POV: Andini
Saat membuka mata, yang pertama kali terlihat adalah langit-langit putih dan gorden jendela berwarna biru muda. Ruangan ini terasa tidak asing. Ya, ruang rawat inap rumah sakit umum.
Entah mengapa hal pertama yang kurasakan ketika sadar bukanlah rasa sakit, tapi kesedihan yang begitu mendalam. Mengapa hal seperti ini harus menimpaku? Air mata mengalir begitu saja, menganak sungai dari ujung mata ke pinggiran bibirku yang kini gemetar dan memucat.
Ada beberapa bagian tubuhku yang memar dan lecet akibat terbentur dan gesekan aspal. Namun, rasa sakit yang sebenarnya bukan berasal dari sana. Sungguh, jika hanya lecet-lecet saja tidak akan membuatku menangis begini.
Bayangan kejadian semalam muncul lagi diingatan, membuatku bergidik ngeri dan juga jijik.
“Gimana cara kita ngancam-ngancam mereka kalau pada pingsan begini?” Sayup-sayup di antara sadar dan tidak, kala itu aku mendengar suara beberapa orang yang sedang bercakap-cakap.
“Gak tau deh nih, di luar rencana. Gak nyangka juga bakal jadi kecelakaan parah gini.”
Pelan-pelan kucoba membuka mata, kepalaku terasa sangat sakit. Sepertinya ada bagian yang benjol akibat benturan tadi. Kupertajam penglihatan dalam kegelapan mencari tahu di mana posisiku kini.
Ruangan ini sangat gelap, yang tertangkap di mataku hanyalah cahaya merah yang berasal dari sulutan rokok orang-orang yang tengah mengobrol itu. Apa aku diculik? Lalu siapa mereka dan apa tujuannya melakukan ini pada kami?
“Lebih parah lagi yang cowok, tuh. Darah ngalir terus dari tangannyam takutnya keburu modar itu orang. Bayaran kita gak cukup kalau sampai urusan nyawa begitu.”
Deg! Jantungku berdegup. Apa laki-laki yang mereka maksud itu bang Iqbal? Ya ampun! Bagaimana keadaannya kini?
Aku berpikir keras, mencoba mencari cara untuk kabur. Sepertinya mereka ada tiga orang, tidak akan mungkin buatku melawan mereka sendiri.
“Trus sekarang gimana, Bos?” tanya salah satu dari mereka.
“Udahlah, kita kabur aja dari sini. Kalau sampai ada yang mati, bisa panjang urusannya.”
“Trus mereka ini gimana, Bos?”
“Tinggal aja, besok juga ada yang nemuin.”
Salah seorang yang mereka panggil bos itu melangkah pergi, lalu menghidupkan motornya. Menyisakan dua orang yang masih berdiri sambil merokok.
“Yuk pergi, Yan. Keburu ada yang curiga.”
“Hmm.”
Aku tersentak kaget ketika salah satu dari mereka tiba-tiba menyalakan serter kecil, langsung menyorot ke wajahku. Buru-buru kupejamkan mata lagi, pura-pura pingsan.
“Ayo, Yan. Aku belum mau masuk penjara,” ujar temannya lagi.
“Bodoh. Lihat tuh cewek cantik gitu, masa ditinggal begitu aja. Sayang lah.”
Napasku mulai menderu karena tegang sekaligus takut. Aku paham ke mana arah omongan mereka.
“Hah?”
“Iya, kita main-main dulu bentar sama ni cewek, baru nanti kita tinggal.”
Tak tahan lagi, aku langsung membuka mata dan mencoba kabur dari sana, mencari-cari pintu keluar.
“Aaaa! Toloong!!!” teriakku.
Namun, mereka tidak kalah sigap, salah satunya langsung mencengkeram lenganku, sementara yang lain membekap mulutku agar tidak berteriak.
“Hhhmmph!” Hanya suara erangan yang kini terdengar.
“Wow! Ternyata dari tadi si Cantik ini pura-pura pingsan doang ya,” katanya.
Entah dengan apa laki-laki itu membekap mulut dan hidungku, rasanya begitu perih di indera penciuman sehingga membuatku sulit bernapas. Lama-lama pandangan mata berubah nanar, kesadaranku mulai hilang.
“Nah, gitu dong. Selamat tidur cantik.” Itu kalimat terakhir yang kudengar sebelum benar-benar pingsan.
Kini, ketika sadar di atas tempat tidur rumah sakit, aku menyadari apa yang telah mereka lakukan pada tubuhku malam tadi. Rasa perih di bagian tubuhku, menjawab semuanya. Bagian paling berharga yang selama ini selalu kujaga, kini direnggut paksa oleh orang-orang berhati iblis.
***
“Tidak ada barang-barang yang hilang, bahkan HP yang tergeletak pun tidak diambil. Kemungkinan besar motifnya bukan perampokan. Kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, Pak. Tenang saja, mereka pasti kami tangkap.”
Aku mendengar Ayah mengobrol dengan beberapa orang anggota kepolisian di depan pintu kamar tempatku dirawat.
Sebelumnya para petugas berseragam coklat itu mengajukan beberapa pertanyaan padaku untuk keperluan penyelidikan. Kujawab saja apa yang bisa. Aku tak terlalu memikirkan tentang penyelidikan itu. Tertangkap atau tidaknya mereka tidak akan mengubah keadaanku yang sudah terlanjur kotor dan bernoda ini.
Tak selamanya segala sesuatu berjalan sesuai yang kita harapkan, aku paham betul akan hal tersebut. Namun, tidak seperti ini juga. Yang terjadi padaku terlalu buruk, jauh lebih buruk dari kemungkinan paling buruk yang sudah aku perkirakan sebelumnya.
Pintu kamar terbuka, terlihat ayah melangkah masuk dengan sebuah senyum yang begitu dipaksakan hadir di wajahnya. Ini juga bukan hal yang mudah buat ayah, dengan segala macam cobaan yang terus-terusan menimpanya belakangan. Apa yang terjadi pada istinya, kemudian perusahaannya, dan kini padaku anak satu-satunya yang dimilikinya.
“Kenapa, Sayang? Mau minum?” tanya ayah menyadari aku menatapnya.
Aku tak menyahut, hanya diam sambil terus memandang dengan tatapan kosong. Ayah mendekat, saat itulah tangisku kembali pecah.
“Ayaah! Dini takuut!!! Huhuhu.” Aku bersandar di bahunya.
“Sudah, sudah. Ada Ayah di sini, kamu gak perlu takut lagi.” Laki-laki itu mengusap punggungku penuh kasih sayang.
Tangisku semakin tumpah, tak terbendung lagi. Suasana hatiku tak menentu, sulit untuk dijelaskan. Rasanya seperti enggan bertemu siapa pun, enggan untuk melihat dunia ini. Aku ingin mati saja, sepertinya itu lebih baik dari pada hidup dalam keadaan seperti ini.
“Ayah, mengapa orang-orang itu begitu jahat dan kejam? Apa salah Andini, Yah?”
“Iya, Sayang. Mereka bukan manusia, hanya setan yang memiliki bentuk seperti manusia. Ayah janji mereka semua akan ditangkap dan merasakan balasan yang setimpal, ya. Udah, Dini jangan nangis lagi.”
Setelah sekian lama menangis dalam pelukan Ayah, satu-satunya laki-laki di dunia yang kini kupercayai tidak akan menyakitiku. Tiba-tiba aku teringat pada bang Iqbal.
“Ayah, keadaan bang Iqbal gimana? Apa dia dirawat di rumah sakit ini juga?” tanyaku.
“Sudah. Mulai sekarang kamu gak usah nanyain dia lagi, ya. Putuskan semua hubungan dengan laki-laki itu. Dia udah ngerusak kepercayaan Ayah, tidak bisa bertanggung jawab dan menjaga kamu. Sekarang aja udah kayak gini, gimana kalau nanti-nanti?”
“Tapi, Yah ....”
“Jangan ngebantah lagi, Dini. Mulai sekarang, dengerin kata Ayah, jangan berhubungan dengan dia lagi.”
Aku memutuskan untuk diam, tak ingin berdebat dengan ayah tentang hal tersebut saat sekarang ini.
Namun, tetap saja, tak peduli bagaimana hubungan kami ke depannya, tak peduli apa keputusan yang akan diambil nanti. Yang terpenting sekarang, aku harus memastikan kondisinya baik-baik saja.
***
Luka di fisikku mungkin tidak seberapa, tapi kerusakan mental yang dibuatnya luar biasa. Aku jadi takut untuk bertemu semua orang. Bahkan ketika seorang dokter laki-laki masuk ke kamarku untuk memeriksa, aku sempat takut dan memanggil ayah. Bayang-bayang kejadian menjijikkan yang mereka lakukan pada tubuhku malam itu terus saja muncul di ingatan, bahkan tak jarang aku bermimpi buruk karenanya.
“Ayah, siapapun yang datang ngejenguk, jangan dikasih izin masuk, ya. Dini lagi gak mau ketemu siapa-siapa,” kataku pada ayah.
Ayah memenuhi permintaanku. Ketika teman-teman dari radio Gema FM datang, ayah menahannya di depan pintu. Aku sama sekali tidak mau bertemu mereka, bahkan untuk menoleh dari kaca jendela saja aku enggan. Begitu juga ketika teman-teman kampusku datang.
“Dini.” Ayah melangkah mendekat membawakan sekeranjang buah. “Ini dari teman-teman kampus kamu. Yakin, gak mau ketemu mereka?” tanyanya memastikan.
Aku menggeleng cepat.
Ayah menghela napas, lalu kembali ke depan pintu, menjelaskan tentang keadaanku pada mereka.
“Cepat sembuh ya, Din!” Samar-samar kudengar perkataan salah seorang dari mereka sebelum pergi. Aku tetap bergeming.
Tidak berapa lama kemudian, ayah kembali. "Sayang, ada teman kamu lagi tuh yang datang, gimana?"
Aku mulai jengkel. "Ayah, kan Andini udah bilang gak mau ketemu sama siapapun, jadi suruh pulang aja semua yang datang. Bilang aja Dini mau istirahat."
"Gak mau tau siapa yang datang?" tanya ayah lagi.
Aku tak menyahut lagi.
"Itu Suci," katanya kemudian.
"Eh?" Aku cukup kaget. Tak kusangka ia berani datang, setelah sekian lama tak berani bertemu dengan ayahku. "Suci?"
"Iya."
"Yaudah suruh masuk deh, Yah." Ayah pun tersenyum.
Sebenarnya ayahku tak benar-benar marah pada Suci, hanya saja ketika itu ia sedang dipenuhi emosi, makanya omongan yang keluar dari mulutnya tak dapat ditahan. Alhasil, sampai hari ini Suci masih takut bertemu ayahku.
Dari kejauhan kulihat Suci melangkah pelan di belakang ayah, bergerak memasuki ruanganku. Wajah sahabatku itu terlihat benar-benar khawatir, tidak ceria seperti biasanya. Hmm, sepertinya dia sudah tahu semua hal yang terjadi padaku. Mungkin ayah menceritakannya.
"Diniii!" Ia berlari-lari kecil begitu melihatku terbaring di atas tempat tidur.
Aku menyambut, memeluknya erat. "Kamu kenapa sih? Ya ampun, kok bisa jadi kayak gini?"
Kulihat matanya berair. Aku tersenyum getir, tak tahu harus menjawab apa.
"Aku baru dapat kabar dari temen kampusmu tadi pagi, makanya baru datang ke sini. Maaf ya, aku telat taunya, harusnya dari kemarin aku udah di sini nemenin kamu." Wajah gadis itu diselimuti rasa bersalah.
Aku menggeleng. "Gak apa-apa, kok."
Ada sedikit rasa tenang dengan keberadaan Suci di sini. Aku jadi ada tempat mengobrol untuk menumpahkan segala hal yang kurasa. Berbeda rasanya ketika bercerita dengan ayah, tentu saja yang lebih mengerti tentang wanita adalah wanita juga.
"Ci, aku boleh minta tolong," bisikku beberapa saat kemudian ketika ayah sedang keluar.
"Hmm? Apaan?" tanyanya penasaran.
"Setelah dari sini, nanti tolong kamu cari tahu kabar tentang bang Iqbal, ya. Ayah gak ngasih ijin aku lagi buat nyari tahu tentang dia. Tolong, ya."
Suci mengangguk paham. "HP-mu mana? Kok dari kemarin gak aktif-aktif?" tanyanya kemudian.
"HP-ku masih di kantor polisi, disita sebagai barang bukti. Lagian, rusak juga deh kayaknya," jawabku menjelaskan.
"Kalau gitu, kamu pegang HP-ku aja ya." Ia mengeluarkan HP miliknua dari tas, lalu menyerahkan padaku. "Nanti sebelum pulang aku cari-cari kabar tentang dia. Gimana hasilnya, aku kabarin lewat w******p, ya."
"Oke, Ci. Makasih banyak, ya."
Ia tersenyum sambil mengetik sebelah mata. "Kamu cepat pulih, ya. Kalau gitu aku pergi dulu."
Ketika ayahku datang, Suci langsung berpamitan. Walaupun awalnya terlihat ragu-ragu, akhirnya ia berani juga untuk bersalaman dengan ayah dan mencium tangan laki-laki itu.
Ah, semoga saja Suci berhasil.
***
Aku menunggu dengan perasaan harap-harap cemas. Satu jam telah berlalu sejak kepergian Suci, tapi masih belum ada kabar darinya. Hingga akhirnya, dua jam lebih setelah itu, ada pesan w******p yang masuk. Dengan tergesa-gesa aku langsung membukanya.
Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
"Tes!" Begitu isinya.
"Iya?" balasku.
"Dini, ini aku Suci."
Ah, aku sedikit lega, ternyata benar itu dia. "Gimana, Ci?'
"Aku udah dapat kabar soal bang Iqbal, Din."
Aku tak sabar menantikan Suci mengetik. Lama sekali, sepertinya paragraf yang di ketiknya sangatlah panjang.
"Sebelumnya, bang Iqbal juga dirawat di Rumah Sakit ini, Din, tapi kemarin dia udah dirujuk ke rumah sakit pusat di ibu kota. Kondisinya agak gawat, karena alat cuci darah yang ada di tangannya itu loh, apa namanya, aku juga lupa. Alat itu kena sabetan s*****a tajam. Katanya dia sempat kehilangan banyak darah, sampai gak sadar beberapa hari. Setelah tranfusi beberapa kantong, baru deh kemarin dirujuk ke RS pusat untuk operasi ulang, perbaikan alat di tangannya itu."
Deg! Jantungku berdegup kencang lagi membaca chat dari Suci.
"Katanya, tanpa alat itu dia gak bisa cuci darah kayak biasanya."
"Ci, kamu tau gak dia ditemani siapa? Apa ada keluarganya yang datang? Dia udah gak punya orangtua soalnya, Ci." Kutambahkan beberapa emoticon menangis di bawahnya.
"Kalau itu, aku juga gak tau, Din. Nanti deh kalau dapat kabar lagi, aku hubungi kamu ya."
"Oke deh, Ci. Makasih ya."
"Okeey. Sama-sama."
Aku menelan ludah yang semakin terasa pahit. Ternyata hal buruk tidak hanya terjadi padaku, tapi juga pada bang Iqbal. Bahkan sepertinya ia lebih parah, bahkan bisa mengancam nyawanya. Seandainya malam itu, aku tidak minta diantar olehnya, dan lewat jalan utama saja, hal ini tidak akan terjadi.
"Aaaah!" Aku berseru sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Entah bagaimana kondisi bang Iqbal sekarang? Aku belum tahu pasti.
Sekali lagi. Tak peduli, bagaimana takdir kami ke depannya. Saat ini, aku hanya ingin laki-laki itu baik-baik saja.