POV: Andini
"Makan dulu, angsur-angsur aja, sedikit demi sedikit. Lama-lama juga habis. Jangan dilihatin aja." Suci tak mau menyerah, meski berkali-kali sesendok makanan yang disodorkannya selalu saja kutepis.
Aku masih tak berselera menatap sepiring makanan yang ada di hadapan. Ini adalah menu makanan yang dibawakan oleh Suci. Tadi di perjalanan sebelum ke sini, ia sudah terlebih dahulu menelpon ayahku, menanyakan aku sedang ingin makan apa.
Aku tak menjawab ketika ayah bertanya tadi, tapi ternyata ayah menyampaikan pada Suci untuk membeli makanan kesukaanku saja. Pasalnya, ini adalah makanan favoritku ketika masih sehat. Nah, saat ini tidak ada satu pun makanan yang bisa disebut favorit, karena semuanya terasa hambar bahkan pahit di lidahku.
Namun, Suci tak mau tahu. "Aaakk ... Ayo buka mulutnya."
Aku bergeming.
"Makan lah, Din. Kan habis ini mau minum obat. Kata dokternya gak boleh minum obat kalau perutmu kosong."
Demi melihat wajah Suci yang mulai kesal, akhirnya kepaksakan diri untuk menerima sesendok. Kukunyah perlahan walaupun tidak enak, lalu kudorong dengan air minum ketika sulit menelannya.
"Lagi." Suci menyuapi lagi. Sebenarnya tidak enak juga makan disuapi seperti ini, layaknya anak kecil. Aku bukannya tidak bisa makan sendiri, tapi memang makanannya yang sulit ditelan.
"Udah ah, Ci."
"Satu ini lagi. Aaak."
Aku menurut saja, menelan satu suap lagi. Setelah itu benar-benar tak sanggup lagi, dari pada aku muntah.
"Kamu harus makan loh, Din. Biar ada tenaga gitu loh. Lihat badanmu tinggal kulit sama tulan aja. Udah kayak tengkorak berjalan."
Akhir-akhir ini Suci repot sekali mengurusku. Ia selalu ada setiap kali aku butuh, padahal sebenarnya aku tahu gadis itu juga punya kesibukan. Ia juga masih kuliah, tapi katanya kesembuhanku lebih utama.
Suci membantuku untuk kembali banyak bergerak di sekitaran rumah, tidak seperti biasanya yang lebih banyak tidur di kamar, termenung dan menangis seorang diri. Seolah-olah Suci adalah therapist pribadiku.
Bahkan tak jarang Suci ikut menginap di rumah ini, ketika kondisiku sedang parah. Ketika aku tiba-tiba kumat, merasakan takut yang teramat sangat saat sendirian. Ia pun menemani sepanjang malam, terus menenangkan aku hingga kembali baik.
Untungnya, keluarga Ayahku sudah memberikan izin penuh pada Suci untuk menemaniku kapanpun, melihat banyaknya perkembangan pada kondisiku semenjak kehadiran gadis itu.
Namun, bagaimana pun juga, aku tetap tak boleh meninggalkan rumah ini.
Ternyata tempat tinggal yang terasa seperti surga itu tidak bergantung pada seberapa besar ukurannya, atau seberapa luas pekarangannya, bahkan juga bukan karena seberapa mewah perabotan yang ada di dalamnya. Namun, tergantung pada seberapa nyaman kita berada di dalamnya.
Aku dan Ayah tinggal di rumah mewah yang ukurannya begitu luas. Rumah tiga lantai dengan perabotan super mewah di setiap sudut. Lantai pualam yang seakan-akan kita bisa berkaca melihat pantulannya. Peralatan dan hiburan yang ada di dalamnya lengkap, beberapa orang pembantu juga selalu siap-sedia melaksanakan semua perintah.
Namun, aku tidak merasa nyaman tinggal di dalamnya. Bukannya bahagia, setiap hari yang terasa hanya kesal dan uring-uringan, apalagi ketika orang-orang jahat itu telah menampakkan batang hidung mereka. Di rumah ini, semua yang kumakan terasa tidak enak, setiap kali tidur juga terasa tidak nyenyak. Aku jengah, ingin sekali rasanya keluar dari lingkungan yang mirip penjara ini.
Aku yakin Ayah pun berpikiran yang sama, tapi tipikal sepertinya yang lebih memilih diam dan pasrah pada keadaan. Ia tak mau terlalu berontak, karena takut juga akan membahayakan aku sebagai anak satu-satunya yang paling disayanginya.
Padahal aku tahu, beban batin yang dirasakan Ayah juga tidak kalah berat. Sering sekali, aku menemukan laki-laki itu dalam keadaan sangat menyedihkan. Berurai air mata, menangis tersedu-sedu. Benar-benar terlihat memilukan.
"Ayah, kenapa Ayah nangis?" tanyaku khawatir melihat pipi laki-laki yang teramat sangat kucintai itu basah oleh air mata.
Begitu melihatku datang, ayah buru-buru mengusap kedua matanya, lalu memasang wajah tersenyum. Bukannya senang, aku semakin terenyuh melihatnya.
"Gak apa-apa, Sayang."
Aku melangkah mendekati Ayah, lalu duduk tepat di sampingnya. "Ayah mikirin apa? Inget Ibu ya?" tanyaku.
Ayah mengangguk pelan. "Kamu cepat pulih ya, jangan sakit-sakit lagi, Ayah jadi khawatir," sambungnya.
"Iya, Yah. Andini kan udah gak apa-apa." Aku turun menenangkan.
Kondisi Ayah yang sebelumnya sudah jauh lebih baik, sekarang jadi sering mengeluh sakit kepala lagi. Tekanan darahnya kembali tinggi saat terakhir kali kami ukur ke salah satu dokter langganan keluarga. Tentu saja, Ayah terlalu memikirkan kondisiku, anak semata wayangnya.
Saat kondisi kejiwaanku sedang parah-parahnya beberapa minggu yang lalu, aku nyaris seperti orang gila. Sebentar-sebentar menjerit, sebentar kemudian menangis, lalu mengamuk lagi. Ayah sering menangis menyaksikan kondisiku, tanpa tahu harus berbuat apa. Laki-laki itu tidak mengerti apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya, ia hanya bisa terus menenangkanku dengan kata-kata lembut dari mulutnya.
"Andini, maafkan Ayah. Mungkin ini sudah ke sekian kalinya Ayah minta maaf, tapi mau bagaimana lagi," katanya waktu itu. "Jika seandainya Ayah bisa, tentu saja Ayah sudah membawa kamu pergi dari sini. Mungkin kondisimu memburuk juga karena tekanan dari orang-orang di rumah ini kan?"
Aku hanya bisa diam mendengarkan perkataan ayah, tanpa merespon apa-apa. Aku masih berkelahi berkelahi dengan kecamuk rasa takut di dalam pikiran. Bayang-bayang kelam itu masih memenuhi ingatan, seperti mimpi buruk yang terus menghantui.
"Namun, Ayah tak punya daya apa-apa, Nak. Kalau Ayah bawa kamu pergi dari rumah ini, kita tinggal lagi di tempat yang lama, dengan apa kita akan memenuhi kebutuhan sehari-hari? Ayah sudah tidak memiliki pekerjaan. Untuk merintis usaha baru lagi, rasanya juga sudah tidak mungkin, Ayah sudah kehilangan semuanya."
Kondisiku kini sudah jauh lebih baik dari pada sebulan yang lalu. Sejak hadirnya Suci kembali di rumah ini, hari-hariku yang awalnya terasa suram, berubah menjadi sedikit lebih berwarna. Dengan adanya dia, waktu untuk termenung seorang diri, memikirkan dan membayangkan banyak menjadi jauh berkurang. Suci selalu mengajakku melakukan hal-hal yang menyenangkan, atau membicarakan hal-hal menarik. Hingga pikiranku bisa teralihkan.
Di samping itu, dia juga rutin menemaniku ke psikiater untuk terapi. Dengan adanya support system yang luar biasa, hari demi hari perkembangan kondisiku begitu signifikan. Kabar baik dari bang Iqbal yang kuterima juga ikut andil. Untuk hal ini, aku benar-benar berhutang pada sahabatku, Suci.
"Gimana? Kamu sudah mau menghubunginya lagi?" tanya Suci suatu ketika, saat menemaniku di dalam kamar.
"Hah?" Aku kaget, lalu menggeleng cepat. "Gak mau, Ci. Kamu aja yang ngasih kabar. Aku masih belum bisa berhubungan langsung dengan dia," ujarku gugup.
Entah mengapa, walaupun sudah cukup lama semenjak hari itu, rasanya belum cukup keberanian di dalam diriku untuk bisa berhubungan lagi dengan bang Iqbal. Walaupun hanya sekedar bertukar kabar. Aku juga tak tahu mengapa, tapi rasanya canggung saja.
"Kenapa? Tapi katanya kamu juga kangen?" Suci tersenyum menggoda sambil mencolek pinggangku.
Aku mengeluh geli, lalu menjawab, "Gak tau juga kenapa, Ci. Tapi rasanya kayak belum berani aja ngehubungin langsung. Mungkin iya aku kangen, tapi buat ketemu juga gak berani."
Suci mengangguk-angguk. "Iya, aku paham." Ia kembali menatap layar HP-nya, mungkin menyampaikan pada bang Iqbal di sana tentang kondisiku saat ini.
Semoga laki-laki itu mengerti tentang hal ini. Tentu saja tidak semudah itu bagiku untuk bisa menerimanya kenyataan. Walaupun ia sudah berulang kali meyakinkan lewat Suci bahwa ia tak mempermasalahkan semua yang telah terjadi, ia juga menerima bagaimana pun keadaanku. Namun, tetap saja, rasa takut terus menghantui pikiran. Aku yang sekarang bukan lagi aku yang dulu, dan rasanya hatiku masih belum nyaman untuk menerima kenyataan itu.
"Ci, aku mau nanya deh," ujarku beberapa saat kemudian begitu teringat sesuatu.
"Kenapa?"
"Kalau menurut kamu, bang Iqbal itu benar-benar serius masih sayang sama aku, meskipun dengan keadaanku saat ini?"
"Emangnya kamu masih ragu ya, Din?" Ia balik bertanya.
"Hmm, ya, soalnya setahuku, bagi seorang laki-laki, kehormatan seorang wanita itu sangat lah penting. Bahkan aku pernah dengar, kalau ada seorang laki-laki yang tidak jadi menikahi seorang perempuan karena alasan dia sudah tidak suci lagi."
Suci menghela napas. "Melakukan hal buruk itu berbeda dengan menjadi korban kejahatan, Din. Kamu ini adalah korban dari kejahatan orang-orang itu, gak bisa juga dibilang gak suci lagi atau apalah itu istilahnya. Aku yakin bang Iqbal cukup bijak untuk menyikapi perbedaan hal itu."
Aku menunduk sambil memainkan ujung-ujung kuku, tak tahu apa yang harus dikatakan.
"Lagi pula, dengan semua hal yang selama ini aku ceriakan padamu, tentang bagaimana kondisi bang Iqbal itu sebelum mendapatkan kabar yang jelas dari kamu. Apa belum cukup, Din? Apa itu belum cukup untuk membuktikan kalau dia benar-benar masih sayang sama kamu?"
Terbayang kondisi bang Iqbal yang diceritakan Suci beberapa waktu lalu. Benar juga perkataannya, bang Iqbal seperti itu tentu karena saking khawatirnya pada orang yang sangat ia cintai.
Ah, semoga saja aku masih bisa memantapkan hati, kembali memperbaiki semua kerusakan di dalamnya.
Apa mungkin kami bisa benar-benar kembali seperti dahulu lagi setelah semua kejadian ini?