POV:Iqbal
Seperti halnya cinta bisa membuat orang-orang pemalu berubah jadi seorang pemberani, sebaliknya, cinta juga bisa membuat sang pemberani menjadi malu-malu. Juga, ternyata memang benar, selain bisa membuat yang lemah menjadi kuat,cinta juga bisa melemahkan yang selama ini sudah berusaha untuk kuat.
Kehilangan kabar dari orang yang kucintai tiba-tiba saja membuat kondisiku yang sudah buruk menjadi semakin buruk. Namun, setitik kabar berita yang datang darinya dapat kembali membulatkan tekadku yang tadinya sudah tercerai berai. Hancur berantakan.
Semangatku untuk sembuh dan pulih seperti sediakala kembali menggebu-gebu. Pagi-pagi ketika cahaya matahari mulai muncul, aku berjalan kaki ke depan rumah untuk berjemur, mendapatkan cahaya mentari pagi yang kaya akan vitamin D yang baik untuk kesehatan kulit dan tulang. Di samping itu, dengan berjemur di pagi hari juga bisa sedikit membuat badanku marasakan panas. Setelah agak berkeringat, barulah aku mandi.
Cerahnya cuaca akhir-akhir ini seakan-akan ikut mendukung dan menambah semangat juangku. Langit cerah di atas sana, membuat mentari tak terhalang awan sedikit pun. Sudah beberapa har ini jarang sekali turun hujan. Bagaimana mungkin aku bisa terus saja terpuruk dalam kesedihan, sementara langit saja terus menunjukkan wajah ceria.
Bibi Syilla tampak terheran-heran dengan perubahan yang kualami. Yang tadinya aku lebih banyak mengabiskan waktu di atas tempat tidur, atau bermenung bermuram durja seorang diri. Kini sudah menjadi lebih bersemangat dalam beraktivitas.
Ternyata dengan banyak bergerak dan mengeluarkan keringat sedikit demi sedikit, dengan sendirinya selera makanku mulai membaik. Rasa lapar mulai terasa lagi, nafsu makanku mulai kembali.
Dengan demikian, perlahan-lahan juga darah yang di dalam tubuhku kembali diproduksi oleh sum-sum tulang belakang sehingga tak perlu transfusi lagi setiap minggu. Ternyata benar, kesehatan itu juga bergantung pada pikiran dan perasaan. Ketika mindset sudah positif, maka dengan sendirinya fisik akan mengikuti.
Beberapa hari kemudian, dengan percaya diri aku berkata pada Bibi, “Bi, kayaknya Iqbal udah kuat siaran lagi deh. Bosan juga kan di rumah terus udah berbulan-bulan.”
Bibi tercengang. Padahal seminggu yang lalu, aku masih mengeluhkan tidak ada tenaga, tiba-tiba saja sekarang sudah mau masuk siaran dan bekerja kembali.
“Hah? Kamu yakin, Bal? Nanti pusing lagi di sana.”
“Udah agak mendingan kok, Bi rasanya. Semoga aja dengan aktif beraktivitas, kondisi badannya juga semakin baik dan tenaganya semakin pulih.” Aku berkata dengan eskpresi yakin.
Sudah lama sekali rasanya tak memasuki studio tempatku biasa bersiaran. Aku merindukan saat-saat bercuap-cuap di udara dan bercanda-tawa dengan para pendengar dari seluruh penjuru. Mereka pun tentu saja kangen mendengarkan suaraku lagi.
“Boleh ya, Bi?” tanyaku.
“Kalau kamu benar-benar yakin sudah kuat, ya tidak apa-apa, Bal. Bibi malah senang mendengarnya,” jawab Bibi akhirnya setelah melihat keseriusanku.
Mendengar jawaban Bibi, aku langsung mengirimkan chat di grup WA para penyiar Gema FM untuk menanyakan apakah ada yang bisa menjemputku siang ini.
Aku tidak sedang mengada-ada. Tenagaku memang terasa berangsur-angsur pulih hari demi hari, tidurku di malam hari pun sudah mulai nyenyak, tak ada terjaga lagi sampai pagi. Hingga pagi ini, ketika aku memutuskan untuk kembali bekerja, semua itu bukan hanya sekadar bualan semata.
“Gais! Apa ada yang lagi free siang ini?” tanyaku di grup.
“Wuihh, ada yang baru muncul nih.” Kak Bungan yang pertama kali membaca dan membalas.
“Ada apa bang Iqbal? Aku free nih.” Leo juga membalas tidak berapa lama setelahnya.
“Jemput aku ke kontrakan bisa gak, Leo? Pengen main ke studio nih, kangen udah lama gak ke sana.
“Wah, seriusan, Bang?” balasnya dengan sebaris emoticon kaget.
“Wow. Iqbal is back, Gaiis!” Kak Bunga juga tak kalah bersemangat.
“Iya. Bisa, Leo?”
“Bisa, Bang. Langsung meluncur niih.”
Sepeda motor milikku selama ini memang dipegang dan dipakai oleh Leo, selain untuk urusan pekerjaan, saat ini ia juga sudah kembali kuliah. Karena harus bolak-balik ke kampus dan ke radio Gema, kutitipkan saja motor itu untuk dia pergunakan. Setelah kejadian malam itu, dia lah yang mengurus dan memperbaiki sepeda motor itu sampai bisa dipergunakan kembali.
Tidak sampai lima belas menit kemudian, Leo sudah tiba di rumahku dengan wajah berseri-seri. Kelihatannya laki-laki muda itu sedang senang kembali.
"Bang Iqbal beneran sudah sembuh!?" tanyanya begitu sampai di depan rumah tanpa basa-basi lagi.
