POV: Andini
Rutinitas biasa, kembali dimulai pagi ini. Ke kampus untuk mengikuti kelas pagi, kemudian setelahnya aku akan disibukkan dengan pekerjaan sampingan. Mencari uang.
Semua hal berjalan dengan baik di kampus akhir-akhir ini. Aku mengikuti saran bang Iqbal beberapa waktu yang lalu, kala itu aku bertanya tentang bagaimana cara menyikapi perlakuan buruk orang lain.
"Di kondisi Abang seperti sekarang ini, semenjak divonis dengan penyakit itu, pasti banyak dong orang-orang yang memandang sepele atau nganggap Abang lemah? Maksudku, walaupun segimana pun kita tampil kuat, atau menguatkan diri sendiri, pasti ada aja negative people di luar sana yang nyoba buat ngejatuhin kan?"
"Betul banget."
"Gimana cara Abang mengatasinya? Sharing dong, aku lagi berhadapan dengan orang-orang toxic di kampus nih. Diladenin, buang-buang waktu, dibiarin malah ngelunjak."
"Kalau prinsip aku gini aja, Din. Kita gak punya kekuatan buat mengubah perlakuan orang lain, tapi kita bisa mengubah sikap terhadap perlakuan mereka. Ibarat pepatah, dua tangan kita ga cukup buat nutup mulut semua orang, tapi itu udah cukup buat nutup telinga sendiri."
Aku mengangguk-angguk. Benar juga katanya. Ternyata bang Iqbal ini filosofis juga.
"Intinya gini deh. Kalau ada orang yang koar-koar di belakang kita, itu artinya kita ada di depan. Sama halnya dengan, kalau ada orang yang berusaha menjatuhkan kita, itu artinya kita berada di atas mereka. As simple as that."
Sejak saat itu aku mulai belajar untuk bersikap masa bodo dengan omongan orang-orang toxic di kampus ini. Terutama para penggemar fanatik kak Gilang yang terus-terusan memusuhiku tanpa alasan yang jelas. Padahal aku tak pernah lagi dekat-dekat dengannya.
Ternyata kalau diabaikan, tidak diambil pusing, lama-lama mereka capek sendiri. Aku fokus saja dengan urusanku sendiri. Datang ke kampus, masuk kelas, beres, pulang. Tak ada waktu buat memusingkan orang lain, urusanku saja sudah cukup rumit.
Jujur saja. Saat ini, aku belum tahu pasti bagaimana perasaannya padaku, tapi aku masih dilanda keragu-raguan, dan juga serba salah. Jika suatu saat ternyata bang Iqbal mengutarakan perasaannya, harus harus bagaimana? Apakah aku benar-benar sudah siap untuk menerima seorang Iqbal Maulana dengan segala macam bentuk kekurangan dan kelebihannya.
Jika tidak, aku khawatir hanya menjadi orang jahat yang datang memberikan harapan lalu pergi menyisakan luka untuknya nanti. Namun, itu tentu saja kalau semuanya sesuai perkiraanku. Soalnya, walaupun akhir-akhir ini aku merasakan hubungan kami semakin dekat dan dekat, tetap saja belum ada tanda-tanda kalau ia ingin mengungkapkan perasaan.
Jangan-jangan ini cuma pemikiran PD aku sendiri saja. Entahlah.
Mengenal bang Iqbal membawa vibes yang begitu positif dalam hidupku. Dulu saat sedang ada masalah berat, aku suka menyendiri, lalu menagis memikirkannya. Ketika itu akan terbayang semua problematika dan beban hidup yang sudah kupikul sejak dulu, membuat kesedihanku semakin menjadi-jadi.
Namun, kini semenjak mengenal dia dengan beban berat yang jauh lebih berat dari bebanku, selalu dipikul di pundaknya, tanpa mengeluh sama sekali. Aku jadi malu sendiri.
"Bang Iqbal benar-benar tinggal sendirian di sini selama ini?" tanyaku suatu ketika, kala itu adalah waktu pertama kalinya aku masuk ke kediaman bang Iqbal, menjenguknya yang sedang sakit.
"Yaa, iya, Din. Bisa dibilang begitu. Kadang-kadang si Leo nginap sih kalau siaran malam," jawabnya.
Aku menatap jeri tangan kiri yang membiru, ruam-ruam yang begitu banyak. Tak terbayang bagaimana sakitnya.
"Kamu tau dari mana aku sakit?"
"Itu si Leo ngirim di grup, katanya Abang nge-drop habis cuci darah kemarin. Sebenarnya kenapa, Bang?" tanyaku khawatir.
"Hahaha. Si Leo bisa aja." Dia malah tertawa, lalu mengubah posisi duduk dengan wajah meringis menahan sakit. "Kemarin pas cuci darah pembuluh vena di tanganku pecah, Din. Biasa kok."
"Kok bisa pecah gitu?" Aku semakin bergidik mendengar kata "pecah" yang disebutnya dengan santai.
"Bisa karena posisi pemasangan jarum yang kurang pas. Perawat kan juga manusia, kadang-kadang bisa meleset juga perkiraannya. Akhinya pembuluhnya pecah, trus darah luber ke mana-mana. Makanya jadi biru-biru nih, kayak habis kena tonjok. Hahaha." Dia tertawa lagi.
Aku sama sekali tidak ikut tertawa. "Sakit pasti ya, Bang?"
"Tadinya iya, tapi pas kamu datang jadi ilang nih." Dia nyengir, mulai bercanda.
"Iih, serius." Aku cemberut.
"Ya lumayan lah, Din." Ia tampak menghela napas, kembali serius. "Kemarin dari RS aku gak kuat bawa motor, makanya langsung minta tolong sama Leo. Tadi pagi, dia juga yang nganterin sarapan buat kumakan. Emang the best Junior yang satu itu. Hahaha."
"Gak apa-apa Abang sendirian di sini? Maksudnya, kan kondisi bang Iqbal lagi gak baik-baik aja."
"Ya gimana lagi. Hehe." Ada sebersit kesedihan dari sorot mata laki-laki itu yang kutangkap, tetapi selalu ditutupi dengan senyum atau tawanya.
"Keluarga Abang yang lain gak ada juga?"
Ia menggeleng pelan. Saat itu lah akhinya bang Iqbal menceritakan padaku semua tentang dia dan keluarganya.
"Bang."
"Iya?"
"Lain kali kalau kenapa-kenapa di RS atau di jalan habis cuci darah, jangan sungkan-sungkan buat ngehubungin aku ya," ujarku sebelum pamit pulang.
Dia tersenyum lagi. "Siaap!" jawabnya.
***
Dari kampus, aku pulang ke rumah terlebih dahulu sebelum berangkat ke Radio Gema FM untuk mengambil stok produk yang akan diantarkan.
Akhir-akhir ini, sudah jarang sekali aku menarik penumpang. Kadang-kadang sehari hanya sekali atau dua kali. Kalau ada waktu senggang saja, ketika aku juga belum merasa terlalu lelah dan mager.
Soalnya, penghasilan menjadi kurir dan sales produk herbal itu lebih besar, pekerjaannya pun lebih ringan.
Kadang-kadang di satu tempat aku bisa menjual beberapa botol, dan tak jarang juga lokasi rumah konsumennya hanya di sekitaran sini, jadi tak butuh waktu lama untuk berkendara. Ongkos kirim dan juga fee dari penjualan sudah lebih dari cukup untuk keperluan sehari-hari, bahkan sebagian masih bisa kutabung.
Aku berkendara dengan santai dari kampus siang ini, tak perlu buru-buru karena memang tak begitu dikejar waktu. Masih setengah dua belas siang.
Di depan rumah, aku melihat mobil yang tidak asing itu lagi. Sudah lama juga sejak terakhir kali tante Zee tidak datang ke sini, sepengetahuanku, tidak tau kalau di belakangku. Mau apa lagi dia?
Ku parkir sepeda motor di sudut halaman, lalu melangkah pelan. Terdengar suara orang yang sedang bercakap-cakap di dalam rumah. Aku mengendap, sepertinya mereka tidak menyadari kedatangku. Apa yang dibicarakan ayah dan Tante Zee?
"Yang benar kamu, Zia? Dia kelihatan sehat aja kok. Anaknya juga baik, ramah, sopan juga. Gak masalah lah kalau mereka temenan."
"Benar, Bang. Dia itu salah seorang pasien Zee di rumah sakit. Kalau gak salah udah lebih lima tahun dia cuci darah. Gagal Ginjal Kronis."
"Dia kelihatan sehat, tapi ya."
"Emang gitu, kalau pasien cuci darah bisa jaga badannya, bisa kelihatan kayak orang sehat juga. Tapi ya mereka tetap harus cuci darah."
Dari yang kudengar, sepertinya mereka berdua tengah membicarakan tentang bang Iqbal. Untuk apa Tante Zee memberitahu ayahku tentang hal itu?
"Kelihatannya Andini makin hari makin dekat sama dia, Bang. Jangan sampai ada apa-apa sama anak itu. Kalau berteman aja gak apa-apa sih."
"Kenapa emangnya, Zia?"
"Loh emang Abang mau Andini punya pasangan sakit-sakitan kayak gitu? Yang benar aja, Bang."
"Ya, yang namanya sakit, suatu saat pasti bakal sembuh kan."
"Gimana sih, Bang? Gagal Ginjal itu gak bisa sembuh! Dia harus cuci darah seumur hidup loh. Belum lagi sewaktu-waktu bisa ngedrop, ada kemungkinan meninggal sewaktu cuci darah juga."
"Seumur hidup? Serius kamu?"
"Masak aku bohong sih, Bang. Aku ini dokter loh."
Ayahku diam sejenak, lalu menghela napas panjang. Entah apa yang dipikirkannya. Aku terus diam di depan pintu, mendengarkan.
"Abang mau Andini jadi janda di usia muda nanti? Enggak kan."
Ayah masih diam.
"Kalau gitu, sebelum hubungan mereka terlalu jauh, Abang halangi dari sekarang."
Bruak! Aku membuka pintu dengan keras, tak tahan lagi. Mataku berkaca-kaca, tangis hampir tumpah.
"APA-APAAN TANTE NGATUR-NGATUR HIDUP AKU? HAH!?" ujarku lantang.
Mereka berdua tampak kaget dengan kedatanganku yang begitu tiba-tiba.
"Aku bisa ngatur hidupku sendiri, mau dekat dengan siapa, mau pilih orang yang mana? Gak perlu didikte! Aku bisa nyari kebahagiaanku sendiri!"
Tante Zee ikut berdiri di hadapanku, sepertinya ia tak mau menahan diri lagi. "Saya ngelakuin ini demi kebaikanmu kamu, Anak Bodoh! Kamu ngarepin apa dari orang sakit kayak gitu?"
Aku tak mau kalah, dia melotot aku balas melotot.
"Seumur hidup kamu bakalan kesusahan! Kondisi pasien HD itu tidak selamanya akan stabil. Mereka rentan nge-drop, tak punya tenaga, fisiknya lemah."
"Lalu kenapa? Kalau saya mau?"
"Satu hal lagi, saya bilang. Mereka belum tentu bisa punya keturunan! Paham kamu!?" Tante Zee menaikkannya suaranya satu oktaf dengan bola mata nyaris melompat keluar. Kemudian pergi tanpa kata-kata lagi dari rumahku, meninggalkan aku yang diam mendengar kata-katanya.
Ooh, aku paham ke mana lagi arahnya ini. Lagi-lagi keluarga ini bertindak bukan demi aku, bukan demi kebahagiaanku, atau apapun itu namanya. Namun, demi generasi penerus merek lagi.
Tante Zee tidak bisa memiliki keturunan, karena pernah mengalami kecelakaan yang membuat rahimnya diangkat.
Mereka ingin memperalat aku lagi, sama seperti dulu pernah memperalat ibuku.
Tak akan kubiarkan.
"Din." Ayah memanggilku lembut sambil menyentuh pelan bahuku yang naik turun seiring napas yang memburu, masih terbawa emosi. "Dah-daah, duduk dulu, sabar. Kamu kan dari dulu udah tau gimana karakter tantemu itu. Jangan terlalu ditanggapi. Dia paling juga ngasih masukan, biar kamu gak salah dalam ngambil keputusan."
Aku diam saja, sambil terus berpikir bagaimana caranya menghadapi wanita satu itu. Dia bertingkah seolah-olah penguasa di sini, padahal kami tak pernah meminta apa pun lagi padanya.
"Kamu kenapa gak bilang sama ayah kalau pacarmu itu sakit?"
Aku sedikit kaget saat ayah menyebutkan kata "pacar". Padahal aku dan bang Iqbal sama sekali tidak berpacaran, maksudku, belum.
"Memangnya kenapa, Yah? Apa gara-gara penyakit yang dipunya, seseorang jadi tidak berhak untuk dicintai atau bersama orang yang dicintainya. Apa gara-gara vonis dokter, seseorang jadi tidak berhak bahagia, Yah? Apa begitu menurut pendapat Ayah?"
"Bukan gitu, Din. Setidaknya kamu cerita sama Ayah."
"Kalau Dini cerita, emangnya Ayah gak apa-apa dengan kondisi dia?"
Ayahku menghela napas lagi, lalu menjawab pelan. "Ayah cuma pengen kamu bahagia. Jadi, ayah minta kamu mikirin baik-baik, ya. Apa pun yang menurut kamu terbaik, ayah dukung."
Aku tersenyum memeluk lengan ayah. "Makasih, Ayah. Dini janji bakal mikirin semuanya baik-baik."
"Kadang orang tua berpikir kalau dia lah yang paling tau mana yang terbaik buat anak-anaknya, tanpa memberikan kesempatan untuk sang anak mengajukan pendapatan. Menurutnya Ayah itu gak benar, jadi Ayah gak mau menjadi sosok orangtua seperti itu," sambungnya lagi.
"Trus omongan tante Zee tadi gimana, Yah?"
"Yaah, gak usah dipikirin, Din. Dia dengarkan pendapat dia karena dia bagian dari keluarga kita, tapi tidak serta-merta harus diterima bulat-bulat juga kan."
Aku mengangguk, senang dengan kata-kata Ayah kali ini. "Lagian kan, aku sama bang Iqbal cuma temenan aja, Yah. Cuma rekan kerja. Gak pacaran juga." Belum, sambungku dalam hati.
"Haha. Kalian gak bisa bohong sama Ayah. Ayah juga pernah muda kali, Din. Kelihatan banget gelagatnya. Orang-orang yang sedang dilanda cinta. Hahaha." Ayah tertawa lagi.
"Iiih, Ayah bisa aja, ya." Aku mencari pinggangnya pelan, ayah pun makin terkekeh.