Sweet Sweet Time

1594 Kata
POV: Iqbal Setelah sekian tahun menutup hati, tak mengizinkan siapa pun untuk masuk ke dalamnya, kini kuberikan kesempatan pada sosok bernama Andini untuk mendapatkan tempat di salah satu ruang kosong yang gelap dan sempit itu. Kuharap dia akan membawa perbaikan pada bangunan hatiku yang telah rusak parah. Yang pasti, kuharap ini bukanlah keputusan yang salah. Bagaimana mungkin aku bisa terus-terusan membunuh rasa yang selalu tumbuh itu? Sementara tanah subur telah membentang, benih telah ditanam, disirami setiap hari. Lalu, ketika ia tumbuh, berbunga ranum. Mana mungkin aku tega membunuhnya lagi. Akhirnya kuputuskan untuk merawatnya, membesarkan cinta yang kini telah tumbuh dan berbunga kembang. Bunga-bunga itu terus berkembang, bermekaran di setiap sudut hatiku, menebar aroma semerbak dan menyenangkan. Ingin rasanya berlarian, berlama-lama di sana menikmatinya aromanya. Sejenak melupakan perih dan getirnya beban hidup yang selama ini sudah kutunggu sendiri. Bertahun-tahun lamanya tanah-tanah hatiku dibiarkan tandus tak tersentuh air hujan, bahkan embun pun enggan turun di sana. Gersang, tak berkehidupan. Hanya angin-angin musim panas yang bertiup sesekali, itu pun tak memberikan kesejukan, hanya menambah getir dan dahaga yang semakin menjadi. Kini semua berubah semenjak seseorang datang membawa kesejukan. Kehadirannya mengundang berbagai macam kehidupan untuk muncul. Tanah-tanah kering berubah subur, angin musim panas berganti dengan angin musim semi yang sejuk lagi menyegarkan. Bagi yang pernah mengalami masa-masa jatuh cinta, tentu akan paham. Bagaimana indahnya setiap detik yang dilalui bersama. Segala hal yang berhubungan dengan dia, akan terasa menyenangkan, walaupun itu hanya sekadar mengobrol lewat telepon atau pun w******p. Jika sedang berjanji untuk bertemu di waktu tertentu, makan menunggu waktu tersebut akan terasa sangat lama. Ketika kami berjanji untuk berjumpa di sore hari, ingin rasanya esok tak ada pagi dan siang, langsung sore saja. Pagi hingga siang hari terasa begitu lama, diseling rasa resah dan gelisah memiliki nanti harus pakai baju apa. Sebaliknya, di saat-saat pertemuan, waktu terasa berlari kencang bagaikan kilat yang menyambar. Satu hingga dua jam bersamanya terasa hanya beberapa detik saja. Belum puas mengobrol serta menikmati canda tawa, menatap senyumnya, tiba-tiba saja matahari sudah tenggelam. Begitu cepat. Saking indahnya hari-hari yang kini ku lalui, sampai-sampai terbersit rasa khawatir di dalam hati. "Akankah kebahagiaan ini abadi, atau sekadar rasa yang hadir sebentar saja?" Seperti seorang anak kecil yang sedang senang-senangnya dengan hadiah ulang tahun yang didapatnya. Sesuatu yang sangat spesial, selama ini selalu didamba, diimpi-impikan, akhirnya berada dalam genggaman. Namun, ketika di saat paling bahagia itu, tiba-tiba mainannya direnggut paksa, bukankah akan terasa jauh lebih menyakitkan? *** "Gimana, Bal yang saya bilang kemarin?" Pak Bos meneleponku siang ini. Sehari sebelumnya, aku menemui beliau di rumahnya untuk menyampaikan rencana mengontrak sebuah ruko di pinggir jalan. Setelah beberapa lama mencari-cari, akhirnya aku mendapatkan sebuah bangunan yang masih kosong di lokasi yang cukup strategis. Walaupun, sebenarnya menurutku sewanya terlalu mahal. "Saya udah temui pemiliknya, Pak. Katanya memang gak bisa nego lagi, itu sudah harga pas," jawabku. "Menurutmu sendiri, sebagai penanggung jawab, bagaimana, Bal? Lebih baik diambil atau tidak?" "Kalau dapat izin dari Bapak, sih, saya mau ngambil aja, Pak. Coba enam bulan dulu aja. Karena tempatnya cukup strategis, ramai, gampang terlihat dari jalan. Rukonya juga cukup besar. Cocok banget buat stokis." "Baiklah. Kalau