POV: Andini
Cahaya rembulan di atas sana tak begitu menolong karena terhalang lebatnya dedaunan yang rimbun, semuanya hanya telihat berwarna hitam. Aku berlari kencang di tengah kegelapan malam dengan napas tersengal, tenagaku rasanya sudah ada di ambang batas. Kedua kakiku mulai lemah, tak sanggup lagi menopang berat badan, sedikit lagi pasti ambruk.
Sementara itu di belakang sana, samar-samar kulihat bayangan hitam yang tinggi dan besar itu masih terus mengejar. Suara tawa mereka yang berat terdengar sampai ke sini. Mereka berjumlah tiga orang, dan ketiganya sama-sama menyeramkan, aku bergidik mengingat pemandangan saat mereka tiba-tiba muncul tadi. Tubuh ketiganya terlihat menjijikkan dengan lendir berwarna biru tua di sekujur badan.
Tatapan mata mereka yang kejam seperti begitu bernafsu untuk menangkapku. Wajah mereka juga tampak sangat menyeramkan dengan gigi-gigi runcing dan tajam serta lidah panjang sampai ke leher. Kulit wajah mereka juga terlihat tidak rata, ada beberapa benjolan tidak wajah berwarna kemerahan dengan lendir menjijikkan menyelimuti.
Dalam balutan rasa takut yang teramat sangat, aku memacu langkah untuk berlari sekencang-kencangnya, walaupun tak tahu ke mana arah yang hendak dituju.
Aku juga tak tahu bagaimana caranya tiba-tiba bisa berada di tengah-tengah hutan antah berantah seperti ini, seorang diri pula.
"Heh-heh-heh." Suara tawa mereka yang parau terdengar semakin dekat, detak jantungku tak terkontrol lagi. Keringat membasahi sekujur badan, aku mengigil ketakutan.
"Mau kabur ke mana kamu, Cantik? Heh heh heh." Mereka begitu senang menyaksikan langkahku yang semakin pelan karena kehabisan energi.
Aku menoleh ke belakang. Sedikit cahaya rembulan yang menembus daun-daun pohon membuatku bisa melihat seringai lebar wajah-wajah menyeramkan itu. Hiiiy, aku bergidik lagi.
Kukumpulkan sisa-sisa tenaga yang masih ada lalu kembali berlari, tapi nahas, dalam kegelapan mataku tidak melihat ada akar pohon yang melintang di depan, kakiku pun tersangkut.
Bruk! Tak ayal lagi, aku jatuh tersungkur ke tanah yang lembab.
Suara derap langkah di belakang semakin dekat, hanya beberapa meter lagi sebelum mereka menjangkau tubuhku.
Kucoba bangkit tapi sulit sekali, kuraba kaki, celana panjang yang membalasnya terasa basah oleh darah, sepertinya terluka cukup dalam. Aku beringsut, merayap menggunakan kedua tangan dengan tenaga yang masih tersisa. Mencoba bergerak menjauh dari mereka.
"Heh-heh-heh. Masih mencoba kabur ya?" Suara parau itu terdengar lagi.
Tak kuhiraukan, aku terus merayap dalam kegelapan, tak peduli pada rerumputan tajam yang melukai kulit, lalu bersembunyi di balik sebatang pohon yang besar.
Suasana terasa hening seketika, yang terdengar hanyalah suara jangkrik dan binatang-binatang malam lainnya. Aku menajamkan pendengaran, suara langkah itu tidak terdengar lagi. Apa mereka sudah tidak mengejarku?
Krik krik krik. Aku masih diam dan menunggu dalam perasaan cemas.
Namun, ketika hati mulai terasa tenang karena beranggapan mereka sudah pergi, tiba-tiba.
"Haa!!!" Ketiga sosok itu muncul telat di depanku.
"Aaahh!!! TOLOONG!!!" teriakku sekencang-kencangnya berharap ada yang akan mendengar.
Namun, entah mengapa rasanya lidahku kelu, tenggorokan juga tercekat, tak dapat mengeluarkan suara.
Saat itu lah aku merasa seperti ada seseorang yang mengguncang-guncang tubuhku.
"Din, Dini. Kamu kenapa?" Itu suara Ayahku.
"Dini! Mimpi buruk ya?"
Aku membuka mata, ternyata semua itu hanya mimpi. Lagi-lagi aku mengalami mimpi buruk yang begitu menyeramkan sehingga membuatku terjaga di tengah malam.
"Ayo minum dulu," kata Ayah sambil menyodorkan segelas air putih.
Seperti ini lah kejadian yang selalu kualami setiap malam, beberapa waktu belakangan. Susah sekali untuk memejamkan mata untuk tidur, dan ketika sudah tertidur lelap pun, mimpi buruk selalu datang sehingga aku harus terbangun lagi. Nightmare.
Siang hari pun tidak kalah buruknya, kondisiku begitu jauh dari kata baik-baik saja. Apalagi dengan lingkungan tempat tinggalku sekarang. Ada tante Zee yang sampai saat ini masih begitu kubenci, begitu juga nenek ibunya Ayahku. Orang-orang yang sama sekali tidak ingin kulihat, kini kutemui setiap hari. Jangan tanya bagaimana perlakuan mereka, tentu saja sangat buruk. Saking buruknya sampai-sampai membuatku tertekan dan sakit jiwa. Aku benar-benar bisa gila kalau ini berlangsung lama.
Kata-kata yang terlontar dari mulut tante Zee tempo hari membuatku benar-benar syok dan tertekan. Terlepas dari apa yang dikatakannya itu benar atau sekadar karangan semata, tapi yang pasti membuatku benar-benar terguncang.
Tante Zee dengan bringas meraih HP yang ada di tanganku, lalu membantingnya ke lantai. Matanya melotot karena amarah yang sedang mencapai puncaknya.
"Buat apa lagi kamu cari-cari tahu tentang dia, hah!?" teriaknya seolah-olah membuat seisi rumah bergetar. "Belum cukup apa yang terjadi padamu saat ini? APA BELUM CUKUP?"
Aku menunduk sambil menangis sesegukan, seperti anak kecil yang tengah dimarahi ibunya.
"Gara-gara dia kamu jadi celaka, gara-gara dia juga kamu jadi korban p*********n! APA ITU BELUM CUKUP!?" Tante Zee sepuas hatinya memarahiku, ayah pun hanya bisa diam, tak berkata-kata lagi. "Buat apa sekarang kamu masih mencoba mencari cara untuk berhubungan dengan dia? Buat apa, Andini? APA KAMU SUDAH GILA? BODOH!!!"
Aku sampai menutup telinga saking tidak tahan dengan kerasnya teriakan Tante Zee. Kalau seandainya rumah-rumah di sekitar sini berdekatan dengan tetangga lainnya, pasti mereka sudah mendengar semua perkataannya.
"Mulai sekarang camkan dalam otak kamu, Andini. Iqbal sudah mati! Kamu, tau? Dokter yang merawatnya di rumah sakit ibukota adalah temanku, dia bilang kalau Iqbal sudah tidak tertolong. Jadi mulai sekarang, lupakan semua tentang laki-laki itu. Dia sudah mati. PAHAM KAMU!? Gadis bodoh!"
Setelah puas memaki-maki dan memarahiku, wanita itu melenggang pergi di rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat tinggalku dan ayah. Ya, kami memang tinggal satu komplek perumahan. Tempat ini, semuanya milik keluarga ayahku yang kaya raya.
Tadi, tanpa sepengetahuanku ternyata bibi Zee memeriksa isi HP yang selama ini kupakai. Akhirnya ia mengetahu isi chatku dengan beberapa orang teman, termasuk chat dengan Suci, ketika aku minta tolong untuk mencari kabar tentang bang Iqbal.
Sontak saja, sejak saat itu, semua akses kepada teman-teman diputuskan. Aku hanya boleh berhubungan dengan orang-orang yang sudah diketahuinya bibir, bebet, dan bobotnya oleh keluarga besar. Serta dijamin tidak akan memperburuk keadaanku.
Namun, ternyata yang terjadi justru sebaliknya, keadaanku setelahnya begitu mengkhawatirkan.
"Aaahh! Toloong!" teriakku di tengah malam. "Toloong aku! Ayaah!" Aku meringkuk ketakutan di balik selimut.
Suara langkah kaki terdengar saat pintu kamarku terbuka. Cahaya senter dari luar perlahan masuk ke dalam, samar-samar ku lihat ayah tergopoh menuju ke arahku. "Kenapa, Din? Ada apa?"
"Gelap, Yah. Andini takut," ucapku lirih, menggenggam erat tangan ayah.
Ketika menyadari tidak ada cahaya, sontak semua hal-hal menyeramkan itu kembali hadir di ingatanku, membuatku ketakutan setengah mati. Jika sudah begitu, maka serangan panik juga mulai datang. Jantungku berdetak sangat cepat, napasku memburu, seluruh tubuhku rasanya gemetar terutama kaki dan tangan. Akibatnya aku jadi sulit bergerak dengan normal, tremor parah.
Ayah beringsut mendekat, lalu merangkul pundakku. "Yaudah gak usah takut lagi, kan udah terang. Ada ayah juga di sini."
Buru-buru kuraih senter di tangan ayah, lalu meletakkan di depan muka. Dengan adanya cahaya, semua hal dapat kulihat sekarang, rasa takutku pun berkurang.
Entah mengapa, semenjak hari itu, banyak perubahan buruk yang terjadi pada diriku, bahkan bisa dibilang semakin hari kondisi psikis-ku semakin buruk saja. Selain menjadi anti-sosial, aku juga takut pada beberapa hal. Hal-hal yang kutakutkan pun rasanya tidak wajar.
Aku takut sendiri, walaupun di siang hari dan terang benderang, ketika tak ada siapa-siapa di rumah, aku merasakan takut yang teramat sangat. Seolah-olah, akan ada saja penjahat yang datang ke rumah ini dan menculikku.
Aku juga gakut gelap. Ketika tak ada satu pun cahaya, yang terlihat hanya hitam dan kelam, maka bayangan-bayangan menyeramkan muncul begitu saja di ingatan. Membuatku menjerit histeris karena ketakutan. Bahkan ketika tidur pun, aku tak bisa lagi menggunakan lampu tidur yang cahayanya redup, aku hanya bisa terlelap dengan lampu terang benderang. Itu pun tak jarang masih terbangun beberapa kali karena mimpi buruk.
Mood-ku pun gampang berubah-ubah. Walaupun dari dulu sebenarnya sebagai seorang wanita, aku cukup sering berhadapan dengan mood-swing, tapi kini rasanya terlalu berlebihan. Bahkan aku sendiri merasa terganggu olehnya. Sewaktu-waktu, aku bisa saja menangis sendirian tanpa sebab yang jelas, di saat yang lain aku juga marah-marah sendiri. Kesal dan sedih yang tak bisa dijelaskan apa penyebabnya.
Kemudian, yang paling menganggu. Aku takut pada orang asing. Kini, semua orang asing yang kulihat, menjadi sosok antagonis. Mereka semua terlihat seperti penjahat. Tak peduli mereka laki-laki atau perempuan, tua atau muda, bahkan anak-anak kecil sekali pun. Aku takuti.
Pernah suatu hari, salah seorang tetangga ada yang datang ke rumah, dia adalah ketua RT di tempat ini, mungkin berniat menemui ayahku. Kala itu aku sedang duduk di teras rumah, tak menyadari ada yang datang, izin pada satpam di depan pagar. Tiba-tiba saja dia sudah berdiri di sampingku.
"Dik, ayahnya ada?" tanya laki-laki paruh baya itu.
Handphone yang ada di tanganku jatuh seketika. Aku kaget bukan kepalang, spontan langsung lari ke dalam rumah. "Ayaah!" teriakku meninggalkan orang tersebut yang melongo heran.
"Kenapa, Din?" Ayah yang sedang duduk di ruang depan ikut panik mendengar teriakanku.
"A-ayah, i-tu ...." Bibirku gemetar membuat kata-kata yang keluar dari mulutku jadi tidak jelas.
"Ada apa?"
"Ada o-orang."
"Siapa?"
"Gak tau, Yah." Aku menunjuk keluar, lalu langsung berlari ke kamar. Tak berani duduk-duduk di luar rumah lagi.
Aku dibawa ke seorang dokter spesialis kejiwaan, entah Psikiater atau Psikolog namanya. Yang pasti, setelah sampai di sana, aku disuruh berbaring dalam posisi nyaman, kemudian mataku tiba-tiba saja mengantuk dan tertidur seketika. Dokter wanita itu menanyakan banyak hal, aku pun dengan leluasa menceritakan semua padanya.
"Perempuan dengan trouma mendalam seperti adik ini memang berkemungkinan mengalami gangguan kecemasan, Pak. Apalagi trauma-nya sampai ke kasus pemerkosaan."
Aku masih terbaring di tempat tidur di dalam ruangan praktek dokter tersebut saat ia berbicara dengan ayah dan Tante Zee di luar. Namun, telingaku masih cukup tajam untuk menangkap obrolan mereka.
"Hal ini biasa disebut post-traumatic stress disorder atau PTSD. Hal ini terjadi karena dia selalu saja teringat pada kejadian traumatis tersebut, dan selalu merasakan seolah-olah dirinya berada dalam keadaan berbahaya," terang dokter tersebut.
"Apa yang bisa dilakukan untuk membantu mempercepat pemulihannya, Dok?" Kali ini Tante Zee yang bertanya. Ternyata walaupun sama-sama seorang dokter, kemampuannya tak mencakup masalah kejiwaan.
"Harus terus didampingi ya, Bu. Pasien-pasien seperti ini sangat rentan berujung bunuh diri. Karena depresi dan stress berkepanjangan, akhirnya mereka memutuskan untuk mengambil jalan pintas dan mengakhiri hidupnya."
"Ya ampun. Jangan sampai, Dok!" Kudengar ayah berseru khawatir.
"Semoga saja tidak sampai separah itu, Pak. Saya akan bantu dengan hypnotherapy, tapi tetap saja pendampingan dari keluarga dan orang-orang yang dia cintai sangat lah penting."
Aku menghela napas panjang. Di satu sisi, aku juga tak ingin seperti ini, tentu saja, aku ingin kondisi fisik dan psikis-ku baik-baik saja. Siapa juga yang mau jadi orang gila?
Namun, kadang-kasang terasa seperti segala hal terjadi di luar kendali. Meskipun sekuat tenaga aku menahan, tetap saja tidak bisa.
Setelah pulang ke rumah, yang tentu saja masih terasa seperti penjara. Semua yang kulakukan selalu diawasi dan dibatasi. Aku hanya boleh berteman dengan orang-orang tertentu saja. Makanya, akhirnya kuputuskan untuk berdiam diri lagi di kamar. Entah hal ini jua lah, yang pada akhirnya membuat kondisi kejiwaanku semakin terganggu.
Namun, siang itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, akhirnya sahabatku Suci, datang ke sini. Entah apa yang dikatakan ayah pada nenek dan Tante Zee, sehingga akhirnya mereka mengizinkanku untuk bertemu dengan sahabatku itu. Padahal sebelumnya, mereka semua mati-matian melarangku berhubungan dengan Suci, apalagi setelah tahu kalau Suci membantuku mencari tahu tentang bang Iqbal waktu itu.
Mungkin akhirnya mereka mau melakukan ini, dengan harapan kondisi kejiwaanku bisa membaik.
"Andini!" Suci berteriak parau begitu melihat ke arahku. Matanya berair seketika.
"Suci, akhirnya kamu datang," bisikku pelan.
Rasanya senang sekali, setelah sekian lama hidup tanpa bergaul dengan siapapun di luar sana. Semua teman-teman yang datang, apalagi yang berhubungan dengan Gema FM selalu dihalangi oleh keluargaku. Padahal bisa jadi, aku tidak akan se takut itu jika bertemu dengan orang-orang yang pada dasarnya memang sudah kukenal dan kuyakini mereka adalah orang-orang baik.
"Dari dulu aku udah mau datang nemuin kamu, Din. Berbagai macam cara udah aku coba biar bisa ke sini. Tapi gak pernah dikasih izin." Suci kini benar-benar menangis sambil memelukku.
"Iya, Ci. Aku tau kok."
"Din, kamu kenapa kok jadi kurus banget? Kamu gak makan-makan, ya?" Gadis itu menatapku dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tatapan khawatir.
Aku menggeleng pelan.
"Jangan gini dong, Andini. Aku sedih tau ngelihat keadaan kamu kayak gini. Kamu harus kuat."
Aku menatapnya tanpa menjawab apa-apa. Memberikan kesempatan pada sahabatku itu untuk menceramahiku.
"Ke mana Andini yang dulu aku kenal? Kamu dulu gak kayak gini, Din. Kamu selalu yang paling semangat, yang paling ceria, pantang menyerah. Bahka ditinggal ibumu, ayahmu jatuh sakit, kamu masih terus berjuang. Sekarang kenapa jadi gini?" Suci menghapus wajahnya yang basah oleh air mata.
Aku menelan ludah, lalu menatap ke luar jendela. "Aku udah capek, Ci. Apa lagi sekarang yang harus kuperjuangkan? Rasanya perjuanganku sudah cukup berat selama ini, dan nyatanya ga ada guna kan. Udahlah, aku udah bener-bener capek sekarang."
"Kenapa kamu bisa ngomong gitu, Din? Teruslah berjuang. Kamu tahu?" Andini melihat sekeliling, setelah memastikan tidak ada siapa-siapa, ia mendekatkan mulut ke telingaku, lalu berkata pelan. "Aku juga membawa kabar dari orang yang selama ini kamu cari-cari kabarnya, Din," bisiknya.
Deg. Jantungku berdegup. Apa orang yang dimaksud Suci itu bang Iqbal. Bukan kah kata Tante Zee, bang Iqbal sudah meninggal. Bukankah katanya bang Iqbal sudah tidak tertolong. Apakah Tante Zee berbohong padaku? Tega sekali ia berbohong tentang hal sepenting ini. Mana mungkin ada orang yang tega berbohong tentang nyawa seseorang, bukan? Mengatakan orang yang masih hidup, sudah mati, itu jahat sekali.
"M-maksudmu?" Bibirku gemetar lagi mengeja nama itu. "B-bang I-Iqbal?"
Suci mengangguk.
"Bukannya dia sudah meninggal, Ci?"
Suci melotot. "Kata siapa?"
"Kata Tanteku."
"Ya ampun. Tantemu bohong, Din!" Suci berbisik liris dengan suara tertahan. Bagaimana pun juga ia dizinkan menemuiku, tentu saja dengan berbagai macam persyaratan. Aku yakin, salah satu syaratnya adalah, tidak boleh membicarakan tentang bang Iqbal.
Aku menelan ludah yang terasa semakin getir. "Bang Iqbal masih hidup?" tanyaku.
Suci mengangguk lagi. "Dia selamat, Din. Walaupun setelah kudengar ceritanya, begitu mengiris hati. Perjuangan yang ia lewati rasanya seakan tidak bisa dipercaya jika tidak menyaksikan langsung. Dia di sana juga tengah berjuang, Din. Kondisinya kurang lebih sama seperti kamu. Badannya kurus, tinggal kulit pembalut tulang."
Aku menatap tidak percaya. "Kamu sempat ketemu dia, Ci?"
"Iya. Aku menggunakan segala cara untuk menemukan kediaman laki-laki bernama Iqbal itu demi kamu. Ternyata selama ini dia juga berusaha mencari kamu, Din. Ia berulang kali memaksakan datang ke rumahmu yang lama, meskipun dengan kondisinya yang sedang teramat sangat lemah."
Aku menatap jeri pada Suci ketika mendengar ceritanya.
"Andini, dia di sana tengah berjuang, bertahan hidup demi tetap bisa melanjutkan kisah kalian. Melanjutkan perjuangan kalian yang sempat tertunda. Kamu di sini juga harus melakukan hal yang sama, Din. Berjuang lah. Kamu harus sembuh, agar bisa kembali melanjutkan semuanya. Kembalikan sosok Andini yang dulu. Aku mohon." Mata Suci berair lagi.
Aku ikut terenyuh mendengar kata-kata dan semua ceritanya. Apa benar yang ia katakan tentang bang Iqbal?
Namun, aku kembali ingat pada keadaan diriku sendiri.
Bagaimana mungkin aku bisa kembali menjadi sosok Andini yang dulu. Andini yang selalu ceria dan bersemangat melakukan apa pun. Sedangkan kondisiku kini telah jauh berbeda. Aku kini hanyalah seorang wanita yang telah kehilangan kesuciannya. Seorang wanita yang telah dinodai, bahkan oleh beberapa orang laki-laki biadab sekaligus.
Dengan tubuh kotor seperti ini, apakah aku masih pantas untuk mengharapkan cinta dari seorang laki-laki sebaik bang Iqbal? Dengan jiwa dan raga penuh noda ini, apa mungkin ia masih bisa menerimaku. Apa mungkin perasaannya kini masih sama dengan waktu itu?
Semua pertanyaan yang muncul di otakku kini, hanya membawaku pada sebuah keragu-raguan.
"Din, janji ya. Kamu bakal sembuh," ujar Suci lagi sambil menggenggam telapak tanganku erat-erat.
Aku memaksakan bibir untuk tersenyum, ingin sekali mengangguk mengiyakan. Namun, hatiku menggeleng cepat. Rasanya tidak mungkin.
Sejak malam itu, sosok Andini yang dulu benar-benar sudah mati.