Awal Mula Petaka

1604 Kata
POV: Iqbal “Bang, besok kayaknya aku mau nyoba masak menu baru lagi, deh. Biar makin banyak yang kumasak. Hehe. Soalnya kata Ayah, masakanku enak.” Suara Andini terdengar di ujung telepon, sepertinya ia sedang senang malam ini, terdengar dari smile-voice yang ia lantunkan. “Wahh, iya? Bagus dong. Gak cuma ayahmu aja kok yang bilang enak, aku juga,” jawabku mencoba menambah semangatnya. “Bener nih? Abang tu suka nyanjung-nyanjung trus dijatuhin lagi, soalnya.” “Beneran, Din, masakan kamu tuh enak banget. Soalnya kan gratis, jadi pas makannya gak perlu mikirin buat bayar. Hahaha.” “Tu kan.” Nada bicaranya berubah kesal. Akhir-akhir ini memang hubungan kami semakin dekat, sudah tidak hanya sekadar rekan kerja saja, semua orang sudah bisa menilai kalau kami lebih dari itu. Ke mana-mana selalu terlihat bersama, stay di stokis, mengantarkan pesanan produk, selling door-to-door, bahkan di waktu luang pun tak jarang kami habiskan bersama, kecuali ketika aku siaran dan dia di kampus. Sebagai penyiar radio, sudah tidak heran lagi, pada akhirnya hubungan kami juga tersebar luas di kalangan para pendengar setia Gema FM, terutama mereka yang tergabung dalam persatuan Fans. Kini, rata-rata semua orang yang mendengarkan radio pasti sudah tahu tentang Iqbal dan si Gadis Hujan. Karena Andini sering mengirimkan puisi dan kata-kata mutiara tentang hujan, mereka pun mulai membuat julukan “Penyiar dan Penyair”. Aku pun tidak keberatan, terserah mereka saja, asal tidak mengganggu kami berdua. “Eh, tapi beneran loh, Bang. Kata Ayah masakanku enak banget, mirip-mirip masakan ibu.” Gadis itu melanjutkan lagi. “Trus Ayah juga ngomong, katanya walaupun nanti aku jadi seorang wanita karir, yang namanya kemampuan memasak bagi seorang wanita itu tetap penting. Karena bagaimana pun juga, nanti aku akan jadi seorang ibu dan seorang istri kan. Akan ada kepuasan sendiri ketika suami dan anak-anakku kelak makan dari makanan yang aku masak. Beda kalau mereka masak dari makanan yang dibeli dari warung atau restoran. Gitu, Bang, kata Ayah.” Aku mengangguk setuju. “Bener banget kayaknya, Din. Aku sepakat dengan Camer.” “Camer?” tanyanya, mungkin belum pernah dengar kosa kata itu. “Iya. Calon Mertua,” jawabku. “Hahahaha. Iya deh iyaa, Calon mantu Ayaah.” Aku ikut tertawa mendengarnya. Beberapa kali ketika mengantarkan Andini pulang ke rumahnya, aku singgah sebentar untuk sekadar mengobrol dengan ayahnya. Karena sering berkomunikasi hubungan kami pun semakin erat. Aku jadi kenal bagaimana sifat dan karakter ayah Andini. Menurutku Ayahnya termasuk laki-laki yang hebat. Baginya keluarga adalah segalanya, tidak hanya istri dan anak-anaknya, tapi seluruh anggota keluarga besar adalah hal yang penting baginya, dan sebisa mungkin ia akan merangkul mereka semua. Karena itu jualah, terkadang ia jadi sulit untuk mengambil keputusan jika sudah berhubungan dengan urusan keluarga, ia pusing harus lebih mendahulukan atau menuruti keinginan yang mana satu dari mereka semua. Ayah Andini itu orang baik, bahkan bisa kubilang terlalu baik. Sayangnya, sering kali di dunia ini orang baik tidak dihargai, tapi malah dimanfaatkan. Miris. “Belum ngantuk?” tanyaku begitu menyadari suara Andini sudah mulai melemah. “Hehehe. Kedengeran ya aku nguap? Padahal udah dijauhin dari HP loh. Iya nih udah agak ngantuk, Abang gimana?” “Lumayan sih, yuk tidur.” “Ayuk, tapi jangan dimatiin!” ujarnya tegas, seolah-olah tak ingin aku menolak permintaan itu. “Hah? Tidur kok gak dimatiin? Nanti telponnnya terhubung sampai pagi dong.” “Gak apa-apa, nanti kalau udah dua jam juga mati sendiri.” “Lagian buat apa, Din? Toh kita kan mau tidur juga.” Aku berseru heran. “Iiih! Abang nih gak paham istilah sleep-call, ya?” “Apa? Sleep-call, apaan, Din? Ada-ada aja deh.” “Iyaa, sleep-call, telponan sampe ketiduran gitu.” Kadang-kadang perempuan memang sukar dimengerti maunya bagaimana. Aku yang tengah enggan berdebat di tengah malam begini, memilih untuk mengalah saja, “Yudah deh, iyaa. Gak usah dimatiin niih. Biar aja sampai batrai atau pulsanya habis.” “Hehehe. Selamat istirahat, Abaang!” Suaranya terdengar berubah jadi senang lagi. “Selamat istirahat juga.” HP kuataruh di samping tempat tidur, lalu meluruskan kaki untuk tidur. Semoga paket teleponku masih cukup untuk dua jam ke depan. *** Melihat dokter Zia di ruangan cuci darah membuatku sedikit gugup, teringat akan kejadian di rumah Andini tempo hari. Pagi itu aku menjemput Andini ke rumahnya, kami berencana untuk mengantarkan pesanan konsumen ke beberapa alamat. Sengaja berangkat pagi-pagi karena siangnya aku ada jadwal siaran, begitu juga Andini ada jadwal kuliah, Ketika baru saja keluar dari pagar, tiba-tiba kami berpapasan dengan sebuah mobil yang tidak asing. Kacanya terbuka, lalu terlihat lah wajah wanita itu yang sedang menyetir di dalamnya. Benar, dia adalah dokter Zia Kamilla. “Tantemu, tuh,” ucapku memperlambat laju sepeda motor. “Biar aja, Bang. Paling dia mau ketemu ayahku. Lanjut aja, aku gak ada minat mau ketemu sama dia,” jawab Andini ketus. Aku pun kembali melaju, sebelum mood wanita yang tengah kubonceng ini kembali memburuk. Walau demikian, sudut mataku tetap menangkap ekspresi wajah dokter Zia yang menatap kami dengan marah. Hingga akhirnya hari ini, aku bertemu lagi dengannya ketika sedang visit di ruangan cuci darah. Aku bingung juga harus bersikap bagaimana. Apa lagi kalau nanti dia bertanya tentang kejadian kemarin. Mengapa aku lancang sekali membawa monakannya pergi tanpa pamit padanya? Mau kujawab apa? Satu-persatu pasien dari deretan paling depan dikunjungi dan ditanyakan keluhannya. Aku berjarak tiga bed lagi dari temptnya berdiri sekarang, rasa gugupku semakin menjadi-jadi, jantung berdegup tdak beraturan. Kali ini, menunggu dokter untuk visit rasanya sudah seperti saat-saat terakhir saat menunggu giliran dihukum mati. Ya, walaupun aku juga belum pernah menjalani itu. Hingga akhirnya beberapa saat kemudian, dokter Zia dan beberapa orang perawat berada tepat di depanku. “Dok, si Iqbal nih tadi sempat ngomong ke saya kalau ada keluhan nyeri-nyeri di punggung saat bangun tidur,” kata salah seorang perawat. “Oh, biar aja dia,” jawab dokter Zia ketus sebelum kemudian melangkah menjauh. “Loh, Dok?” Perawat-perawat itu tampak heran. Begitu juga denganku, tak kusangka dokter muda itu akan bersikap seperti itu karena selama ini dia kukenal sebagai seorang petugas yang sangat profesional dan berdedikasi tinggi. Ternyata dengan masalah seperti ini, dokter Zia bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Aku diam saja, tak berkomentar apa-apa dengan sikapnya, kulanjutkan tidur sambil berharap proses cuci darah ini akan cepat selesai. Namun, ternyata sebelum keluar dari ruangan, dokter Zia mendekat ke tempat tidurku. Aku berusaha tersenyum di balik masker, menyapanya ramah. “Pagi, Dok,” sapaku. Matanya menatap tajam seperti elang yang hendak menerkam. Ya, walaupun sebenarnya aku belum pernah melihat mata elang saat hendak menerkam. “Iqbal! Saya gak suka kamu mendekati Andini, keponakan saya,” ucapnya pelan, tapi tegas. Aku menelan ludah. “Sebaiknya mulai sekarang, kamu jaga jarak dari dia. Kalau tidak, lihat saja akibatnya,” sambungnya sebelum kemudian melangkah pergi dengan cepat tanpa menoleh ke belakang lagi. Aku menyeka keringat di dahi, jantungku masih terasa berdegup dengan cepat di atas kecepatan normal. Sebenarnya kala itu aku belum terlalu paham apa maksud dokter Zia, tapi perasaamku mengatakan, ke depannya hubungan aku dan Andini akan melewati halangan dan rintangan yang tidak mudah. *** “Selamat sore, Sobat Gema di mana pun berada, di penghujung sore ini kita tutup dengan sebuah lagi ceria, ya. Jangan lupa untuk selalu bahagia, karena hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan hal-hal menyedihkan. So, be happy. See you, Guys! Bye-bye!” Kututup ajang sore itu dengan sangat bersemangat. Mood memang sedang on-point sore ini. “Udah closing nih, mau siap-siap pulang,” kusambung chat-an yang sempat terputus tadi. “Oke, Bang. Hati-hati pulangnya. See you, tonight,” balasnya. Tentu sudah bisa ditebak, aku sedang chat dengan siapa. Buru-buru kutancap gas sepeda motor pulang ke kontrakan untuk mandi. Nanti malam aku harus ke stokis untuk gantian berjaga di sana. Sekarang gilirannya Andini. Baru saja selesai mandi dan bersiap-siap berangkat, tiba-tiba Leo datang. “Ke mana kamu?” tanyaku heran. “Bosan, Bang di kosan, aku ikut Abang aja lah ke stokis. Mending nonton TV di sana, hehe. Boleh, ya?” Aku menelan ludah, pupus sudah harapan untuk makan malam romantis berdua dengan Andini. Ada anak ini pula. “Ya, boleh aja lah, Leo. Siapa yang bakal ngelarang kamu,” jawabku. “Oke, aku numpang mandi ya. Masih jam segini juga.” Sebenarnya aku ingin berangkat lebih awal karena sudah ada janji dengan Andini malam ini, tapi mau bagaimana lagi. Terpaksa kukirimkan chat kepada gadis itu untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. “Yaudah gih mandi. Sekarang jadwal siaran kak Bunga, ya?” tanyaku. “Iya, Bang. Biasa ajang English Club. Jadi bu guru. Hahaha.” Aku tersenyum mengingat sebuah ajang pendidikan yang diajukan kak Bunga. Kala itu aku sempat ragu ajang pendidikan seperti itu akan ada peminatnya. Namun, ternyata dengan membawaan kak Bunga yang luwes, ternyata banyak juga anak-anak sekolah yang bergabung. Terutama bagi yang kebetulan sedang ada PR Bahasa Inggris. Kami baru berangkat setelah jarum jam menunjukkan lewat pukul delapan malam. Leo itu, selain cara bicaranya yang lemah lembut seperti wanita, mandinya juga lama sekali, seperti calon pengantin yang luluran sebelum acara pernikahan saja. Untungnya ketika sampai di stokis, tidak ada ciri-ciri kekesalan di wajah Andini, mungkin ia bisa mengerti setelah kujelaskan penyebabnya tadi. Atau mungkin memang mood-nya malam ini sedang baik. Syukurlah. Setelah beberapa saat mengobrol, aku memberi kode pada Andini untuk segera pulang. Ini sudah cukup malam buat seorang anak gadis untuk masih berada di luar rumah. Setidaknya begitu menurutku. Andini memutuskan untuk lewat jalan belakang karena alasan jaraknya yang jauh lebih dekat. Karena sudah terbiasa membiarkan Andini mengambil keputusan, aku pun menuruti maunya. Walaupun sebenarnya aku tau lewat jalan utama jauh lebih aman dan nyaman. Hah. Andai saja waktu itu aku tau betapa salahnya keputusan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN