Pantaskah Aku Dicintai?

1540 Kata
POV: Iqbal Aku duduk diam di atas kursi roda, memandang ke luar jendela. Kamar tempatku dirawat terletak di bagian paling belakang rumah sakit ini. Dari sini terlihat pagar besi yang berbatasan langsung dengan sawah-sawah milik warga sekitar. Dari balik kaca jendela ini, bisa kulihat burung-burung bangau beterbangan di atas padi-padi yang sebagian masih hijau, sebagian lainnya mulai menguning. Membentang luas hingga kaki-kaki bukit di ujung sana. Di pagi hari, kabut tebal akan menghalangi indera penglihatan, menutupi puncak-puncak bebukitan yang berbaris itu. Namun, ketika mentari muncul, kehangatannya membawa pergi kabut bersama tetesan embun. Menyisakan pemandangan yang begitu sempurna menyejukkan mata. Satu bulan lebih sudah berlalu semenjak kejadian nahas malam itu. Luka-luka lecet di tubuhku sudah tak bersisa, bahkan AV-Shunt di tangan kiriku juga sudah diperbaiki oleh dokter bedah vaskuler, tinggal menunggu waktu untuk bisa dipakai. Satu bulan belakangan, aku cuci darah dengan dua buah selang yang ditanamkan di d**a bagian atas, tepat di bawah leherku. Hanya saja, selang ini tidak permanen, sifatnya hanya sementara saja. Di samping itu, banyak kekurangan dan efek samping yang mulai kurasakan. Sebagai sebuah benda asing yang menempel di tubuh, tentu saja membuatku merasa tidak nyaman. Ditambah lagi, luka terbuka tempat menanamkan jarumnya juga rentan infeksi. Apalagi kalau sampai basah terkena keringat, atau terkena air saat mandi. Repot sekali. Kalau sudah infeksi, juga akan berpengaruh pada proses cuci darah yang sedang kujalani. Memberikan efek mengigil, demam tinggi, dan banyak hal lainnya yang bisa mengganggu dan menghalangi kelancaran proses mencucian darah. Makanya, tidak sabar rasanya menunggu sampai AV-Shunt si tangan kiriku bisa dipakai kembali. Namun, aku masih harus menunggu beberapa minggu lagi. Bagaimana pun keadaan badanku, aku masih bisa menerima kenyataan tentang itu. Namun, luka di hati ketika mendengar apa yang telah terjadi pada Andini, membuatku tak pernah bisa berhenti untuk menyalahkan diri sendiri. Aku semakin merasakan betapa tidak pantasnya diriku ini untuk mencintai dan dicintai orang lain. Hanya seorang laki-laki lemah, tak berdaya, bahkan untuk melindungi satu-satunya wanita yang paling dicintai pun, tidak bisa. Aku hanyalah seorang pecundang. Aaarrgh! Kuacak-acak rambutku sendiri, seperti orang gila. Terus merutuki diri sendiri. "Bal, ngapain? Kok ngelamun terus?" Suara Bi Syilla mengagetkanku, tiba-tiba ia sudah berdiri di depan pintu. Aku menoleh ke arahnya, lalu menggeleng. "Gak ngelamun kok, Bi." Sudah tiga hari, aku dirawat lagi karena kekurangan darah. Hemoglobin turun terlalu rendah, sehingga harus transfusi. Semenjak hari itu, entah sudah berapa kantong darah yang masuk ke tubuhku. Makanan begitu sukar ditelan, semuanya terasa pahit di lidah. Tidur di malam hari pun sulit. Sebentar-sebentar aku terjaga lagi. Mimpi-mimpi buruk terus saja datang. Berat badanku juga turun drastis. Yang awalnya sudah kurus, kini tinggal kulit pembalut tulang saja. "Belum mau istirahat di tempat tidur, Bal?" tanya Bibi kemudian. Aku menggeleng lagi. "Duduk di sini dulu aja, Bi. Pegel tidur terus." Wanita itu tersenyum. Aku bisa menangkap raut lelah di wajahnya. Harus bolak-balik ke sini dan ke rumahnya yang berjarak sangat jauh dari sini. Berulang kali sudah ku ingatkan, aku bisa sendiri, tapi Bibi tetap saja datang. Aku jadi kasihan padanya. Bibi juga orang yang paling repot mencarikan pendonor darah buatku. Golongan darahku B+, termasuk sukar menemukan pendonornya. Untung saja, rekan-rekan di Gema FM juga banyak membantu mencarikan. "Kok nasinya gak dimakan, Bal?" Bibi membuka rantang aluminium yang diberikan petugas tadi pagi, belum kusentuh sama sekali. "Belum lapar, Bi," jawabku. "Makan dikit lah, Bal. Biar darah gak kurang-kurang terus, jadi gak perlu transfusi lagi." Bibi mendekat membawa makanan itu. Ia sudah mencampurkan nasi dengan lauk-pauknya, ada sayur juga. Aku menatap makanan itu, tidak berselera sama sekali. Namun, karena Bibi memaksa, akhirnya kumakan satu-dua suap. Rasanya hambar, lama-lama malah jadi pahit. Mataku berpindah ke layar HP, mencari aplikasi w******p, melihat informasi tentang sebuah kontak yang bernama Andini Safitri. Selama satu bulan belakangan, setiap hari aku selalu melakukan hal ini. Memastikan, kalau saja nomornya kembali aktif. Namun, hasilnya nihil. Last see-nya tetap sama. Ia tak pernah aktif lagi semenjak malam itu. Kutatap foto profil w******p-nya, yang masih sama hingga sekarang. Seorang gadis yang tengah tersenyum riang, menjepret gambar dirinya sendiri lewat kaca spion motor matic-nya. Menatap senyum itu, sebelumnya aku begitu bahagia. Namun, saat ini yang terasa hanya pilu. Betapa kebahagiaan, gelak tawa, dan rencana-rencana besar yang telah kami rancang sekian lama, hancur begitu saja dalam satu malam. Mimpi-mimpi indah yang baru saja kudapat direnggut paksa oleh orang-orang, yang sampai kini masih berkeliaran di luar sana dengan leluasa. Andini. Di mana kah ia sekarang? Apa yang sedang ia lakukan? Apa ia bisa makan dengan lahap, ataukah sama sepertiku yang bahkan menelan sesuap nasi saja rasanya sulit? Andini. Aku tahu ini semua salahku. Memang benar, apa yang menimpamu adalah sebab kelalaianku. Namun, mengapa ia menghilang tanpa memberi kabar apa pun. Aku hanya ingin memastikan ia baik-baik saja di sana. Itu sudah cukup buatku. "Bi, apa masih belum ada kabar dari gadis itu?" Pertanyaan ini, entah sudah keberapa kalinya kuulang. Bibi menggeleng. "Bibi udah tiga kali datang ke rumah yang kamu bilang waktu itu, tapi sama aja, Bal. Rumahnya terkunci, tidak ada orang. Bahkan terakhir kali Bibi ke sana, rumput-rumput sudah memanjang di halaman depannya, seperti memang sudah lama ditinggal penghuninya." Aku menghela napas. Jawaban yang sama tempo hari juga kudapat dari Leo. Apa Andini sengaja menghilang untuk menghindari aku? Namun, mengapa ia lakukan itu? Ah, kepalaku sakit. "Eh, lihat. Siapa yang datang!" Bibi berseru. Aku langsung melihat ke arah pintu, ternyata kak Bunga. Ia melangkah masuk, menenteng kantong kresek yang terlihat tidak asing. "Pagi, Bi." Ia langsung bersalaman dengan Bibiku dan mencium tangannya. "Pagi juga, Bunga. Gak siaran hari ini?" "Jadwal siang, Bi. Makanya datang pagi-pagi. Hehe." "Ooh, gitu. Yaudah duduk aja. Iqbal-nya lagi ritual pagi, tuh." "Hah? Ritual apa, Bi?" "Pagi-pagi kayaknya wajib banget ngelamun dulu bentar, trus nengok ke luar jendela." "Hahaha. Itu toh ritualnya." Kak Bunga mendekat, aku membalas senyumnya sedikit. "Masih gak mau makan, ya?" tanyanya. Aku menggeleng. Wajahnya semakin dekat, sampai-sampai bisa kucium aroma parfum khas-nya, aroma buah melon. "Mau gorengan gak? Aku bawain nih?" bisiknya. Aku melotot. Perawat di ruang rawat inap ini sedikit tegas, biasanya pasien dilarang makan makanan yang berasal dari luar. "Nanti ketahuan, dimarahin," jawabku. "Ya jangan sampai ketahuan," kilahnya lagi, lalu tertawa. "Dari pada kamu gak makan-makan. Tadinya aku mau bawa buah-buahan, Bal. Tapi kan kamu gak boleh banyak makan buah, nanti malah sesak napas lagi." "Makan gorengan juga gak boleh banyak kali, Kak. Kolesterol." "Iya, sih." Aku diam sejenak, lalu menelan ludah melihat aneka gorengan yang masih hangat itu. Ada risol, pastel, bakwan, tahu, dan kesukaanku, tempe goreng. "Enak banget nih, masih anget." Kak Bunga mengunyah satu, seperti sengaja membuatku ngiler. "Yaudah coba satu deh." Kucomot tempe gorengnya. Bibi yang melihat hanya bisa tersenyum saja, sambil jaga-jaga kalau ada perawat yang lewat. Ia pun ikut mencomot gorengan tersebut. Di udara pagi yang dingin begini, gorengan hangat memang lah menu paling asyik. Kedatangan kak Bunga yang memang selalu riang, membawa efek positif juga padaku. Ternyata sambil bercanda-canda, melupakan masalah yang ada, rasa pahit di lidahku bisa hilang sejenak. Aku bahkan bisa menghabiskan tiga buah gorengan. "Eh, gak boleh kebanyakan juga," sanggah kak Bunga ketika aku masih mau nambah lagi. "Makan nasinya aja, ya." Aku pun mengangguk, mencoba lagi makanan dari rumah sakit itu. Ternyata dengan suasana hari yang lebih baik, makanan ini tak begitu buruk. Masih bisa dimakan. Melihat kak Bunga yang sedang mengebor dengan Bibi, tiba-tiba membuatku teringat akan perkataan Bibi beberapa minggu yang lalu, saat pertama kalinya kak Bunga dan Leo datang menjenguk. "Itu tadi siapa, Bal?" tanya Bibi setelah mereka pergi. "Yang cewek itu kak Bunga, yang cowok namanya Leo, Bi." "Iya kalau itu Bibi udah tau. Maksudnya, Bunga itu siapanya kamu?" Aku menatap heran, tak mengerti ke mana arah pertanyaan Bibi. "Siapanya aku? Ya, bukan siapa-siapa, Bi, cuma teman kerja di Radio. Sama-sama penyiar gitu." "Iya kah? Tapi dia kayak care banget loh, Bal, sama kamu. Bibi perhatiin, perhatiannya kayak lebih intens aja gitu. Cara dia menatap kamu juga beda, kayak care, peduli, tapi gak kasihan, gitu loh. Tadinya Bibi pikir dia pacar kamu, atau paling gak temen deket gitu." "Perhatian lebih gimana maksudnya, Bi?" Aku semakin penasaran. "Waktu kamu belum sadar, dia sampai berkali-kali ke sini loh karna khawatir sama kamu. Trus dia juga sampai minta nomor HP Bibi, minta dikabarin kalau ada apa-apa sama kamu. Bahkan dia nawarin diri buat gantian nungguin kamu." Aku melotot tidak percaya. "Bibi serius?" Bibi mengangguk. "Kamu yakin gak ada hubungan apa-apa sama dia?" "Enggak, Bi. Lagian kan dia lebih tua beberapa tahun dari aku, Bi. Gak mungkin lah." "Ya ampun, Iqbal. Bibi kasih tau ya. Kalau udah urusan hati, umur itu hanyalah sebuah angka. Apalagi cuma beda berapa tahun." "Kak Bunga itu tiga tahun di atas aku, Bi." "Nah kan, cuma tiga tahun. Kamu lupa ya?" "Lupa apa, Bi?" "Ayah dan Ibumu itu loh. Kan tua an ibumu tiga tahun." "Oh iya." Aku teringat. Ibu memang pernah cerita soal itu, dulu. "See? Age is just a number." Aku menelan ludah. Apa benar kata Bibi? Masa iya, kak Bunga punya rasa padaku? Kalaupun iya, bagaimana bisa selama ini aku tak menyadarinya? Apa karena aku tak pernah melihat ke arahnya, dan selalu fokus pada Andini? Namun, kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga. Semenjak aku dekat dengan Andini, kak Bunga seolah-olah menjauh, dan mulai menyibukkan diri sendiri dengan pekerjaan. Ah, kalau benar begitu. Betapa jahatnya aku selama ini padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN