POV: Iqbal
Beberapa orang anak-anak muda sebaya denganku, berseragam SMA datang ke rumah. Aku masih lemah sekali kala itu, tapi setidaknya sudah kuat berjalan sedikit-sedikit walaupun masih terasa sesak napas.
Paman sedang tidak ada di rumah waktu itu, tentu saja siang-siang dia sedang bekerja. Seperti biasa, wajah Bibiku acuh tidak acuh saja melihat banyak orang yang datang.
Ia hanya sedikit menyunggingkan senyum ketika bersalaman dengan bu Nina dan beberapa guruku lainnya yang ikut datang menjenguk.
Aku duduk di tengah-tengah mereka, memperhatikan satu persatu hingga tertuju pada satu wajah yang paling kukenal. Tiara, kekasihku kala itu. Dia juga datang.
"Gimana kondisinya sekarang, Iqbal?" Bu Nina yang pertama kali bertanya.
"Setelah beberapa kali cuci darah, akhirnya udah agak mendingan, Bu. Udah bisa tanpa tabung oksigen," jawabku.
"Oh, syukurlah."
Beberapa teman yang lain terdengar berbisik-bisik, tampaknya mereka juga kaget mendengar aku harus cuci darah.
"Sebenarnya kamu sakit apa sih, Bal?" Salah seorang teman bertanya.
"Aku kena gagal ginjal kronis. Udah stadium akhir," jawabku lagi.
"Ooh gitu ya." Mereka mengangguk-angguk Padahal aku tahu sebentar mereka juga tidak paham penyakit apa itu.
Beberapa waktu lamanya, obrolan terus berlanjut. Beberapa orang sempadan bertanya, kujawab seadanya. Ada juga yang hanya memberikannya support dan semangat. Hingga akhirnya mereka berpamitan pergi setelah memberikan sebuah amplop berisi uang dan juga beberapa makanan, buah-buahan juga s**u cair beberapa kaleng.
"Kami pamit, ya. Semoga lekas pulih, Iqbal. Jadi bisa masuk sekolah lagi kayak biasanya, biar kita ngumpul lagi semua."
"Iya nih, kami pada kehilangan tempat bertanya," sahut salah satunya.
"Tempat nyontek maksud kamu. Haha." Mereka pun tertawa.
"Pokoknya semoga cepat sembuh ya, Bal."
Aku mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih doanya."
Sebagai besar dari mereka pun pergi menyisakan beberapa orang saja, termasuk bu Nina, kepala sekolah dan tentu saja Tiara.
"Bal. Kan sebentar lagi Ujian Nasional akan dilaksanakan. Kira-kira kamu masih bisa ikut gak? Nanti ibu usahakan sama buk Kepala Sekolahnya bagaimana caranya agar ujian kamu bisa dilakukan di rumah saja, kalau memang belum sanggup datang ke sekolah."
"Gimana ya bagusnya, Bu?" Aku berpikir sejenak.
"Kan sayang banget, Bal. Pendidikan selama tidak tahun ini akan sia-sia saja kalau kamu gak ikut UN." Bu Kepala Sekolah ikut menambahkan.
"Iya juga, ya, Bu. Ya, gimana baiknya menurut ibu aja. Iqbal ngikut aja, Bu."
"Tapi jadwalnya masih dua minggu lagi kok. Semoga kondisi kamu bisa membaik sebelum itu, ya, Bal."
"Iya, Bu. Semoga saja."
"Kak, ini kulitnya kenapa ngelupas kayak gini?" Tak kusadari ternyata Tiara tiba-tiba sudah ada tepat di sampingku. Ia menunjuk kulit tanganku yang mengelupas seperti ular yang baru saja ganti kulit.
"Eh, gak tau juga nih. Mungkin karena efek baru tambah darah beberapa kantong, kali, ya." Aku menebak sekenanya.
"Gak apa-apa. Nanti kalau udah pulih bisa luluran biar sel kulit matinya terangkat semua." Bu Nina menimpali.
"Iya. Semok lekas pulih ya, Kak."
"Iya, semoga aja. Makasih ya doanya." Aku tersenyum senang. Keberadaan Tiara di sini benar-benar membuat suasana hatiku menjadi lebih baik.
"Kak, beasiswa ke Ch*vron-nya gimana? Jadi?" tanya Tiara tiba-tiba.
Aku menghela napas, teringat akan hal itu lagi. "Ya gagal lah, Tiara. Gak jadi ikut tes terakhir."
"Yaah."
"Ya, gimana lagi."
"Sekarang yang penting fokus sama pemulihan kondisi kamu aja dulu, soal pendidikan itu mah bisa kapan aja." Bu Nina turut menghiburku.
"Iya, Bu."
"Sekarang keluhannya apa, Bal? Apa yang masih terasa?" Bu Kepala Sekolah yang dari tadi banyak diam, ikut bertanya juga.
"Tenaganya masih belum ada, Buk. Jalan dikit aja capek banget rasanya. Trus kalau ngeluangin tenaga dikit, langsung berasa sesak napas."
"Ooh gitu ya. Sabar ya, Bal."
"Kak, katanya kemarin sempat koma, ya?"
"Iya," jawabku lagi.
"Gimana sih rasanya koma, Kak?" Sepertinya Tiara begitu penasaran.
"Udah deh, jangan banyak nanya dulu. Tuh napasnya udah agak sesak lagi." Bu Nina menyanggah, Tiara pun jadi diam.
"Gak apa-apa kok, Bu." Aku membelanya.
"Pas koma itu rasanya kayak tidur aja. Tapi kayaknya aku masih bisa dengar obrolan orang-orang di sekeliling, suaranya samar-samar gitu gak jelas. Seluruh badan juga rasanya berat, gak bisa digerakkan. Pas mau sadar tuh juga bersusah payah buat bangun, tapi awalnya yang bisa digerakin cuma ujung-ujung jari aja."
Mereka bertiga mengangguk-angguk, termasuk Bibiku yang ikut menyimak di belakang.
"Ya, gitu deh. Rasanya sukar dijelaskan," sambungku lagi.
"Kak, sampai kapan sih kak Iqbal harus cuci darah?" tanya Tiara kemudian.
Aku berpikiran sejenak, lalu kemudian menatao serius ke mata gadis itu. "Kata dokter aku harus cuci darah seumur hidup."
Tiara tampak terkejut mendengarnya.
Jika diperhatikan dengan seksama terlihat ekspresi takut di wajahnya. Kala itu mungkin aku tak begitu mengerti tentang apa yang ia takutkan.
Namun, ini aku paham. Tentu saja ia takut harus menghabiskan waktu seumur hidup denganku, dalam keadaan seperti ini. Tentu saja dia takut jika harus ikut terpuruk dalam kesulitan dan kesusahan yang akan ku hadapi seumur hidup.
Seharusnya, saat itu aku sadar, kalau aku telah kehilangan seseorang yang kukira kami berdua benar-benar Sali mencintai.
"Seumur hidup?" tanyanya lagi seolah-olah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Ya, seumur hidup," jawabku tegas.
Ah, mengapa kejadian itu harus muncul kembali dalam mimpiku malam ini. Padahal bertahun-tahun lamanya kucoba untuk menguburnya dalam-dalam agar gak kembali naik permukaan hati.
***
"Selamat pagi, Pak."
"Pagii. Eh, Iqbal. Masuk, Bal," ucap laki-laki paruh baya itu sambil tersenyum senang melihat kedatanganku.
Akhirnya pagi ini kuputuskan untuk datang ke rumah Andini setelah sebelumnya berkonsultasi dengan kak Bunga di studio.
"Pak ini Iqbal bawain lontong sayur buat sarapan."
"Aduh, kamu pake repot-repot bawa-bawa segala, Bal. Ke mana aja? Lama gak kelihatan."
"Ya biasa lah, Pak. Akhir-akhir ini sibuk banget nganterin obat. Trus siaran juga kan."
Tadi malam, aku bertanya serius pada kak Bunga yang memang kurasa sudah senior dan malang melintang dalam hal ini. Selain itu, dia kan juga perempuan, tentunya akan lebih paham dan mengerti.
"Kak, aku mau nanya serius nih. Boleh?"
"Hah? Udah ngajak serius aja, aku belum siap, Bal," balasnya.
"Malah becanda." Aku mengirimkan emoticon kesal di bawahnya.
"Hahaha. Iya-iyaaa. Mau nanya apa?"
"Tapi ini serius, jangan ngeledek," balasku lagi.
"Iyaaa, Dek Iqbal. Apa?"
"Kak, kalau cewek ngomong kayak gini trus uring-uringan seharian, itu kenapa ya?"
Kukirimkan screenshot chatan dengan Andini tadi pagi, ketika dia menyampaikan pesan ayahnya. Sejak saat itu, balasan chat darinya berubah menjadi begitu cuek dan judes. Aku jadi bingung sendiri.
"Hahahah. Iqbaal Iqbal." Kak Bunga malah mengirimkan sederet emoticon tertawa.
"Tu kan, ngeledek," balasku.
"Hahaha. Lagian kamu jadi cowok gak peka banget sih. Itu artinya dia mau ketemu. Kangen kalii."
"Hah? Gak mungkin lah, itu kan katanya pesan dari ayahnya, Kak."
"Bohong aja tuh, pasti dia yang kangen. Besok datang deh ke rumahnya, pura-pura ngantar obat aja, gitu."
"Bener nih?"
"Iya. Kayaknya Andini beneran suka sama kamu deh, Bal."
"Ah masak? Kak Bunga ada-ada aja. Gak mungkin lah."
"Haaah, dibilangin gak percaya."
Akhirnya pagi ini aku sampai di rumahnya.
"Gimana kondisinya, Pak? Obat masih ada?" tanyaku pada ayahnya Andini.
"Udah baik banget ini, Bal. Semenjak minum obat dari kamu, tensi saya udah normal juga nih. Makan udah enak, tidur udah nyenyak. Lihat aja nih badan udah gendutan. Haha." Laki-laki itu tertawa.
"Waah syukur deh, Pak. Itu sih yang penting."
"Apa lagi akhir-akhir ini, Andini beliin makanan kesukaan saya terus. Jadi makin lahap makannya."
Sekilas mataku menangkap Andini yang berjalan dari dalam rumah.
"Eh, Bang Iqbal? Tumben pagi-pagi ke sini?" tanyanya ketika muncul di depan pintu.
"Iyaa, aku sengaja main ke sini. Kan kata kamu Bapak sering nanyain aku?"
"Heh?" Ayahnya Andini langsung menyanggah. "Mana ada ayah yang nanyain, bukannya kamu yang sering ngeluh kenapa Iqbal gak pernah main ke sini lagi, Dini?"
Wajah gadis itu memerah seketika mendengar penuturan ayahnya. Aku ikut tertawa.
"Ah ayah. Mana adaa!" teriaknya kemudian menghilang di dalam rumah.
"Gitu tuh dia dari dulu, kalau malu langsung sembunyi."
Aku bergumam dalam hati, ternyata benar yang dikatakan kak Bunga.
Apa mungkin Andini benar-benar ada rada padaku? Ya ampun. Aku harus bagaimana?