Setitik Harapan

1630 Kata
POV: Iqbal Mengapa hal seperti ini terjadi lagi dalam kisahku. Setelah memutuskan untuk menjatuhkan hati pada seseorang, selalu saja orang tersebut pergi. Entah pergi karena kehendaknya sendiri, atau dibawa pergi secara paksa. Sakit sekali rasanya ketika sedang sayang-sayangnya, kemudian tiba-tiba ditinggal pergi. Ibarat bunga yang dipetik paksa ketika sedang mekar dengan begitu indahnya. Ibarat kata pepatah lama. Luka di badan dapat diobati, tapi ketika yang luka adalah hati, ke mana obat kan dicari. Menghilangnya Andini, apapun penyebabnya, entah memang dia yang sengaja menjauh atau keluarganya yang kini menyembunyikan gadis itu dariku. Yang pasti, ketika ia tiada, rasanya separuh hatiku ikut pergi menghilang bersamanya. Aku terlanjur terbiasa dengan keberadaannya di sini, terlanjur nyaman dengan kehadirannya di sisi. Siapa pun yang kini menemaniku, seakan-akan tak dapat menggantikan dia. Namun, tak ada yang bisa kuperbuat sekarang. Untuk bertahan hidup hingga esok hari saja, aku masih harus menyusahkan orang lain, apalagi ditambah dengan urusan itu. Dari parkiran rumah sakit menuju ruangan cuci darah, Bibi mendorongku dengan kursi roda. Rasanya jarak yang ditempuh masih terlalu jauh buatku berjalan kaki. Tenagaku begitu lemah, napas juga akan terasa sesak jika berjalan terlalu jauh. Meskipun sebenarnya aku bisa saja memaksakan diri, tapi Bibi tak mau mengambil resiko. Beberapa bulan ini, aku selalu merepotkan orang-orang di sekitar. Tidak enak rasanya, tapi mau bagaimana lagi. Segala menjadi sangat sulit untuk kulakukan sendiri. "Bi, kondisi adek-adek di sana bagaimana? Bibi gak mau pulang nemuin mereka?" Aku selalu menanyakan tentang anak-anak Bibi yang selalu ditinggal beberapa hari demi merawatku. "Sudahlah, tak perlu kamu pikirkan itu, Bal. Mereka baik-baik saja, kan ada Oom-mu di sana yang jagain. Fokus aja sama kesehatan kamu ya. Cepat pulih. Semoga kondisinya bisa kembali stabil seperti dulu lagi." Di ruang cuci darah pun demikian. Bibi Syilla selalu menemani hingga selesai. Bahkan menyuapiku makan ketika lapar. "Gimana kondisi kamu sekarang, Dik?" Beberapa orang perawat mendekati tempat tidurku bersama seorang dokter laki-laki. Aku pun menyampaikan segala macam keluhan yang terasa akhir-akhir ini. Sudah lama tak kulihat dokter Zee di rumah sakit ini, biasanya minimal satu minggu sekali ia selalu masuk untuk melakukan visit ke para pasien bersama perawat lainnya. Kudengar dari salah satu petugas, katanya dokter Zee resign. "Ya wajar aja sih, suka-suka dia mau berhenti mau gak kerja. Orang keluargany udah kaya-raya gitu. Mau bikin rumah sakit sendiri juga bisa kayaknya." Begitu kata mereka yang kudengar. Harapan terakhir untuk mendapatkan kabar dari Andini adalah dokter Zia, dan kini pupus sudah harapan itu. Sepertinya semua orang yang berhubungan dengan gadis itu sengaja menghilang dan menjauh dariku Hingga suatu ketika, seorang gadis asing yang sama sekali tidak kukenal, datang bertamu. "Bal!" Bibi memanggilku ke kamar, saat itu aku sedang beristirahat sambil menghibur diri sendiri sambil mendengarkan rekan-rekan yang sedang bersiaran. Ku perkecil volume suara Radio. "Iya, Bi." "Ada yang nyariin kamu tuh di depan." "Siapa, Bi? Teman-teman di Gema FM?" tanyaku dengan kening berkerut. "Bibi gak kenal. Kamu temui aja." Karena penasaran, aku bergegas keluar kamar, melangkah dengan hati-hati berpegangan pada dinding, kepalaku masih sedikit pusing. Sebuah mobil sedan berwarna ungu terang terparkir di depan rumah, belum pernah kulihat mobil itu sebelumnya. Lalu di ruang depan terlihat seorang gadis cantik duduk dengan tenang. Seorang laki-laki berseragam berdiri di dekat pintu, mungkin itu sopirnya, aku juga tak tahu pasti. Gadis itu tersenyum sopan, aku hanya bisa menatap heran, karena sama sekali tidak kenal. "Halo, Bang." Ia menyapa ramah, lalu mengulurkan tangan, langsung kusambut dengan sopan. "Bang Iqbal kan, ya?" tanyanya pelan. "Iya, kamu siapa, ya? Apa kita kenal?" Aku balik bertanya, sambil mencoba mengingat-ingat, apa aku yang lupa. Kemungkinan terakhir yang muncul di benakku, mungkin saja gadia ini adalah salah satu pendengar radio. Soalnya belakangan beberapa orang pendengar Gema FM sering berdatangan menjengukku ke sini. "Nama saya Suci, Bang. Mungkin Abang belum kenal saya, tapi saya sudah cukup kenal Abang." "Oh, pendengar Radio, ya?" tanyaku memastikan. Ia menggeleng. "Bukan, Bang." "Lalu kenal saya dari mana?" Gadis itu tampak ragu-ragu, lalu berkata pelan. "Saya sahabatnya Andini, Bang." Deg. Jantungku berdegup seketika tatkala mendengar nama itu terucap dari mulutnya. "A-Andini?" tanyaku tidak percaya. Gadis itu mengangguk yakin. "Saya udah lama sekali mencari keberadaan Abang, ke kontrakan yang diberitahu Andini juga sudah saya datangi, ternyata tempat itu sudah kosong, tak berpenghuni lagi. Baru akhirnya hari ini bisa ketemu di mana rumah Abang." "Ya, sudah beberapa bulan ini saya tinggal bersama Bibi, kami sengaja mengontrak rumah yang lokasinya berdekatan dengan rumah sakit. Biar kalau ada apa-apa, saya bisa langsung dibawa ke UGD," jelasku. Gadis itu mengangguk lagi. "Bagaimana kondisi Abang sekarang?" "Bagaimana kondisi Andini?" Kami bertanya nyaris bersamaan. Gadis bernama Suci itu tersenyum. "Itu adalah pertanyaan yang disampaikan Andini, Bang. Dia khawatir sekali sama Abang, sampai-sampai berani diam-diam menyuruhku mencari informasi tentang Abang, walaupun keluarga besarnya sudah mewanti-wanti." Aku diam sejenak, hingga akhirnya Bibi yang sedari tadi diam, angkat bicara. "Kondisi Iqbal sangat tidak baik, Dek," katanya. "Sekarang selain cuci darah, dia juga harus rutin transfusi, soalnya kurang darah terus. Gak mau makan. Kalau dipaksa makan, dia muntah-muntah. Malam juga susah tidur, banyak ngelamun, kadang suka nangis sendiri." "Oh, gitu, Bu?" "Iyaa. Ibu juga khawatir ngelihatnya." "Kondisi Andini bagaimana?" Aku tak sabar lagi untuk tidak bertanya. "Sejujurnya, saya sendiri juga udah lama banget gak ketemu Andini, Bang. Semenjak keluarganya tahu kalau dia minta tolong ke saya buat nyari Abang, kami gak pernah bisa kontakan lagi. Semua akses ke dia terputus." "Memangnya sekarang dia tinggal di mana?" "Dia tinggal di kompleks perumahan milik keluarga ayahnya. Dia dikurung di sana, tidak boleh ke mana, kecuali dalam pengawasan mereka. Dan juga, hanya orang-orang tertentu yang boleh menemuinya." "Terakhir kamu ketemu dia, bagaimana keadaannya?" tanyaku lagi. "Dia emang kelihatan sangat terpukul, tapi dia baik-baik aja kok." Aku menelan ludah. "Syukur lah." "Bang, saya dan Andini bersahabat sejak kami masih sangat kecil. Saya tahu betul bagaimana dia. Dia tak akan menyerah dengan keadaan, seberat apa pun itu. Karena itu, Abang juga seharusnya seperti itu juga. Kalau kondisi Abang memburukan gara-gara memikirkan Andini, percaya lah dia di sana juga sedang khawatir memikirkan keadaan Abang." Kata-kata Suci terdengar begitu menohok, aku menghela napas mendengarnya. "Abang juga harus kuat, biar kalian bisa sama-sama berjuang lagi. Saya yakin, kekuatan cinta kalian berdua masih sama. Tidak ada yang berubah." Aku menyeka sudut mata yang mulai berair. "Saya akan berusaha untuk bisa menemui Andini lagi, Bang. Saya akan mendapatkan kabar tentang dia segera. Tapi Abang juga harus janji, ketika hari itu tiba, Abang juga udah sehat dan bugar seperti sedia kala. Kalau Abang aja lemah, gimana mungkin Abang bisa menguatkan Andini. Pasti kondisi jiwanya benar-benar hancur karena kejadian p*********n malam itu, tugas Abang untuk kembali meyakinkannya untuk bangkit. Janji?" Suci menatapku serius. "Tapi ...." Aku masih memikirkan banyak hal lain yang menjadi penghalang. "Gak ada tapi-tapi, Bang. Abang sayang sama Andini kan?" Aku menelan ludah lagi, lalu mengangguk pelan. "Maka perjuangkan lah cinta Abang. Perjuangankan cinta kalian bersama-sama." Maafkan aku Andini. Selama ini aku selalu saja berdiri di balik semua kelemahanku. Selalu bertindak sebagai laki-laki tak berdaya. Kali ini aku berjanji tidak akan mengecewakanmu lagi. "Ya, aku janji," ucapku yakin. "Mantap. Gitu dong. Saya pamit ya. Tunggu kabar dari saya berikutnya." Gadis bernama Suci itu pergi. Namun, kedatangannya barusan, benar-benar mengubah keadaanku. Seolah-olah ada setitik harapan di tengah-tengah gersangnya kenyataan yang ada di hadapan. Sanggupkah aku memperjuangkan setitik harapan untuk cinta kami ini, hingga kembali menjadi lautan cinta tak berujung? *** "Bang Iqbal, cepat sembuh ya. Sejauh ini kami tetap mempertahankan project kita tanpa Abang. Walaupun rasanya sulit banget, karena kami kehilangan pemimpin." Leo berkata sebelum pergi, pagi ini dia datang lagi membawakanku sarapan. Tak pernah bosan, walaupun sering tak kumakan karena tak berselera. "Iya, Bal. Semangat sembuh. Biar kita bisa kerja sama-sama lagi, mewujudkan mimpi dan cita-cita." Kak Bunga yang diboncengnya juga memberikan kata-kata semangat. Aku tersenyum sedikit, lalu mengangguk melepas kepergian mereka. Meskipun tanpaku, aku yakin sekali penjualan produk tersebut akan tetap berlanjut. Karena dasarnya yang kuat telah kami bangun jauh-jauh hari. Rekan-rekan kerjaku benar-benar orang baik. Walaupun aku sudah tak ada lagi ikut berjuang bersama mereka, tapi tetap saja mereka menganggapku pemimpin, selalu meminta masukan atas rencana yang sedang mereka jalankan. Bahkan fee untukku masih terus diberikan sampai sekarang. Dengan uang itu lah, aku masih bisa membeli kebutuhan sehari-hari, tanpa terus-terusan memberatkan Bibi Syilla. Tentang perasaan kak Bunga juga sudah jelas. Hari itu, ketika kami sedang duduk berdua, ku tanyakan langsung padanya agar segala hal menjadi jelas tanpa harus bertanya-tanya di dalam hati. Sore itu, aku sedang duduk melamun di depan pintu, ketika tiba-tiba terdengar suara sepeda motor yang sangat berisik. Aku kenal betul, itu suara motornya kak Bunga. "Heh. Ngelamun aja sore-sore, nanti kesambet kamu, Bal!" katanya sambil melangkah mendekat sesuai memarkirkan sepeda motor di halaman. Kulihat tangan kanannya menenteng kantong plastik kresek. Aku tersenyum. "Gak lagi ngelamun. Emang lagi pengen diem aja," jawabku sekenanya. "Nih aku bawain bakso, makan yaa." Udara dingin di sore hari, seharusnya sangat pas jika dihabiskan dengan makan semangkuk bakso. Sayangnya, seleraku tetap saja tidak membaik, makanan apapun terasa hambar bahkan pahit. Ketika itu lah, aku menceritakan pada kak Bunga tentang apa yang dikatakan Bibi Syilla tempo hari. "Hahaha. Yang benar, Bibimu ngomong gitu, Bal?" Dia malah tertawa ketika aku bercerita. "Iyaa, makanya aku langsung nanya kak Bunga, siapa tau benar kan." "Enggak laah. Kamu itu udah kuanggap adik, Bal." Kak Bunga mengacak-acak rambutku, aku pun mendengus kesal. "Beneran?" tanyaku memastikan. "Beneran lah. Emang kenapa sih kok Bibi bisa mikir aku suka kamu, Bal?" "Abisnya kak Bunga perhatian banget sih sama aku. Hahaha. Jadi Bibi ngerasa kayak udah punya mantu aja." Aku ikut tertawa, walaupun napas masih sedikit sesak. "Iya dong. Kan aku Kakak yang baik." Kami tertawa lepas bersama. Setidaknya, penuturan kak Bunga membuatku sedikit lega. Aku tak ingin menjadi orang jahat yang kesannya mempermainkan perasaan wanita. Di samping itu, aku juga tak mau pertemanan dan pekerjaan kami terganggu karena ada rasa saling suka satu sama lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN