POV: Iqbal
Dari awal aku tak pernah merencanakan semua ini. Bahkan sudah mewanti-wanti diri sendiri, bahwa aku tak akan menjatuhkan hati pada wanita mana pun lagi. Rasanya hati ini, tak lagi percaya akan yang namanya cinta.
Seakan-akan, bagiku cinta sejati atau cinta tanpa syarat itu hanya mitos, tidak benar-benar ada di dunia ini.
Unconditional love itu hanya ada dalam kisah-kisah romance dalam novel. Di dunia hanya ada banyak hal lain yang harus diperhitungkan. Harta, pangkat, jabatan, ketampanan, hingga keadaan yang bentuk fisik seseorang akan begitu berpengaruh dalam sebuah rasa yang bernama cinta.
Aku tak percaya akan ada seorang manusia yang siap menerima pasangannya, bagaimana pun kondisinya. Aku tak percaya rasa cinta yang dimiliki orang itu akan tetap sama ketika terjadi perubahan yang begitu besar pada pasangannya. Entah dari segi fisik, tingkah laku, termasuk harta benda yang ia miliki.
Dulu, aku merasa, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa merasakan cinta yang sebenar-benarnya cinta. Namun, itu dulu.
Semenjak mengenal seorang gadis bernama Andini ini, semakin jauh, justru aku semakin yakin bahwa aku pun masih berhak untuk punya cinta.
Mengapa aku bisa berubah? Mungkin inilah penyebabnya.
Pagi-pagi sekali, aku sudah siap berangkat dari rumah. Entah mengapa pagi ini aku tiba-tiba saja ingin memakai baju terbaik, menyemprotkan minyak wangi lebih banyak dari biasanya. Bahkan aku sampaikan menyisir rambut beberapa kali untuk memastikannya benar-benar rapi dan tidak ada yang berantakan.
Aku juga lebih sering berkaca. Padahal tidak ada yang berubah setiap kali aku melihat ke benda datar itu.
Sebelum berangkat ku-lap lagi bodi sepeda motor untuk memastikannya benar-benar bersih dan mengkilap seperti baru. Padahal kemarin baru saja pulang dari cucian untuk di-door smeer.
Bisa ditebak, pagi ini aku akan pergi ke mana? Ya, aku akan menjemput Andini.
"Yuk, naik," ujarku ketika melihatnya sudah siap, dan melangkah ke luar rumah.
Kala itu kami hendak pergi ke rumah salah seorang konsumen. Lokasinya yang sedikit jauh, membuat Andini tidak berani pergi sendiri. Katanya daerah tersebut juga belum terlalu dikenalnya.
"Weeh, ini pertama kalinya aku dibonceng sama bang Iqbal ya. Biasanya aku yang boncengin," katanya sambil nyengir lebar.
"Iyaa. Bedanya kalau aku yang boncengin, gak nagih ongkos. Hahaha."
"Hahaha. Benar juga, ya."
"Yuk, naik. Keburu siang."
"Oke. Ayaaah, Andini berangkat ya."
"Pamit Pak!" Aku ikut berpamitan.
"Iyaa! Hati-hati jalannya, Bal."
"Baik, Pak!"
Di sepanjang perjalanan kami bercerita tentang banyak hal. Entah mengapa, bersama Andini aku begitu luwes mencurahkan segala isi hati, termasuk hal-hal yang mungkin menurut orang lain tidak penting, tetak kuceritakan.
Menariknya, gadis itu pun merespons positif setiap hal yang kuceritakan, memberikan masukan dan komentar, seolah-olah ia juga tertarik. Tidak seperti orang lain yang kadang mendengar curhat tanpa merespon, seolah-olah mau tak mau, terpaksa mendengarkan karena tak enak.
Dengan Andini, aku merasakan suatu frequency yang sama. Apapun topik obrolan yang sedang berlangsung, terasa nyambung. Seru sekali, tak membosankan.
Tak hanya itu, ada satu hal lagi yang membuatkan tak dapat mengelak dari perasaan ini.
Suatu ketika, sepulang mengantarkan pesan obat herbal, kami singgah di sebuah rumah makan untuk makan siang. Banyak pesanan yang diantarkan sejak pagi hari, tak terasa ternyata matahari sudah condong ke barat.
"Pesen apa, Bang? Ini kayaknya enak, sederhana, makanan rumahan. Mau?" Ia menunjuk gambar di menu. Ada telur goreng bulat dengan ikan laut disambal.
Jarang sekali kan, wanita di luar sana yang mau mengajukan opsi terbaik. Biasanya mereka selalu ingin dipilihkan, sehingga selalu saja menjawab "terserah" setiap di tanya. Mau ke mana? Jawabannya terserah. Mau makan apa? Terserah lagi. Nah, Andini berbeda.
"Boleh tuh pesen aja," jawabku.
"Mudah-mudahan gak pedes, ya. Abang kan ga boleh makan pedes," ujarnya kemudian.
Aku mengangguk. Sesaat kemudian baru kepikiran, dari mana ia tahu aku tak boleh makan yang terlalu pedas? Ya sudah lah, tidak penting.
Ketika pesanan datang, kami pun mulai makan dengan lahap. Namun, tak sesuai dengan perkiraan, ternyata sambal yang dihidangkan benar-benar pedas.
"Ehh, pedes banget ternyata, Bang." Andini menahan tanganku yang hendak menyuap. Ternyata dia udah buru-buru mencoba cabenya terlebih dahulu. "Abang makan bagian yang ga kena cabe aja, ya."
"Oke," jawabku. "Tapi gimana coba? Ini telurnya kan bergelimang cabe."
"Yaudah abng makan kuningnya aja ya. Sini aku bantu pisahin."
Tanpa persetujuanku, Andini langsung berinisiatif memisahkan kuning telur yang tidak terkena cabe dengan putihnya yang sudah bergelimang benda pedas itu.
"Naah, ini Abang makan kuning yang punyaku juga. Biar aku makan putihnya punya Abang. Jadi gak kepedesan deh."
"Kamu kuat makan pedes, Din?"
"Weeeh, jangan ditanya."
Sembari makan dengan lahap, aku pun memikirkan kejadian barusan. Bukankah kalau menjadi sepasang kekasih, kami berdua udah klop sekali? Benar-benar bisa saling melengkapi.
Ah, angan-anganku tiba-tiba meninggi kembali.
Semua itu karena gadis cantik bernama Andini tersebut.
***
Hari ini jadwal cuci darah, aku berangkat ke rumah sakit seperti biasanya. Bedanya, kali ini aku membawa sepeda motor sendiri, tak perlu menggunakan kendaraan umum atau memesan ojek lagi.
Aku berangkat lebih awal, sehingga bisa berkendara dengan santai tanpa harus ngebut dan terburu-buru. Apalagi jalanan masih sangat sepi sepagi ini.
Udara pagi yang dingin terasa membelai lembut jari-jari tanganku yang tidak tertutup. Untungnya, ada jaket tebal yang kembali sekujur badan, jadi dinginnya tidak merambah ke mana-mana.
Saat berangkat ke Rumah Sakit, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja, aku berpikir bagaimana nanti pulangnya? Terkadang sehabis cuci darah kepalaku terasa sangat pusing, pasti tidak akan kuat membawa sepeda motor sendiri, bahaya juga.
Ah, sudahlah. Kalau memang pusing, berarti aku istirahat saja terlebih dahulu di ruang tunggu rumah sakit, hingga rasa pusingnya berkurang.
Proses cuci darah berjalan seperti biasanya. Dua jam berjalan, dokter Zia Kamilla datang untuk visiting. Tidak ada yang aneh pada awalnya, hingga beberapa saat kemudian setelah visiting, dokter muda itu kembali mendekatiku.
"Iqbal."
"Iya, Dok?" Aku menatap heran, bertanya-tanya.
"Kemarin saya ke rumahnya Andini untuk menemui ayahnya. Katanya akhir-akhir ini kamu sering main ke sana, ya?"
"Eh, iya, Dok."
"Ngapain?"
"Hmm. Aku dan Andini ada kerjaan bareng, Dok. Jual produk herbal gitu."
"Ooh. Itu aja?"
"Maksudnya, Dok?" Aku semakin bertanya-tanya dalam hati, tak mengerti ke mana arah pembicaraan ini.
"Ya, gak ada tujuan lain?"
"Saya gak ngerti maksud Dokter," jawabku lagi.
"Maksud saya, jangan-jangan kamu dan keponakan saya punya hubungan spesial gitu? Enggak kan?" Intonasi suara dokter Zia terdengar begitu menegaskan, seolah-olah ia sedang memastikan kalau apa yang dikatakannya benar.
"I-iya, Dokter. Gak ada hubungan apa-apa kok antara saya dan Andini."
"Saya cuma bilang aja, Bal. Jangan sampai kamu berharap sama dia. Kan kamu tau sendiri posisinya, dia bukan orang sembarangan, dia keponakan saya, gitu loh."
Aku menelan ludah, mulai mengerti apa yang dimaksud dokter muda tersebut. Ya, sudah kuduga, hal seperti ini akan terjadi lagi.
"Iya, Dok. Saya paham kok. Saya gak akan berharap apa-apa juga. Kami cuma kerja bareng aja, gak lebih dari itu."
"Bagus deh. Andini itu calon perawat. Kan gak mungkin perawat jadian sama pasiennya, Bal. Haha." Dia tertawa santai seolah-olah tak ada beban mengatakan itu.
"Hahaha." Aku ikut tertawa, menutupi rasa jengkel. "Lucu juga ya, perawat sama pasiennya pacaran. Ada-ada aja, Dok. Gak mungkin lah."
"Ya emang gak mungkin harusnya, Bal. Tapi kadang-kadang di luar sana, ada orang yang gak tau diri. Gak sadar sama keadaan sendiri. Hehe. Yaudah saya lanjut dulu." Dokter Zia melanggar pergi, meninggalkan aku yang terdiam memikirkan perkataannya barusan.
Ah, benar juga apa yang dikatakannya.
Aku tahu betul bagaimana perjuangan Andini selama ini, demi kehidupannya dengan ayahnya. Dia rela berjuang seorang diri, sekuat tenaga bekerja sambil kuliah demi kehidupan yang lebih baik nantinya.
Kalau aku tetap egois dan memaksakan untuk hidup bersamanya. Tentu itu hanya akan membuat Andini semaksimal sulit dan susah. Perjuangkan berat yang sedang ku tanggung ini pun, ia akan ikut memikulnya. Aku tak tega melihatnya semakin susah.
Ah, bagaimana ini?
Kalau dipikir-pikir, sesuai logika. Seandainya aku benar-benar mencintai Andini, itu artinya aku harus melepaskannya bersama orang lain yang jauh lebih baik dan bisa membahagiakannya.
Benar, bukan? Apa aku salah?