Dear Diary

1435 Kata
POV: Andini Dear Diary Setelah sekian lama, aku selalu bilang bahwa hatiku baik-baik saja. Hari ini aku tak sanggup berbohong lagi. Bagaimana mungkin aku bisa berbohong pada diri sendiri, mengatakan bahwa aku sama sekali tidak rindu padanya? Itu sama saja dengan membunuh hatiku dengan membubuhkan racun mematikan tiga kali sehari. Atau seperti menikankam sembilu berbisa setiap detik pada benih-benih kerinduan yang tumbuh. Setiap hari yang berlalu tanpa dia, setiap langkah yang kubuat semakin jauh darinya. Semua itu kuhitung sebagai suatu kepedihan mendalam. Namun, bukankah cinta memang selalu begitu? Dukanya tiada akhir. Deritanya tak berujung. Dear Diary Entah mengapa, malam ini saat menatap langit yang tiada bntang-gemintang, aku tiba-tiba merindukan hujan. Jangan tanya kenapa, aku pun tak tau jawabannya. Satu hal yang pasti, ketika hujan datang dan halaman dipenuhi genangan. Pipiku ikut basah, mencurahkan isi hati yang depenuhi kenangan. Segala hal yang ada di hatiku, kini hanya bisa kucurahkan pada selembar kertas dan sebuah pena. Walau tidak begitu membantu, setidaknya masih ada sedikit tempat untukku mencurahkan apa yang sedang kurasa. Yah, meski hanya pada secarik benda mati. Aku kini berada di tempat yang sangat jauh dari rumahku sebelumnya. Tak ada yang kini bisa dilakukan selain pasrah pada keputusan keluarga besar ayah. Segala hal buruk yang terjadi menurut mereka ada salahku yang tidak pernah mau mendengarkan dan menuruti apa yang mereka katakan. Semenjak kejadian yang menimpaku malam itu, kondisi ayah juga ikut memburuk. Tekanan darahnya tinggi lagi karena kurang tidur, sibuk menjagaku setiap malam. Apalagi dengan kondisi psikisku yang semakin hari semakin buruk. Tentu saja ayah juga ikut terbawa pikiran dibuatnya. Sampai hari ini, aku masih menutup diri dari kehidupan nyata. Bahkan untuk sekadar bertegur sapa dengan para tetangga saja aku sungkan. Ketika ada tamu yang datang ke rumah, aku lebih memilih untuk bersembunyi di dalam kamar. Benar-benar tak mau bertemu siapa pun, kecuali ayah dan Suci. “Lihat, apa yang terjadi padamu karena tidak mendengarkan kata-kata saya!!!” Begitu kata Tante Zee saat pertama kali datang menemuiku, dengan eskpresi garangnya dan wajah sangar dengan mata melotot nyaris melompat keluar. Ya, dia sukses, dengan kata-kata yang terlontar dari mulutnya, bukannya membuatku lebih baik, malah justru membuatku semakin tertekan. Percayalah, nasihat demi nasihat yang diberikan atas hal yang sudah terjadi itu tak akan memberikan manfaat apa-apa selain memperburuk suasana hati orang yang menjalani. Makanya, sering kali ketika ditimpa suatu masalah, kita hanya butuh seorang pendengar yang baik yang mampu menampung semua cerita yang kita utarakan. Bukan soal nasihat, masukan, atau pun solusi yang diberikan, tapi hanya sekedar menjadi pendegar. Itu saja sudah cukup. “Bang, sekarang Abang jangan berkilah lagi, turuti saja perintah ibu. Aku dan Ibu sudah dari dulu menyiapkan tempat tinggal yang lebih layak untuk kalian, entah apa sebabnya kalian berdua tidak mau menurut. Lebih memilih tinggal di lingkungan kumuh seperti itu.” Kali ini matanya mengarah ke ayahku. Kalau seandainya kondisiku sedang baik-baik saja, tentu aku tak akan tinggal diam begini. Ayah pun tak banyak menjawab lagi. Hanya menunduk diam, seolah-olah mengakui kalau semua yang terjadi ini juga akibat kelalaiannya. “Lingkungan yang jelas. Berdekatan dengan orang-orang yang jelas asal, bibit, bebt dan bobotnya. Orang-orang yang levelnya sama dengan keluarga besar kita. Agar anak perempuan Abang ini tidak asal bergaul dengan sembarangan orang. Lihat kan akibatnya sekarang!” Wajah Bibi terlihat sangat kecewa, kupikir ada benarnya juga semua yang ia katakan. Itulah awal mula aku dan ayah akhirnya pindah ke tempat ini. Kini kehidupan kami jauh lebih baik dari segi materi. Aku tak perlu pusing-pusing lagi memikirkan biaya hidup sehari-hari, bahkan untuk biaya kuliah jika aku masih berniat melanjutkan pendidikan, semuanya telah ditanggung oleh keluarga besar. Namun, dengan catatan, semua hal yang kami lakukan harus di bawah pengawasan mereka. Jangan harap bisa melakukan hal-hal yang di luar izin dari mereka. Bagiku dulu, ini sama saja dengan penjara secara tidak langsung Karena itu lah dulu aku lebh memilih pergi, membawa ayahku dan mengurus semuanya sendiri. Walau sehari-hari harus serba kekurangan, berjuang mati-matian membayr biaya pendidikan. Hidup pas-pasan, tapi aku bebas melakukan apa yang kumau. Bebas pergi ke mana yang aku suka, tapa ada yang mengekang, tanpa ada yang mengawasi. Namun, kini, semua itu tidak penting lagi. Otakku sudah lelah dengan pikiran-pikiran seputar itu. Tak penting lagi yang namanya ego, kebebasan dan memenuhi keinginan sendiri. Hidupku rasanya sekarang sudah tidak ada artinya. Beberapa hari setelah aku dirawat dulu, ketika kondisi fisikku sudah agak pulih. Beberapa orang anggota kepolisian datang ke ruang rawat inap untuk meminta keterangan. Kata mereka, petunjuk yang ada di TKP sangat minim, kejahatan yang mereka lakukan begitu terorganisir, bersih, hampir tanpa celah. Hal ini tentu akan menyulitkan proses penyelidikan demi menangkap para pelaku. “Apa nona Andini bisa sedikit menggambarkan bagaimana ciri-ciri mereka? Seperti apa sepeda motor yang mereka pakai? Apa ada gambaran nomor polisinya, walau tidak semua. Atau apa saja yang kira-kira bisa membantu mencari siapa pelakunya.” Aku menggeeng pelan. “Saya sama sekali tidak tahu seperti apa wajah mereka, Pak. Yang saya ingat waktu hanya ada tiga orang di dalam satu ruangan gelap, mereka bertiga merokok. Lalu salah satu dari mereka pergi menggunakan sepeda motor yang suaranya sangat keras.” Aku berusaha keras mengingat kejadian malam itu, sambil berusaha agar jiwaku sendiri tidak terguncang. “Bagaimana dengan kejadian sebelumnya, ketika di jalan raya?” Petugas itu bertanya lagi. “Sama saja, Pak. Kondisi jalanan di sana kan juga gelap sekali. Saat mereka melaju ke arah saya juga sulit melihat wajah mereka, cahaya lampu sepeda motor yang mengarah ke mata jadi bikin silau. Yang saya ingat waktu itu ada dua atau tiga sepeda motor yang melaju ke arah saya, dua lainya tetap di belakang. Motor mereka seperti motor sport yang knalpot-nya di-modif jadi sangat berisik.” “Baiklah, terima kasih atas keterangan Saudari Andini. Semoga kasus ini segera terpecahkan. Selamat siang!” Aku mengangguk pelan, sebelum beberapa orang petugas berpakaian serba coklat itu pergi meninggalkan kamar rawat inap. Beberapa saat kemudian, ada yang datang lagi. Kali ini sosoknya tidak asing. Awalnya, aku berniat menyuruh ayah untuk melarangnya masuk, tapi ternyata orang itu juga datang dengan anggota kepolisian. Aku tak berdaya lagi. “Kak Gilang?” Aku menatap heran, meminta penjelasan. “Din, pertama, aku turut berduka cita atas apa yang menimpa kamu. Yang kedua, kenalin, ini Pak Bastian Nasution, beliau adalah teman dekat ayahku dan juga salah satu detektif senior. Dia dan anggotanya bakal ngebantu sampai kasus ini selesai.” Aku keberatan, ini terlalu berlebihan. “Gak usah deh, Kak Lang. Cukup polisi aja yang menyelidiki, aku gak mau ngerepotin semua orang gara-gara masalah ini.” “Enggak, Din.” Kak Gilang tetap bersikeras. “Aku gak ada maksud apa-apa, sungguh. Gak ngerasa direpotkan juga. Aku murni ingin membantu menangkap orang-orang jahat itu, biar keadilan bisa cepat ditegakkan.” Aku menghela napas panjang. “Aku juga udah ngomong sama ayahmu, dan beliau udah setuju. Bayangin, Din, orang-orang yang udah ngejahatin kamu itu saat ini masih berkeliaran bebas di luar sana. Dan bisa jadi juga mereka melakukan hal yang sama lagi ke korban-korban lainnya. Ayolah.” Setelah berpikir sejenak, akhirnya aku mengangguk setuju. Pertanyaan-pertanyaa yang diajukan laki-laki itu kurang lebih sama dengan yang ditanyakan petugas kepolisian tadi. Kecuali di beberapa poin. “Baiklah, saya rasa cukup. Satu pertanyaan terakhir saja. Walaupun saat itu keadaannya sangat gelap, tak ada sedikit pun cahaya, tapi tentunya indra pendengaran tetap bisa berfungsi dengan baik. Apa kamu ingat percakapan mereka malam itu?” Aku berpikir sejenak, mencoba mengingat-ingat. “Aku gak ingat lagi detailnya gimana. Tapi kalau gak salah mereka ngomong kalau kejadian yang terjadi pada kami ini di luar rencana, mereka juga berbicara tentang rencana memberikan ancaman, gitu. Salah seorang dari merka dipanggil ‘Bos’ kemudian ada juga satu orang yang dipanggil ‘Yan’, aku masih ingat itu.” Laki-laki paruh baya yang bernama Bastian Nasution itu mengangguk-angguk. “Baiklah, informasi ini akan sangat membantu untuk menyelidikan kami selanjutkan. Terima kasih, Nona.” Aku tersenyum, ini kali kedua aku dipanggil “Nona” hari ini. Lucu saja rasanya menyebut “Nona Andini”. “Din, aku juga ikut pamit ya, gimana perkembangan ke depannya, akan langsung dikabari lewat ayahmu.” “Oke, Kak Lang, terima kssih sebelumnya.” Namun, sejak hari itu sampai sekarang, belum ada informasi perkembangan apa-apa yang aku terima. Aku juga tak begitu peduli. Memangnya apa yang bisa berubah dengan tertangkapnya para penjahat itu? Dear Diary Apa kau bisa menanyakan kabar sebuah tempat di sana? Tempat yang dulu aku dan dia selalu datangi. Di kala cahaya jingga menyelimuti lapisan teratas riak-riak air sungai. Keindahan yang hakiki, bukan? Tapi tetap tidak cukup untuk membuat mataku berpindah dari senyumnya Jika bisa, tolong tanyakan pada tempat itu. Apakah orang yang sama, masih sering datang ke sana?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN