POV: Iqbal
"Udahlah, Mba. Simpan aja kembaliannya." Kujawab pelan cerocosan seorang gadis yang suaranya tidak asing di ujung telepon.
"Gak bisa, Bang!" Dia tetap bersikeras.
"Ini kebanyakan lebihnya, saya gak mau hutang budi sama Abang. Lagian apa salah Budi? Dia gak tau apa-apa."
Aku diam sejenak, lalu menghela napas panjang. Badai yang meluncur dari mulutku pasti terdengar sampai ke sana. Bisa-bisanya gadis itu bercanda di saat seperti ini, padahal nada bicaraku sudah begitu serius.
"Saya kembalikan ya," pungkasnya, tak menyerah.
Beberapa hari lalu ia tak punya kembalian aku membayar ongkos. Dengan percaya diri ia katakan akan mengembalikan di pertemuan berikutnya.
Eh, tiba-tiba tadi pagi, ia menelepon lewat aplikasi w******p. Belum sempat kutanya dari mana ia dapat nomorku. Bisa jadi, ia sengaja mencari lewat riwayat orderan di aplikasi hijau itu. Entahlah.
"Saya lagi di daerah dekat rumah Abang kok. Saya anter sekarang ya. Lagi di rumah kan?" tanyanya lagi.
Otakku mengerti sekali, gadis ini tidak sedang bertanya. Ia hanya butuh persetujuan. Tidak mungkin menyerah dan akan terus begini sampai aku bilang iya. Sedikit demi sedikit, aku mulai tau bagaimana tipikal gadis ini. Ia adalah sosok yang keras kepala, pantang menyerah, gigih sekali dalam berusaha mendapatkan apa yang ia mau. Terlampau gigih malah.
"Huuuft. Yaudah, iyaa, Mbak." Aku yang akhirnya menyerah. "Yaudah deh, kalau emang lagi deket-deket sini, singgah aja. Sebenarnya gak perlu si ...."
"Oke-oke siap. Otewe nih." Ia berkata cepat, memotong kata-kataku. "Oh ya, Abang udah makan? Mungkin udah lapar nih jam segini. Kali aja kan. Mau makan apa gitu?"
"Hah!?"
"Maksud saya kalau belum makan, sekalian order g*food aja. Biar ke sana sambil ngantar. Hehe."
Aku menggeleng-geleng, jengkel sekali dengan tawanya yang tanpa rasa bersalah. "Nggak! Makasih," jawabku pendek.
***
Tanah masih lembab, aroma yang kusuka itu juga masih ada. Sayang sekali kalau tidak keluar kamar dan menikmatinya sejenak di teras depan.
Kutinggalkan sejenak script untuk rekaman iklan di radio yang sedang kukerjakan sejak siang tadi. Nanti bisa disambung lagi.
Jejak sepeda motor Andini belum hilang, hujan gerimis yang turun barusan tak berdaya untuk menghapusnya, masih terlihat jelas membekas di tanah tak berumput halaman rumah kontrakanku ini.
Ya, aku baru mengetahui dari akun w******p-nya. Gadis tukang ojek online itu bernama Andini.
"Ini ya Bang. Pas. Tidak lebih, tidak kurang." Begitu katanya tadi, tanpa basa-basi, begitu datang langsung menjulurkan tangan dan memberikan sekepal uang receh. "Sudah ya, berarti saya gak ada hutang lagi." Ia tersenyum lebar.
Terkekeh sejenak. Merasa tak dapat berkata-kata, aku membalasnya dengan senyuman dan beberapa bonus anggukan.
"Abang sih, gak sekalian pesan makanan. Jadi saya ga bawa tangan kosong aja, jauh-jauh ke sini."
Loh? Aku mengernyit. Bukannya tadi dia yang bilang kalau sedang ada di dekat-dekat sini? Sekarang dia juga yang mengeluh kejauhan.
Wajahnya berubah ekspresi. Seperti menyesal telah melontarkan kata-kata barusan.
"Eh, bukannya tadi ka ...."
"Yaudah ya, Bang, saya pergi dulu. Bye!"
Belum sempat kuselesaikan kata-kataku, lagi-lagi ia memotong dengan cepat. Kebiasaan.
Aku juga baru melihat wajahnya secara jelas kali ini. Tidak dalam keadaan tertutup masker, pun tidak juga dalam kondisi kepalaku sedang pusing dan mata berkunang-kunang.
Memang tidak ada wanita yang tidak cantik, tapi tidak semua wanita terlihat menarik di mataku. Namun, jujur saja, Andini ini boleh dibilang cantik dan juga menarik. Ah, mungkin bisa kububuhkan kata "sangat" di awalnya.
Sial. Mengapa wajahku tiba-tiba memanas mengingatnya?
Wajahnya yang kuning langsat, sebagian terlihat memerah terpapar sinar matahari, bukti kalau ia adalah seorang wanita pejuang, pekerja keras. Matanya bulat dengan bulu lentik dan alis tebal alami, nyaris bertemu satu sama lain.
Ada yang unik di wajahnya. Saat tersenyum, terlihat garis-garis di pipinya menyerupai kumis kucing. Tampak lucu. Hal tersebut seolah memaksa siapa saja yang disenyumi olehnya "harus" tersenyum balik. Tak akan bisa menahan diri untuk tidak ikut tersenyum.
Percayalah, aku sudah membuktikan sendiri.
Kemudian, yang paling lekat di ingatanku hingga sekarang adalah ketulusannya. Dia orangnya benar-benar tulus. Ya, seumur-umur, tak pernah kutemui sosok setulus dia.
Aku teringat hari itu, saat ia menolongku untuk pertama kalinya, di pertemuan kami yang kedua kalinya.
"Eh, Abang lagi." Masih tergambar jelas di mataku bagaimana wajahnya —walau tertutup masker— dengan mata menyipit, saat berkata demikian dengan mimik senang. "Sudah tau kan kalau aku cewek? Hahaha."
Hanya kubalas dengan anggukan pelan, kepalaku sedang pusing. Untuk tertawa saja rasanya berat sekali. Efek cuci darah, mungkin kebanyakan tarikan cairan dari mesin Hemodialisis.
Wanita itu mulai melaju, memboncengku. Kami melaju di jalanan yang ramai, hingga beberapa saat kemudian.
"Abang kenapa? Kok miring Bang? Jadi berat sebelah nih." Gadis itu berkata setengah berteriak sambil memperlambat laju motornya, matanya menyelidik lewat kaca spion kanan.
Untuk sesaat bisa kutangkap raut wajah dengan bulu mata lentik itu menunjukkan kekhawatiran.
Kepalaku semakin pusing, pandangan berkunang-kunang, keringat dingin mulai bercucuran di dahi. "Aduh, saya pusing banget."
"Ya ampun!" Ia berseru, spontan menghentikan laju sepeda motor sebelum aku benar-benar tumbang ke jalan. Tangannya refleks menahan tubuhku sehingga tidak membentur aspal. Entah apa jadinya jika ia tak cepat bergerak. Dengan kendaraan begitu ramai melaju di samping kami. Entahlah.
Aku duduk di trotoar, bersandar pada batang pohon yang sengaja ditanam di sepanjang pinggiran jalan ini. Kuteguk air mineral dari botol yang selalu kubawa di dalam tas. Suasana sejuk di sini cukup membantu.
"Abang baru selesai berobat ya?" tanya gadis itu dengan tangan kanan yang sibuk mengipasi wajahku yang bercucuran keringat.
Jujur saja, hatiku merasa sangat tidak enak waktu itu. Merepotkan orang yang sama sekali tidak kukenal.
Aku tahu, sudah sewajarnya ia merasa kesal, mendapat penumpang yang tidak beres begini, tentu hanya akan menghabiskan waktunya saja. Seharusnya ia bisa menerima orderan lain, malah terlalu lama menghabiskan waktu sia-sia di sini bersamaku.
Namun, anehnya wajah gadis itu tak terlihat kesal, hanya menunjukkan raut khawatir, yang kentara sekali. Ia terlihat peduli. Peduli yang benar-benar nyata, tanpa ada kesan dibuat-buat. Entahlah, aku tak pandai menjelaskannya. Dalam pandanganku terlihat jelas ketulusan dari setiap hal yang ia lakukan, ia katakan.
Ya Tuhan, benarkah masih ada manusia seperti ini?
"Iya, Mba. Saya habis cuci darah tadi."
"Hah? Cuci darah? Abang ini sakit apa? Trus ini sendirian terus? Pulang-pergi ke RS sendirian, Bang?" Ia menyerca dengan pertanyaan bertubi-tubi dan mata melotot.
Haaah. Aku ini lagi pusing, lho Mbak, umpatku di dalam hati. Baru saja ingin memujinya.
Memang tidak ada orang yang sempurna, bukan? Aku mengangguk pelan, lalu kembali memejamkan mata, berharap pusing ini berkurang.
"Hehe. Maaf, Bang. Saya banyak nanya ya?"
Nah itu udah bertanya lagi.
Aku tersenyum lagi mengingatnya. Mungkin akan terus tersenyum saat ingat lagi.
Deg. Jantungku berdegup, sadar akan sesuatu.
Jangan! Tolong jangan! Jangan biarkan tanah yang sengaja kubuat gersang ini menjadi subur lagi. Aku takut bunga-bunga itu tumbuh lagi, hingga terpaksa harus kucabut paksa. Lagi. Dan lagi. Seperti yang sudah-sudah.
Jangan! Aku mohon.
***
Ting ting!
Beberapa notifikasi muncul di bagian atas layar HP-ku. Pop-up chat dari grup WA muncul. Itu adalah grup para penyiar dan crew di radio Gema FM.
Bunga: "Guys! Gimana rundown untuk acaranya? Colek @Iqbal."
Leo: "Iya nih, hari H udah semakin dekat. Gimana bang @Iqbal? Kalau misalnya gak sempat bikin, aku bisa bantu kok. Biar kita bisa lanjut ke agenda berikutnya."
Aku mengucek mata, silau memandang layar HP di ruangan gelap ini. Memang terbiasa tidur dengan lampu dimatikan, sekalian hemat listrik juga.
Jempolku mulai beraksi. "Bisa kok," jawabku. "Rundown-nya sudah 80% nih. Aku lagi mikirin bagian hiburannya. Besok atau lusa udah bisa di-print."
Leo dan Bunga adalah rekan penyiar di Radio Gema. Bunga itu bisa dibilang senior, karena beliau sudah ada di Radio beberapa bulan sebelum aku bergabung. Sedangkan Leo adalah seorang mahasiswa magang yang sudah bekerja dua bulan belakangan.
Dua minggu lagi, radio Gema FM akan mengadakan jumpa ramah dengan para pendengar. Sekalian merayakan hari jadi Radio yang ke-7 tahun. Aku mendapat kepercayaan untuk menyusun rundown acara, berikut mengatur bintang tamu untuk hiburannya.
Chat-ku hanya dibalas emoticon jempol oleh mereka. Itu artinya tidak ada masalah lagi, aku bisa melanjutkan tidur yang sempat terganggu.
Hoaaam! Kantukku belum hilang.