POV: Iqbal
Aku masih bercelana pendek sembari menikmati sisa makanan semalam sebagai menu sarapan pagi ini. Kebiasaan lama memang begitu sulit untuk dihilangkan, aku sudah terbiasa untuk menghemat makanan. Walaupun sebenarnya pagi ini bisa membeli menu lain untuk sarapan, sayang saja rasanya makanan semalam dibuang begitu saja.
Tiba-tiba pintu diketuk. Aku bertanya-tanya siapa yang bertamu pagi-pagi begini? Kubuka tirai jendela sedikit untuk mengintip. Lalu buru-buru memakai celana yang lebih sopan saat mengetahui siapa yang datang.
"Abang," sapanya begitu melihatku keluar.
"Andini? Rapi banget mau ke mana pagi-pagi?"
"Ke kampus lah, Bang. Masak ke Penghulu?" Celetuknya yang kadang-kadang lucu, membuatku tertawa spontan.
"Ohh, iya ya. Trus ada apa?"
"Abang udah sarapan?" tanyanya balik.
"Ini lagi sarapan, lauk semalam masih ada, diangetin dalam magic jar," jawabku.
Ragu-ragu tangannya terjulur maju. "Ini, buat Abang," katanya.
"Apa nih?"
"Liat aja. Semoga suka ya, jarang-jarang loh aku masak pagi-pagi."
"Eh, kok repot-repot sih?"
"Yaudah aku ke kampus dulu. Daah." Dia langsung pergi, bahkan tak melihat ke arahku lagi. Apa dia malu? Kok jadi buru-buru pergi begitu.
Aku pun melangkah ke dalam rumah membawa rangang kecil dua tingkat yang diberikan gadis itu. Aroma sedapnya tercium. Apa ya ini? Aku penasaran dan langsung membukanya.
Di bagian atas, saat dibuka langsung terlihat bihun yang diberi cabe. Aromanya sedap itu berasal dari sini. Kelihatannya sangat enak, semok saja tidak pedas. Tentu saja Andini paham kalau aku tak boleh makan yang terlalu pedas.
Tanpa menunggu lama-lama lagi, aku pun membuka yang bagian bawah. Nah, yang satu ini membuatku tertegun sesaat kemudian tersenyum lebar. Ya ampun, ada-ada saja yang dibuat gadis cantik bernama Andini itu.
Andini memasak perkedel kentang untukku. Sebenarnya perkedel adalah hal yang biasa, tapi yang spesial adalah bentuknya. Sepertinya perkedel ini sengaja dibentuk menyerupai hati. Sayang rasanya menggigit makanan ini, mengingat bentuknya yang sangat unik.
Ah, Andini, ada-ada saja. Sepanjang sarapan aku tak henti-henti tersenyum setiap melihat ke arah perkedel berbentuk hati tersebut.
Entah bagaimana caranya kehadiran gadis itu membuat pertahananku runtuh. Benteng besar yang kubangun sekuat hati semenjak luka dalam yang ditinggalkan sang mantan, agar luka yang sama tak pernah tercipta lagi di dasar hati, kini hancur sudah.
Mengenalnya membuatku berharap lagi akan hadirnya sebuah rasa yang bernama cinta. Luka lama yang dulu pernah menganga, kini tak lagi terasa, sirna begitu saja. Sepertinya calon perawat itu begitu telaten merawat luka di dalam d**a, hingga bisa sembuh sempurna tanpa perlu waktu yang lama.
Akhir-akhir ini, aku juga merasa lebih percaya diri. Memang benar kata orang bijak, seorang pria bisa merasa mardeka ketika foto Sukarno-Hatta sudah berbaris di dompetnya.
Memang benar, uang bukanlah segala-galanya, tapi dengan uang, segalanya terasa lebih indah dan urusan pun jadi lebih mudah.
Setidaknya sudah merasa cukup PD untuk datang ke rumahnya, atau mengajaknya jalan-jalan sejenak ke luar rumah. Ke tempat makan, atau tempat hiburan, tanpa khawatir lagi nanti harus bayar menggunakan uang dari mana.
"Salah satu perkedel ternikmat dan terindah yang pernah kumakan," tulisku di story w******p dengan menyertakan foto perkedel yang sedang kumakan.
"Iiih, malu, tau!" Orang yang pertama kali berkomentar adalah Andini yang langsung saja membuka story-ku. Sepertinya ia baru sampai di kampus.
"Hahaha. Kok malu?" Kukirimkan sebaris emoticon tersenyum senang.
"Orang-orang yang liat pasti langsung tau itu siapa yang ngasih. Terutama teman-teman di Gema FM. Kan mereka taunya yang deket sama Abang ya cuma aku," balasnya.
"Jadi gimana? Hapus nih?"
"Hmm. Yaudah gak usah deh."
Aku terkekeh. Dasar, cewek. Kadang-kadang tak jelas maunya apa.
"Ngomong-ngomong, makasih banyak ya udah dimasakin sarapan," tulisku kemudian.
Andini membalas dengan emoticon senyum. "Suka?" tanyanya.
"Banget."
"Masa?"
"Iyaa looh. Ya ampun. Sana kuliah."
"Siaap, Bos!"
***
"Bang, sebenarnya kita ini apa?" tanya Andini suatu ketika. Pertanyaan yang membuatku tersentak kaget.
"Maksudnya?"
"Ya, kita ini statusnya apa sih? Banyak yang nanya, sebenarnya Andini sama Iqbal pacaran apa gimana?"
"Hmmm." Aku berpikir sejenak, mencoba mencerna ke mana arah pertanyaannya.
Masalahnya, kadang-kadang wanita menyembunyikan sebuah pertanyaan terselubung di balik pertanyaan lainnya. Banyak bisa jadi menyembunyikan pertanyaan di balik pernyataan. Jadi tidak bisa asal menjawab.
"Emangnya status itu penting, ya? Maksudnya buat kamu itu penting?"
"Ya penting lah. Biar jelas, kalau orang nanya, aku udah punya cowok belum. Mau jawab udah, ternyata belum. Jawab belum, statusnya ada yang lagi dekat. Kan bingung." Ekspresi wajahnya membuatku gemas.
"Kamu yakin, Din, mau sama aku?" kubalas dengan pertanyaan.
"Lah, Abang gimana, yakin sama aku?" dia pun sama.
"Gak ada yang perlu diragukan dari kamu, Din."
"Trus apa bedanya? Apa yang perlu diragukan dari Abang?"
"Ya, banyak. Kondisiku, keadaan fisikku, penyakitku. Aku punya banyak kekurangan yang sepantasnya membuat kamu ragu."
"Tapi kan semua kekurangan Abang juga dibarengi dengan berbagai macam kelebihan yang orang lain gak punya."
Aku menghela napas panjang. "Jadi intinya, kamu yakin?"
Andini mengangguk.
"Aku gak mau pacaran. Sungguh. Rasanya di umur segini, yang namanya pacaran udah gak waktunya buat aku, Din. Malu sendiri. Tunggu ya, di waktu yang tepat aku akan melamarmu," ucapku sungguh-sungguh.
"Hah?" Andini tercengang. "Beneran, Bang?"
Aku mengangguk mantap.
Kami terdiam sesaat, memandang ke arah yang sama. Ya, ke arah aliran sungai batang Agam. Alirannya yang deras seiring dengan hujan lebat yang turun malam tadi, begitu menarik di pandang mata.
"Jadi? Kita komitmen, gitu?"
"Boleh?" tanyaku.
"Hahaha. Kok boleh? You're the leader. Aku akan ngikutin apa yang baik menurut Abang," jawabnya dengan senyuman khas.
"Semoga dimudahkan jalannya, ya. Aku pengen ngembangin usaha dulu."
"Bang, ngomong-ngomong, dulu kan Abang pernah bilang kalau Abang udah gak percaya lagi sama yang namanya cinta. Sejak ngerasain sakit hati yang luar biasa waktu itu. Benar kan?"
"Oh iya."
"Sekarang gimana? Masih gak percaya sama yang namanya cinta? Gak percaya sama the Power of Love?"
"Hahaha."
"Kok ketawa sih? Jawab dong."
"Aku gak tau mau jawab apa, Din."
"Ya percaya apa enggak."
"Hmmm. Cinta itu kan bukan hal kecil yang bisa dibuktikan sesaat. Untuk sekarang, yang aku percaya, ada kamu di sini, di sampingku. Dan itu udah cukup kok."
"Hmmm. Oke deh."
"Thank you, so much."
"Hah? I didn't do anything."
"For existing."
***
"Ada berapa botol lagi yang harus diantar?" tanyaku sambil makan.
Seperti biasa sejak pagi tadi, mumpung hari minggu, aku dan Andini fokus mengantarkan pesanan produk jamu herbal. Mengingat di hari libur seperti ini banyak orang-orang yang stay di rumah, tidak ke tempat bekerja. Pesanan cukup banyak, tapi masih bisa di-handle oleh kami berdua.
"Ada tiga lagi, Bang. Tapi lokasinya berdekatan kok. Cuma yang satu ini, pelanggan baru kayaknya, aku belum pernah nganter ke rumahnya sebelum ini. Kita harus nelpon nanti nanyain posisi rumahnya di sebelah mana. Alamatnya kurang lengkap."
"Oke sip," jawabku.
Tepat jam satu siang, kami singgah di salah satu rumah makan di pinggir jalan untuk mengisi perut.
Sebenarnya proses mengantarkan produk ini tidak makan waktu yang lama, tapi terkadang di rumah konsumen yang notabene adalah pendengar radio, kadang-kadang mereka mengajak ngobrol dulu. Akhirnya terpaksa duduk dulu, meladeni mereka, sehingga kadang-kadang tak terasa waktu sudah termakan cukup banyak.
Apalagi kalau ternyata konsumennya adalah pendengar lama yang sudah mendengar aku bersiaran sejak dulu. Mereka seperti menganggapku anak sendiri. Pulang-pulang disuruh bawa makanan, buah-buahan, bahkan kadang diberi telur ayam.
Aku dan Andini sudah menjadi tim yang solid. Berdua kami bisa mengantarkan banyak pesanan dalam sehari. Aku berkendara sedang ia di belakang memastikan alamat. Menelepon konsumennya pun adalah tugasnya.
"Jangan kebanyakan minumnya, Bang," tegurnya begitu melihatku minum dengan rakus air putih di dalam gelas. "Ingat cuci darahnya hari Rabu, masih lama. Sekarang masih Minggu loh."
"Hehehe. Iyaa," jawabku, lalu menaruh gelas.
Gadis itu sudah paham betul apa yang boleh dan apa yang tidak boleh kumakan dan ku minum. Bahkan takaran minumku dalam sehari, ia sudah hapal. Kadang-kadang sampai membuatku heran sendiri.
Saat kami sedang sibuk membicarakan ke mana arah dan tujuan selanjutnya, tiba-tiba aku menangkap ekspresi wajah Andini yang berubah secara spontan. Seolah-olah ada sesuatu yang tidak disukainya baru saja terjadi. Apa aku salah bicara? Sepertinya tidak.
Aku memutar kepala melihat ke belakang. Ternyata benar. Sesosok wanita yang tidak kami harapkan tiba-tiba saja muncul memasuki rumah makan ini. Sepertinya secara tidak sengaja, ia juga hendak makan siang di tempat yang sama. Aku baru sadar kalau jarak rumah makan ini tidak begitu jauh dari rumah sakit.
Ya, dia adalah dokter Zia Kamilla.
Aku berpikir bagaimana cara menghindarinya, sebelum perempuan itu sempat melihat kami. Sayangnya, pintu masuk dan keluar rumah makan ini hanya ada satu.
"Eh, kalian?"
Deg. Jantungku berdegup. Ternyata selagi aku berpikir, dokter Zia sudah terlebih dahulu melihat kami.
"Eh, dokter. Makan di sini juga ya?"
Ia mengangguk. "Mau ke mana kamu, Dini!?" Nadanya meninggi melihat Andini yang berdiri berniat pergi dari sini.
"Eh, anu." Aku mencoba menjelaskan.
"Katanya kerja-kerja-kerja, nyari duit. Nyatanya keluyuran. Pacaran. Cih! Anak tak tahu diri."
"Kami emang kerja dari pagi, Dok. Ngantar pesanan. Ini singgah bentar buat makan siang doang."
Kata-kataku tak didengarkan. "Mau jadi apa kamu dengan kerjaan begitu, Dini? Udah dikuliahin mahal-mahal, malah jadi kurir. Bikin malu saja."
Seisi rumah makan kini menoleh ke arah kami. Aku melihat ke arah Andini yang wajahnya memerah menahan amarah.
Tangannya terkepal.
Namun, tampaknya gadis itu masih bisa mengontrol emosinya, lalu melangkahkan kaki keluar. Aku menyusul setelah membayar makanan yang sudah kami santap.
Setelah kejadian itu, sepanjang perjalanan kami berdua lebih banyak diam. Aku sempat beberapa kali mencoba memancingnya dengan obrolan lain, tapi sepertinya percuma, ia tak menyahut.
"Kenapa sih perempuan iblis itu gak bisa membiarkan aku hidup dengan tenang?" katanya kemudian.
Aku diam saja, tak tahu harus menjawab apa.
"Kayaknya kalau gak ada dia, lebih baik deh," sambungnya lagi.
Dari awal sebenarnya aku sudah sadar. Tak peduli keputusan yang kami ambil ini benar atau salah, yang pasti ke depannya tidak akan berjalan dengan mudah.
Namun, tenang saja. Hidupku dari awal sudah dihadapkan dengan hal-hal sulit. Jadi, tidak akan begitu membuatku kaget.