“Memang, diam adalah bagiku sebuah ketenangan. Namun, setelah dirimu masuk sempurna ke hidupku, didiamkan olehmu aku merasa tidak nyaman.” –Jingga *** Lana sampai di kelasnya dengan bingung, Bagas sudah duduk rapi di bangkunya. Sementara hari ini masih amat pagi untuk kedatangan laki-laki itu, tidak seperti biasanya. Lana berjalan ke bangkunya, sedikit tertatih karena luka yang ada di lututnya. Menghampiri Bagas yang fokus memandang ke depan. Lalu, ia berdiri tepat di hadapan laki-laki itu sembari mengembangkan senyumnya. Di luar dugaan, respon yang Bagas berikan hanya bergeming, tidak menanggapi Lana. Gadis itu mengernyitkan keningnya bingung, tidak biasa dengan sikap Bagas yang seperti ini. Lalu, dia melambaikan tangannya di depan wajah Bagas, tetapi laki-laki itu justru memalingkan

