Petaka

1682 Kata
POV: Andini Siang ini hujan turun, setelah sekian lama. Akhirnya aroma menyenangkan itu bisa kuhirup lagi. Tak begitu deras sebenarnya, tapi cukup untuk melunturkan kerinduanku yang sudah mendalam pada milyaran tetes air yang turun membasahi bumi pertiwi itu. “Aaah!!!” Aku berteriak kencang, tapi sepertinya suaraku tidak akan terdengar karena teredam oleh kaca helm dan juga masker kain yang menutupi mulut dan hidung. Beberapa pengendara lain terlihat menepi dan berteduh, memasang mantel bagi mereka yanf tidak lupa membawanya. Ada juga yang diam sejenak menunggu hujan reda. Berbeda denganku, aku berhenti hanya untuk memasukkan benda-benda yang tidak tahan air ke dalam bagasi, lalu kembali berkendara di bawah hujan. Kenangan demi kenangan yang dibawa tetesannya terasa merasuk ke dalam benakku seiring air yang mulai membasahi sekujur badan. Ditambah lagi kenangan-kenangan yang masi segar di ingatan, tentang seseorang yang mulanya asing, tapi kini tiba-tiba saja menjadi berarti dalam hidupku. Aku masih ingat saat ia tersenyum di antara banyaknya orang-orang lain yang menggerutu ketika hujan turun. Kalimat yang kala itu terlontar dari mulutnya masih membekas jelas di ingatan. “Gak boleh marah waktu hujan turun bisa jadi turunnya hujan ini adalah demi memenuhi doa seseorang. Kita tidak pernah tahu.” Entah dari mana mulanya rasa itu muncul. Kalau kata Suci, mungkin karena aku bisa melihat kelebihannya di saat orang-orang lain hanya fokus pada kekurangan yang ada dalam dirinya. Bang Iqbal. Berawal dari perkenalan tak sengaja ketika menjemput penumpang ojek online, akhirnya membuka kisah lama tentang masa kecil yang ternyata memilik kesinambungan. Mengapa orang-orang selalu saja membahas kekurangannya? Entah itu penyakit yang ia miliki, kondisi tangannya yang tidak normal karena dipasangkan alat cuci darah, tenaganya yang tidak kuat, atau apalah itu yang selalu membuat mereka heran mengapa aku masih mau berpasangan dengannya? “Andini, kok kamu mau sih sama Iqbal? Kamu itu cantik, berpendidikan pula, pasti mendapatkan laki-laki lain yang jauh lebih baik dari pada dia,” kata salah seorang teman kampusku yang kebetulan mengetahui tentang keadaan bang Iqbal. Ada lagi yang meledekku, “Din, tangannya katanya gak bisa ngangkat beban berat tuh. Nanti gimana kalau nikah sama dia, dia gak bakal kuat gendong kamu dong. Hahahaha.” Benar kata Suci, sepertinya hanya aku yang bisa fokus memandangan ke sisi lebih yang ada padanya. Tidak kah mereka menyaksikan betapa baik hatinya seorang bang Iqbal, betapa tulusnya ia membantu orang-orang di sekelilingnya, betapa sabarnya ia menghadapi berbagai macam cobaan dan beban hidup yang terus mendera selama ini, betapa tingginya semangat juang yang ia miliki, semangat yang dapat ia tularkan pada orang-orang di sekelilingnya. Tidakkah mereka bisa melihat ke arah sana? Atau mungkin mata mereka yang terlalu sibuk memperhatikan kekurangan orang lain, hingga dibutakan akan kekurangan sendiri. Entahlah. “Aaah!!!” Aku berteriak lagi. Hujan turun semakin deras, seluruh pakaian yang melekat di badanku rasanya sudah basah. Berteriak di bawah hujan begini memang sukses membuat emosiku tersalurkan. Perasaanku terasa jauh lebih lega, setelah sebelumnya berkecamuk berbagai macam hal di dalam kepala. Ada hal-hal yang menyenangkan, ada pula yang menyebalkan sekaligus membuatku bingung. Yang menyenangkan? Tentu saja berasal dari laki-laki itu. Tempo hari, tepatnya ketika kami baru saja tiba di ruko tempat stok produk, seusai mengantarkan pesanan konsumen. Tiba-tiba saja bang Iqbal menyeletuk, “Ngomong-ngomong, aku udah mulai nabung loh, Din.” “Hah?” Aku menoleh ke arahnya meminta penjelasan. “Nabung? Maksudnya?” “Ya, nabung. Masa ga tau nabung? Ngumpulin uang sedikit demi sedikit, gitu.” “Ya kalau itu tauu, ya ampuun!” Aku gemas ingin memukulnya. “Maksudnya Abang nabung buat apa?” “Buat modal nikah kita lah, buat apa lagi coba?” Deg! Jantungku berdegup kencang, dengan mata melotot. Apa? Nikah? “Kenapa mangap gitu? Tutup mulutnya, nanti ada lalat yang masuk loh,” katanya meledek. “Abang ngomong apa tadi? Coba ulang.” “Gak, Din, kamu gak salah denger. Aku emang lagi siap-siap buat segera nikahin kamu. Udah gak usah kaget gitu, dari awal kan udah dibilang.” “Abang serius?” “Kata ibuku, urusan pernikahan itu gak boleh dijadikan bahan becandaan. Ya serius lah.” “Tapi, kok mendadak? Cepet banget ini, Bang. Aku belum siap.” Aku berseru panik. “Yang buru-buru juga siapa, Din. Aku kan Cuma bilang kalau udah mulai nabung. Nah, kapan uangnya bakal cukup kan kita juga belum tau. Setidaknya aku mau nunjukin ke kamu dan ayahmu kalau aku benar-benar serius. Gitu.” Aku menelan ludah, masih syok mendengarnya. “Ohh gitu.” Kemudian, bagian yang tidak menyenangkan sekaligus membuatku kesan dan bingung, ada tentang perkataan Ayah. Aku teringat perkataan ayah tadi malam. Ternyata tante Zee datang lagi kemarin, entah apa yang ia katakan pada ayahku sehingga membuatnya jadi seperti itu. “Ada baiknya kamu pertimbangkan kembali masukan dari tantemu beberapa hari yang lalu, Dini.” Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja ayah berkata demikian saat aku baru pulang bekerja sekitar pukul delapan malam tadi. “Maksudnya, Yah?” tanyaku heran. “Apakah kamu sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu untuk menjalin hubungan serius dengan Iqbal? Bukannya ayah meragukan keseriusan dia, tapi sebuah pernikahan itu kan bukan untuk sehari atau dua hari, kalau bisa sekali umur hidup, sekali untuk selamanya kan. Jadi alangkah baiknya kamu pikirkan lagi matang-matang.” “Yah, kita kan udah pernah ngomongin soal ini sebelumnya, kenapa dibahas lagi?” Aku semakin heran dengan gelagat ayah. “Oh, apa jangan-jangan wanita iblis itu datang lagi ke sini, Yah? Apa yang dikatakannya pada Ayah?” tanyaku. Ayah menunduk sejenak dalam diam, sepertinya dugaanku tidak meleset. “Kamu tau kan Tante itu orangnya keras, dia benar-benar mewarisi sifat dari nenek.” “Betul sekali! Mereka sama jahatnya.” Aku memotong. “Tapi ....” Ayah tampak berpikir lagi. Sepertinya ada yang coba ia sembunyikan dariku. “Tapi kan apa yang ia sampaikan ada benarnya juga, Din. Demi kebaikan kamu juga.” Lama-lama aku jadi jengah dengan perkataan ayah yang terkesan bertele-tele. Satu hal yang kurasa kurang dari sosok ayahku itu adalah sikapnya yang tidak bisa tegas, terutama terhadap keluarga besarnya. “Udahlah, Ayah. Tak perlu trlalu memusingkan Andini. Anak ayah ini udah besar, Yah. Udah bisa ngambil keputusan sendiri, udah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Jadi, jangan lagi terlalu membebani pikiran Ayah dengan memikirkan hal-hal seperti ini. Jodoh, kematian, rezeki, bukankah Ayah sendiri yang pernah bilang kalau semua itu sudah ada yang mengatur.” Ayah menatapku dengan tatapan yang tak bisa kumengerti apa artinya. “Iya, Nak, tapi ....” “Udah ya, Yah. Andini capek, mau ke kamar mandi dulu ya, abis itu kita makan malam.” Kutinggalkan ayahku yang masih duduk termenung di ruang depan. Hatiku masih saja bertanya-tanya, sebenarnya apa yang telah dikatakan oleh tante Zee? *** Mulai dari sore tadi hingga malam ini giliranku berjaga di stokis produk herbal. Tidak mengapa, buatku berjaga di malam hari tak jadi masalah karena rumahku tidak jauh dari sini. Bisa ditempuh hanya dalam lima menit perjalanan. Tepat pukul delapan malam, bang Iqbal dan