begitu nanti uang kekurangannya akan saya transfer ke rekening kamu, ya. Kamu langsung tunjuk aja salah seorang dari tim kamu untuk jadi pengurusan bagian keuangan. Jangan semuanya kamu urus sendiri, Bal. Nanti keteteran." "Siap, Pak." "Catat ya, ini artinya tim kamu seolah-olah udah punya hutang sama, saya. Kalian bisa menutupnya dengan terus meningkatkan penjualan. Kalau penjualan sesuai target, bonus yang turun dari atas pasti lebih dari cukup buat bayar sewa ruko itu." "Iya, Pak. Saya paham." "Semangat, Bal. Pantang menyerah. Saya yakin kamu bakal sukses. Kembangkan terus strateginya." "Terima kasih, Pak. Saya akan lakukan yang terbaik." "Mantap!" Telepon terputus. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung menghubungi rekan-rekan yang lain melalui grup w******p, lalu langsung menunjuk kak Bunga sebagai penanggung jawab keuangan. Kusampaikan semua rencana padanya. Semua anggota tim, paham dan mengerti. Akhirnya sebuah ruko yang berada di tempat strategis kami sewa. Walaupun mengeluarkan budget yang cukup besar, tapi aku yakin sekali dengan adanya tempat ini akan sangat membantu untuk perkembangan project ini ke depannya. "Ada banyak resiko jika produk yang sangat banyak ini di letakkan di studio. Yang pertama karena tempatnya yang terbatas, yang kedua, ketika ada orang yang datang mengantarkan ataupun menjemput produk, maka akan mengganggu rekan-rekan yang sedang bersiaran. Sehingga ada pekerjaan lain yang terganggu. Makanya saya putuskan untuk menyewa ruko ini." Aku menjelaskan panjang lebar di grup. "Karena stokis ini harus ada yang standby setiap waktu, maka kita akan atur jadwalnya ya. Ke depannya, para agen-agen resmi yang sudah bekerja sama tidak akan menjemput produk ke studio lagi, tapi langsung ke stokis yang sudah tersedia. Karena saat ini tim intinya ada kita berempat, maka nanti akan kita atur menyesuaikan dengan jadwal masing-masing. Biar gak bentrok dengan jadwal kegiatan lainnya." "Oke, siap." Aku mulai mengatur jadwal siaran, jadwal mengantarkan produk dan jadwal untuk berjaga di stokis. Tentu saja harus disesuaikan dengan jadwal ke rumah sakit untuk cuci darah juga. Yang pasti setiap Rabu dan Sabtu, aku libur dari segala macam pekerjaan. Anggota tim yang lain pun sudah paham dengan hal itu. Andini juga mulai menyetorkan kapan jadwal kuliahnya sehingga tidak dapat berjaga. Juga kapan saat-saat yang pas untuknya ke lapangan, berjualan door to door seperti biasanya. Kak Bunga dan Leo pun sama. Kami berempat mengadakan rapat sejenak untuk mengaturnya. Sebuah mobil box parkir di depan ruko yang kiri sudah bertengger sebuah spanduk besar di bagian atas, bergambarkan produk yang sedang kami jual. Berkotak-kotak obat herbal dibongkar dari dalam mobil untuk dipindahkan ke dalam box. Meja-meja juga disusun di bagian depan, ditambah dengan sebuah etalase kaca untuk memajang sampel produk. Aku berdiri berkacak pinggang di depan ruko, menatap semuanya. Rasanya tak percaya dengan kemajuan project yang sedang kami tangani bersama di bawah tanggung jawabku atas kepercayaan pak Bos. Syukurlah, walaupun ini adalah kali pertama buatku, ternyata semua berjalan sesuai rencana. Bahkan lebih. Semoga saja tidak ada pasang surut yang datang secara tiba-tiba sehingga meluluhlantakkan lagi semua yang sudah kami bangun ini. "Semangat, pak Ketua." Andini yang tiba-tiba sudah ada di sampingku berkata pelan. Aku tersenyum. "Semangat juga, Bu Ketua," jawabku. Gadis itu terkikik. *** Aku bangun dengan perasaan senang lagi ini. Tidur semalam terasa sangat nyenyak, tak ada mimpi yang kuingat. Yang tersisa di ingatan hanya ucapan selamat tidur darinya sebelum memejamkan mata. Bagi orang-orang yang sedang jatuh cinta, mimpi indah tak terlalu diharapkan. Karena baginya, saat ini tak ada yang lebih menarik untuk dijalani selain kenyataan yang terang-terang sudah ada di depan mata. Pagi-pagi sekali, bangun tidur, hal yang pertama kali dilakukan adalah mengecek HP. Ya, tentu saja memastikan, apakah ada chat darinya atau tidak. Jika tidak, maka aku lah yang akan mengirimkan terlebih dahulu. "Morning, the most beautiful girl I've ever seen." Itu lah bunyi pesan yang kukirimkan, norak bukan? Atau begini... "Pagi, Cintaa. Lihat pagi ini, hangatnya cahaya mentari, embun-embun yang perlahan menguap, nyanyiannya burung di pucuk-pucuk pohon akasia. Semuanya bersiap untuk menyambutmu. Bangunlah, Sayang." Bagaimana? Apa ada rasa mual mau muntah membacanya? Sudahlah, jujur saja. Aku pun tau itu norak, tapi tetap saja kukirimkan, agar ketika ia bangun dan membacanya, ia akan tersenyum karena melihat betapa noraknya aku. Namun, Andini tidak pernah membalas dengan ejekan. Biasanya jika membaca pesan begitu dariku, ia akan membalas, "Morning too, my Sun Shine." Atau, "Morning too, my Everything." Ya, sepertinya kami berdua sama noraknya. Wajar saja menjadi pasangan yang cocok. Setelah itu, segala macam kegiatan akan dilakukan sembari senyum-senyum sendiri. Entah itu mandi, menggosok gigi, bahkan kegiatan mencuci baju dan mencuci piring pun berubah jadi menyenangkan. Apalagi ketika berdiri di depan kaca. Aduhai, saling bertatap-tatapan dengan bayangan sendiri, sambil saling membalas senyum. Untung saja aku tinggal sendiri, kalau ada yang melihat, tentu saja aku akan jadi bahan tertawaan. Sarapan sederhana juga akan terasa lebih nikmat ketika mendapatkan ucapan "Selamat Sarapan" dari dia. Menu seadanya tiba-tiba saja menjadi begitu nikmat di lidah. Seolah-olah makanan sisa malam tadi yang ku hangatkan lagi pagi ini, adalah masakan seorang chef ternama yang sering menjadi juri di dalam satu kompetisi memasak di televisi. Tahu goreng dengan sedikit cabe ini rasanya tiba-tiba berubah jadi seperti steak tender loin, yang dimasak medium rare. Luar biasa memang kekuatan cinta. Sebelum berangkat ke radio untuk siaran, terlebih dahulu kukirimkan voicenote padanya. "Semangat ya, kuliah paginya. Hati-hati di jalan. Semoga pagi ini semuanya berjalan lancar tanpa halangan apapun ya. Kalau mata kuliahnya berat, jangan ngeluh. Karena aku di sini menanggung beban yang jauh lebih berat, yaitu merindukan kamu." Kutekan tombol kirim, lalu langsung naik ke atas sepeda motor menujukan studio gema FM. Sesampainya di studio, ternyata ia sudah membalas dengan sederet emoticon tertawa, kemudian sebuah VN kurang dari tiga puluh detik di bawahnya. Langsung kuputar, lalu menempelkan ke telinga. "Semangat juga yang mau siaran, tetap hati-hati jalannya walaupun dekat, yaa. Kalau nanti pas siaran ada pendengar yang ngeselin, gak usah khawatir ya, Bang. Karena saat ini aku di sini juga kesel banget, karena gak ada kamu di sampingku." Aku menyeringai lebar mendengarnya. Berencana untuk membalas lagi VN dari Andini, tapi kemudian teringat waktu siaran sudah masuk. Yah, terpaksa ditunda dulu nge-gombalnya. Bagi dua insan yang tengah jatuh cinta. Dunia ini terasa begitu indah. Pekerjaan yang dilakukan pun terasa lebih ringan, karena dilakukan dengan penuh semangat. Tentu saja berkat kata semangat yang diberikan olehnya pagi-pagi. Namun, aku terlupa kalau ternyata kehidupan ini tak selalu berjalan seperti yang kita harapkan. Kejadian yang terjadi tidak selalu hal-hal yang kita inginkan saja. Ada masanya, justru yang berlaku adalah hal yang paling kita takutkan. Sayangnya, semua kesenangan, kebahagiaan dan tawa akan segera berakhir, berubah jadi tangisan pilu dalam kesedihan paling dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN