POV: Andini
"Sudah siap, Yah?" Aku berdiri di depan pintu kamar ayah, memastikan.
"Sudah," jawabnya pelan. "Kartu asuransi kesehatan, fotocopy KTP dan KK sudah di dalam semua, kan, Din?" ayah balik bertanya sambil menunjuk tas yang tergeletak di atas meja.
Aku mengangguk mantap. "Udah semua kok, Yah."
Aku tahu, ayah sudah siap berangkat dari tadi. Tentu saja, kan aku yang membantunya mempersiapkan segala hal untuk dibawa ke rumah sakit. Hanya saja, ayah tak bisa terlalu didesak untuk bergerak cepat, karena memang tenaganya masih sangat terbatas.
"Sini, Dini yang bawa." Kuraih tas berisikan berkas-berkas yang dipegang ayah. Lalu, kugandeng tangannya meninggalkan kamar.
"Semoga bulan depan, ayah sudah bisa pergi-pergi sendiri ya. Jadi, gak perlu ngerepotin kamu terus," celetuknya tiba-tiba.
"Hah, kok ayah ngomong gitu? Dini senang kok bisa nemenin ayah terus."
Meski kondisi ayah sudah berangsur-angsur pulih, tapi tetap saja harus rutin kontrol ke dokter spesialis penyakit dalam setiap bulannya. Selain untuk menyambung obat-obatan, juga untuk mengukur tekanan darah, mengecek Hemoglobin serta kadar kolesterol dalam darahnya. Demi mencegah penyakit ayah kambuh lagi, semuanya harus dipastikan dalam keadaan normal.
"Siap berangkat, Yah?"
"Siaap." Ayah memegang erat pinggangku.
"Berangkaat." Kendaraan roda dua itu pun melaju pelan di atas aspal.
***
Pukul delapan pagi, antrean panjang sudah terlihat di depan loket pendaftaran poliklinik Rumah Sakit. Wajar saja, rumah sakit ini adalah satu-satunya tempat rujukan pasien sekabupaten dan kotamadya. Aku ikut berdiri di antara puluhan pasien lainnya setelah sebelumnya mencarikan tempat duduk untuk ayah menunggu.
Kurang-lebih lima belas menit kemudian nomor atrian kudapatkan. Selanjutnya, kugandeng ayah melangkah pelan ke loket selanjutnya untuk mengantri lagi ke poliklinik tujuan, yakni Poliklinik Penyakit dalam. Kali ini antriannya tidak begitu panjang, karena pasien yang banyak tadi sudah terbagi-bagi ke beberapa titik.
Sepengetahuanku Poliklinik Penyakit Dalam dan Poliklinik Jantung adalah yang paling ramai. Disusul oleh Kebidanan dan Syaraf.
Deretan kursi-kursi panjang dengan bantalan berwarna biru muda terpampang di ruang tunggu. Aku memutar kepala, mencari tempat kosong. Hingga akhirnya tertuju pada satu tempat di tengah-tengah.
"Permisi, Pak."
Beberapa orang pasien lain tersenyum, lalu memberikan jalan untuk lewat.
"Ayah, duduk di sini dulu, ya. Biar Dini ngantar berkasnya dulu."
Ayah mengangguk pelan.
Aku maju ke meja yang disediakan ketika nomor antrian dipanggil. Setelah melengkapi persyaratan dan memberikan tanda-tangan, aku diberi sebuah blangko laboratorium, cek darah lengkap ayah memastikan kondisinya.
Dari sana, pelan-pelan, aku kembali menggandeng ayah menuju laboratorium untuk pengambilan sampel darah. Aku sudah hapal betul posisi maupun prosedurnya, karena memang sudah rutin dilakukan. Antrian di laboratorium tidak begitu panjang, mungkin karena memang tidak semua pasien perlu melakukan cek laboratorium lengkap.
Proses pengambilan darah di lengan ayah tidak memakan waktu lama, kemudian hasilnya bisa diambil beberapa jam kemudian.
Dari laboratorium, barulah kami kembali ke poliklinik, mencarikan tempat duduk untuk ayah. Tidak berapa lama kemudian, ayah terlihat sudah asik mengobrol dengan orang di sebelahnya.
Ada empat baris kursi panjang di ruangan ini, aku dan ayah menempati kursi di baris ketiga. Tak banyak tempat kosong. Hari ini sepertinya pasien sedang ramai-ramainya.
Sembari menunggu panggilan untuk bertemu dokter, aku memainkan HP sejenak. Namun, telingaku menangkap suara yang sepertinya tidak asing di kursi depan.
"Siapa yang berobat?" Seorang laki-laki paruh baya bertanya.
"Saya, Pak," jawab suara itu.
"Loh, masih muda, memangnya sakit apa?"
"Hehee. Tidak apa-apa, Pak. Cuma cek darah saja."
Aku menyimak, penasaran akan sumber suara itu. Siapa ya dia?
"Oh, kirain kenapa. Bagus deh, kalau cuma cek darah." Laki-laki itu menyambung lagi. "Capek juga kalau setiap bulan harus ke rumah sakit terus. Kayak saya ini. Udah hampir empat tahun ini, harus ke sini terus, berulang-ulang, sekali sebulan. Huuuh, lelah sekali rasanya."
Pemuda itu mengangguk-angguk, seolah paham. "Sabar, Pak. Mungkin sudah begitu jalannya. Kita hanya perlu menjalani saja."
"Yaah, orang-orang kadang memang bisa ngomong gitu. Karena mereka gak merasakan. Kalau udah ngerasain kayak saya ini, pasti ngeluh juga."
"Hehe. Iya juga ya, Pak." Ia terdengar menarik napas panjang.
Ah, aku ingat. Bukannya dia penumpang yang memakai nickname Luka Abadi?
Tiba-tiba suara dari microphone terdengar memanggil.
"Saudara Iqbal Maulana! Saudara Iqbal Maulana!"
Laki-laki itu berdiri. "Yaa!"
Hah? Namanya Iqbal Maulana?
Kejadian tempo hari muncul lagi di ingatanku. Kejadian yang membuatku semakin penasaran dengan sosok itu. Apalagi dengan kebetulan demi kebetulan yang selalu saja mempertemukan kami.
***
"Eh, Abang lagi."
Tetap, masih kata itu yang terlontar dari lisanku saat bertemu dengannya kala itu. Entahlah, aku masih saja belum merasa berani untuk menanyakan namanya, juga tidak punya alasan tepat untuk tiba-tiba bertanya.
Ia tersenyum dengan mata menyipit. Seolah ikut berkata, "eh, kamu lagi."
Dalam hatiku ada sedikit rasa lega. Syukurlah, kukira ia takan seperti ini lagi karena sikapku di pertemuan terakhir kali. Kukira dia akan illfeel.
Seperti biasa, kusodorkan helm padanya, kemudian mempersilakan untuk menaiki kendaraan manisku ini.
Karena sudah tahu bahwa penumpang ini baru pulang berobat dan tentunya tidak dalam keadaan benar-benar baik, dengan sangat hati-hati aku berkendara. Sebisa mungkin tidak ada guncangan, begitu smooth.
"Mbak. Kebetulan saya gak lagi pusing-pusing amat kok. Jadi kalau agak ngebut dikit gak apa-apa. Takutnya keburu hujan," ujarnya.
"Oh, oke, Bang." Mungkin aku terlalu berlebihan pelannya. Sedikit kutarik tuas gas lebih kuat.
Benar saja, langit mulai menghitam, pertanda senja yang cerah ini, sebentar lagi akan tergantikan oleh rintik-rintik yang cantik. Meski begitu, aku tetap melanjutkan perjalanan. Semoga saja hujan turun setelah penumpangku sampai di tujuan. Bukan apa-apa, mantel di jok motorku hanya ada satu.
Sayangnya, harapanku tidak terwujudkan. Setelah beberapa menit, hujan mulai tumpah membasahi seluruh permukaan.
Aku sempat panik. "Bang. Berhenti dulu gak apa-apa? Saya lupa, cuma bawa mantel satu," ucapku.
Ia mengangguk, langsung menyetujui tanpa bertanya ataupun menghakimi.
Kuhentikan kendaraan di tempat terdekat yang juga memungkinkan untuk dapat berteduh tanpa berdesakkan. Sebuah kedai di pinggir jalan yang bagian depannya terdapat tempat parkir yang beratapkan sebuah kanopi.
Perutku tiba-tiba saja berbunyi setelah sebuah aroma terhirup hidung. Aku teringat baru makan lontong tadi pagi. Aroma Petrichor tergantikan dengan bau nikmat yang menyengat dari dalam. Aku menelan ludah sembari mengusap-usap perutku yang keroncongan. Baru sadar, ternyata tempat kami berteduh ini adalah sebuah warung makanan cepat saji.
Aku mulai gelisah sambil sesekali menelan ludah dan mengusap-usap perut hang semakin ribut keroncongan. "Eh, anu, Bang," ucapku.
Ia menoleh, "Iya?"
"Ehem. Sambil nunggu hujan, boleh nggak saya makan dulu?" Dengan agak malu juga rasa tak enak aku bertanya.
"Hemmm." Ia lagi-lagi mengangguk tanpa kata. Namun, kemudian senyumnya membuatku lebih merasa lega.
Aku menawarinya juga, meski sedikit memaksa, kemudian mengajaknya masuk dan memesan beberapa makanan untuk sekadar mengganjal perut yang keroncongan.
"Pelan-pelan aja, Mbak." Ia tiba-tiba berkata, membuatku menghentikan kunyahan seketika.
"Hah?" ujarku setelah menelan.
"Makannya pelan-pelan aja, gak usah terburu-buru gitu. Cerna yang baik." Ia mengulang kembali ucapannya hingga jelas dapat kupahami.
"Eh, iya. Takutnya saya terlalu banyak mengambil waktu Abang," jawabku membela diri. Di luar sepertinya guyuran hujan semakin tipis.
"Orang masih hujan juga." Ia mengalihkan pandangan ke luar.
Aku lanjut mengunyah, walau sedikit salah tingkah.
"Sehari-hari biasa makan makanan begini?" Ia bertanya setelah akhirnya menyeruput teh hangat yang kupesankan. Walau sedikit memaksa.
"Eh, i-iya, Bang." Aku mengangguk ragu karena penasaran akan maksud pertanyaannya. Lagipula, aku tak menyangka ia akan jadi banyak berbicara begini. Padahal biasanya super kalem.
"Besok-besok coba kurangi. Jangan kebanyakan makan Junk food."
"Hehe. Ini lebih simpel, Bang. Mengenyangkan pula." Kembali kusantap sisa makanan dengan lahap.
"Apa salahnya meluangkan sedikit waktu untuk makan makanan yang lebih sehat. Lagipula itu untuk kepentingan sendiri, bukan?"
Uhuk! Aku tersedak mendengar kalimatnya. Benar, sih, selama ini aku terlalu tidak memedulikan makanan. Yang lebih membuatku merasa bersalah lagi, aku sering membelikan ayah makanan-makanan tidak sehat begini. Jangan-jangan karena ini juga, kolesterol ayah jadi susah dikontrol.
"Hidup sehat lebih penting. Jangan sampai kayak saya." Air mukanya seketika berubah. "Memang, kalau udah sakit, baru deh kita sadar kalau kesehatan itu teramat sangat mahal harganya."
Aku berusaha kembali mencairkan suasana. "Iya, Bang. Mana mungkin juga saya bisa jadi kayak Abang. Kan saya cewek. Kalaupun bisa berubah, saya lebih suka berubah jadi kayak aktor-aktor Korea saja." Aku menyeringai lebar, tak peduli walau mungkin ada cabe yang menempel di gigi.
Ia sedikit tersenyum. Ah, kenapa aku jadi ikut senang melihatnya.
"Oh iya, nggak penasaran sama saya, Bang?" Aku dengan percaya diri berusaha memancingnya untuk bertanya. Mencari alasan agar bisa bertanya balik.
"Hm?" Ia tampak berpikir. "Takut sok mencampuri urusan orang," timpalnya cepat.
Aku mengangguk pelan sambil tersenyum kecut. s**l, dalam hati aku berucap. Sulit sekali rasanya untuk sekadar membuatnya sedikit terbuka.
"Kamu kuliah kedokteran?"
Uhuk! Aku terperanjat kaget saat tiba-tiba ia berucap seperti itu, hampir saja sosis yang kukunyah melompat dari mulut. Lalu tersenyum menang.
Akhirnya. Kuhela napas lega. Juga nano-nano rasa yang menghampiri.
"Tadi suruh nanya, giliran sudah nanya malah nggak dijawab."
"Haha." Tawaku pecah. Biar kutebak, bahwa orang ini sangat tak sabaran. Duh, ekpresi yang ia tunjukkan tiba-tiba saja menjadi sangat menggemaskan.
"Bukan, Bang. Keperawatan."
"Lah, beda?" tanyanya lagi dengan heran. Aku mengangguk, menandakan bahwa keduanya memang berbeda.
"Sama mahalnya mungkin, ya?"
"Sedikit di bawahnya, Bang."
"Oooh." Ia mengangguk. Namun, sedikit terpancar ketidakpuasan di wajahnya.
"Kenapa? Nanya aja lagi kalau masih penasaran. Gitu aja kok, repot." Aku beranjak sebentar untuk menambah saos yang habis.
Dari sudut mata, dapat kulihat raut wajah yang mulai memerah itu. Entah menahan malu ataupun kesal, aku tak peduli.
"Ngomong-ngomong, Abang kok bisa nanya saya kuliah Kedokteran?"
Ekspresinya semakin terlihat canggung. Seperti tidak menyangka aku akan menanyakan itu. "Eh, ya nebak aja." Lalu, menggaruk jidat seolah-olah menutup wajahnya.
"Hah? Yang benar?" Aku spontan menyentuh ujung jarinya, kemudian menyesal.
Ia tersentak kaget, lalu menarik tangannya, menjauh. "Udah yuk. Hujannya udah reda." Kemudian langsung berdiri meninggalkan kursinya.
Ya ampun. Bodoh! Aku kembali merutuki diri sendiri.
Kami melangkah pelan meninggalkan bangunan itu menuju sepeda motorku yang terparkir di depannya. Wajahku bersemu merah mengingat tingkahku barusan.
Jauh di atas sana, langit ikut tertawa. Warna-warni cerah melengkung muncul seusia hujan di senja ini. Pemandangan indah yang bernama pelangi.
***
Sebuah pesan masuk di Inbox f*******:-ku, aku tersenyum membacanya. Ternyata sang penyiar Radio yang bernama Iqbal Maulana itu penasaran sekali dengan sebuah teka-teki yang tadi kuberikan.
Sampai-sampai ia nekad menanyakan lewat secara pribadi seusia siaran.
Aku mengerjai laki-laki itu dengan mengatakan akan memberikan jawabannya seminggu lagi. Namun, setelah ia off, kukirimkan pesan.
"Maaf ya, sengaja mau bikin kamu kesal saja. Mengapa saat menoleh ke belakang jejak kakiku tak terlihat? Jawabannya adalah, karena aku sedang berjalan mundur. Hehe."
Aku tersenyum puas. Sukses menarik perhatian sang Penyiar.