Aku ikut terkikik melihat ekspresinya. "Kenapa emang? Selama ini kamu ngira aku gak bakal sembuh lagi ya?" candaku.
"Kalau aku sih yakin banget bang Iqbal pasti bisa kayak dulu lagi. Teman-teman yang lain tuh pasa kaget tiba-tiba ngechat di grup setelah sekian bulan gak ada paket data. Hahaha."
Aku menepuk pundaknya. "Enak saja gak ada paket data. Gini gini, paket unlimited masih ada tuh di HP. Aku aja yang males buka sosmed."
Leo tak bisa menyembunyikan wajah sumringahnya. "Jadi kita ke mana dulu, nih?"
"Anterin ke stokis dulu deh. Aku mau lihat gimana kondisi di sana dulu, setelah itu baru kita ke studio Gema FM."
"Oke siaap." Leo langsung melompat ke atas sepeda motor.
Kuperhatikan sekilas sepeda motor itu. Aku baru sadar kalau sudah banyak bagian yang di modifikasi. Keren juga selera pemuda ini.
"Sekarang kak Bunga yang siaran, ya?" tanyaku.
"Iya, Bang. Jadwal dia sampai sore."
Aku juga tiba-tiba teringat, sebenarnya kalau aku sehat, hari ini adalah jadwal ku untuk siaran.
"Yuk, jalan."
Setelah pamit pada Bibi Syilla, aku pun berangkat bersama Leo ke stokis tempat penyimpanan produk yang selama ini tak pernah ku periksa lagi. Sebagai penanggung jawab, aku sudah berbulan-bulan melepaskan pekerjaan ini kepada para anggota, sekarang saatnya untuk kupegang kembali.
Udara panas siang ini terasa menyengat kulit, walaupun aku telah menggunakan baju lengan panjang. Kutatap kedua belah tangan yang masih terlihat begitu kurus. Hanya saja, kuku-kuku tanganku sudah sedikit memerah, tidak pucat seperti biasanya.
Tidak banyak yang berubah dari ruko yang kami sewa beberapa bulan lalu tersebut. Susunan barang-barang yang ada, masih sama rapinya dengan yang kutinggalkan dulu. Hanya terlihat semakin banyak tumpukan kardus-kardus kosong di bagian belakang. Aku harus mencari tempat untuk mendaur ulang s****h tersebut agar lebih bermanfaat dan tidak makan tempat.
Selanjutnya, kami bergerak menuju studio Gema FM. Melewati jalan-jalan yang familiar ini, membuat terenyuh seketika. Sudah lama sekali rasanya tak menempuh jalan ini lagi. Rasa haru biru itu semakin menjadi-jadi ketika di kejauhan mataku menangkap antena radio. Ah,walaupun baru beberapa bulan, tapi rasanya sudah rindu sekali.
Ke mana saja aku selama ini? Kenapa baru sekarang bisa kembali menapaki tempat ini lagi? Aku berkata dalam hati, bertanya pada diri sendiri.
"Waah, lihaat! Siapa yang kembali!" Kak Bunga berseru, suaranya kencang sekali, sampai-sampai para pengendara di jalan raya melihat ke arah kami.
Sstt. Aku memberi kode untuknya mengurangi volume suara.
"Ya ampun, aku senang banget, Bal. Syukurlah, akhirnya kamu udah pulih lagi. Ayuk masuk-masuk. Mau siaran berdua? Duet kita?" tanyanya dengan penuh semangat.
Aku melotot. "Duet?" Namun, kalau dipikir-pikir, boleh juga. Pendengar tentu akan senang dengan kejutan ini.
"Iyaa. Ayolah, langsung aja. Fans-fans kamu udah nanyain tuh, pada kangen kayaknya."
"Gas, Bang!" Leo juga mendukung.
"Boleh, deh."
Aku pun mengikuti kak Bunga ke studio siaran. Kami menunggu sejenak karena masih ada beberapa lagu dan iklan yang harus diputar.
Hingga beberapa menit kemudian, akhirnya kak Bunga membuka siaran sesi berikutnya.
"Masih di Gema FM, saatnya suara remaja menggema. Halo hai selamat siang lagi buat kamu yang masih setia monitoring Bunga siang ini. Ngomong-ngomong ada sweet surprise nih, ada kejutan manis buat Sobat Gema siang ini. Jeng-jeng-jeng. Coba dengar siapa yang kembali!!!“
Kak Bunga memberi kode kepadaku untuk berbicara.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membuka mulut, "Halo selamat siang dan semangat siang, Sobat Gema semua. Ya ampun, setelah sekian lama, akhirnya Iqbal Maulana kembali yaa. Sang Penyiar paling kece sejagad Gema FM." Suaraku tercekat karena terharu.
Kak Bunga langsung sigap mengambil alih.
Seperti yang sudah kami duga, para pendengar radio ikut senang dengan kembalinya aku untuk mengisi ruang dengar mereka di Gema FM. Berbagai macam support dan komentar positif diberikan lewat line telpon dan juga SMS.
Di tengah-tengah rasa haru ini, tiba-tiba sesosok gadis itu muncul di ingatanku. Gadis yang pernah membuatku bangkit, dan bangkit lagi untuk kesekian kalinya.
"Andini, tunggulah aku. Aku berjanji akan kembali menjadi sosok Iqbal yang dulu kamu kenal. Saat waktu yang dijanjikan Suci itu telah tiba, aku akan datang ke sana, menjemputmu. Lalu bersama-sama kita akan menyambung kembali kisah cinta yang dulu pernah kita mulai, walaupun harus terhenti sejenak.
Percayalah. Aku seorang laki-laki, dan kamu bisa memegang kata-kataku. Aku akan datang, memperjuangkan kita!" tekadku di dalam hati.