POV: Iqbal
Duniaku kini hanya kelam. Hitam kelam, tak ada satu pun yang terlihat oleh panca indera. Hanya saja, telingaku mendengar suara dengingan yang semakin lama semakin kuat. Menimbulkan rasa takut yang teramat sangat, tapi aku juga tak tahu, takut pada apa atau pada siapa. Yang jelas, rasanya aku takut sekali.
Apakah ini yang disebut alam perbatasan? Bukankah artinya kini aku sedang berada di ambang, antara hidup dan mati.
Suasana terasa semakin ganjil ketika suara jeritan demi jeritan terdengar dari belakang sana, aku juga tak tahu apa yang sedang terjadi.
Setitik cahaya putih muncul, terdengar juga suara-suara yang memanggil dari sana. Entah mengapa, firasatku mengatakan bahwa aku harus berlari ke arah titik putih tersebut.
Langkahku terasa sangat ringan, aku semakin yakin ini bukanlah kenyataan. Di alam nyata, langkah kakiku berat sekali, tenaga juga amat terbatas. Di sini aku bisa berlari kencang, tanpa harus ngos-ngosan dan jantung berdebar-debar. Kesadaranku terasa di-reset kembali, lalu muncul di tempat lain yang kondisinya jauh berbeda.
Taman ini lagi, aku pernah melihat pemandangan yang sama sebelumnya. Lapangan luas, sejauh mata memandang terlihat tumbuhan yang didominasi warna kuning. Ya, mereka bunga-bunga matahari.
Aku sedang bermimpi. Ya, aku yakin sekali, ini pasti bukan kenyataan. Orang-orang yang kutahu sudah tiada kini terlihat di depan mata. Jelas sekali, benar-benar seperti kenyataan. Tubuhku pun bergerak sendiri, tanpa bisa dikendalikan.
Berlarian, ke sana kemari, tertawa cekikikan. Seperti seorang anak kecil yang sedang senang karena diajak berlibur oleh ayah dan ibunya.
Beep beep beep.
Suara Beep dengan ritme teratur, tiba-tiba mengagetkanku. Mencari-cari dari mana arahnya. Ketika itulah kesadaranku perlahan pulih. Seperti yang sebelumnya, perlahan ujung-ujung jariku bisa digerakkan, lalu tangan terangkat menyentuh wajah, hingga akhirnya kedua kelopak mataku terbuka.
Aku terbangun di atas tempat tidur rumah sakit dengan sungkup oksigen menutupi hidung dan mulut, serta bebat tebal yang membalut tangan kiriku erat. Cairan merah pekat juga terlihat terus menetes perlahan dari sebuah kantong plastik, mengalir melalui selang kecil yang terhubung ke pembuluh vena di tangan kananku.
Berapa lama aku tak sadarkan diri? Aku pun tak tahu. Kuputar mata melihat sekeliling. Ada seseorang yang tertidur bersandar di kursi, tidak jauh dari tempat tidurku. Kemudian ada satu lagi yang tidur dengan kepala menunduk, bersandar pada sudut kasur yang ku tempati.
Aku kenal sekali sosok itu, tanganku bergerak menyentuhnya. "Bi, Bibi," bisikku pelan. Ya, itu Bibi Syilla.
Kepalanya terangkat cepat, terlihat kaget. "Iqbal! Syukur lah kamu sudah siuman," ujarnya berseru pelan, wajah Bibi terlihat sedikit lega.
"Bibi. Aku haus, boleh minta minum?" Itu lah kalimat pertama yang terlontar dari bibirku. Tenggorokan rasanya perih karena lama tak tersentuh air, bibirku juga terasa kering.
"Sebentar Bibi ambilkan." Bibi Syilla bergerak cepat mengambil botol air mineral, lalu menyelipkan sedotan di sela-sela sungkup oksigen yang tampaknya tak boleh dilepas.
Kutegakkan kepala sedikit, lalu meneguk air tersebut. Rasanya lega sekali, dahagaku langsung terpenuhi.
"Kamu dua hari tiga malam, tidak sadarkan diri, Bal. Bibi sampai khawatir sekali. Kamu kehilangan banyak darah, sempat kejang-kejang beberapa kali. Ini udah masuk kantong yang kelima transfusi darah, Bal. Syukur lah, akhirnya kamu kembali sadar." Bibi tersenyum mengusap rambutku.
Aku melirik laki-laki yang tidur bersandar di kursi, sepertinya itu suami Bibi Syilla, alias Oom-ku juga.
Ah, lagi-lagi aku membuat mereka repot. Sudah berapa hari mereka menginap di sini untuk menjagaku? Bagaimana nasib anak-anak mereka yang harus ditinggal di rumah, demi datang ke sini.
Kuhela napas panjang, aroma dingin dari tabung oksigen ini mulai membuat hidungku perih, terasa seperti dipompa. Tiba-tiba aku teringat pada seseorang.
"Bi, apa Bibi tau bagaimana keadaan teman wanita yang bersamaku? Apa dia baik-baik saja, Bi?" Itu lah kalimat kedua yang kuucapkan.
Bayang-bayang kejadian nahas waktu itu muncul lagi di ingatan, membuat rasa khawatirku pada Andini semakin menjadi. Jujur saja, selama di alam bawah sadar, otakku tak mau lepas dari ingatan tentang gadis bernama Andini itu. Apa yang telah terjadi padanya?
Malam itu, aku sudah merasakan firasat yang ganjil ketika melihat seorang pengendara RX-K*ng yang memandang ke arah kami berulang-ulang. Orang itu bolak-balik sampai tiga kali, seperti sedang memastikan sesuatu.
Kutarik gas motor lebih kencang memepet motor matic Andini yang bergerak pelan di depan. Tiba-tiba saja suara deru kendaraan yang tak terhitung jumlahnya terdengar dari belakang. Berisik sekali.
Brum brum brum!
Awalnya kukira mereka hanya sekadar preman-preman sekitar sini yang sedang iseng. Hingga kemudian lewat kaca spion kulihat salah satu dari mereka membawa golok.
"Cepat, Din!!!“ teriakku pada Andini agar ia menambah kecepatan.
Sayangnya kami kalah cepat. Para pengemudi di belakangku seperti orang-orang kesetanan. Laju sepeda motor mereka tidak terkira.
"Hoi! Berhenti, hoi!" teriaknya.
Aku tak menggubris, terus saja memacu sepeda motor secepat yang kubisa. Namun, beberapa saat kemudian terasa hantaman keras di bagian belakang motorku, seperti ada yang menendang dengan sangat kuat.
Motorku oleng, kehilangan keseimbangan, hingga akhirnya tumbang, menjajal aspal hingga beberapa meter. Percikap api terlihat di kegelapan malam, berasal dari gesekan bagian besi sepeda motor dengan aspal yang keras.
Bruaak. Berakhir di sudut trotoar.
Sekujur tubuhku terasa sakit, tapi tak kuhiraukan. Yang ada di pikiranku saat itu hanyalah bagaimana caranya agar Andini bisa selamat dan tidak terlibat.
"Terus, Din!!! Kabur aja!“ teriakku dengan sisa-sisa tenaga di antara napas yang tersengal.
Namun, Andini malah berhenti di depan sana, menoleg khawatir ke arahku.
"KABUR, DIN! CARI BANTUAN!" teriakku lebih keras, tenggorokanku sampaikan tercekat.
Andini kembali menarik gas sepeda motornya, berniat pergi, tapi sayang terlambat sudah. Dua orang pengendara sudah menghadangnya. Gadis itu tetap berusaha kabur, tapi nahas, kendaraannya malah membentur beton pembatas jalan.
Aku menatap jeri tubuh Andini yang terpental ke depan, kepalanya terbentur keras. Walaupun ia memakainya helm, tetap saja itu pasti sakit sekali.
"Andini!" Aku bangkit hendak menuju ke arahnya.
Namun, tiba-tiba sebuah hantaman mengenai tubuhku dari samping.
Bruk! Aku terpental ke trotoar.
"Mau ke mana kamu, hah?" kata orang yang baru saja menerjangku. Wajahnya menyeringai puas melihatku meringis kesakitan.
Uhuk! Aku terbatuk-batuk, rasanya sulit untuk bernapas, sepertinya ada tulang rusukku yang patah.
Sudut mataku menangkap sebuah batu yang cukup besar tergeletak di tanah. Terlintas di benakku rencana untuk melawan. Langsung kuraih batu itu, berniat melemparkan ke wajah orang yang berdiri di hadapan.
Namun, ia terlebih dahulu mengayunkan parang di tangannya.
Bret. Tangan kiri yang kupakai untuk menghalangi langsung terkoyak dan bersimbah darah.
Hantaman kedua datang dari belakang, tepat di bagian pundakku. Rasanya sakit sekali. Pandangan mataku nanar seketika, lalu jatuh tak sadarkan diri.
***
"Gimana keadaan kamu hari ini, Dik?" Pagi ini seorang perawat yang mengecek tekanan darahku bertanya. Perawat wanita itu tampaknya sudah lumayan kenal dengan wajahku, mungkin karena sering bertemu di ruang cuci darah saat ia mengantarkan pasien rawat inap.
Aku tersenyum saja, tidak mejawab apa-apa. Berbicara pun susah didengar dengan hidung dan mulut tertutup begini.
"Bentar lagi, dokter visit, ya. Hasil labor yang pagi ini juga udah keluar. Semoga ada perkembangan."
Kali ini aku mengangguk pelan.
Ini sudah terlalu lama dari jadwal cuci darah yang harusnya kujalani tiga hari yang lalu. Wajar saja, sesak napas yang kurasakan semakin menjadi-jadi, terutama dengan posisi berbaring telentang seperti ini. Mungkin racun-racun yang seharusnya disaring ginjal, kini telah menumpuk di dalam tubuhku.
Namun, karena AV-Shunt di tangan kananku tidak bisa dipakai akibat bacokan tempo hari, proses hemodialisa masih belum bisa dilaksanakan.
"Hemoglobin darahnya sudah mulai normal ya, Bal. Saya rasa masuk sekantong lagi udah cukup. Apalagi untuk pasien HD yang notabene Hemoglobin-nya memang di bawah orang normal."
"Kapan saya bisa cuci darah, Dok?" tanyaku, masih dengan napas tersengal.
Dokter itu menggelegar. "Meskipun darah udah normal, tapi akses di tangan kamu masih bisa belum bisa dipakai, Bal. Saya pertimbangkan untuk dirujuk, ya. Nanti saya konsulkan dulu ke dokter yang bertanggung jawab di ruang HD. Kamu tunggu aja dulu ya."
Aku mengangguk saja.
Esok harinya, aku baru mendapatkan kabar kalau ternyata aku memang harus dirujuk untuk operasi pemasangan selang di d**a untuk akses cuci darah sementara. Selang yang dipasangkan langsung ke pembuluh dari dan menuju jantung. Dua selang yang dikenal dengan sebutan CDL, Catheter Double Lumen.
Entah ini kali keberapa aku naik ambulan. Tak terhitung lagi, terutama sejak mulai cuci darah. Seringkali do tahun-tahun pertama dulu, kalau sesak darah sudah tak tertahankan, menelepon ambulan adalah opsi terakhirnya. Aku dilarikan ke rumah sakit untuk dirawat inap dan mendapatkan bantuan oksigen.
Suara sirine ambulan meraung-raung memecah keheningan. Melaju kencang di jalan raya menuju rumah sakit rujukan yang jaraknya kurang lebih empat jam perjalanan dari sini.
Sesak napasku semakin menjadi-jadi, apalagi dengan tabung oksigen yang harus dihemat agar cukup selama perjalanan. Keringat membanjiri sekujur badanku. Dengan napas tersengal, aku menatap Bibi Syilla yang duduk tepat di samping tempatku berbaring.
"Sesak banget ya, Bal?" Perempuan itu menatap khawatir, lalu menyeka keringat di dahiku.
Aku hanya bisa diam, berusaha untuk mengatur napas.
"Mau minum?" tanyanya lagi.
Aku menggeleng cepat.
Beban berat ini kembali kurasa, setelah sekian tahun lamanya. Bahkan untuk bernapas saja rasanya sangat susah. Apakah aku akan sanggup bertahan hingga sampai ke rumah sakit tujuan, atau hanya akan berakhir sampai di sini. Entahlah. Yang pasti, kini aku merasakan lelah yang teramat sangat.
Jika boleh memilih, rasanya ingin kuakhiri saja.