POV: Andini
"Waah, udah ada yang bisa senyum-senyum sendiri pas baca WA, nih!" Aku dikagetkan oleh ucapan Suci sengan suara keras, hampir saja seluruh penghuni cafetaria ini melihat ke arah kami. "Siapa tuh!?" Ia mengintip.
"Hus!" ujarku sambil meletakkan jari di depan bibir. "Kamu, malu-maluin tau."
"Makanya, kasih tau dong. Kok kamu gak pernah cerita?" Tanpa persetujuanku, Suci tiba-tiba merebut HP yang ada di tangan, sepertinya dia begitu penasaran.
"Jangan hei!" Aku ikut berteriak kesal.
"Bang Iqbal? Siapa dia?" Suci membaca nama yang tertulis di layar HP.
"Bukan siapa-siapa, Ci. Ya ampun, kepo banget kamu. Gak boleh ngintip-ngintip HP orang, itu privacy."
"Heleeh, kamu ngomongin privacy lagi sama aku. Aku tau semua rahasia kamu, mau aku bocorin nih? Siapa bang Iqbal itu? Pacar kamu ya?"
Aku menggeleng. "Enggak. Cuma penumpang langganan ojekku kok."
"Iih, mana mungkin. Masa iya ada orang chatan sama penumpang sambil senyum-senyum sendiri."
Aku menyengir. Sebenarnya tujuanku mengajak Suci bertemu sore ini adalah untuk menceritakan tentang hal ini, dan meminta masukan darinya. Namun, melihat ke-kepoan di wajah Suci aku jadi tertarik untuk menggodanya.
"Sebenarnya aku memang mau curhat soal orang itu, Ci."
"Hah? Jadi bener, sayang aku ini udah punya pacar?" Ia menempel di pundakku seketika. "Beneran nih?"
"Gak pacaran sih. Cuma akhir-akhir ini aku emang deket sama dia, Ci. Soalnya kami ada kerjaan bareng gitu, jadi sering ke mana-mana bareng, gitu."
"Ya, emang gitu awalnya. Cinta bisa ada karena terbiasa bersama. Awalnya bukan siapa-siapa, lama-lama mulai terasa nyaman, hingga akhirnya ingin memiliki dan takut kehilangan." Suci mengedipkan sebelah matanya, menggoda seperti biasa.
"Bisa ajaa kamu, Ci!" Aku mendorong kepalanya menjauh.
"Seperti apa orangnya? Penampilannya gimana? Ada nyimpan fotonya gak?" Suci langsung menghujaniku dengan beberapa pertanyaan.
Aku tersenyum malu. "Kayaknya kami belum ada berfoto bareng sih. Hehe."
"Yaudah coba ceritain, dia gimana orangnya? Kenapa kamu bisa suka sama dia?"
"Jujur ya, sebenarnya penampilan bang Iqbal itu biasa aja, Ci. Wajahnya biasa aja, gak terlalu ganteng, juga gak bisa dibilang jelek. Kulitnya cerah, cuma sedikit kering. Rambutnya yang ikal dipotong pendek, setiap kali bertemu selalu terlihat dia tampil rapi. Orangnya kurus, sedikit lebih tinggi dari aku. Hidungnya mancunh, matanya coklat, senyumnya manis. Aku suka sekali melihat dia tersenyum, seolah-olah mengajak semua orang disekitarnya untuk sejenak melupakan kesedihan."
"Uuuh." Suci terpana mendengar penuturanku. "Ya ampuun!"
"Kenapa?" tanyaku.
"Aku bukannya fokus mendengarkan ciri-ciri orangnya, Sayang. Malah fokus ke ekspresi wajah kamu pas ngebayangin dia. Ya Tuhan, akhirnya aku bisa melihatmu jatuh cinta, Din. Matamu berseri-seri waktu nyeritain orang bernama Iqbal itu."
Aku speechless, tak tahu harus menjawab apa. Tak biasanya aku malu-malu begitu di depan Suci.
"Ah, aku penasaran pengen ketemu laki-laki yang bisa membuat hati sahabatku meleleh gini. Hahaha. Gadis itu tertawa.
" Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Dia sakit, Ci."
"Eh?" Wajah Suci berubah serius. "Sakit apa, Din?"
"Dia kena Gagal Ginjal Kronik, gitu. Jadi harus terus cuci darah dua kali seminggu."
"Seriusan?"
Aku mengangguk pelan. "Menurut kamu gimana? Ayahku belum tau kalau dia sakit, jadi sekarang kayaknya masih senang-senang aja begitu tau aku dekat sama bang Iqbal. Lagian bang Iqbal bisa banget ngambil hati orangtua, udah akrab banget tuh, ngobrolin apa aja sama ayah pas main ke rumah. Tapi aku gak tau gimana jadinya kalau ayah tau kondisi laki-laki itu."
Suci berpikir sejenak, lalu menyerupai minumannya. "Aku paham bagaimana keadaan pasien GGK, di saat stabil mereka terlihat seperti orang sehat aja kan. Nanti begitu drop sewaktu-waktu, bakal kelihatan banget begitu parah keadaannya."
"Iya itu dia, Ci."
"Hmmm. Aku gak bisa ngomong banyak sih, Din. Aku tetap dukung setiap keputusan kamu. Dengan kondisi seperti itu, bukan berarti kalian gak bisa bahagia kan? Dia juga pasti masih bisa bekerja, mengerjakan hal-hal yang mampu ia lakukan."
"Kalau soal itu, aku gak ragu, Ci. Semangat kerjanya luar biasa, bahkan ngalahin orang-orang yang lebih sehat. Sekarang aja dia lagi mimpinya project yang aku bilang tadi. Bukan itu yang aku khawatirkan."
"Lalu? Restu keluarga, ya?"
"Iya. Gak semua orang bakal bisa ngertiin dan nerima keadaan dia."
"Menurutku gini aja, Din. Kamu pikir lagi matang-matang semuanya. Apalagi untuk dibawa serius. Apa kamu udah siap menghabiskan waktu seumur hidup dengan seseorang yang memiliki kondisi seperti itu?"
Aku menghela napas panjang.
"Tapi balik lagi sih. Aku percaya, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Dia yang punya kekurangan seperti itu, pasti juga punya kelebihan yang luar biasa di baliknya."
Aku mengangguk. "Iya, aku juga percaya tentang itu, Ci."
"Kalau untuk izin, aku yakin ayahmu pasti bisa membuat keputusan yang bijak juga, Din. Ayahmu pasti juga mau anaknya bahagia. Yang penting kamunya dulu nih, yakin gak sama dia?"
"Aku pikirin matang-matang lagi deh. Makasih ya, Ci, atas masukannya. The best emang." Aku merangkulnya.
"Hahaha. Tau kok aku emang the best. Pokoknya apa pun keputusan kamu, aku pasti dukung."
Aku tengah di hadapkan pada sebuah keputusan yang sulit, sebelum memberitahu ayah tentang keadaan bang Iqbal, pertama-tama aku harus meyakinkan diri sendiri terlebih dahulu.
Banyak hal mulai bermunculan di benakku saat ini. Termasuk perkataan tante Zee tempo hari.
***
Suatu pagi, setelah malamnya aku bercerita tentang khasiat obat herbal yang dirasakan ayah, bang Iqbal datang ke rumahku. Itulah kali pertama ia datang bertamu dan berkenalan dengan ayahku secara langsung.
"Andini! Ada yang datang tuh di depan, Din. Kayaknya teman kamu." Ayah yang sedang duduk di ruang tamu memanggilku.
Aku masih di kamar, sedang bersiap-siap berangkat ngojek, baru saja selesai mengganti baju. Siapa yang datang pagi-pagi begini? Aku pun bertanya-tanya.
"Eh, bang Iqbal?" Aku spontan teringat obrolan via w******p tadi malam, ternyata laki-laki itu benar-benar datang.
"Teman dari kampus, Din?" Ayah yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku bertanya.
"Bukan, Yah. Itu bang Iqbal yang penyiar radio Gema FM," jawabku.
"Waah, kok bisa tahu rumah kita?"
Aku menggeleng, tak tau juga.
Bang Iqbal turun dari ojek, lalu melangkah mendekat. "Selamat pagi, Pak. Selamat pagi, Andini."
Laki-laki itu langsung bersalaman dengan ayahku dan mencium tangannya. Ia sopan sekali, jarang-jarang zaman sekarang anak muda yang masih mau mencium tangan orang tua saat bersalaman.
"Saya Iqbal, Pak," ucapnya.
"Saya ayahnya Andini." Ayahku ikut memperkenalkan diri, dan dijawab dengan senyuman khasnya bang Iqbal. "Ayo masuk-masuk."
"Terima kasih, Pak."
"Waah, suaranya beda ya sama yang di Radio," kata ayah saat bang Iqbal sudah duduk di kursi ruang tamu.
"Iya, ya, Pak? Emang banyak sih yang ngomong gitu. Katanya suara pas ngomong langsung sama pas ngomong di Radio beda banget. Iqbal juga gak tau kok bisa gitu."
"Hehehe. Tapi masih sama-sama enak didengar kok."
Mereka mulai asyik mengobral begitu saja, seolah-olah sudah saling mengenal.
"Din, ambilin minum buat temannya. Ayah ke kamar dulu," ucap ayah kemudian.
"Eh, Ayah. Bang Iqbal nya ke sini mau ketemu Ayah, bukan Andini."
"Loh, iya, Bal?"
"Iya, Pak. Hehe."
"Ada perlu apa?"
"Begini, Pak ...."
Bang Ibqal pun menjelaskan panjang lebar tentang keperluan testimoni yang direkam langsung dari kesaksian para konsumen yang sudah merasakan khasiat dari produk herbal tersebut. Dia meminta kesediaan ayahku untuk direkam suaranya.
Sebenarnya dari tadi malam, aku sudah berencana menceritakan tentang hal ini pada ayah, tapi ayahku keburu tidur. Pagi ini ketika baru mau bercerita, eh tiba-tiba bang Iqbal sudah terlebih dahulu datang.
Ayahku bersedia, katanya ia senang sekali kalau suaranya bisa terdengar di Radio.
Wawancara pun dimulai. Aku ikut menyaksikan bagaimana sabarnya bang Iqbal beberapa kali mengarahkan dialog ayahku yang tiba-tiba saja jadi terkesan berbelit-belit saat menjawab pertanyaan. Rekaman sempat diulang beberapa kali. Terkadang juga diselingi dengan gelak tawa ketika ada perkataan ayah yang terdengar lucu.
"Udah, Bal?" tanya ayahku setelah sekian lama.
"Hmmm, kayaknya udah cukup kok, Pak. Nanti akan ada tim kami yang lain untuk editingnya."
"Baiklah. Saya ke belakang bentar, ya."
Bang Ibqal mengangguk, kemudian mengecek kembali rekamannya.
"Gimana, Bang? Beneran udah cukup?" Aku bergeser mendekati laki-laki itu.
"Kayaknya udah, Din. Yang salah-salah, bisa di-cut kok nanti. Bisa suruh kak Bunga ngedit."
"Oh, bagus deh."
"Ngomong-ngomong, makasih banyak loh, Din, udah ngasih ijin buat wawancarain ayah kamu."
"Iya, Bang. Sama-sama. Lucu juga ya, aku gak nyangka ternyata ayah juga bisa ngelucu kayak gitu. Hahaha."
"Iya, Din. Tapi bagus juga, biar dialognya gak berkesan tegang."
"Iya, Bang. Hehe."
Semenjak kedatangan pertama hari itu, bang Iqbal semakin sering datang ke rumahku untuk bertemu dengan ayah. Kalau sudah lama laki-laki itu tidak datang, malah ayahku yang menanyakan tentangnya.
Aku pun dengan senang hati menyampaikan pesan ayah padanya lewat w******p.
Dari sana lah awal mula kedekatan hubungan kami, tanpa disengaja. Yang pada awalnya, bang Iqbal hanya lah salah satu penumpang ketika aku membawa ojek online.