POV: Andini
"Yah! Andini bawa makanan kesukaan Ayah, nih."
Seperti biasa, setelah pulang dengan sisa-sisa tenaga, aku selalu menemui Ayah di kamar tidur yang kini menjadi sangat sederhana itu.
Hanya sebuah kamar kecil 4x4 meter, dengan sebuah tempat tidur kayu yang tidak begitu besar. Sebuah kasur tipis beralaskan seprai bermotif bunga kembang sepatu di atasnya. Tak ada perabotan lain di sini selain sebuah nakas persegi berwarna coklat tua, tepat di samping tempat tidur.
Rumah mewah dengan berbagai macam perabotan yang dulu setia menyambut tiap kali kaki melangkah masuk, kini tiada lagi. Nyaris semua aset keluargaku harus dijual demi menutupi hutang perusahaan milik ayah yang bangkrut. Tanah yang luas, rumah yang megah, mobil mewah, perhiasan, dan lain sebagainya sirna.
Namun, tak mengapa, semua yang tersisa saat ini masih layak untuk disyukuri. Setidaknya, masih tersisa satu hartaku yang paling berharga untuk dijaga.
Ayah memaksakan diri untuk tersenyum, menarik bibirnya yang sedikit miring ke kanan, menampakkan sedikit barisan gigi-gigi putih.
Senyumnya adalah obat terbaik yang mampu melunturkan semua lelah setelah seharian penuh melakukan aktivitas. Yang lebih kusukai adalah peluk hangatnya. Meski memang masih belum bisa menggantikan posisi Bunda, tetapi aku tetap bersyukur memiliki Ayah yang terus berusaha kuat dan sama-sama masih berusaha bertahan dalam keadaan sulit ini.
Jujur saja, menjadi ojek online itu melelahkan. Walaupun pekerjaannya terlihat hanya duduk di atas sepeda motor saja, berkendara ke sana-sini, tapi lelahnya terasa hampir ke sekujur badan.
Kedua lengan terasa pegal karena menahan setang sepeda motor seharian, betis juga nyeri karena berada dalam posisi yang sama dalam waktu yang lama. Apalagi kalau ada pelanggan yang membawa barang banyak, sehingga harus ditaruh di depan dan diapit dengan kedua kaki agar tidak jatuh.
Punggung rasanya remuk redam karena duduk seharian di atas sepeda motor. Kemudian, yang paling terasa adalah bagian pinggul yang menjadi tumpuan duduk di posisi yang sama selama berjam-jam. Ya, apa pun itu, harus tetap disyukuri dan dinikmati. Sebisa mungkin, aku berusaha untuk tidak mengeluh.
"Dini suapin, ya, Ayah. Makan yang banyak, biar makin bertenaga."
Ayah mengangguk. Jelas, Ayah tak pernah menolak untuk disuapi. Malah katanya nafsu makan akan selalu bagus jika makan dari tanganku. Entahlah, aku juga tidak terlalu menghiraukan apa alasan sebenarnya, yang terpenting adalah bagaimana caranya agar aku mampu terus bahagia menikmati kehidupan sederhana ini.
Aku ingin terus berbakti pada satu-satunya surgaku yang tersisa di dunia ini.
Tatapan teduh matanya selalu menerobos ke jiwa terdalam, menghangatkan, meski tak setajam yang kukenal dulu. Suara parau yang teramat berat selalu saja kurindukan, karena sudah pasti setiap kalimatnya adalah motivasi untukku. Walaupun saat ini, katanya terdengar terbata.
Begitulah, kadang bebanku teringankan dengan semua hal tentang Ayah. Hingga saat ini, alasan terbesarku menjalani semua ini adalah demi beliau.
Meski ayahku yang sekarang tak lagi seperti sosoknya yang dahulu, tapi ia tetap ayahku. Kehilangan Bunda, telah benar-benar membuat kami berdua terpukul, terutama Ayah.
Beruntung, aku masih sanggup bangkit dan berdiri dari segala bentuk keterpurukan. Ayah tak seberuntung itu, ia benar-benar down, yang tidak hanya sebatas psikis, tapi juga fisiknya.
Tensinya melonjak tinggi di atas 190 hingga pembuluh darahnya tak sanggup lagi bertahan. Ayah terkena stroke.
Berbulan-bulan lamanya, aku merawat laki-laki yang paling kucintai itu sepenuh hati. Badannya lemah sebelah, tak bisa digerakkan secara normal, lidahnya kelu, bibirnya juga miring.
Tidak hanya itu, kondisi kejiwaan Ayah juga terganggu. Setiap hari, tak kenal malam ataupun siang, ayah menangis tersedu-sedu menyebut nama ibuku. Semua itu kuhadapi dengan senang hati, kulakukan yang terbaik untuk merawatnya.
Ada rasa bangga tersendiri ketika aku berhasil melakukan semua ini tanpa ada perasaan kesal ataupun dongkol di dalam hati. Aku bahkan senang punya kesempatan untuk membalas jasa-jasa orangtua yang sudah merawatku sedari kecil. Ya, walaupun tetap tidak akan terbalas.
Waktu kecil, aku dimandikan olehnya. Sekarang tiba giliranku untuk membandingkannya, ketika tubuhnya tak berdaya untuk melakukan hal tersebut sendiri. Bahkan, ketika kecil dulu, saat aku buang kotoran tidak beraturan, ia dengan sabar membersihkan. Lalu, apa salahnya jika sekarang aku melakukan hal yang sama?
"Cepat sehat, ya, Yah. Banyak hal yang ingin Dini lakukan bersama Ayah."
Hari berganti, bulan pun berlalu. Syukurlah. Saat ini kondisi Ayah mulai membaik. Baik kondisi fisik, maupun mental.
Kukecup kedua tangan kekar yang kini mulai menyusut itu. Lalu, kudapati belaian lembut di ubun-ubun sebagai balasannya.
"G-gimana kerjaan hari ini, Sayang?" tanyanya lembut.
Aku dengan semangat menceritakan semua hal yang terjadi hari ini padanya. Beberapa kejadian konyol dengan pelanggan-pelanggan lucu, sampai ke kejadian menyebalkan dengan pelanggan yang banyak tingkah. Ayah antusias mendengar, sembari sesekali tertawa kecil.
Ah, Tuhan, terima kasih. Sebenarnya ini juga sudah sangat cukup membahagiakan untukku.
***
Ting! Sebuah obrolan masuk di aplikasi WA. Aku tersenyum begitu membaca nama pengirimnya.
"Din, lagi apa?"
"Sibuk banget ya, sampai telponku gak diangkat-angkat."
"Jadi kan besok sore?"
Rentetan chat bertubi-tubi langsung menyercaku.
"Iya, Suci. Aku baru pulang nih. Biasalah sibuk mengais rezeki, mencari sesuap nasi. Hehehe," balasku. "Jadi dong, sampai ketemu di tempat biasa ya."
"Jangan sampai ga jadi lagi ya, Din. Udah lama nih kita gak nongkrong bareng."
Suci adalah sahabatku dari kecil dulu. Kami satu sekolah, mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA. Sayangnya setelah kuliah, kamu memilih kampus yang berbeda, hingga akhirnya harus berpisah.
Biasanya hampir setiap minggu kami akan bertemu, mengobrol, saling berbagi cerita di sebuah cafe yang sudah menjadi langganan sedari dulu.
Namun, semenjak aku jadi lebih sibuk bekerja sambil kuliah, rutinitas itu jadi terhenti.
Beberapa hari lalu, ia mengajakku bertemu. Karena memang sudah lama sekali, kami tidak mengebor deep seperti dulu lagi.
"Oke, Ci. See you. Aku istirahat dulu. Lelaah. Hehe."
Tak perlu menunggu lama untuk memejamkan mata yang memang sudah mengantuk. Ditambah lagi dengan sekujur badan yang benar-benar sudah lelah, menagih haknya untuk diistirahatkan.
***
Pagi hingga siang hari, langit di kota ini masih cerah. Hanya saja, tak bisa dipastikan, sampai kapan. Karena sering kali, pagi-siangnya cerah, sore atau malam nanti hujan akan kembali mengguyur bumi.
Cuaca ekstrem, begitu istilahnya.
Cuaca yang berubah-ubah seperti ini lah yang sering kali membuat orang-orang dengan daya tahan tubuh lemah, akan rentan terkena penyakit. Entah itu demam, flu atau batuk.
Aku masih duduk di pangkalan bersama beberapa orang driver ojek online lainnya, seusai mengantarkan orderan makanan seorang pelanggan.
Sebenarnya "pangkalan" ini hanya sebuah titik kumpul di daerah yang strategis, tepat dibawah sebuah pohon Mahoni yang daunnya sangat rindang. Ada deretan kursi-kursi para penjual minuman menjadi tempat duduk sembari menunggu orderan.
Kami menjadikan tempat ini sebagai titik kumpul, karena memang dekat dengan berbagai macam tempat strategis, seperti mall, sekolah negeri, RSUD, GOR, dan lain-lainnya.
"Gimana, Din? Gacor kah hari ini?" Pak Bian, seorang driver yang sedang duduk tak jauh dariku bertanya sambil melemparkan senyum.
Istilah "Gacor" dalam dunia ojek online adalah perwakilan dari pesanan yang sedang banyak, sehingga penghasilan juga meningkat.
"Yaaah lumayan lah, Pak. Dibilang gacor, juga tidak, tapi yaa, cukup laah." Aku membalas senyumnya. "Baru datang, Pak?" tanyaku balik.
"Iya nih, nungguin istri belanja di pasar dulu tadi. Maklumlah nungguin emak-emak, luamaa banget, bisa ternak lele dulu. Hahaha."
Aku ikut tertawa mendengar perkataannya.
Tring! Sebuah notifikasi muncul, langsung kutekan tombol "Acc". Alamat yang diberikan cukup jelas, tidak jauh dari sini, aku langsung berangkat, seusai mengirim chat.
"Saya jalan duluan, Pak."
"Oke, Din!"
Aku melirik lagi layar HP yang menempel di holder. Nickname pemesan seperti tidak asing, "Luka Abadi". Seperti sudah membaca nama ini berkali-kali selama beberapa hari belakangan.
***
"Eh!"
"Eh!" Kami berujar bersamaan. Benar saja, ini orang yang sama sekali tidak asing.
"Kamu lagi?"
"Abang lagi?" Ya, orang ini adalah orang yang sama, pelanggan dua hari lalu, juga beberapa hari sebelumnya. Pemilik akun dengan nickname "Luka Abadi".
"Iya, kebetulan yaa."
Aku masih duduk diam di atas motor, seakan tidak percaya. Ini kebetulan yang ke berapa kali?
Terlintas kembali kejadian memalukan dua hari lalu, saat aku berhujan-hujanan, memaksa orang ini untuk memberikan izin datang ke rumahnya, hanya demi mengantarkan uang kembalian tempo hari. Ah, untungnya masker dan kaca helm menyamarkan wajahku yang memerah karena malu mengingatnya.
"Mbak?"
"Eh." Lamunanku buyar.
"Bisa kita berangkat sekarang?"
"Eh, iya, Abang. Ini helmnya."
Aku tiba-tiba grogi dan salah tingkah. Sampai-sampai lupa menaikkan standar motor, alhasil saat ditekan tombol starter, motornya bergeming, tak menunjukkan tanda-tanda akan hidup. Sempat mengira motor ini mogok atau kehabisan bensin.
"Mbak, itunya belum dinaikin." Laki-laki muda itu menunjuk ke bawah, hingga membuatku sadar dan semakin malu.
"Eh, iya, lupa."
Terlihat dari kaca spion, mata laki-laki itu menyipit menahan tawa.
Konyol!