Leo datang. Beberapa hari terakhir mereka memang bergantian menjadi penjaga malam bahkan menginap di tempat ini. Ya, teralis pengaman belum dipasang, kami masih khawatir membiarkan peralatan seperti Komputer dan Laptop tertinggal tanpa penjagaan di sini. Tempo hari terjadi kemalingan, jendela kaca belakang dibobol oleh orang-orang itu. Untungnya yang dibawa hanya sebuah Laptop yang ada di laci meja, serta beberapa lembar uang receh yang tertinggal. Sepertinya maling-maling amatir itu tidak kuat mengondol satu set Komputer dan TV yang menempel di dinding. “Gimana hari ini, Din? Banyak gak yang ngambil?” tanya bang Iqbal begitu turun dari motor. “Lumayan lah, Bang. Ada beberapa orang yang datang sore tadi. Malam ini nihil sih,” jawabku. Kami bertiga mengobrol sejenak tentang banyak hal, terutama tentang penjualan produk ini. Aku ikut nimbrung dengan tenang, karena teringat makan malam ayah tadi sudah kuantar. Jadi tak perlu khawatir lagi. Waktu terbunuh begitu saja, tiba-tiba malam sudah begitu larut. “Yaudah udah malam nih, mau pulang lagi? Yuk diantar dulu.” “Gak usah, Bang. Aku berani sendirian kok, orang deket ini.” “Antar aja, Bang. Ga baik anak gadis pulang sendirian malam.” Leo ikut mnyahut. “Biar aku yang nunggu di sini bentar,” sambungnya. Setelah menimbang-nimbang sejenak, akhirnya aku setuju. “Yaudah ayok, Bang. Kalau berdua aku berani lewat belakang, jadi lebih dekat, walaupun gelap jalannya.” Ada dua jalur yang bisa ditempuh menuju kediamanku. Lewat jalan utama lebih jauh, tapi jalurnya lebih aman karena masih banyak lampu-lampu yang menerangi sepanjang jalan. Sedangkan lewat jalan belakang, jalannya lebih dekat, tapi sayangnya gelap dan sepi. Karena ditemani bang Iqbal, akhirnya aku berani mengambil opsi kedua. Namun, ternyata ini adalah keputusan yang sangat salah. Menit-menit awal perjalanan kami, semuanya berjalan normal, tak ada yang ganjl. Aku melaju pelan, bang Iqbal mengikuti di belakang sekitar beberapa meter jaraknya. Hingga beberapa saat kemudian, aku menangkap gelagat aneh dari seorang pengendara yang tiba-tiba putar balik saat melihat kami lewat. Kemudian, dalam hitungan detik bermunculan beberapa sepeda motor lainnya dari belakang. Aku langsung memberikan kode kepada bang Iqbal untuk menambah kecepatan. Rumahku sebenarnya sudah tidak jauh, hanya beberapa ratus meter lagi dari sini. Namun, terlambat, mereka jauh lebih cepat bertindak. “Hoi! Berenti!” Mereka berteriak-teriak, kulihat dari kaca spion beberapa orang juga mengacungkan s*****a tajam. Bruaak! Suara benturan terdengar, mereka menendang bang Iqbal hingga motornya terjatuh ke aspal. Aku manatap jeri. “Abaang!!!” teriakku sambil menoleh ke belakang. “Kabur, Din, kabur!!! Cari pertolongan,” teriak bang Iqbal. Aku baru sadar saat beberapa orang juga mulai mendekat. Langsung kutarik gas sepeda motor hendak pergi, tapi lagi-lagi terlambat. Mereka mendorong bagian belakang motorku dengan kaki, hingga oleng. Aku kehilangan keseimbangan, kemdian menabrak pembatas jalan. Bruaak! Benturan keras terdengar, kepalaku terasa sangat pusing. Setelah itu, aku hilang kesadaran, tak ingat apa-apa lagi. *** Bagaimana jika hal yang paling kau takutkan benar-benar terjadi? Sejatinya, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang ingin merasakan kesedihan, apalagi yang begitu mendalam, membuat sesak di d**a tiada terkira. Apa hal yang paling menakutkan dalam kehidupan seorang manusia? Kematian? Kehilangan orang-orang yang paling dicintai? Bagiku, hal yang paling menakutkan adalah ketika kebahagiaan yang baru saja kudapat, tiba-tiba saja direnggut. Rasanya sakit sekali, perih tiada terkira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN