Maju Selangkah

1615 Kata
POV: Iqbal "Bang, kalau kata orang bijak nih ya. Ketika manusia sedang berada dalam keadaan kesakitan, maka ia akan ingat pada orang yang paling dicintainya. Nah, aku jadi pengen tau nih, pas Abang sedang parah kemarin, Abang ingat siapa?" tanya Leo tiba-tiba. Sudah beberapa malam ia menginap di kontrakanku. Ya, katanya ingin menemani, karena masih khawatir aku tinggal sendirian, padahal aku sudah merasa biasa saja. Toh dari dulu juga aku tinggal sendiri di sini, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Kondisiku sudah pulih seperti dahulu lagi. "Hah? Kepo amat ya. Kenapa juga tiba-tiba nanyain itu?" "Ya, pengen tau aja, Bang. Dengan begitu, Abang juga bisa tau kan, siapa sebenarnya orang yang benar-benar Abang cintai." Aku sudah tak lagi tinggal bersama Bibi. Kuputuskan untuk kembali ke tempat tinggal yang lama agar bisa lebih dekat ke studio Gema FM. Di samping itu, juga lebih mudah untuk bolak-balik ke stokis tempat mengambil produk obat-obatan herbal yang kami jual. "Hmm. Siapa ya yang aku ingat. Kayaknya ayah dan ibuku deh." "Selain itu, Bang. Orang tua mah sudah pasti, maksudnya selain orang tua dan keluarga dekat." "Halaah, malah nego," celetukku sebelum kemudian kami berdua tertawa. Namun, jika diingat-ingat, memang benar. Di saat kondisi berada di posisi paling bawah. Ketika rasanya nyawa sudah berada di ujung tanduk, yang muncul di benakku adalah wajah ayah dan ibu. Terpikir di saat itu, apakah inilah waktunya untukku kembali berkumpul dengan mereka. "Hayo, siapa, Bang?" "Wajahmu deh kayaknya, Leo. Hahahaha." Kami tertawa lagi. Setelah kondisiku mulai sedikit membaik, lepas dari masa kritis. Ingatanku seketika di penuhi oleh wajah Andini. Hatiku diliputi rasa khawatir, apakah dia baik-baik saja, di mana kah dia sekarang. Bahkan khawatir tentang apakah aku masih bisa tetap bersama dia? Apakah itu artinya, selain kedua orangtuaku, Andini adalah salah satu orang yang paling kucintai saat ini? Entahlah, teori Leo kadang-kadang memang suka mengada-ada saja. "Oh ya, Kakak yang waktu itu gimana kabarnya ya, Bang? Masih belum dapat kabar tentang dia?" Leo bertanya lagi beberapa saat kemudian sambil memainkan game di HP-nya. "Kakak? Kakak yang mana?" "Kakak yang itu loh, Bang. Siapa namanya? Kak Andini, ya?" jelasnya. "Ooh, dia." Aku baru ingat kalau Leo setahun lebih muda dari pada Andini, tapi tumben sekali dia menyebutnya gadis itu dengan sebutan Kakak, biasanya menyebut namanya saja. "Ya, belum ada kabar juga sampai sekarang," jawabku. Aku masih cukup sabar untuk menunggu kabar dari sahabat Andini yang bernama Suci, meskipun sudah hampir sebulan semenjak hari dia datang dulu. Beberapa kali aku berniat untuk menghubunginya terlebih dahulu lewat nomor w******p yang waktu itu ditinggalkan, tapi urung. Sebaiknya bersabar dulu. Aku yakin ketika sudah ada kabar dari Andini, Suci pasti langsung menghubungiku sesuai janjinya waktu itu. "Besok ke RS, ya, Bang?" Aku mengangguk pelan, besok hari Rabu, seperti biasa jadwal cuci darah datang lagi. "Iya, Leo. Kamu kuliah ya?" "Iya juga sih, Bang." "Masuk pagi?" "Gak pagi-pagi amat sih, Bang. Jam sembilan lewat." Aku berpikir sejenak. "Yaudah kita ke RS dulu, abis itu kamu bawa aja motor ke kampus." "Oke sip, Bang. Siangnya aku jemput lagi, ya." "Kalau emang bisa jemput yaudah, tapi kalau enggak, aku bisa pulang pakai ojek kok," jawabku. "Oke, Bang. Kita lihat besok aja, ya." Leo ini sudah seperti adikku saja. Ia memang hidup seorang diri di perantauan, jauh dari orangtua yang juga bukan orang berada. Bisa kuliah, kemudian mendapatkan tempat bekerja yang waktunya fleksibel, tentu sudah cukup meringankan beban keluarganya dari segi materi. Leo tak perlu meminta uang pada orangtuanya lagi. "Berarti stokis sekarang udah aman lah, ya, Leo?" Aku tiba-tiba teringat pada tempat itu. "Udah dong, Bang. Udah dipasang teralis semua. Mudah-mudahan gak ada maling yang niat banget buat ngebobolnya." "Iya ya, kalau masih ada yang maling, parah banget sih." "Hahaha, iya, Bang." Leo berdiri, merapikan pakaiannya, sepertinya hendak pergi. "Aku keluar bentar ya, Bang. Cari makanan dulu deh. Dingin-dingin begini, enaknya ngemil yang anget-anget nih," ujarnya sebelum melangkah keluar. "Ide bagus tuh." Udara malam ini terasa dingin. Dari sini juga terlibat langit malam begitu gelap, tanpa ada bintang-gemintang, ataupun rembulan. Angin bertiup kencang. Satu-satu juga terlihat kilatan petir di kejauhan. Mungkin sebentar lagi akan segera turun hujan. *** "Gimana, Bal? Udah segeran lagi nih, ya." Salah seorang pasien yang sudah terlebih dahulu datang ke ruang tunggu, menyapaku. "Ya, begini lah, Bu. Akhirnya setelah sekian lama nge-drop, sekarang bisa pulih lagi." Aku membalas senyum wanita paruh baya itu. "Syukur laah. Ibu kasian banget kemarin ngelihat kamu. Sesak napasnya, ya ampun, parah banget. Berasa mau ibu tolongin bernapas, tapi ya mana bisa," sambungnya lagi. "Hehe, iya, Bu." Aku naik ke timbangan seperti biasa, mengukur kenaikan berat badan untuk mengetahui berapa liter cairan yang harus dikeluarkan oleh mesin nanti, lalu menuliskan di kertas yang sudah tersedia. Berat badanku sudah jauh bertambah jika dibandingkan dengan satu-dua bulan yang lalu, ketika sedang drop-dropnya. Kalau dilihat-lihat, badanku juga sudah agak berisi lagi. Makanku kini juga sudah sangat lahap, sudah bisa nambah-nambah seperti dulu lagi. Terutama jika lauknya adalah menu favorit. "Hemoglobin-nya sekarang berapa, Bal? Udah normal?" "Ya, normalnya pasien cuci darah sih udah, Bu. Udah di atas delapan kemarin pas dicek." "Ooh, masih belum cukup itu. Banyak-banyak makan makanan bergizi, Bal. Kalau Ibu sih pas program naikin HB, setiap pagi makan putih telur. Direbus gitu, kuningnya jangan dimakan soalnya kan tinggi kolesterol juga. Makan putihnya aja, dua atau tiga butir setiap hari. Langsung deh naik HB-nya." "Waah, baik, Bu. Nanti Iqbal coba. Ibu sendiri sekarang HB-nya udah berapaan?" "Udah di atas sepuluh lagi, Bal. Udah normal untuk ukuran pasien cuci darah." "Oh iya." Ketika memasuki ruangan cuci darah, terlihat sebuah kursi kosong berada di samping tempat tidurku. Mungkin itu bekas dipakai oleh keluarga pasien sebelumnya, kemarin sore. Ketika berbaring di atas tempat tidur dan menatap sebuah kursi kosong di sebelahku, entah mengapa tiba-tiba saja membuat pikiranku terbang melanglang buana entah ke mana. Hingga akhirnya mentok di sesosok wajah, yang tidak bisa dipungkiri, kini sangat kurindu. Walaupun gadis itu hanya sempat duduk sekali saja di kursi itu, tapi kenangannya terasa begitu membekas. Bayangan ketika ia datang, dengan ragu-ragu menunjukkan sekantong plastik gorengan yang ia bawa, masih teringat jelas di ingatanku. Seperti sebuah video lama yang diputar ulang kembali. Ah, mengapa tiba-tiba pagi ini aku menjadi sangat rindu padanya. Apakah ia di sana juga sedang merindukanku? Kubuka HP, melihat satu-satunya foto gadis itu yang ada. Proses Hemodialisa berjalan seperti biasanya, tidak ada yang spesial hari ini. Kedua jarum dipasang, mesin berjalan, darahku dibersihkan. Jika merasa bosan, aku bermain HP sejenak, menonton video-video lucu, lalu tidur. Satu jam sebelum selesai, rasa pusing mulai menyerang. Setelah menunggu waktu yang terasa begitu panjang, akhirnya proses itu selesai, tepat empat setengah jam. Sebelum keluar, sebuah suntikan hormon epo yang bermanfaat untuk meningkatkan Hemoglobin dalam darahku, diberikan. Kembali kunikmati sensasi tusukan di lengan kanan. Setelah itu barulah keluar dari ruangan yang teramat sangat dingin tersebut. Aku duduk sejenak untuk meringankan rasa pusing kepala, lalu memutuskan untuk ke kantin terlebih dahulu, mengisi perut yang lapar sembari menunggu kabar dari Leo. Apakah dia bisa menjemputku siang ini, atau harus memesan ojek untuk pulang. Ah, berbicara tentang ojek ini, kembali membuat ingatanku dipenuhi oleh wajahnya. Sudah terlalu banyak kenangan yang kami buat di atas dua roda. Baik dengan dia yang ada di depan, atau aku yang memegang kemudi. Celotehan demi celotehan yang kerap kali ia lontarkan di sepanjang perjalanan, kini terngiang-ngiang di telinga. Apalagi ketika aku membuka HP yang menatap aplikasi ojek online tersebut. Nickname-ku masih belum berubah, masih tetap "Luka Abadi". Ting. Sebuah chat masuk di aplikasi w******p, itu dari Leo. Buru-buru kubuka. "Bang, ternyata aku masih ada kelas siang ini. Abang gimana kondisinya?" Begitu tulisnya. Aku masih mengetik balasan, tapi pesannya masuk lagi. "Kalau Abang ga kuat pulang sama ojek, aku masih bisa jemput kok ini. Masih keburu kayaknya," sambungnya. "Gak usah, Leo. Kamu lanjut aja kuliah, aku naik ojek aja." Lagi pula apa bedanya, dijemput Leo dengan naik ojek. Kan sama saja. Kecuali kalau dia menjemputku menggunakan mobil, tentu saja aku bisa sambil tiduran di dalamnya untuk mengurangi rasa pusing. "Beneran, Bang?" "Iya. Aku gak begitu pusing kok. Aman." "Oke deh, Bang. Hati-hati Bang, pulangnya." "Ciyee perhatian amat." Aku terkikik pelan membaca pesan yang kukirim sendiri. "Hahaha." Leo menambahkan beberapa emoticon tertawa. Seusai makan siang dan rasa pusing berkurang, aku berjalan pelan ke arah depan rumah sakit ini. Ada sebuah halte di sana yang beratapkan kanopi. Satu lagi, tempat bersejarah yang punya banyak sekali kenangan bersama dia. Entah mengapa, akhir-akhir ini, rasanya semua tempat yang kudatangi, semua benda yang kulihat, tiba-tiba saja selalu memiliki hubungan dengan dia. Seolah-olah, tidak se-inci pun dari bumi ini yang terlepas dari kenangan tentangnya. Padahal dulu-dulu tempat ini terasa biasa saja. Ting ting. Sebuah notifikasi muncul lagi di HP-ku. Ada pesan w******p masuk. "Leo lagi kah?" bisikku pelan sambil mengeluarkan HP dari kantong celana. Deg. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang saat melihat nama yang tertulis di sana, dan juga pesan yang ia kirimkan. Aku tersentak kaget karena tidak mengira pesan itu akan datang darinya. Ya, pesan itu dari Suci, sahabatnya Andini. Pesan yang sudah kutunggu-tunggu selama hampir satu bulan belakangan. "Halo, Bang Iqbal. Selamat siang. Saya udah dapat kabar tentang Andini." Begitu katanya. Pesan singkat itu membuatku sontak memelototkan mata, juga membuat jantungku berdetak lebih kencang. Tanganku sampai gemetar, tremor ketika hendak membalas pesan darinya. "Gimana keadaan Andini sekarang, Suci?" tanyaku, tak sabar lagi. Angin musim panas bertiup menyapu debu-debu jalan raya. Para pengendara terus melaju, para pejalan kaki terus melangkah cepat dikejar waktu, begitu juga orang-orang di sekitarku yang sedang menunggu kendaraan umum. Tidak ada yang berubah, tetap berjalan seperti semestinya. Hanya aku yang berdiri mematung dengan perasaan tak menentu, harap-harap cemas, menantikan balasan dari Suci yang statusnya masih "Mengetik". Aduhai. Semoga dia di sana baik-baik saja. Tenang saja, walaupun sebelum sudah berhenti terlalu lama, kini kita sudah selangkah lebih maju.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN