun bersalaman dan mencium tangan wanita yang sepantaran ibuku tersebut. "Ya ampun, sudah besar ya kamu. Terakhir ibu ketemu pas masih SMP ya kalau gak salah." "Hehe, iya, Bu. Ibu tinggal di sini?" tanyaku. "Iya, udah dua tahun tanah dan rumah ini dijual sama Pamanmu, Ibu yang beli, Bal. Mau masuk dulu? Ayo masuk." "Gak usah deh, Bu. Iqbal langsung ke belakang aja." "Yaudah silakan, Bal." Aku langsung melangkah ke halaman belakang rumah yang cukup luas. Di salah satu sudutnya terlihat tiga buah makam. Pemilik rumah yang sekarang ternyata sangat baik, makam kedua orangtua dan nenekku terlihat sangat bersih. Tak ada semak belukar yang terlalu tinggi, bunga-bunga yang tumbuh di atasnya juga terpotong rapi. "Ayah, Ibu, Nenek. Iqbal datang," ujarku pelan sambil menyentuh keramik di atas makam ibu. "Maaf Iqbal baru sempat datang lagi ke sini setelah sekian lama. Selaian karna jarak yang cukup jauh, Iqbal juga terlalu sibuk nyari duit buat makan sehari. Belum lagi harus ke rumah sakit juga dua kali seminggu." "Ayah, Ibu. Dulu sempat terpikirkan olehku, bagaimana kalau Iqbal ikut mengusulkan kalian saja ke sana. Namun, Iqbal sadar kalian tidak akan senang kalau Iqbal melakukannya. Makanya Iqbal masih bertahan sampai sekarang." "Ayah, Ibu, Nenek. Sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata-kata betapa rindunya Iqbal pada kalian." Aku menyeka mata yang mulai basah, tak ingin terlihat menangis di sini. *** "Bang." Pagi ini tiba-tiba Andini mengirimkan chat, tak biasanya sepagi ini. "Udah bangun belum?" "Iya? Udah dong, Dini. Kenapa?" "Gini, Bang. Tadi ada pelanggan yang nelpon aku, katanya mau dianterin obat. Tapi harus pagi sebelum jam 9, Bang. Soalnya setelah itu dia udah gak di rumah katanya." "Trus?" "Aku gak bisa, Bang. Harus buru-buru ke kampus nih, ada kuliah pagi. Penting lagi." Ia menjelaskan. "Oke. Kamu kirim aja alamat lengkap dan nomor HP pelanggannya ya, nanti aku yang anter." "Oke, Bang. Makasih, ya." "Makasih juga, Din." "Oh ya, Bang." "Kenapa lagi?" "Ayah nanyain Abang loh semalam." "Nanyain apa?" Aku penasaran. "Ya nanyain kenapa gak pernah kelihatan lagi? Kan udah lama gak ke rumah." "Hmm?" Aku masih tak paham maksudnya apa. Aku kan ke rumahnya kalau mau ngantar stok obat aja. "Maksudnya stok di kamu udah habis, Din?" "Belum, masih banyak." "Trus ngapain ke rumah kamu?" Aku menggaruk-garuk kepala. "Gak tau, kan ayah yang nanya. Bukan aku. Aku cuma nyampek pesan ayahku." Dia menambahkan emoticon kesal di bawahnya. "Ooh, iya-iya. Nanti kapan-kapan aku jenguk ayahmu ya." "Ah, gak usah deh, Bang." Hah? Aku semakin tak mengerti. "Loh kenapa?" "Gak apa-apa. Yaudah aku mau siap-siap mau ke kampus," balasnya, lalu langsung off dari aplikasi w******p. Aku pun langsung bersiap untuk berangkat ke radio mengambil stok obat herbal untuk diantarkan ke alamat yang sudah dikirimkan Andini barusan. "Hiyaaaa! Motor baru nih, Bang. Udah bisa nih ngajak doi jalan. Hahaha." Leo langsung menggoda saat baru sampai ke studio. Aku tak menjawan, hanya menepuk pundaknya kesal. "Weeeh, bodynya mengkilap banget, uhuuy. Berapaan nih, Bang?" "Motor murah itu mah. Seken," jawabku. Leo tak henti-hentinya menggodaku. Itu baru dia, tak terbayang nanti kalau kak Bunga yang datang. Pasti akan jauh lebih heboh lagi. "Buru-buru kuambil sekotak produk yang hendak dijual, lalu pergi dari sana." "Buru-buru amat, Bang? Bentar lagi kak Bunga datang nih, kami mau duet pagi ini." "Justru itu. Hahaha." Kutarik gas sepeda motor, melaju ke tempat konsumen yang memesan obat herbal tersebut. Ini sudah menjaga sebuah pencapaian buatku. Bisa membeli sepeda motor dari hasil jerih payah dan keringet sendiri. Ya, walaupun belum seberapa, setidaknya sudah ada kemajuan. Semoga setelah ini, mimpi-mimpi yang lain juga dapat terwujudkan. Namun, tiba-tiba saja urusan percintaan dan asmara ini kembali mengganggu pikiranku. Akankah ada seseorang yang bisa membuktikan kalau aku benar-benar masih berhak untuk jatuh cinta lagi? Atau ini semua hanya karena tipu daya semata, yang membuatku senang dan bahagia sesaat, untuk kedua dipatahkan lagi, sehingga kembali terpuruk lebih dalam? Entahlah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN