Tepat di Depanku

1150 Kata
POV: Andini Kondisiku sudah jauh lebih baik kini. Halusinasi dan rasa takut yang berlebihan itu tak lagi sering datang. Masih ada beberapa kali, tapi sudah jarang sekali. Aku juga mulai bisa menahan rasa takut ketika bertemu orang asing. Tidur di malam hari juga sudah lebih nyenyak tanpa ada terjaga lagi akibat mimpi-mimpi buruk. Kini aku bisa kembali bermain HP tanpa harus gemetar ketika ada nomor asing yang menelepon. Sepertinya sesi terapi yang kujalani selama ini membuahkan hasil, dokter itu melakukan tugasnya dengan baik. "Apa benar hari ini adalah sesi terakhir terapi kamu?" Pagi-pagi sekali Tante Zee sudah stand-by di depan pintu kamar, membuatku yang membuka pintu tersentak kaget melihatnya. Kukira siapa. "Eh?" Aku berpikir sejenak, lalu teringat obrolan dengan Suci tempo hari. "Iya kayaknya," jawabku santai, tak mau menatap matanya. "Yaudah buruan kamu siap-siap, biar saya antar," desaknya. "Gak usah repot-repot, saya udah bisa pergi sendiri kok, kan ada Suci juga yang selalu nemenin." Tante Zee awalnya terlihat ragu, tapi melihatku mendecis dan kembali masuk ke dalam kamar, akhirnya dia pergi. Sepertinya usahaku berhasil, sikapku selama ini tak pernah membuat keluarga ayah curiga. Usaha kami berjalan dengan mulus. Tempo hari aku sudah bilang ke Suci tentang hal ini. "Ci, aku udah baik-baik aja deh rasanya, gak ada keluhan lagi. Kamu juga tau kan bagaimana keadaanku akhir-akhir ini. Konsultasi dengan dokter itu hanya mengulang hal-hal yang sama saja, bagaimana kalau sesi terakhir esok hari, kita gak usah ke tempat itu. Kamu anterin aku ke suatu tempat, mau gak?" "Hah? Yakin kamu?" Suci tampak ragu, lalu melihat sekeliling, memastikan tidak ada satu orang pun yang mendengarkan obrolan kami. "Ayolah, aku udah lama banget dikurung di rumah, suntuk tau. Aku kangen sama tempat itu, entah udah berapa bulan lamanya gak pernah ke sana lagi." "Nanti kalau ketahuan gimana? Bisa-bisa kamu dikurung lagi, gak boleh berhubungan sama siapa-siapa lagi, termasuk sama aku. Malah makin runyam jadinya nanti, Din. Ada-ada aja deh kamu," keluhnya. "Ya, jangan sampai ketahuan. Kita main cantik. Mau ya? Pliss." Aku menarik tangannya pelan sambil memelas dengan memasang wajah ter-imut. "Aku sih mau-mau aja, Din, tapi kamu yang bakal nanggung resikonya. Kamu yakin?" "Iya, aku yakin," jawabku mantap. Berdasarkan kesepakatan itulah, akhirnya hari ini aku memulai dengan meyakinkan tante Zee kalau ia tak perlu ikut, cukup percayakan saja aku pada Suci. Toh, selama ini kami juga tidak pernah macam-macam. Meski awalnya sempat ragu akan berhasil, karena biasanya tante Zee selalu ikut. Hanya satu atau dua kali ia tak ikut ketika memang ada urusan yang benar-benar tak bisa wanita itu tinggalkan. Namun, akhirnya aku bisa menghembuskan napas lega saat melihat tante Zee pergi dan tak menungguku lagi. Ada dua kemungkinan, antara ia benar-benar telah percaya padaku dan Suci, atau ia sebenarnya memang ada urusan lain yang tidak kalah penting pagi ini. Apapun itu, setidaknya langkah pertama berjalan lancar. Aku langsung mengirimkan pesan pada Suci. "Satpam pertama sudah berhasil dilumpuhkan," kataku. Suci membalas dengan emoticon tertawa. Aku tidak sedang merencanakan hal besar, hanya sekedar ingin melepaskan rasa rindu pada suatu tempat yang dulunya selalu kukunjungi, minimal satu kali dalam seminggu. Salah satu tempat terbaik yang menyajikan pemandangan senja terindah di kota ini. Apa lagi kalau bukan "Taman Batang Agam". Tidak berapa lama setelah aku selesai bersiap-siap, suara deru mesin mobil Suci terdengar di halaman rumah. Aku menyongsong ke depan, terlihat Ayah sudah terlebih dahulu berdiri di depan pintu. Suci melangkah mendekat, bersalaman dengan ayahku seperti biasanya, lalu mencium tangannya. Hubungan Ayah dan Suci sudah jauh lebih baik akhir-akhir ini, terutama semenjak gadis itu sering datang ke sini. Tidak ada lagi terlihat rasa sungkan apalagi takut di wajahnya ketika melihat ayah. Sangat jauh berbeda dengan waktu-waktu dulu, bahkan untuk sekadar bertemu dan mengobrol saja kamu harus melakukannya diam-diam tanpa sepengetahuan Ayah, karena Suci selalu saja takut. Takut dimarahi oleh ayahku. "Andini pergi dulu ya, Yah." Aku ikut bersalaman dan mencium tangan Ayah, tapi laki-laki itu malah memelukku erat. "Hati-hati, ya. Semoga semakin membaik, semakin cepat pulih kondisi anak Ayah," ujarnya sambil memelukku erat. "Udah bisa dibilang pulih kok, Yah. Ini sesi terapi terakhir." Aku tersenyum. "Oh iya, ya? Syukur lah, berarti kamu udah benar-benar sembuh." Wajah Ayah terlihat senang sekali. Aku ikut senang melihatnya. Sudah terlalu lama rasanya membuat Ayah kesusahan. Benar, Yah. Anak perempuanmu yang paling cantik ini benar-benar sudah pulih. Aku tak akan membuat Ayah kesusahan, tak akan membiarkanmu Ayah menangis sedih lagi memikirkan aku. "Berangkat, yaa!" teriakku pelan sebelum masuk ke dalam mobil. "Iyaa, hati-hati yaa." Ayah melambaikan tangan. Aku duduk di samping Suci. Ia mengedipkan sebelah mata padaku, lalu berkata pada sopirnya, "Yuk, jalan, Pak." "Oke siap, Nona." *** Suasana taman di pinggiran sungai Batang Agam begitu sepi. Tentu saja weekday seperti ini, siapa juga yang berminat main-main di taman. Apalagi masih menjelang siang begini. Hanya ada satu dua orang yang sedang duduk-duduk di kursi taman, lalu ada seorang bapak-bapak petugas kebersihan yang sedang mengosongkan tempat s****h, lalu isinya dipindahkan ke gerobak besar yang dibawanya. "Ngapain sih kita ke sini, Din? Siang-siang begini, panas tau!" keluh Suci sambil menutupi bagian atas matanya karena silau. "Ya, gak ngapa-ngapain, Ci. Cuma sekadar melepaskan rindu sejenak. Bentar aja, kok. Tahan dikit ya panasnya, Tuan Putri. Gak bakal item kok kamu," candaku. Suci merengut sambil mencoba menikmati pemandangan di depan mata. Air sungai yang tengat menyusut karena lama tidak hujan, membuat kami bisa melihat satu-dua ikan yang sedang berenang di dalam air jernih itu. Aku menghela napas panjang. Entah kapan terakhir kali aku ke sini, mungkin sudah lebih dari tiga atau empat bulan yang lalu. Ya, kalau itu tidak salah waktu itu bersama bang Iqbal, kami menonton anak-anak kecil yang sedang berenang di bawah sana sambil mencari kerang "Pensi". Sontak sosok itu muncul lagi di ingatanku. Muncul begitu saja tanpa bisa dicegah, seolah-olah ia juga punya kendali akan pikiranku. Apa kabar ya, dia di sana? tanyaku pada diri sendiri. Rumahnya tak begitu jauh dari sini, apa ia masih sering datang ke tempat ini. Lalu, kalau ia datang ke sini, kemudian menatap pemandangan yang sama, apa ia juga akan ingat padaku, seperti halnya aku ingat padanya? "Ngelamun teroos," ujar Suci seketika membuatku tersadar dari lamunan. "Siapa yang ngelamun?" tanyaku pura-pura tidak tahu. "Siapa ya? Itu kali, ikan nila dalam air lagi ngelamun," ledeknya sambil terkikik. Aku ikut tertawa sambil mencubit pinggang gadis itu. Ketika aku masih asyik menatap riak-riak air sungai yang memantulkan cahaya matahari yang semakin terik, tiba-tiba terdengar suara sepeda motor mendekat. Deg. Jantungku berdegup kencang tiba-tiba mendengar suara itu. "Andini?" katanya. Tidak salah lagi, itu suara dia. Aku menelan ludah saking kagetnya. Bagaimana ia bisa tahu aku sedang berada di sini? Namun, saat melirik Suci yang tersenyum salah tingkah, aku jadi tahu kalau dialah pelakunya. Pasti gadis itu yang menghubungi orang tersebut dan memberitahu kalau aku sedang berada di tempat ini. Langkah kaki terdengar mendekat dari arah belakang. Mau tak mau, akhirnya aku membalikkan badan. "Andini," katanya lagi. "A-abang?" Aku terbata. Bang Iqbal benar-benar berada di sini, ia berdiri tepat di depanku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN