POV: Andini
Pekat. Langit benar-benar hitam tanpa cahaya. Rintik yang menari indah mulai mengganas, berjatuhan tanpa ragu membasahi bumi bersama hantaman petir yang menggelegar.
Sayup-sayup terdengar suara ambulan, mendekat, dan semakin mendekat, meraung-raung di tengah derasnya hujan, mengungguli segala suara dengan pekikannya.
Tergopoh, aku menaiki puluhan anak tangga, menyeret langkah yang seolah sudah tak menapak. Kutatap nanar sosok yang terbujur kaku di atas pangkuan badan kekar itu, berbalut kain putih teramat bersih, sama sekali tanpa gerak, membuat raga ini runtuh, tidak lagi dapat menahan beban sendiri.
Bruk! Aku terjatuh, kesadaranku juga ikut hilang menjauh.
***
Setelah beberapa waktu, aku terbangun, menatap sayu keramaian dengan kedua bola mata yang teramat lelah. Seperti masih bermimpi, harus menyaksikan suasana asing di ruangan mewah ini.
Warna-warni bunga serta hiasan lainnya tergantikan dengan kain pekat yang dikenakan kebanyakan orang, bising suara TV beralih pada suara asli yang terlontar dari setiap raga yang datang, gelak tawa kebahagiaan bahkan hilang ditelan isak yang menyayat, peluk pun bahkan tak lagi terasa hangat meski ratusan kali kudapat.
Pandangan iba menghujaniku, lebih deras dari hujan alami yang mengguyur permukaan Pertiwi. Aku masih saja terpaku, dengan pilu yang semakin menjadi-jadi, menggerogoti seluruh isi hati juga raga yang seolah sudah tak terkendali.
Ah, sungguh, aku benci. Menjalani hidup selanjutnya tanpa arti. Jika bisa, ingin cepat aku mengakhiri. Ya Tuhan! Mengapa tidak aku saja yang Kau bawa pergi?
Apakah ini benar-benar terjadi?
Ibuku sudah mati!
***
Lagi-lagi hujan. Sangat kusukai semua tentangnya. Namun, kali ini terasa amat berbeda. Hadirnya sempat suguhkan sepi, bahkan kembali menggali kenang yang sudah lama kukubur dalam, berusaha melupakannya.
Ah, payah, aku mengeluh, bahkan sempat berpikir bahwa dunia sangat kejam dan tak adil terhadapku.
Kupandangi rintik yang deras berjatuhan. Sedikit membasahi tubuh bagian bawah, terlebih sepatu dan celana jeans-ku.
Namun, meski begitu tetap kubiarkan karena tak adalagi tempat untuk menghindar, tempat ini sudah sangat berdesakkan.
Kuraih ponsel yang sedari tadi tersimpan rapi di dalam tas gemblok bagian depan. Buru-buru, karena kembali teringat pada pekerjaan yang mulai mati-matian kupertahankan untuk menunjang semua kehidupanku.
Ah, lagi-lagi aku mengeluh karena menyadari tak ada satu pun pesanan di aplikasi ojek online-ku.
Kembali kunikmati tarian-tarian hujan itu sembari melemparkan pandangan ke berbagai arah, tak menentu. Tanganku terulur ke depan memainkan air yang menggali turun di ujung kanopi.
Eh, aku mendapati paras yang tak asing, mata kami nyaris bertemu, tapi ia buru-buru berpaling ke arah lain.
Benar, ia adalah orang yang pernah menjadi penumpangku. Kuberanikan untuk menyapanya kembali, meski sebenarnya hanya untuk menghilangkan rasa penasaranku yang tiba-tiba saja datang setelah melihatnya. Benarkah itu dia?
Ternyata benar, itu adalah dia. Terjadi beberapa percakapan yang sedikit agak melelahkan karena harus bersaing dengan suara hujan.
“Pulang, Bang?” tanyaku lagi. Ia mengangguk sopan. Aku berpikir keras untuk melontarkan pertanyaan selanjutnya. Sedikit malu, tetapi tetap kupaksakan demi mendapat tambahan rupiah sebagai pemasukan hari ini.
“Naik angkutan umum?” Basa-basi aku bertanya. Ia menggeleng. “Sudah tidak ada, Mbak,” ujarnya. Sontak aku kegirangan. Mata binar juga senyum merekah benar-benar tak dapat kusembunyikan.
Hujan perlahan mereda. Rintik yang tadi menggila mulai ramah dan menghilang tanpa kata. Beberapa orang memilih beranjak meninggalkan halte, beberapa pula ada yang masih enggan, tetap berada di tempat, sibuk dengan ponselnya masing-masing. Begitu pula dengan aku, yang sedari tadi antusias menatap layar ponsel, berharap ada pesanan masuk.
“Yuk!” ajakku pada laki-laki yang berada tak jauh dari tempatku berdiri. Ia sedikit tertawa tak percaya saat aku menyodorkan helm secara tiba-tiba ke hadapannya.
"Mbak lagi?" tanyanya dengan senyuman ramah yang sering ia lontarkan.
"Kebetulan, saya lagi ojolnya."
***
Aku melaju di atas sisa-sisa hujan. Kunaikkan kaca helm untuk membiarkan angin sore menyapa wajah lusuhku.
“Ah, sudah tak tercium,” ucapku lirih di tengah-tengah deru kendaraan yang sengaja kubuat pelan karena khawatir dengan keadaan penumpangku.
Benar. Lagi-lagi aku berpikir, mengapa aku masih peduli terhadap urusan pribadi orang lain? Padahal, beban yang menumpuk di pundakku saja masih sering kukeluhkan karena merasa tak pernah terselesaikan.
“Suka Petrichor?”
Aku tersentak mendengar pertanyaannya. Kukira ia tak mendengar ucapanku yang tadi. “Eh, iya, Bang.”
Kualihkan pandangan pada spion, diam-diam menengok paras yang setengahnya tersembunyi di balik kain abu tipis tak bermotif, terikat ke belakang. Terlihat jelas mata yang sayu, seperti mengantuk dan juga kelelahan.
Aku berhenti sejenak meski tanpa mematikan mesin kendaraan, lalu bertanya perihal keadaannya.
“Nggak apa-apa, kok, Mbak,” jawabnya.
Mendengar hal itu, aku sedikit lega, meski sebenarnya sebagian besar perasaan ini masih dihinggapi rasa khawatir yang berlebihan, takut terjadi hal yang lebih buruk dari sebelumnya.
Kembali aku melaju di atas permukaan yang perlahan mengering tersapa angin. Namun, senja tetap tak nampak meski banyak yang merindukannya.
“Saya juga sangat suka Petrichor. Bau alami yang unik.” Laki-laki yang duduk persis di belakangku kembali melanjutkan perbincangan tadi. Aku tersenyum, tak menyangka bahwa ia bisa berkomunikasi denganku tentang hal seperti itu.
Iya, benar. Memang unik, tetapi yang kusukai dari Petrichor bukanlah perihal aromanya saja, melainkan karena aku terlalu menyukai hujan, juga terlalu bergantung pada semua tentangnya.
"Betul, Bang. Unik. Kaya Abang," ceplosku. Terlihat kedua bola mata itu menipis, terseret oleh pipi-pipi yang terhalang masker kain di wajahnya.
"Bang, tahu nggak asal-usul aroma uniknya dari mana?" tanyaku sembari setengah menengokkan kepala ke belakang. Sudut mataku mendapatinya menggelengkan kepala. Aku mengangguk pelan.
"Mau saya kasih tahu? Tapi nggak gratis."
"Boleh," jawabnya singkat sembari membubuhkan tawa yang sedikit tertahan.
Aku terbahak menyadari sikap kakunya, lalu berceloteh panjang lebar menjelaskan ini dan itu tanpa menyadari bahwa sebentar lagi akan sampai pada tempat tujuan.
Kuhentikan kendaraan tepat di depan rumahnya. Ia meraih dompet dan mengeluarkan satu lembar uang lima puluh ribuan. Aku menggaruk-garuk sebagian kepala, padahal sebenarnya tidak gatal sama sekali.
"Duh, nggak punya kembalian, Bang." Aku tak langsung menerimanya. Namun, ia tetap bersikeras menyodorkan uang lembaran itu ke hadapanku.
"Nggak ada uang pas juga, Mbak," ujarnya sembari menutup dompet dan memasukkannya kembali ke dalam saku celana.
"Atau sekalian bayar penjelasan yang tadi?" candaku.
"Iya." Singkat ia berucap kemudian menyodorkan kembali uang lembar itu. Aku meraihnya.
"Canda, Bang." Aku sedikit menepuk lengan kanannya.
"Ini uang saya bawa dulu, ya. Kebetulan lagi butuh banget. Kembaliannya nanti saya kasih di pertemuan selanjutnya. Oke?"
Ia mengangguk. Dapat kulihat jelas seluruh parasnya karena kain tipis yang sedari tadi menempel sudah ia tanggalkan.
Bergegas, aku berpamitan. Menyalakan mesin kendaraan dan bermaksud untuk langsung pulang.
"Mbak. Ini." Ia setengah berlari ke arahku. Menyodorkan helm yang hampir saja ketinggalan karena keteledoranku.
Ah, dasar aku. Bisa-bisanya mengalami kejadian seperti ini. Padahal, sebelumnya aku selalu antusias dan tidak pernah lupa akan hal ini.
"Duh, untung cuma helm ya, Bang. Kalau hati, bisa brabe."
Laki-laki itu tak menyahut, hanya senyum sopan yang terpampang dari balik maskernya yang sudah turun ke dagu.
Gubrak! Mleyot hati ini, menyesal dengan kata-kata sendiri yang terkesan SKSD, sok kenal sok dekat.